Debt Collector
Jadi seorang menantu dari keluarga kaya adalah salah satu mimpi kebanyakan dari seorang gadis. Karena dengan menjadi seorang istri dari seorang yang kaya bisa melakukan hal apapun dengan uang dan kekayaan suaminya. Belanja fashion, make up, bahkan barang barang mewah bisa dilakukan. Termasuk dapat melakukan hal hal yang orang biasa tidak bisa lakukan. Jalan jalan ke luar negeri atau bahkan nonton acara fashion week dari desainer desainer dunia yang terkenal.
Mimpi itu sangatlah mustahil bagi gadis biasa seperti Arabella. Sudah hal yang lazim keturunan kaya pasti menginginkan besan yang setara kaya dengannya, paling tidak derajat sosial pun seperti anak pejabat atau anak yang berpengaruh bisa besanan dengan mereka. Karena dengan alasan menjaga gengsi dan kehormatan keluarga yang berderajat sosial tinggi.
Tapi hari itu. Entah itu sebuah keajaiban, mukjizat, atau hadiah dari Tuhan untuknya. Atau apakah sebuah ujian untuk Arabella.
Sore itu saat Arabella selesai jam kuliah dan hendak berjalan keluar kampus ke halte bus bersama temannya Romeo. Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti persis di depan Arabella membuat dirinya dan Romeo hampir terserempet. Arabella baru saja hendak berteriak dan memaki si pengendara mobil. Tapi pengendara mobil itu tak lama keluar dari mobilnya.
Seorang pria usia 30 an keluar dengan setelan jas dan berdasi plus kacamata hitam. Sekilas dia tampak keren dan ganteng apalagi badannya tinggi atletis dan tampak berotot. Arabella pun terkesima dengan penampilannya tak sadar kalau dia berjalan menghampiri kami.
"Arabella Astrianingsih?" kata pria itu sambil membuka kacamata hitamnya dan memandang wajah Arabella dengan ekspresi yang tak bisa dia mengerti.
"Ya itu nama saya?" jawabnya agak gugup. Heran dan aneh kenapa pria itu bisa mengenal namanya. Padahal Arabella sendiri tak kenal dengan pria itu. Arabella mencoba mengingat-ingat apakah pria itu adalah salah satu dosen di kampusnya. Tapi berapa kali dia mencoba mengingat-ingat tak ada dosen yang berpenampilan seperti itu dan apalagi dengan mengendarai supercar seperti itu.
"Maaf bapak ini siapa ya, terus kok bisa tau nama temen saya?" tanya Romeo seolah menjadi perwakilan Arabella yang memang dia mendahului Arabella bicara.
"Saya ada perlu dengan Arabella, boleh saya mengajak Arabella bicara sebentar sambil minum kopi, deket sini ada cafe kan?" tanya pria itu tanpa memedulikan raut wajah kaget Arabella. Dan tanpa basa basi dia membuka pintu kursi penumpang dan menyuruh Arabella masuk.
"Tunggu dulu, kenapa saya harus ikut dengan anda, saya tidak kenal anda dan saya tidak bisa pergi dengan orang asing," jawab Arabella dengan sesopan mungkin.
Perasaan Arabella tak menentu campur aduk. Takut, penasaran, campur senang ada pria tak dikenal yang keren datang mengajak ke kafe.
"Nanti saya jelasin sambil minum kopi, kalau disini saya kurang nyaman," jawab pria mulai sedikit tidak nyaman juga karena banyak pasang mata para mahasiswa mahasiswi yang melihat.
Mereka juga sama penasaraanya dengan Arabella Siapa orang itu. Siapa pria itu. Dari penampilan rapinya jelas dia seorang yang berkelas dan mungkin juga seorang eksekutif sebuah perusahaan atau jangan-jangan seorang agen rahasia. Bisa jadi.
"Kalau itu penting dan sebentar bisa disini juga kan?" tanya Arabella pasang harga tak mau sembarangan naik mobil orang yang tak dikenal. Jangan jangan dia itu penculik yang bertopeng wajah malaikat.
Tampak sekilas terpancar wajah kesalnya karena jawaban Arabella. Dia pasti mengira kalau Arabella dapat dengan mudah pergi dengannya.
"Ini penting menyangkut masa depanku dan masa depanmu!"jawab dia dengan sedikit memelankan suaranya. Arabella pun nyaris hampir tak mendengarnya.
"Apa, masa depan?" tanya Arabella kaget dan makin aneh ini laki.
"Iya, kau mau naik?" tanyanya sekali lagi sambil memberi kode dengan tangannya supaya Arabella masuk ke mobilnya.
Romeo menahan tangan Arabella supaya dirinya tak gegabah masuk ke dalam mobil orang. Arabella juga sih malah tambah takut apalagi kulihat wajah pria itu agak sedikit memaksa dan sedikit arogan terasa.
"Maaf, mungkin anda salah orang, di kampus ini banyak sekali nama Arabella," jawab Arabella sambil menarik tangan Romeo untuk segera meninggalkan pria itu.
Sambil tetap menarik tangan Romeo Arabella mencoba melangkah menjauhi pria itu. Masa depanku dan masa depan dia apa maksudnya. Apa dia orang aneh dan salah menghampiri orang.
"Arabella Astrianingsih, lahir di Bandung tanggal 15 Agustus 1999 anak dari Bapak Jaya ," kata pria itu dengan lantang sampai terdengar radius 20 kaki mungkin.
Arabella berhenti berjalan. Kaget sekaligus bingung kok dia bisa tahu tanggal lahirku dan nama ayah ku.
"Ra, kok dia bisa tahu sih"tanya Romeo juga aneh.
"Jangan jangan dia debt collector Rom, loe tahu kan ayah gue mati ninggalin hutang dimana-mana?" bisik Arabella ke Romeo.
"Bener juga loe, ngapain juga dia pake bilang nama ayah loe segala," kata Romeo menambah rasa paniknya.
"Rom, ayo kita lari!" seru Arabella sambil mulai berlari meninggalkan pria itu. Romeo menyusul mengejar di belakangnya. Dan mereka pun lari meninggalkan pria itu yang kesal karena mereka kabur.
Arabella dan Romeo pun lari ke luar kampus menuju halte bus. Dan tak lama bus jurusan ke rumah bertepatan datang. Tanpa pikir panjang mereka langsung naik dan duduk di kursi kosong. Setelah dirasa aman, mereka menghela napas panjang.
"Gila Ra, debt collector sampe nyari nyari loe ke kampus?" kata Romeo. Ada sedikit nada cemas.
"Tapi ada gak sih debt collector yang nagih bawa mobil mewah gitu?" tanya Arabella.
"Bisa jadi, loe kan pernah cerita ayah loe ninggalin banyak hutang dimana mana, mungkin dia salah satu konglomerat yang dipinjemin uangnya sama ayah loe.
Perkataan Romeo membuat hatinya semakin tak menentu. Apalagi beberapa bulan terakhir ini banyak orang orang datang ke rumah menagih hutang bekas modal usaha ayah. Sedangkan ayah meninggal tanpa meninggalkan uang untuk membayar itu semua.
Sementara aset usaha ayah entahlah, Arabella tidak pernah tahu usaha ayah itu di bidang apa. Dan tidak pernah tahu urusan ayah. Karena memang bundanya Arabella dan ayah dulunya tak tinggal serumah. Secara agama memang ayah dan bundanya adalah seorang suami istri. Tapi secara legal negara mereka tidak diakui. Ya ayah bunda menikah siri, karena ayah memang sudah mempunyai istri. Dan bundanya adalah seorang istri kedua.
Jangan tanya apakah bunda Arabella itu seorang perusak rumah tangga orangkah? Jawabannya bukan karena memang bunda Arabella itu tertipu oleh ayah yang mengaku duda. Tapi sebenarnya dia masih mempunyai istri. Dan Arabella pun sudah terlahir ke dunia ketika bundanya mengetahui itu semua. Karena sudah terlanjur melahirkan nya. Bunda rela dipandang sebelah mata dan hinaan hinaan orang tentang statusnya sebagai istri kedua selama belasan tahun.
Tapi dua tahun yang lalu ayah memutuskan untuk bercerai dengan istri pertamanya. Ayah lebih memilih hidup bersama dengan bundaku. Tapi konsekuensinya ayah harus meninggalkan semua aset hartanya untuk keluarga istri pertamanya.
Sementara bunda, karena dia sudah terlalu sayang dan mencintai ayah dia rela menerima ayah yang tak punya apa apa. Ayah berjanji kepada bunda untuk membuka usaha baru dan merintis kehidupan bersama bunda dan aku. Dia kemudian meminjam modal ke beberapa orang temannya untuk modal usahanya.
Baru setahun usaha ayah berjalan namun usahanya tak berjalan mulus. Para investor yang tadinya percaya meminjamkan modal satu persatu menarik investasinya. Sehingga ayah mempunyai hutang bekas menjalankan usaha gagalnya itu. Dikarenakan kegagalannya ayah terbebani dan jatuh sakit dan sampai akhirnya meninggal.
Harta peninggalan ayah yang bunda simpan dan ditabung pun habis terkuras untuk membayar hutang itu. Mereka pun hidup dan tinggal di rumah kontrakan beruntungnya bunda punya usaha salon kecil. Dengan usaha kecil itu bunda menghidupi dan membiayai kuliah Arabella. Namun hutang itu sepertinya tak pernah habis dan lunas. Bunda sampai kehilangan cara untuk membayar hutang hutang itu. Maka itulah Arabella sedikit panik dan parno kalo berurusan dengan debt collector.
"Ra, cowo tadi kayaknya kesel banget tuh, tapi dia gak ngejar kita kan?"tanya Romeo.
Arabella pun menoleh ke belakang. Tampak mobil itu sudah meninggalkan kampus dan mengambil arah yang lain. Sepertinya pria itu tidak mengejar.
"Iya aman"jawabku lega.
"Ra, sekarang bagaimana? Ada yang nyari nyari loe di kampus."
"Emang berapa sih hutang ayah loe, kok dia ngomongnya masa depan loe, jangan jangan?" Romeo tidak meneruskan perkataanya.
Arabella menghela napas yang panjang. Perasaan takut marah dan kecewa bercampur jadi satu. Kenapa masalah ini bisa menimpa dirinya. Meski Arabella tak menyalahkan ayah, Arabella merasa perlu marah, karena Arabellamerasa jadi korban. Seharusnya Arabella bisa kuliah dengan tenang. Tanpa ada bayang bayang debt collector yang mendekati.
Pernah sekali Arabella dan bunda Arabella harus bersembunyi berhari hari karena penagih hutang itu mondar mandir di depan rumah.
Arabella pikir bisakah dirinya melanjutkan kuliah dengan keadaan seperti ini. Haruskah Arabella berhenti kuliah dan mencari pekerjaan agar dapat membantu bundanya. Tapi kerja seperti apa yang bisa menghasilkan uang banyak dengan posisinya sekarang tanpa pengalaman kerja dan juga belum lulus kuliah.
Kata banyak orang zaman sekarang mencari pekerjaan sangat susah. Jangankan yang punya ijasah SMA yang berijazah S1 pun banyak yang menganggur. Memikirkan itu saja Arabella sudah mumet. Sepanjang perjalanan ke rumah Arabella diam termenung mencoba menenangkan pikiran dan kecemasan akibat kejadian tadi. Romeo sepertinya tidak tega melihatnya diam. Dia mencoba menghibur Arabella dengan menepuk nepuk punggung Arabella.