Dengan langkah yang berat Arabella melangkahkan kaki menuju rumah. Tapi sontak saja Arabella kaget ketika melihat mobil apa yang terparkir di depan rumahnya. Mobil pria tadi sekarang sudah berada di sini. Arabella langsung bergegas menuju ke dalam rumah. Tampak di ruang tamu pria itu sedang duduk sambil menyeruput teh di cangkir yang sudah disuguhkan bunda Arabella. Sementara bunda tidak keliatan.
"Assalamualaikum ... Bunda," panggil Arabella mengagetkan pria itu. Dia langsung berdiri dan terlihat gugup.
"Bunda ... Bunda", teriak Arabella masuk memanggil bunda tanpa mengacuhkan panggilan pria itu. Arabella mencari bunda di dapur. Dan tampak bunda sedang memasak.
"Oh kamu sudah pulang sayang," bunda menyahut tanpa menoleh ke arahnya. Dia lebih memperhatikan panci sayur dibanding kedatangan Arabella.
"Bun, itu siapa sih, cowo itu juga tadi ke kampus Ara dan sekarang malah datang ke rumah, dia penagih hutang kan?" tanya Arabella nyerocos.
"Iya, tadi dia juga udah cerita, katanya dia malah ditinggal kabur sama kamu, dan apa tadi kamu bilang, penagih hutang?" tanya balik bundanya Arabella.
"Iya kan?" tanya Arabella memastikan juga.
"Lho, kata siapa dia penagih hutang, katanya dia pacar kamu, kok kamu pura pura begitu, sudah deh kamu ngaku sama bunda ga usah disembunyiin, bunda sudah tau kok kalau Yudis itu pacar kamu," kata bunda sambil tertawa.
Arabella melongo.
"Memang dulu bunda pernah melarang kamu untuk pacaran dulu, tapi kali ini bunda bolehin kok, karena Yudis memang cocok buat kamu?" kata bunda sumringah.
Wah ada sandiwara apa nih yang dibuat pria itu. Yang mengaku bernama Yudis. Siapa dia sebenarnya yang sudah mengarang cerita pada bunda. Dan super aneh juga dia bisa tahu alamat rumah ini dan membuat cerita bohong ini sama bunda. Sejenak Arabella terdiam untuk mencerna semua perkataan bunda dan menghubungkan kejadian tadi di kampus.
"Arabella, boleh ngobrol sebentar!"tiba tiba suara pria itu mengagetkan. Dia sudah datang menghampiri ke dapur.
"Sana Ra, kamu temanin ngobrol dulu Mas Yudis, nanti sebentar lagi masakan ibu matang, kita makan sore bareng ya!" suruh bunda tanpa tau sebenarnya anaknya sedang bingung.
Dengan alasan Arabella ingin mencari tahu apa sebenernya yang terjadi Arabella memutuskan untuk bicara dengan pria itu. Toh Arabella kalau belum tahu sebenarnya Arabella tidak mungkin menceritakan kebenarannya. Karena takutnya bunda juga shock tiba tiba pria asing mengaku pacar anaknya.
"Siapa sebenernya Bapak, Om atau Abang ini tiba tiba datang terus bisa tahu namaku dan alamat rumahku?" tanya Arabella sambil memandang pria itu dengan penuh curiga.
"Arabella calon suami kamu, namaku Yudistira Lee ," jawabannya membuat seketika jantung Arabella seakan melorot ke bawah. Ada perasaan aneh yang sulit dia artikan. Entah rasa kaget campur campur rasa yang lain. Terlalu aneh dan tidak masuk akal tiba-tiba ada seorang pria datang dan mengaku sebagai calon suami.
"Jangan becanda, tidak lucu, aku enggak kenal sama kamu, Bapak ini, eh Om ini sebenernya siapa, kalau mau nagih hutang ayahku jangan pakai acara drama mengaku calon suami segala," jawab Arabella sambil melipat kedua tangannya di perut. Arabella pikir dengan begitu orang itu tidak akan tahu kelemahannya.
"Hee ...." pria itu tersenyum.
"Penagih hutang, jadi kamu lari kabur di kampus mengira aku seorang debt collector," lanjut pria itu sambil tertawa.
Arabella mengernyitkan dahi mendengar jawaban pria itu. Kalau dia menyangkal terus dia siapa.
"Bapak, Om, kenapa kamu manggil saya dengan sebutan itu, kesannya aku tua banget gitu, Aku ini belum 30 tahun," kata dia sambil menahan kesal.
"Apa, tapi kok kayak usia 30 tahun lebih. Umur segitu gak mau dipanggil Bapak atau Om, kan sudah cocok tuh," ejek Arabella. Kalau dia 30 tahun dan Arabella 20 tahun. Cukup jauh juga selisih umurnya.
'Pantas banget jika kupanggil dengan sebutan bapak atau om,' pikir Arabella.
"Panggil Mas Yudis aja, itu baru enak dengernya, toh nanti kamu bisa panggil aku Bapak, kalau kamu sudah menjadi ibu dari anak anakku," sambungnya dengan nada humor tapi cukup membuat Arabella tersentak.
"Apa kata Anda barusan, siapa juga yang mau menikah sama Anda, kenal juga enggak, mimpi juga enggak aku bakal menikah," jawab Arabella emosi.
Entah sandiwara apa yang dia buat. Arabella jadi tak enak dan gelisah. Celingak celinguk liat di sekeliling rumah. Jangan jangan ada kamera merekam. Arabella curiga ini acara alay reality show yang suka ngerjain orang atau nge-prank.
"Kenapa kamu celingukan?" tanya pria itu dengan wajah tanpa bersalah. Itu membuatku gemas.
"Ini lagi syuting nge-prank ya, mana kameranya, aku udah tau ni acara yang suka nge-prank orang kan"?tanya Arabella malah membuat Yudis terpingkal pingkal.
"Tuh bener kan, ketawa berarti jelas. Sudah lah ini sepertinya udah kerjasama sama si Bunda, bundaaaa," teriak Arabella memanggil bunda.
Dan seketika mulut Arabella ditutup dengan tangan pria itu. Mata dia memberi kode supaya Arabella tidak berteriak. Tapi Arabella mencoba memberontak dengan melepaskan tangannya. Tapi dia semakin membekap mulutnya dengan kencang. Sontak perasaan takutnya datang. Dengan tangan masih membungkam mulut Arabella, dia berkata.
"Ini bukan acara alay itu, ini beneran sungguhan, Aku Yudistira Lee adalah calon suamimu, dan bunda mu itu sudah menyetujuinya. Adapun kenapa aku tiba- tiba datang mengejutkanmu aku ada alasan untuk itu. Maka dari itu aku minta kamu tenang dan jangan membuat bunda mu curiga kalau kamu teriak teriak begitu. Nanti dia pikir aku mau buat macam macam tak senonoh disini, paham!" tanya dia.
Arabella mencoba menganggukkan kepalanya.
"Oke, bagus"jawabnya sambil melepaskan tangannya dari mulut Arabella.
"Aku bakal telepon polisi, ada orang gila yang masuk ke rumah orang...sajshfhjffjfjft," tangan pria itu kemudian membekap mulut Arabella lagi.
"Ternyata kamu jauh lebih menjengkelkan dari prediksiku," kata dia pelan sambil mendekatkan wajahnya ke depan wajah Arabella. Arabella terkejut pria itu mendekatkan wajahnya ke depannya. Semakin jelaslah wajah pria itu memang sangat tampan. Wajah putih mulus tanpa jerawat tanpa kumis dan sedikit jenggot tipis menghiasi dagu lancipnya. Aroma tubuh dan mulutnya wangi. Sepertinya dia bukan perokok. Dan apa apaan ini, Arabella sedikit takjub dan terpesona. Arabella mencoba menggoyahkan keterpesonaannya dengan sedikit melotot tajam. Mencoba melawan rasa terpesonanya dengan mencoba melepaskan tangannya kembali.
"Maksud Anda apa, aku makin nggak ngerti, siapa sebenarnya Anda, dan apa maksudnya calon suami"tanya Arabella beruntun.
"Itu yang mau Arabella lakukan dari tadi, mencoba menjelaskan, tapi kamu malah berlebihan menyikapinya," Jawabnya dengan nada kesal.
"Apa sikapku berlebihan, orang mana yang tidak kaget dan shock dapat kejadian kayak gini, dan ... oke okelah tak usah basa basi, sekarang jelaskan!" pinta Arabella akhirnya mencoba memahami situasinya sekarang yang tadinya dia pikir ini acara reality show.
Pria itu kemudian merapihkan jasnya terlebih dahulu sebelum mulai bicara.
****
Malam ini Arabella tidak bisa tidur. Arabella hanya bolak balik kanan kiri di kasur. Sebentar bentar menghela napas panjang. Seolah menahan beban yang teramat berat. Sejak kejadian sore tadi, Arabella semakin tak menentu. Gelisah resah bingung bercampur dengan rasa takut. Entah apa yang harus Arabella lakukan setelah pria itu yang mengaku bernama Yudis dan memaksa Arabella memanggilnya dengan panggilan Mas Yudis memberinya sebuah permintaan. Sebuah permintaan yang aneh dan membuat dirinya hampir frustasi memikirkan jalan keluar dan solusinya.
"Kakek ku ingin aku menikah denganmu, karena sikapnya yang terlalu setia kawan dan baik pada orang, dia menerima anak temannya menjadi cucu menantunya. Dan bahkan dia ingin segera menikahkanku denganmu. Tapi lucunya dia memintaku sendiri untuk melamarmu. Walau sedikitpun aku tidak setuju dengan niatnya itu. Tapi dia mengancamku dengan menghapuskan namaku jadi ahli warisnya." Perkataan pria sore tadi itu kembali terngiang ngiang di telinga Arabella. Segenap mulutnya teriak namun tertahan. Bagaimana bisa ini terjadi padanya. Ini semacam skenario drama atau sinetron yang tiap hari bunda tonton di televisi.
"Kenapa kakek mu mau kita menikah, toh dia tidak kenal sama aku , dan aku juga tidak mengenal kakekmu," tanya Arabella sore itu.
"Ayahmu Pak Sanjaya kenal baik dengan kakek ku, dulu kan ayahmu pernah berbisnis dengan kakekku. Karena sering berbisnis dan mendapat keuntungan banyak bersama. Kakekku sudah menganggapnya keluarga. Maka dari itu, sejak Pak Jaya memutuskan untuk meninggalkan perusahaannya. Kakek ku hilang kontak dengannya. Dan dia baru tahu kalau Pak Jaya sudah meninggal. Dia tidak tahu kalau Pak Jaya mengalami kesusahan dan jatuh sakit. Dia sudah menganggapnya sebagai anaknya. Maka dari itu kakek ku merasa bersalah dan mempunyai keinginan ingin menikahkan cucunya dengan anak Pak Jaya sebagai bentuk balasan perasaan bersalahnya pada almarhum ayahmu," jawabnya panjang lebar.
"Aneh dan lucu, kenapa perasaan bersalah harus dibayar dengan pernikahan, sungguh sangat tidak normal," jawab Arabella ketus.
"Ternyata kamu juga sepemikiran denganku kan, bagus sekali," jawabnya senang.
"Lah kalau begitu, kenapa kamu nggak nolak aja?" tanya Arabella.
"Sudah kubilang kan tadi, kalau aku nolak dia mengancam akan menghapus namaku sebagai ahli warisnya." Mas Yudis menjelaskan lagi.
"Terus hubungannya dengan aku apa, itu semua sebenarnya masalah kamu, saya tidak mau ikut campur dalam masalah keluarga orang lain. Dan juga aku, tidak mau dijodohkan atau tidak mau menikah muda. Sudah jelas kan, pakai aja alasan itu supaya kamu bisa bebas," jawab Arabella pintar. Meski ada perasaan seperti dapat undian hadiah tapi hadiah itu tidak layak Arabella dapatkan dan harus dia ikhlaskan tidak dia ambil.
Dalam posisi sepertinya, wanita mana yang mau menolak jodoh dan rezeki seperti itu. Tapi Arabella tak mau hilang harga dirinya, karena pria itu juga sepertinya hanya ingin dapat warisan kakeknya tanpa mau tahu tentang perasaan harga diri seorang wanita.
"Sebelum kamu ngomong seperti itu pun, aku sudah mencoba bicara baik baik sama kakek ku, dan jawaban dia kamu tau seperti apa?"
"Dia tambah mengancam kalau aku tidak bisa menikahimu, dia akan mengambil semua yang aku punya sekarang, perusahaan, rumah, mobil bahkan rekening bank pun akan dibekukan," jawabnya.
"Haha, jadi menurut kamu, aku harus apa, kalau pernikahan itu hanya demi keuntungan dirimu, aku hanya mengalami kerugian banyak hal!"
"Itu yang aku mau katakan padamu sekarang,"jawab pria itu dengan ekspresi seperti gangster di film film.
Kemudian dia duduk di sebelahnya. Arabella pun deg-deg an. Apa yang mau dia lakukan sekarang. Pria itu pun membisikkan sesuatu padanya dengan pelan. Ada perasaan geli dan aneh berkecamuk dalam d**a ketika mendengar bisikannya.
"Kalau kamu setuju, semua hutang hutang ayahmu nanti aku selesaikan, tapi kamu harus mau menikah denganku dengan kontrak," bisiknya pelan namun seperti suara petir bagiku.
"Kontrak?" kata Arabella kaget.
"Ya, kamu untung aku juga untung," jawab pria itu sambil senyum menyeringai.
"Kita menikah setahun paling lama, atau setelah kakek sudah memberikan hak warisnya atas namaku kita bisa bercerai dengan baik baik," sambungnya lagi seperti ringan dan tanpa beban bersalah kepada kakeknya.
"Pasti kakek mu bakal tersakiti dengan niatmu itu, apalagi kedua orangtuamu," kata Arabella membuat dia sedikit terkejut.
"Kedua orangtuaku sudah meninggal, dan kakek adalah orangtuaku satu-satunya yang membesarkanku dari kecil."
"Apalagi itu, mungkin beliau tidak akan memaafkanmu, dan juga sekarang aku masih 20 tahun. Kalau sekarang menikah dan setahun kemudian bercerai. Jadi usia 21 tahun aku sudah menjadi janda. Apa kamu tidak memikirkan perasaan seorang wanita. Kok kamu gampang sekali mengucapkan kata kata tadi kawin kontrak hanya demi sebuah warisan," kata kata Arabella cukup tajam membuat ekspresi wajahnya berubah pucat dan masam.
"Mungkin sebaiknya kamu pikirkan dulu tawaranku tadi," kata pria itu langsung berdiri dan memanggil bunda Arabella.
"Bunda, saya pulang dulu karena ada urusan mendadak," ucap dia sambil menemui bunda Arabella di dapur yang sedang memasak.
"Lho kok buru buru, bunda sudah masak buat kita makan bareng," kata bunda menyayangkan.
"Tenang saja bunda, lain waktu pasti kita bisa makam bareng, kan aku calon suami Arabella, jadi aku bisa sering sering kesini," goda pria itu sok manis dan imut di depan bunda Arabella. Padahal tadi setelah Arabella komentari niatnya mukanya langsung pucat dan kurang enak.
*** ***
Arabella kembali merubah rubah posisi tidurnya. Arabella masih membayangkan percakapan sore tadi dengan pria itu. Mas Yudis . Pria yang hari ini sudah membuat dirinya pusing dan galau. Apa sebenarnya rencana dia dan kenapa pula Arabella harus terseret dalam pusaran konflik warisan anak konglomerat. Apakah sebenarnya dulu nenek moyangnya itu seorang penghianat negara apa seorang penyelamat negara sehingga keturunannya Arabella mendapat hadiah berasa musibah.
Siapa sebenarnya Mas Yudis itu. Apa dia orang jahat atau orang baik. Tapi kalau dia merencanakan pernikahan palsu itu berarti dia orang jahat yang tamak.
Ya Tuhan apa yang harus Arabella lakukan sekarang. Haruskah Arabella tolak atau terima tawarannya. Kalau Arabella tolak apakah Arabella akan baik baik saja. Tapi kalau Arabella terima tawaran itu apakah ini akan adil untuk semuanya. Arabella jadi bingung, apakah harus ditolak saja.
Ya, Arabella merasa dirugikan sekali, setahun menikah lalu menjadi janda. Dan belum dipastikan akankah selama setahun menikah itu Arabella bakal tahan dan tidak terjadi kontak fisik dengan Mas Yudis. Kalau sampai itu terjadi pasti itu menjadi kerugian terbesarnya. Sesuatu yang berharga yang seharusnya untuk orang yang dia cintai dan yang mencintainya telah terenggut oleh orang yang tak pantas.
Tapi kalau Arabella tolak. Kemungkinan besar Arabella dan bunda tak dapat melunasi hutang itu. Darimana mereka melunasi hutang ayah yang totalnya ratusan juta itu. Apakah ini kesempatan bagus supaya Arabella bisa melunasi hutang itu. Tapi kalau Arabella menerima tawaran itu, harga dirinya sebagai wanita bakal tercoreng dan cap wanita matrealistis akan nampak di keningnya. Dan pastinya Mas Yudis juga bakal memperlakukanku dengan buruk. Buktinya tadi juga dia sudah sembarangan padanya.
Aaaarrrrgg. Mumet sekali. Malam ini Arabella tidak bisa tidur karena gara gara Mas Yudis sialan itu.