Rindu menggelitik hati Ayana setiap kali melihat ke arah rumah Lucas yang sepi. Sejak kejadian sore itu Ayana tak lagi mendengar suara ketukan Lucas untuk mengantar kue-kue buatanya yang lezat, atau bicara di depan jendela kamarnya. Tidak ada sapaan ‘selamat pagi’ ketika Ayana buru-buru berangkat kerja, juga suara merdu Lucas saat karokean di halaman rumah sembari menikmati kopi hitam yang katanya kopi terenak di dunia.
Ayana melangkah keluar rumah pada pagi yang segar. Hari ini mulai masuk bekerja, setumpuk dokumen dan lainnya menunggu untuk diselesaikan. Sekali lagi Ayana memandangi rumah Lucas yang bersebelahan dengan rumahnya, masih tampak sepi, tidak ada tanda-tanda pergerakan sama sekali. Bukankah harusnya Lucas masuk kerja hari ini?
Sepanjang mengendarai mobil dalam perjalanan menuju kantor, Ayana masih belum bisa untuk tidak memikirkan Lucas. Kemana pria berambut gondrong itu pergi?
“Dasar pria bodoh!” Ayana mengumpat. Ayana pikir Lucas saat ini sedang merayakan patah hati karena lamarannya dia tolak. “Huh, payah!” Ayana kembali mengoceh. Ayana kesal yang sebenarnya bukan kepada Lucas, tetapi pada dirinya sendiri sebab sudah repot memikirkan pria yang baru saja dia tolak lamarannya.
*
“Wajahmu pucat, Ay, apa kau sakit?” Kelly terus mengamati wajah Ayana yang tampak pucat siang ini saat kedua sahabat itu tengah duduk di meja kantin untuk makan siang. Bahkan Kelly melihat Ayana hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa nafsu menyuapkannya ke mulut.
“Oh, ayolah, Ay, kau kenapa? Apa Nyonya Jonathan merengek minta cucu lagi?” Kelly menahan tawanya, dia selalu gemas setiap kali mendengar curhatan Ayana tentang ibunya yang terus merengek ingin menimang bayi. Kelly pikir itu wajar mengingat usianya saat ini.
“Lucas pergi, entah kemana.” Ayana akhirnya bersuara, masih dengan makanan teraduk-aduk di hadapannya.
“Jadi kau memikirkannya?”
“Aku hanya merasa bersalah, harusnya aku tidak bersikap begitu kejam. Maksudku, harusnya ... aku memberinya kesempatan untuk bicara.” Ayana tahu betapa sakitnya diabaikan, perasaan seperti itu sebagian bisa membuat orang hilang kepercayaan.
“Aku pikir kau sudah mulai menyukainya, Ay, kau begitu merasa kehilangan. Kau tidak mengungkapkannya, tetapi sorot matamu mengatakan demikian. Kau harus jujur pada dirimu sendiri.” Kelly menyeruput jus tomatnya yang segar setelah menghabiskan semangkuk sup hangat.
“Aku bahkan tidak memikirkannya, bagiku Lucas adalah sahabat terbaik sekaligus tetangga pengertian.”
“Hanya itu?”
Ayana terdiam. Tidak, tidak hanya itu, batinnya. Lucas adalah keistimewaan dalam hidupnya. Di saat dunianya runtuh dan semua orang terasa jauh, hanya Lucas yang mampu membuatnya kembali hidup. Lucas memberikan bahunya untuk bersandar, memasang dadanya ketika disakiti, dan mengusap setiap tetes air matanya yang terjatuh.
Lucas tidak seperti orang-orang disekelilingnya menatap Ayana remeh, menurutnya semua orang memiliki fase-fase hidupnya sendiri dan dia tetap menghargai status Ayana yang dicap sebagai janda mandul pembawa sial oleh mereka yang tidak memiliki nurani.
“Tidak,” lirih Ayana, “dia adalah duniaku.”
*
Didera rasa lelah karena seharian ngebut menyelesaikan setumpuk tugas yang beberapa hari belum sempat dia kerjakan, Ayana ingin segera pulang, Ayana sudah membayangkan tubuhnya berendam air hangat lalu minum kopi latte favoritnya sudah membuatnya tak sabar. Namun kesabaran Ayana sedang diuji saat tiba-tiba Ben muncul di hadapannya ketika baru saja melangkah menuju parkiran mobil.
Raut wajah Ayana berubah, kehadiran Ben secara tiba-tiba jelas membuatnya tidak nyaman. Ayana menyesali keputusannya meminta Kelly pulang lebih dulu tanpa harus menunggunya lembur seperti biasa. Dia terpaksa menghadapi Ben sendirian.
“Apa kabar?” sapa Ben dengan gaya maskulinnya. Ben masih seperti dulu, tak ada yang berubah dari segi penampilannya, hanya saja di mata Ayana dia sudah berubah sangat menjijikan.
“Jauh lebih baik dari sebelumnya,” ketus Ayana menatap Ben tajam, lalu menyilangkan kedua tangan di d**a.
“Syukurlah, aku pun berharap demikian.” Tubuh Ben semakin mendekat. “Ay, bisa kita bicara malam ini? Ada hal penting yang ingin aku katakan,” pinta Ben kemudian.
Ayana menarik napas panjang yang teras berat. Dadanya mulai sesak, dia pikir setelah dicampakkan begitu saja Ben tidak sudi lagi melihatnya, namun nyatanya dia masih berani muncul dengan sikapnya seakan semua baik-baik saja.
“Aku ingin pulang, dan jangan pernah mengganggu hidupku lagi!” Ayana setengah berteriak, dia tak peduli jika ada orang yang mendengar ucapannya.
“Hanya sebentar, percayalah, Ay, aku hanya ingin kau memaafkanku.”
“Aku sudah memaafkanmu sebelum kau minta, Ben yang terhormat!” Mata Ayana melotot seakan ingin menelan tubuh Ben bulat-bulat.
“Aarghh! Bisakah kau mengerti, Ay, aku masih mencintaimu!” Ben penuh penekanan.
Hening menyergap, kedua mata Ayana mengerjap pelan, kata-kata itu terdengar begitu memuakkan di telinganya, bicara tentang cinta padanya tidak akan membuat hati Ayana goyah.
Ben memijat keningnya. Dia tahu dia sudah seperti orang bodoh, namun dia sudah tak tahan lagi.
“Kau lupa Ben, bahwa aku mandul. Dan kau mencampakkanku, tidak hanya itu, kau, beserta keluargamu, dan tentu saja wanita yang kau puja itu telah menghinaku. Apa rasanya menjilat ludah sendiri, Ben? Kau pria paling menjijikan yang pernah kukenal!” Telunjuk Ayana mengetuk d**a Ben, sedikit mendorongnya ke belakang hingga kaki Ben mundur satu langkah. Wajah Ayana memerah menahan tangis mengingat semua kenangan paling menyakitkan dalam hidupnya.
Ayana berjalan cepat setengah berlari menuju mobilnya. Di dalam mobil Ayana terisak dalam diam. Matanya terpejam kuat, mengingat kembali penghinaan yang dia terima dari Lucas dan ibunya setahun lalu sebelum perceraian itu terjadi.
“Kau mandul Ayana, putraku sungguh sial memiliki istri yang tidak bisa memberikan keturunan. Lagipula kau hanya pegawai biasa dari keluarga sederhana. Aku bahkan tidak mengerti bagaimana dulu Ben bisa menginginkanmu.” Nyonya Sarah galak, telunjuknya mengarah pada Ayana.
“Kalau tahu mandul begini, aku tidak akan sudi menerimamu jadi menantu. Sebaiknya kau hidup sendirian, tidak akan ada pria yang mau dengan wanita mandul. Tidak ada harapan, tidak ada yang membahagiakan. Sungguh malang nasibmu, Ayana.” Lagi Nyonya Sarah berkicau menyakiti hati Ayana yang terasa tertusuk belati tajam.
Kata-kata Nyonya Sarah, ibu kandung Ben, kembali terngiang di telinga Ayana, begitu merendahkan. Bagi Ayana, mulut mertua masih bisa dia toleransi, tak perduli jika semua ucapan buruk ditumpahkan padanya, tetapi kalimat yang keluar dari mulut Ben, suaminya sendiri yang seharusnya paling mengerti akan dirinya, ucapan Ben meluluhlantakkan perasaannya.
“Cinta saja tidak cukup buatku, Ay, aku butuh istri yang sehat. Kebersamaan kita adalah sebuah kesia-siaan bagiku. Aku ingin memiliki seseorang yang bisa memberiku keturunan.”
Kalimat itu keluar dari mulut Ben, mulut pria yang baru saja memintanya kembali.
“Jika benar aku mandul, aku akan berobat, kupastikan aku bisa hamil, percayalah padaku, beri aku waktu sedikit lagi.” Ayana memohon disela isak tangisnya, tangannya menggenggam jari Ben kuat seakan tak ingin melepasnya. Namun Ben segera menarik tangannya kasar.
“Sudah terlambat Ayana, aku sudah tidak tahan menunggu lagi. Saat ini aku sudah memiliki calon istri baru yang bisa memberiku anak!”
“Ben--.”
“Cukup, Ayana. Pulanglah ke rumah orang tuamu, Ben akan menceraikanmu hari ini juga. Jangan harap kau bisa kembali menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Rumah ini bukan tempat wanita mandul sepertimu.” Kedua tangan Nyonya Sarah melipat di d**a, ditatapnya Ayana dengan tatapan seperti dia melihat hewan menjijikkan.
“Bu, aku mohon. Aku tidak hamil. Vonis dokter bisa saja salah, aku yakin bahwa tubuhku sehat.” Ayana mengusap matanya.
“Berani sekali kau menyalahkan vonis dokter,” dengkus Nyonya Sarah.
“Sudahlah, Bu. Aku tak suka buang-buang waktu, hari ini kupastikan Ibu tidak akan melihat menantu mandul ini lagi, oke.” Ben menarik tangan Ayana, “Cepat beresi semua barang-barangmu!”
Tubuh Ayana di dorong memasuki kamar, kamar yang sudah lama terpisah dari kamarnya bersama Ben. Kamar Ayana sudah seperti kamar pembantu di rumah megah itu.
Di dalam kamar, Ayana berkali-kali mengusap air matanya yang terus mengalir sambil mengemasi pakaian dalam tas. Dia sudah dihina, dicampakkan oleh suami dan mertuanya sendiri. Hidup begitu tak adil baginya.
Ayana menerima semua itu tanpa dendam. Dia hanya menunggu waktu, kapan Tuhan memberinya kejutan sebuah keajaiban yang orang lain tak pernah terpikirkan.
“Hari ini aku mengemis untuk dipertahankan, dan lihat apa suatu hari kau akan menyesali untuk cintamu yang hilang?” lirih Ayana nyaris tak terdengar oleh siapapun selain dirinya sendiri.
Hari ini ucapan Ayana waktu itu menjadi nyata.
*
Ayana tiba di rumah sudah larut malam, tubuhnya sangat lelah berkali lipat dan kedua mata yang sembab. Sebelum masuk rumah Ayana sempat melihat lampu di rumah tetangganya menyala, itu pertanda bahwa Lucas sudah kembali.
Dada yang terasa dihimpit entah mengapa terasa lega hanya karena mengetahui rumah Lucas ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Ayana menatap ke arah jendela kamar Lucas, dan betapa terkejutnya dia saat seseorang memperhatikannya dari balik tirai jendela.
Lucas?
Ayana menyipitkan mata untuk memastikan lebih jelas, orang yang dibalik tirai jendela kamar hanya tampak seperti seluet, Ayana tidak bisa mengetahui siapa sosok itu.
Udara malam terasa semakin dingin, Ayana mengerutkan mantelnya, ada rasa penasaran sekaligus takut akhirnya Ayana masuk ke rumah dengan isi kepala penuh tanda tanya.