“Urusan apa sih, Roy?” sahut Zava yang sedari tadi diam.
“Urusan pribadi.” Jawab Roy tanpa menatap ke arah Zava.
“Boleh aku tahu, tentang apa itu?” tanya Zava mencoba untuk mendekati Roy. Tapi hanya di hanya dengan lirikan tajam. Membuat Zava sontak menunduk takut.
“Mak—maksud aku—“ ucap Zava gelagapan dan terpotong karena Roy malah pergi dari tempat itu menuju kamar pribadinya.
Begitulah sikap Roy terhadap Zava. Dingin, dan tak peduli bagaimana perasaan Zava. Prinsip Roy hanya satu, dia bertindak sesuai keinginannya. Apa pun itu yang penting asal dia merasa kalau dirinya benar. Untuk masalah bagaimana perasaan Zava, dia sama sekali tak peduli karena dari awal dia sudah mengatakan jika hubungan mereka hanya status belaka.
Melihat sikap Roy yang terus menerus dingin terhadap Zava membuat Jeny menghela nafas panjang. Manatap ke arah Zava yang kini juga menghela nafas, jelas jika gadis itu merasakan sakit dalam hatinya. Sebenarnya Jeny kasihan dengan Zava, dia juga pernah berniat untuk membatalkan perjodohan ini karena tak ingin Zava semakin sakit karena sikap dingin Roy.
Namun, Zava menolak. Dia tak mau menyerah untuk mendapatkan hati Roy. Dia akan terus berusaha agar Roy bisa lebih hangat kepadanya dan mulai membuka hatinya yang membeku itu. Memberi kesempatan untuknya agar bisa menunjukkan jika rasa cinta yang dia miliki sangatlah besar.
“Kamu nggak papa, Sayang?” tanya Jeny mendekati Zava.
Zava tersenyum, meski hatinya sakit tiap kali Roy bersikap dingin kepadanya, tapi setidaknya Jeny masih perhatian dan mendukung perjuangnya untuk mendapatkan hati Roy.
“Zava nggak papa, Tante.” Jawab Zava.
“Yang sabar ya. Tante pun tidak bisa terlalu memaksa Roy. Kamu tahu sendiri ‘kan bagaimana sifat dia. Tapi, tante yakin suatu saat Roy bisa buka hatinya.” Ucap Jeny menenangkan Zava.
“Iya, Tante. Terima kasih atas dukungannya.” Jawab Zava.
“Sama-sama.”
Sementara Roy masuk ke dalam kamarnya, kamar yang sebulan yang lalu dia tinggalkan karena lebih memilih untuk tinggal di apartemen miliknya. Menatap seisi ruangan tersebut yang tampak masih sama seperti pada saat dia tinggalkan. Hanya sepreinya yang nampak di ganti baru oleh bibi.
Berjalan menuju ranjang king sizenya dan menjatuhkan tubuh besarnya di sana. Memejamkan matanya untuk meredam gemuruh dalam hatinya. Seperti biasa, selalu memancing emosi setiap kedua wanita itu sudah bersatu.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar pintu kamarnya di ketuk, tak berselang lama handle pintu di putar.
Ceklek,
“Roy, mama boleh masuk?” tanya Jeny menatap anaknya yang tengah berbaring di ranjang miliknya.
“Hmm.” Sahut Roy tanpa mengubah posisinya.
Setelah mendapat respon dari Roy, Jeny baru berani melangkahkan kakinya ke dalam kamar bernuansa biru tersebut. Berjalan mendekat ke arah ranjang dan duduk di dekat kaki Roy yang membujur lurus dengan sepatu yang masih melekat di sana.
“Roy, mama minta maaf kalau selama ini mama terlalu memaksakan keinginan mama buat menjodohkan kamu dengan Zava. Mama tahu mama salah, maafin mama.” Ucap Jeny setelah beberapa menit diam.
“Roy, mama... mama boleh minta sesuatu dari kamu?” tanya Jeny lagi. “Mama minta kamu antar pulang Zava. Setelah itu, terserah kamu. Mama nggak akan ikut campur lagi tentang urusan pribadi kamu. Mama serahkan semuanya ke kamu.” Sambung Jeny.
Mendengar permintaan maaf dari sang mama membuat Roy merasa tak enak. Menghembuskan nafas panjang kemudian bangun dari tidurnya. Duduk membelakangi mamanya dengan kaki yang menggantung di sisi ranjang. Diam menatap ubin yang tampak mengkilap karena tiap hari di pel oleh ART dengan pembersih lantai yang paling ampuh.
“Sejak awal Roy sudah bilang ke mama, Roy tidak bisa menerima Zava di hati Roy. Mama juga tahu kalau Roy sama sekali tak menganggap Zava sebagai kekasih Roy. Roy bisa cari pendamping Roy sendiri. Tanpa mengorbankan hati dan menyakiti orang lain.” Ucap Roy tanpa mengalihkan pandangannya dari ubin di bawah kakinya.
Di belakangnya, Jeny tampak terdiam membenarkan ucapan anaknya itu. Memang dia yang salah karena terlalu memaksakan keinginannya, padahal dia tahu sejak awal Roy tak setuju dengan semua ini. Apalagi Zava adalah wanita yang baik dan terpandang dari segala sisi. Namun, dia harus dilibatkan dalam ego yang akhirnya hanya bisa melukai hati gadis cantik itu.
“Iya... mama tahu mama salah. Mama akan bilang ke Zava dan orang tuanya untuk membatalkan perjodohan ini.” Ucap Jeny.
“Hmm..” sahut Roy.
“Roy, kamu mau kan antar Zava pulang. Ini yang terakhir kalinya mama minta kamu berurusan dengan Zava. Setelah itu mama nggak akan paksa kamu lagi.” Minta Jeny menyentuh tangan besar Roy dan mengusapnya pelan berharap Roy mau mengabulkan permintaannya kali ini.
*
*
Di tempat lain.
Jasmine dan Sofia berjalan beriringan menuju kelas mereka. Dengan sesekali di iringi oleh candaan dari kedua gadis yang sudah bersahabat sejak kecil tersebut. Dan selama perjalanan menuju kelasnya, banyak dan hampir semua pasang mata menatap ke arah keduanya, terutama Jasmine yang sampai saat ini berstatus jomblo.
“Jasmine!”
Terdengar teriakan dari arah belakang membuat mereka berdua sontak menoleh. Dan, benar saja, di belakang sana berjarak sekitar lima bekas meter dati tempat mereka berdiri. Ada seorang cowok yang memakai kaos putih di tumpuk dengan kemeja kotak-kotak merah maroon tampak berjalan setengah berlari ke arah Jasmine dan Sofia.
“Hay, Jasmine?!” sapa cowok yang bernama Delon tersebut.
“Hay.” Balas Jasmine.
“Kok lama gak masuk ke mana?” tanya Delon.
“Gak ada jadwal masuk.”
“Eehh... udah, Jasmine sama gue mau ke kelas keburu telat.” Cetus Sofia kemudian menarik lengan Jasmine menuju kelas mereka meninggalkan Delon yang tampak tak rela di tinggal begitu saja.
“Ckk.. baru aja ketemu udah di pisahin lagi.” Gerutu Delon menatap kepergian gadis yang dia suka.
Sementara itu, Jasmine yang diseret Sofia terlihat nurut walau sesekali dia berusaha menarik lengannya dati Sofia.
“Sof, jangan gitu napa.” Ucap Jasmine menegur Sofia yang memang dari dulu tak suka dengan Delon.
“Eh, Min.” Sahut Sofia menghentikan langkahnya dan melepas lengan Jasmine. Kemudian menatap ke arah sahabatnya itu.
“Kalau loe terus-terusan ngladenin tuh bocah, bisa-bisa kita telat. Loe mau dapat hukuman tak beradap lagi dari pak Darwis, kalau gue mah ogah.” Sambung Sofia.
“Hmmm... iya sih.” Balas Jasmine.
“Nah... eh pak Darwis!” pekik Sofia saat matanya menangkap kedatangan dosen galak itu di ujung koridor.
Jasmine menoleh ke arah yang sama dengan Sofia dan benar saja, disana ada dosennya membuat kedua gadis tersebut langsung masuk ke dalam kelas mereka. Dan duduk di kursi masing-masing. beberapa saat kemudian dosen galak yang paling di hindari oleh seluruh mahasiwa tersebut masuk ke ruang kelas membuat seisi kelas langsung diam bak kuburan malam.
"Selamat pagi.!" ucap pak Darwis berjalan menuju mejanya dan meletakkan barang bawaannya.
"Selamat pagi, Pak!" jawab seisi kelas kompak.
"Hmm... keluarkan tugas kalian minggu lalu." ucap pak Darwis membuat sebagian mahasiswa tampak kaget dan itu di sadari oleh sang dosen.
"Jasmine!, kumpulkan semua tugas teman-temanmu dan taruh di meja saya. " titah pak Darwis tak terbantahkan.
"Hmm.. siap, Pak." jawab Jasmine sedikit ragu.
Dengan gerakan lambat, Jasmine meraih tugasnya dan menatap ke arah teman-temannya yang tampak memohon untuk tak di kumpulkan. Jasmine menghela nafas berat lalu mulai menghampiri teman-temannya untuk mengambil tugas mereka.
Saat sampai di meja Sofia, Jasmine tampak mengkerutkan kening menatap sahabatnya yang kini senyum-senyum sendiri sambil menyerahkan tugasnya.
"Loe kenapa?" bisik Jasmine.
"Gue lega, baru kali ini gue tepat waktu ngerjain tugas dari pak Darwis." balas Sofia berbisik.
"Ckk.. hasil nyontek aja bangga." cibir Jasmine.
"Bodo amat. wlee" balas Sofia.