bc

AKU TIDAK MANDUL

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
revenge
dark
family
HE
second chance
friends to lovers
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
lighthearted
serious
kicking
loser
city
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Tidak mudah bagi Ayana menerima kenyataan pahit dalam hidup, karena dituduh mandul lalu dicampakkan oleh Ben dan keluarganya. Hidup Ayana hancur, namun kehadiran Lucas memberikan dunia baru baginya.

Di saat Ayana sudah melupakan mantan suami dan menerima tuduhan sebagai wanita mandul, ibunya justru tidak percaya. Nyonya Jonathan meminta Ayana menikah lagi dan memberinya seorang cucu.

Ben tiba-tiba muncul dan memaksanya untuk kembali, sementara Lucas mencoba melamar Ayana untuk dijadikan istri.

chap-preview
Pratinjau gratis
KABAR MANTAN MINTA BALIKAN
Menikmati secangkir Coffe Latte dan Brownies panggang di pagi hari membuat moodboster tersendiri bagi Ayana. Namun di penghujung Desember yang basah membuat kebiasaan paling menyenangkan itu kini tak lagi sama. Semua berawal dari keinginan Nyonya Jonathan merengek minta cucu secara tiba-tiba. “Usiamu sudah 29 tahun bulan lalu, Ay, aku mungkin sudah terlalu tua untuk menimang cucu nantinya, atau bisa jadi tidak pernah melihatnya sama sekali sebab di hari itu aku sudah mati.” Kata-kata Nyonya Jonathan, wanita yang berusia mendekati angka 60 tahun itu hampir sama setiap harinya membuat Ayana jengah. Hujan di luar sana masih belum berhenti sejak pagi, sama halnya seperti ocehan tuan rumah yang terus membasahi hati Ayana. “Nyonya Eve sudah memiliki lima cucu dua tahun belakangan ini, dia sungguh beruntung memiliki cucu sebanyak itu dari Liz.” Nyonya Jonathan menyebut Eve, salah satu teman perkumpulannya. “Aku tak peduli,” seloroh Ayana. Ditatapnya rintik hujan dari kaca jendela. Hawa dingin membuat Ayana mengeratkan selimut tebal di tubuh langsingnya. Nyonya Jonathan mendengkus kesal, dilihatnya Ayana tenggelam dalam pikirannya sendiri tanpa memedulikan ocehannya pagi ini, setiap ucapan keluar dari mulut tua itu seakan tak dia dengarkan. Tetapi wanita itu tahu persis seperti apa putri semata wayangnya itu, Ayana terluka namun tak pernah menunjukkannya pada siapapun. Sejenak ada keheningan di antara ibu dan anak itu, hingga suara bel berbunyi membuat Nyonya Jonathan gegas menyambangi pintu masuk rumah mereka yang sederhana. Tak lama dia kembali membawa sepiring brownies panggang camilan favorit Ayana, aromanya seketika menguar lezat. “Dari Lucas, dia baru saja mencoba resep baru.” Nyonya Jonathan menaruh piring berisi brownies panggang di atas meja di hadapan Ayana yang duduk memeluk kedua kaki di balik berselimut tebal. Perut Ayana tiba-tiba keroncongan. Sejak tadi perutnya belum diisi apapun. Mencium aroma brownies panggang yang baru keluar dari oven membuatnya tak tahan untuk melahap beberapa potong. “Lucas mencintaimu, Ay. Apa kau tak tahu itu?” Ayana yang sedang mengunyah brownies seketika tersedak, segera dia meraih tumbler-nya dan menenggak air di dalamnya hingga hampir habis. “Kau hampir membunuhku, Nyonya.” Ayana meradang, tenggorokannya terasa sakit. Kue brownies itu tak lagi disentuh oleh Ayana. “Apa maksudmu?” “Maksudku, berhentilah membahas hal-hal tidak penting. Aku mengantuk sekarang.” Ayana meninggalkan Nyonya Jonathan menuju kamarnya, dia tak ingin mendengarkan bahasan apapun lagi. Hujan semakin awet di luar sana, udara semakin dingin dan Ayana kembali ingin menggelamkan wajahnya di balik bantal. * Ayana terbangun dari tidurnya dan terkejut saat melihat arloji yang menunjukkan pukul satu siang. Tak sadar dia tidur begitu lama. Di lihatnya hujan sudah reda, Ayana beranjak pelan keluar kamar dan mendapati Nyonya Jonathan tak ada di ruangan biasanya dia menghabiskan hari duduk sambil menyulam. Di atas meja, Ayana melihat piring yang tadi berisikan brownies panggang pemberian Lucas, kini piring itu sudah bersih dan di atasnya ada selembar kertas yang ditulis oleh Nyonya Jonathan untuk Ayana. “Tolong kau kembalikan piring ini kepada Lucas, Ibu pergi sebentar mengunjungi Nyonya Eve untuk melihat cucunya yang baru lahir.” Ayana menatap piring itu kemudian menarik napas panjang. Ayana akui ibunya memang paling cerdas untuk urusan satu ini. Sebelum Ayana meraih piring dan beranjak keluar rumah untuk mengembalikan piring milik Lucas, ponsel Ayana berdering, seseorang meneleponnya. Ayana segera berbalik badan menuju kamarnya untuk memeriksa ponselnya. Ayana melihat layar ponsel yang ternyata sahabatnya, Kelly, menelepon. “Hei, kupastikan kau baru bangun tidur. Dasar pemalas!” Suara Kelly terdengar cempreng setelah Ayana menerima panggilan telepon darinya. “Humm, ada perlu apa?” Ayana sekenanya. “Perlu apa, katamu? Jelas aku meneleponmu ada hal penting yang perlu kita bahas, Pemalas! Kau tahu hari ini aku bertemu siapa?” Ayana menarik napas panjang, lalu menjawab dengan malas. “Siapa memangnya?” “Ben, mantan suamimu.” Mendengar nama Ben membuat Ayana kaku, degup jantungnya mulai tak beraturan. Ayana berusaha menormalkan nada suaranya. “Apa yang terjadi?” “Hmm, aku harus menyampaikannya padamu, Ay, Ben mengatakan kalau dia menyesal sudah meninggalkanmu, dia ingin kembali.” Tubuh Ayana gemetar. Dia sudah membenci Ben dan mengubur semua kenangan bersama mantan suaminya itu. Tidak ada lagi cinta, semuanya telah usai. “Ay, kau masih di situ?” Suara Kelly membuyarkan lamunan Ayana. “Kau tahu, itu berat buatmu, Ay, tapi kau perlu mempertimbangkannya lagi.” Suara Kelly melembut, tak ingin Ayana tersinggung. “Baiklah. Bisa kita akhiri teleponnya? Aku ada sedikit pekerjaan dari Nyonya Jonathan.” Ayana ingin menyudahi obralannya dengan Kelly. “Baiklah, titip salam untuk Nyonya Jonathan.” Kelly mengingatkan sebelum akhirnya Ayana mematikan sambungan telepon. Ayana masih menggenggam ponselnya erat sebelum benda itu terlempar di atas kasur, sudah terlalu banyak drama dalam hidupnya dan berita tentang Ben ingin kembali nyaris membuatnya gila. Ponsel kembali berdering membuat Ayana terkejut, kali ini Lucas meneleponnya. Ayana membiarkan ponsel itu berdering beberapa kali hingga ruangan kembali sunyi. Beberapa saat kemudian terdengar suara seseorang di depan jendela kamar Ayana berdiri di atas rumput yang sudah mengering tersiram hujan. “Ay, bisa keluar sebentar?” Ayana mengintip dari sisi jendela, dan Lucas berdiri di sana menatap ke arah jendela setengah terbuka. Pria itu tahu Ayana berada di kamarnya hampir sepanjang hari ini dan itu membuat Lucas khawatir. “Lihat apa yang aku bawa untukmu?” Lucas mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari saku celana jinsnya, lalu membuka kotak memperlihatkan isinya. Cahaya matahari sore menyilaukan benda kecil di dalam kotak membuat kilaunya terlihat indah. Sebuah cincin bermata biru yang cantik. “Mau jadi istriku, Ay?” Suara Lucas kembali terdengar, namun terasa begitu getir di telinga Ayana. Sebuah lamaran paling konyol yang Ayana lihat, wanita itu merutuk, kenapa Lucas selalu saja membuatnya ingin menangis. Kenapa pria itu selalu baik? Punggung tangan Ayana mengusap kedua matanya yang diam-diam melelehkan air mata. Ada jurang dalam di antara Ayana dan Lucas hingga sulit bagi Ayana untuk melangkah jatuh dalam pelukan pria itu. Jurang dalam itu bernama ‘mandul’, Ayana tak ingin kembali merasakan sakit untuk kesekian kalinya, atau jurang itu menyakiti Lucas nantinya. Perlahan Ayana menutup pintu jendela rapat, tanpa suara, tanpa menunjukkan wajah di hadapan Lucas.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

SEXY DEVIL UNCLE

read
18.6K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
2.7K
bc

BRIANNA [Affair]

read
130.7K
bc

Nona-ku Canduku

read
100.4K
bc

Eat Me, Daddy!

read
12.9K
bc

Pemuas Hasrat Mantan Suami

read
53.9K
bc

HASRAT MERESAHKAN

read
147.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook