Pusat tata surya tampak ceria di awal hari ini, meskipun sinarnya semakin menghangat bahkan kian menyengat namun tak mengurangi pesonanya. Menjadi sumber penghangat terbaik untuk semua makhluk.
Sama hal dengan hati gadis cantik dengan dres mewah berbahan satin yang tampak sangat pas ditubuhnya dan sangat menggoda bagi siapa pun yang melihatnya. Tapi, hal itu sama sekali tak mampu menggerakkan hati seseorang yang berada di sampingnya, mata tajam yang terus fokus ke arah depan tanpa peduli ada seseorang yang sedari tadi menatapnya kagum dengan penuh cinta.
“Roy, makasih ya. Udah mau antar aku pulang.” Ucap Zava berharap Roy mau meresponsnya.
“Hmm..” jawab Roy tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya.
Zava menghela nafas, selalu begitu respons Roy saat dia ajak bicara. Cuek, dingin dan irit bicara. Tapi, setidaknya Roy sudah mau mengantarkannya pulang meskipun dia tahu jika itu atas permintaan mamanya.
Flashback on,
“Zava, tante minta maaf banget. Sepertinya tante nggak bisa kalau terus memaksa Roy untuk menerima perjodohan ini. Kamu tahu sendiri ‘kan dia sama sekali tak merespon ucapan tante setiap bahas hubungan kalian. Tante gak mau kamu makin sakit, Sayang. Kamu berhak bahagia dan itu bukan dengan Roy.” Ucap Jeny berusaha meyakinkan Zava agar tidak terus menerus mengharapkan Roy.
Zava mengerutkan keningnya, dia sedikit terkejut dengan penuturan Jeny kali ini. Tak percaya jika Jeny menyuruhnya untuk menyerah. Padahal dia sendiri yang menginginkan agar Roy berjodoh dengan Zava.
“Tante, kenapa tante bicara seperti itu? Aku sayang sama Roy, Tan. Aku mau terus berjuang untuk mendapatkan hati Roy. Bagaimana pun caranya.” Jawab Zava kuekeh dengan pendiriannya.
“Tapi tante nggak bisa paksa Roy, Zava.” Ucap Jeny mengelus bahu Zava pelan memberi pengertian untuk gadis itu.
“Zava akan berjuang sendiri, Tante. Zava yakin Zava bisa dapatin hati Roy.” Ucap Zava yakin.
Melihat kegigihan dan keras kepala Zava membuat Jeny menghela nafas panjang. Berat kemungkinan kecil Zava bisa menuruti keinginannya untuk membatalkan rencana perjodohan ini. Apalagi keduanya mempunyai sifat yang sama. Keras kepala dan tak pernah mau melepaskan apa yang dia anggap harus menjadi miliknya.
“Tante hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kamu.” Pasrah Jeny meraih tangan Zava dan menggenggamnya.
Zava membalas genggaman tangan Jeny dan tersenyum menatap wanita paruh baya di depannya. Senang karena selama ini Jeny sudah banyak membantunya untuk bisa dekat dengan Roy. Meskipun Roy terus-menerus dingin dan tak pernah menganggap dia ada.
Dan, kali ini dia harus berjuang sendiri untuk mendapatkan hati Roy. Meski dia sempat ragu, tapi dia harus terus berjuang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Bagaimana pun caranya dia harus bisa mendapatkan hati Roy.
“Tante, apa Zava boleh minta tolong sekali lagi?” tanya Zava.
“Minta tolong apa, Sayang?” jawab Jeny.
“Tante, tolong bujuk Roy buat antar Zava pulang ya?. Zava janji ini yang terakhir kalinya Zava melibatkan tante dalam masalah ini lagi. Setelah ini Zava akan berjuang sendiri buat mendapatkan Roy.” Ucap Zava memohon.
“Kalau Roy menolak bagaimana?” tanya Jeny.
“Tante, Zava yakin kalau tante yang minta ke Roy pasti Roy mau.” Jawab Zava meyakinkan.
Jeny menghela nafas panjang. Tak ada salahnya jika dia mencoba membujuk Roy, karena selama ini Roy memang selalu menuruti keinginannya walau sulit untuk hatinya menerima.
“Oke.. tante coba bujuk Roy.” Ucap Jeny.
“Terima kasih, Tante.” Ujar Zava berbinar.
“Sama-sama, Sayang. Sebentar ya?” jawab Jeny beranjak dari duduknya.
“Iya, Tante.” Jawab Zava.
Flashback off.
Tanpa di sadari mobil yang di tumpangi oleh keduanya kini sampai di depan rumah kedua orang tua Zava. Namun mobil itu tak masuk ke halaman rumah bercat putih gading dua lantai tersebut. Hanya berhenti di depan gerbang dengan posisi mobil di pinggir jalan, persis kek angkot yang lagi nurunin penumpang.
“Ehem.” Roy berdehem membuat Zava sadar dari lamunannya.
Mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Roy ke sekeliling. Sedikit terkejut saat menyadari jika mobil Roy berhenti di depan gerbang rumahnya dan tak masuk ke halaman rumah. Bahkan, Satpam rumahnya pun tampak heran karena ada mobil mewah yang berhenti di pinggir jalan tepat di depan gerbang.
“Hmm.. kamu nggak masuk dulu? Mama pasti seneng lihat kamu datang ke rumah.” Ajak Zava menatap penuh harap ke arah Roy.
“Saya sibuk.” Jawab Roy tanpa menatap ke arah Zava.
“Ooh.. ya sudah kalau gitu, aku masuk dulu ya. Kamu hati-hati di jalan.” Ucap Zava mempertahankan senyumnya.
Karena Roy tak kunjung merespons, Zava menghela nafas kemudian mulai membuka pintu mobil dan turun dari mobil mewah tersebut. Tepat setelah Zava kembali menutup pintu, pintu tersebut terkunci dari dalam dan perlahan mobil tersebut kembali berjalan tanpa peduli dengan Zava yang masih berdiri di tempatnya dengan mata yang terus menatap ke arah mobil yang semakin menjauh tersebut.
Jujur, sebenarnya Zava mulai lelah karena usahanya tak pernah di lihat oleh Roy. Tak pernah bisa merubah sikap dingin Roy. Namun, mengingat betapa besar rasa cintanya dan betapa besar pengorbanannya selama ini, membuat Zava bertekad akan terus berusaha memiliki hati Roy.
‘Aku nggak akan lepasin kamu, Roy. Bagaimana pun juga, kamu harus menjadi milikku.’ Batin Zava mengeratkan genggaman ke tati tas miliknya.
Beberapa saat kemudian Zava mulai meninggalkan tempatnya dan masuk ke dalam halaman rumahnya. Satpam yang sedari tadi berjaga segera membukakan gerbang saat mengetahui nonanya akan masuk.
“Selamat siang, Non.” Sapa Satpam dengan nama ‘HARTO’ itu.
“Siang.” Jawab Zava tanpa menatap ke arah si satpam.
Terus melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah megah di depannya. Rumah yang selama ini menjadi tempat penuh kenangan buat dia. Sebenarnya, Zava enggan pulang ke rumah ini. Karena selalu membuat dia mengingat sesuatu yang sampai saat ini membuatnya sedih. Sudah lima tahun Zava memilih tinggal di apartemen milik kedua orang tuanya. Pulang ke rumah hanya waktu weekend atau pun kalau dia sedang libur.
Langkah Zava terhenti saat matanya menatap ke arah ayunan yang terletak di tengah taman depan rumahnya. Ayunan yang menjadi sanksi betapa kehilangannya Zava waktu itu. Serta kesedihan dan kerinduannya yang sampai saat ini semakin membuat dadanya sesak.
‘Di mana pun kamu berada, semoga selalu di lindungi oleh tuhan.’ Batin Zava yang tanpa sadar mulai menitikkan air matanya.
Tak mau membuat mamanya ikutan sedih, Zava segera menghapus air matanya dan mengembalikan raut wajahnya seperti biasa. Ceria dan selalu tersenyum saat dia pulang ke rumah kedua orang tuanya. Menghembuskan nafas sejenak, kemudian mulai melangkah masuk ke dalam rumahnya.
**
Setengah jam yang lalu, Jasmine dan Sofia sudah keluar dari kelas mereka. Dan saat ini kedua gadis tersebut tengah menikmati makan siangnya di kafe tak jauh dari kampus mereka. Kafe cabang milik Daffa yang terletak tepat di depan kampus. Kafe ini adalah cabang pertama yang di buka, dan menjadi tempat favorite buat para mahasiswa yang butuh tempat ngerjain tugas ataupun hanya sekedar isi perut.
Dua gelas jus alpukat dengan roti bakar selai coklat menjadi menu makan siang mereka saat ini. Di samping tempatnya yang super nyaman dan luas, kafe ini juga menyediakan makanan yang enak-enak dengan harga pas di kantong.
“Min, kafe tempat loe kerja masih buka lowongan nggak sih?” tanya Sofia.
Jasmine yang tengah mengaduk jus miliknya tampak mengerutkan keningnya menatap ke arah Sofia yang sama tengah menatapnya. Namun hanya sesaat, Jasmine kembali mengaduk jusnya dan menyedotnya hingga sepertiga gelas.
“Kenapa loe tanya soal lowongan?” tanya Jasmine.
“Hmm.. gue bosen di tempat kerja gue, anak-anaknya suka julid.” Jawab Sofia.
“Elaah... di mana pun sama kali, Sof.” Sahut Jasmine.
“Ya kan kalau kalau kita di tempat yang sama lebih enak. Ada yang di ajak ngobrol tanpa peduli mereka-mereka. Lagian, kita lebih mudah berangkat sama pulangnya.” Jawab Sofia.
“Serah loe aja lah.” Jawab Jasmine kembali memasukkan potongan roti ke dalam mulut mungilnya.
“Tapi, beneran ada lowongan kan?” tanya Sofia lagi.
Jasmine memasukkan potongan terakhir kemudian meneguk jusnya hingga tandas. Mengelap sisa jus yang menempel di pinggir bibirnya dengan tissu yang tersedia di setiap meja.
“Gue nggak tahu, Sofia. Ada pun mungkin entar habis pembukaan kafe baru.” Jawab Jasmine
“Kapan pembukaannya?” tanya Sofia.
“Dua minggu lagi deh kayaknya. Entar gue kabarin deh.” Jawab Jasmine.
“Oke oke.”
Setelah makanan yang mereka pesan habis, Jasmine dan Sofia segera meninggalkan kafe tersebut dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit untuk menemani ibunya. Hari ini Jasmine meminta izin ke Daffa untuk tidak masuk bekerja.
‘Aku kirim pesan aja kali ya, ke pak Daffa.’ Batin Jasmine. Kemudian merogoh ponselnya dari saku celananya.
Mengusap-usap layar tipis itu, mencari kontak dengan nama ‘PAK DAFFA’ dan segera mengirimkannya pesan.
‘PAK DAFFA’
[selamat siang, Pak. Maaf sebelumnya, hari ini saya izin untuk tidak masuk bekerja. Ibu saya masuk rumah sakit dan saya harus menjaganya.]
Setelah menekan tombol kirim, pesan tersebut langsung centang dua. Dan tanpa menunggu jawaban dari si bosnya. Jasmine beralih ke grub karyawan kafe tempat dia bekerja.
‘KARYAWAN DJ SOUND’
[Jasmine: siang guys, sorry. Hari ini gue izin gak masuk. Ibu gue masuk rumah sakit dan gue jagain beliau.]
Menunggu sejenak, dan benar saja sudah ada yang mulai merespon pesannya.
[Vera : Oke. Salam buat ibu loe ya, Min. Semoga lekas sembuh.]
Tersenyum, dan segera membalas pesan Vera.
[Jasmine : Amiin.. thanks, Ver.]
Setelah mengirim balasannya, Jasmine keluar dari aplikasi hijau tersebut dan kembali menatap le arah depan. Bercanda dan membahas banyak hal bersama Sofia sepanjang perjalanan mereka menuju rumah sakit. Membuat tanpa sadar motor matic tersebut sudah sampai di halaman rumah sakit tempat Wati di rawat.