Tiba saatnya Lucas memboyong Ayana ke rumah barunya, setelah sekian lama tidak sabar ingin pindah. Bukan karena Ayan tidak betah di rumah ibunya, melainkan karena rumah itu adalah rumah impiannya sejak dulu, yang di desain oleh suaminya sendiri. Ayana berdiri di depan cermin, mengenakan gaun berenda cantik berwarna merah muda yang lembut. Tubuhnya sudah kembali berisi, wajahnya tidak lagi pucat, dan mata itu kini menyimpan sesuatu yang sudah lama hilang, ketenangan dan penuh cinta. Lucas berdiri di belakangnya, memandang bayangan mereka di cermin. Dia tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum kecil, “Kau siap?” tanyanya lembut. Ayana mengangguk. “Aku siap.” Senyum Ayana mengembang, dia tampak cantik pagi itu, selalu cantik di mata Lucas. Nyonya Jonathan muncul, matanya berkaca-kaca. Mel

