Mentari yang tampak malu-malu mulai menampakkan sinarnya kini terlihat sangat indah di ufuk timur. Cahaya kuning keemasan terus beranjak naik dan semakin hangat, membuat pagi yang dingin ini terasa semakin nyaman. Sinar cantik dengan vitamin yang sangat baik tubuh membuat siapa pun ingin menikmati moment pagi ini. Namun, itu tak berlaku bagi gadis yang tengah menyisir rambut hitam panjangnya, mengikatnya jadi satu dengan sebuah benda bulat yang tampak sangat elastis.
Wajah imut dengan pipi cubby serta poni yang sampir menutupi matanya ditambah dandanan sederhana tanpa make up tebal membuat Jasmine terlihat sangat menggemaskan. Baby face itulah istilah yang selalu disematkan untuknya. Bahkan banyak yang mengira kalau Jasmine masih berumur tiga belas sampai lima belas tahun, padahal usianya sudah kepala dua.
Menoleh ke arah jam yang tergantung cantik di dinding dekat lemari. Pukul enam lebih tujuh belas menit. Masih ada waktu untuk ke rumah sakit dahulu, membawakan sarapan untuk ibunya. Mengambil tas ransel berisi masakannya dan bergegas keluar dari kamar. Memastikan semua sudah aman untuk di tinggal, kompor, lampu, dispenser dan peralatan yang terhubung dengan listrik sudah dimatikan olehnya.
Tin... tin...
Terdengar bunyi sepeda motor di depan rumah, siapa lagi kalau bukan Sofia. Semalam Sofia datang ke rumah sakit dan menemani Jasmine di sana. Pagi tadi sebelum subuh, kedua gadis tersebut pulang karena Jasmine ada kelas pagi.
“Kita ke rumah sakit dulu ya, Sof.” Ucap Jasmine setelah mengunci pintu dan berjalan mendekati Sofia yang masih nangkring di atas sepeda motornya.
Sofia mengukurkan helm ke Jasmine, “Oke, ada titipan juga nih dari mama buat ibu.” Jawab Sofia menunjuk paper bag yang menggantung di depannya.
“Oke... ayuk.”
“Pagarnya nggak loe kunci?” tanya Sofia menunjuk ke arah pintu pagar yang masih terbuka.
“Eh iya, lupa.” Sahut Jasmine kemudian kembali turun dari motor dan mengunci pagar rumahnya. Sedangkan Sofia geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang ceroboh itu. Sejak kecil Jasmine memang ceroboh dalam hal apa pun, ya meski dia selalu bisa mengatasinya sendiri akibat dari ulahnya itu.
“Cckk.. kebiasaan.” Cibir Sofia dan seperti biasa hanya dibalas cengiran oleh Jasmine.
Setelah pintu pagar terkunci dengan benar, keduanya mulai meninggalkan tempat menuju rumah sakit. Di sepanjang perjalanan Sofia dan Jasmine terlibat obrolan seru ala mereka. Apa pun itu mereka bahas, dari hal sepele hingga hal yang tak ada kaitannya dengan mereka. Yang paling sering menjadi pokok bahasan adalah tentang status Jasmine yang masih menjomblo di usia yang sudah memasuki tahun ke dua puluh satu.
Bukannya tak ada yang suka dengannya, tapi sudah puluhan hingga ratusan cowok yang mendekatinya berakhir mundur teratur karena Jasmine sama sekali tak bisa membuka hati untuk cowok-cowok tampan itu. Jasmine pun bingung, kenapa hatinya sama sekali tak tertarik menjalin hubungan dengan lawan jenis.
Ibunya sampai heran, Sofia yang setiap hari bersama Jasmine sudah menjalin hubungan dengan Ryan sejak kelas dua belas. Tapi, Jasmine sampai sekarang tak pernah terlihat dekat dengan seorang pria pun. Palingan ya pulang kerja di antar bosnya, pas di tanya Jasmine menjawab tidak ada hubungan apa-apa antara mereka.
Memang sih, ada beberapa teman karyawan Jasmine yang merasa kalau bos mereka suka dengan Jasmine, tapi Jasmine selalu cuek dan menganggap hubungan mereka hanya sebatas bos dan karyawan tak lebih.
“Min, soal masalah loe dengan pengusaha muda itu sudah kelar ‘kan?” tanya Sofia.
Bingung harus jawab apa, kalau sampai Sofia tahu soal masalah dia dengan Roy yang belum juga kelar dan makin runyam, Sofia bakal ikut terseret dalam masalah ini. Apalagi sifat Sofia tak jauh beda dengannya. Bukannya cepat selesai malah akan menjadi panjang.
“Min.?!” Panggil Sofia lagi karena hingga beberapa menit Jasmine tak kunjung merespon.
“Eh, Iya.” Jawab Jasmine terhenyak. “Hmm... masalah gue sama dia udah kelar kok.” Jawab Jasmine.
Namun, Sofia tidak bisa percaya begitu saja. Terlihat jelas di raut wajah Jasmine jika dia menyembunyikan sesuatu. Namun, Sofia tak mau memaksa Jasmine untuk cerita sekarang.
“Hmmz... syukurlah kalau emang udah kelar.” Sahut Sofia mencoba untuk percaya dengan jawaban Jasmine.
Kemudian keduanya terdiam larut dalam pikiran masing-masing. Hingga tak terasa motor matic yang di tumpangi keduanya telah masuk ke area rumah sakit dimana ibunya Jasmine di rawat. Memarkirkan motor kesayangan itu di tempat parkir khusus roda dua.
“Hari ini satu mata kuliah ‘kan.?” Tanya Jasmine sambil melepas pengait helmnya.
“Iya, jamnya pak Darwis ‘kan?” sahut Sofia meletakkan helmnya ke kaca spion sebelah kanan.
“Hmm... tugas loe udah kelar ?” tanya Jasmine menatap ke arah Sofia yang malah nyengir.
“Udah kok. Beres.” Jawab Sofia mengajukan jempolnya.
“Bagus deh. Setidaknya loe gak bakal dapat hukuman kali ini.” Cibir Jasmine dan melangkah pergi meninggalkan Sofia yang tampak manyun.
“Eehh.. kurang ajar nih anak.” Pekik Sofia menyusul langkah Jasmine. “Sombong ya sekarang? Mentang-mentang jadi asisten dosen.” Balas Sofia setelah menyamakan langkahnya dengan Jasmine.
“Hemm hemmm..” sahut Jasmine tersenyum.
*
*
Di tempat lain,
Mobil hitam dengan plat khusus tersebut mulai memasuki halaman rumah berlantai tiga yang tampak paling besar dan mewah di banting rumah-rumah lain yang berada di sekitarnya. Mobil tersebut berhenti tepat di depan pintu utama. Detik kemudian, pria gagah dengan setelan jas mahal tampak turun dari mobil tersebut. Seperti biasa, jika berkunjung ke tempat ini dia akan menyetir sendiri.
Dengan langkah gagahnya, Roy masuk ke dalam rumah yang menjadi tempat dia menghabiskan waktu sejak kecil. Berhenti sejenak di depan pintu coklat yang menjulang tinggi di depannya. Menghembuskan nafas panjang kemudian kembali melangkah masuk.
Di ruang tamu, sudah ada dua wanita yang menunggu kedatangan Roy sedari tadi. Jeny yang tampak mengobrol asik dengan Zava, bahkan sesekali terdengar tawa senang dari kedua wanita tersebut. Hubungan keduanya memang sudah akrab sejak satu tahun terakhir. Jeny adalah salah satu penggemar Zava. Dan berharap jika Zavalah yang akan menjadi menantunya mendampingi Roy.
Tap.. tap.. tap..
Terdengar suara langkah teratur dari arah pintu membuat dua wanita yang tengah asyik mengobrol itu berhenti dan menoleh ke arah sumber suara. Detik kemudian tampak jelas kedua mata mereka berbinar saat tahu jika orang yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
“Roy.. akhirnya kamu pulang juga.” Ucap Jeny bersemangat menyambut kedatangan anak semata wayangnya yang sudah sebulan ini tidak pulang ke rumah.
Semenjak Jeny memaksanya segera menikahi Zava. Roy memilih untuk keluar dari rumah dan tinggal di apartemen miliknya. Tak ada satu orang pun yang di perbolehkan masuk ke apartemen pribadi milik Roy. Begitu pun kedua orang tuanya. Bagi Roy, apartemen itu tempat paling privasi untuknya. Bahkan untuk masalah bersih-bersih dan masak, Roy melakukannya seorang diri.
“Mama kangen banget sama kamu. Kamu sehat ‘kan?” ucap Jeny memeluk anaknya bahagia namun beda dengan Roy yang tampak sangat dingin.
“Baik.” Jawab Roy singkat.
“Syukurlah.. duduk yuk, Nak. Ada Zava yang sudah nungguin kamu sejak tadi.” Ucap Jeny menarik lengan Roy untuk duduk di sofa berhadapan dengan Zava yang nampak tersenyum bahagia melihat pujaan hati yang kini ada di depannya.
Sudah beberapa hari ini, Roy sangat sulit untuk di temui. Di kantor, di proyek hingga di rumah orang tuanya. Tak pernah bisa bertemu maupun mengobrol selayaknya pasangan kekasih.
“Roy.” Panggil Jeny setelah ART di rumah tersebut kembali ke dapur setelah menaruh minuman kesukaan majikannya di meja.
Roy menoleh menatap mamanya yang juga tengah menatapnya. Melihat raut wajah mamanya Roy menghela nafas, sangat tahu apa yang akan di katakan oleh mamanya. Dan hal itu tidak akan jauh-jauh dari hubungannya dengan Zava.
“Roy, kamu kemaren bohong ‘kam sama mama? Kamu gak datang ke acara Zava.” Ucap Jeny.
“Roy ‘kan sudah bilang, Ma. Roy ada urusan semalam.” Jawab Roy santai cenderung malas.
“Urusan apa? Kan ada Reno, kamu bisa nyuruh dia gantiin kamu dan kamu temani Zava.” Sela Jeny.
“Urusan ini nggak ada sangkut pautnya dengan Reno, Ma. Hanya aku dan cukup aku.” Jawab Roy.
Mendengar jawaban dari Roy membuat Jeny dan Zava mengerutkan kening. Belum paham dengan apa yang di maksud oleh Roy, karena setahu mereka urusan apa pun itu pasti melibatkan Reno. Tapi, kenapa kali ini Roy bilang kalau urusannya tidak ada sangkut pautnya dengan Reno.