Di samping Celine, sebuah tabung kaca setinggi manusia berdenyut pelan. Cairan jernih di dalamnya memantulkan cahaya redup dari lampu-lampu di terowongan, menyingkap sesosok organ yang tampak seperti jantung raksasa, berkilau kebiruan, dengan pembuluh-pembuluh darah yang berdenyut ritmis, seolah memiliki kehidupannya sendiri. Itu terlalu besar untuk jantung manusia biasa, terlalu sempurna untuk sesuatu yang alami. Celine tersenyum, senyum yang dingin, yang Seraphina kini pahami sebagai topeng kekejaman yang telah lama ia sembunyikan. "Selamat datang, Seraphina," suaranya lembut, namun menusuk seperti jarum es. "Kami sudah menunggumu." Ia melambaikan tangannya yang pucat ke arah tabung. "Ini, sayangku, adalah Proyek Phoenix. Fase terakhir." Seraphina merinding, matanya terpaku pada organ

