.Melihat jarum jam yang melingkar di tangannya terus berputar hingga berada di arah yang berlawanan sejak Jasmine masuk ke dalam salon itu. Roy yang tak pernah menunggu itu pun mulai merasa bosan. Menatap asistennya yang setia bersamanya dua puluh empat jam sejenak.
“Ren!” panggil Roy.
Reno menoleh seraya menjawab, “Ya, Bos.”
Roy menyugar rambutnya ke belakang, namun tak sampai merusak tatapan mahkota berharganya itu, “Apa memang seperti ini cara wanita berdandan?” tanyanya.
Bingung mau jawab bagaimana, karena sejatinya Reno pun tak pernah menunggu wanita berdandan. Orang waktunya habis buat melayani setiap permintaan sang big bos.
“Maaf, Bos. Setahu saya memang wanita lama kalau dandan.” Jawab Reno ragu, membuat Roy menghela nafas. Hal yang tak pernah dia alami kini harus dia lakukan demi seorang gadis sederhana yang berhasil mengusik ketenangan hati yang beku selama hampir tiga puluh tahun.
Kembali menatap jamnya, waktu semakin mepet. Tapi tak kunjung ada tanda-tanda Jasmine keluar dari dalam salon. Karena penasaran dan tak betah jika harus menunggu lebih lama lagi. Roy memilih untuk turun dan melihat apa di kerjakan para karyawan salon itu di dalam.
Reno yang melihat bosnya sedikit memberi respek terhadap orang lain, padahal orang itu sudah berperilaku tak mengenakkan kepadanya. Hanya bisa menunggu, menunggu apa yang akan di lakukan sang bos itu selanjutnya.
“Apa mungkin, pak Roy mulai menaruh hati pada gadis itu?” gumam Reno menatap Roy yang mulai masuk ke dalam salon.
Di dalam sana.
Roy berjalan masuk dengan gagahnya, menatap sekeliling namun tak mendapati yang dia cari. Hanya ada jejeran busana wanita dengan berbagai macam warna dan model. Hanya beberapa karyawan yang tampak merapikan gaun-gaun yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
Tak berselang lama, si pemilik salon keluar dari salah satu ruangan. Tersenyum saat melihat Roy berada di dalam salon miliknya. Berbicara sejenak dengan salah satu karyawannya kemudian berjalan mendekati Roy. Roy yang mendengar langkah kaki mendekat sontak menoleh, namun masih dengan wajah datarnya.
“Selamat sore, Pak Roy.” Sapa si pemilik salon yang di ketahui bernama Serena itu.
Roy hanya mengangguk sebagai jawabannya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sama seperti sikap dia kepada siapa saja yang menurutnya tak penting.
Tahu jika pria di depannya ini tengah mencari gadis yang dia bawa kemari. Serena mengkode karyawannya untuk segera membawa Jasmine keluar dari ruang ganti. Karyawan itu langsung menuju ruangan di mana Jasmine di make over sesuai keinginan Roy. Beberapa saat kemudian, pintu ruangan tersebut terbuka.
Mendengar suara pintu yang kembali terbuka, membuat Roy sontak menoleh. Detik kemudian matanya tampak sedikit membola saat melihat siapa yang keluar dari dalam sana. Jasmine dengan gaun berwarna hijau lumut yang tampak pas di tubuhnya. Di tambah make up natural serta rambut yang sedikit di buat curly di bagian bawah membuat tampilannya semakin memesona.
“Berlian dalam kubangan lumpur.” Batin Roy menatap kagum ke arah Jasmine yang berjalan mendekat ke arahnya.
“Ehem..”
Mendengar deheman dari Serena membuat Roy sadar, dan segera mengembalikan raut wajahnya menjadi sedatar tembok. Namun, apalah daya, semua sudah terekam jelas di mata Serena. Bagaimana cara memandang Roy terhadap Jasmine yang tampak berbeda saat memandang wanita selain gadis itu.
“Ayo!” ajak Roy setengah menyuruh Jasmine supaya segera ikut dengannya.
Tanpa menunggu bahkan menggandeng Jasmine, Roy berlalu keluar dari salon tersebut meninggalkan Jasmine dan Serena yang saling pandang dengan wajah heran serta bingung. Karena biasanya pria bakal senang hati menggandeng bahkan dia akan merayu dengan jurus-jurus gombal yang dia punya. Sedangkan Roy? Sama sekali tak ada niat untuk melakukan hal itu. Walau sudah jelas di matanya jika dia mengagumi kecantikan Jasmine yang baru pertama kali dia lihat.
“Kalau begitu saya permisi. Dan terima kasih untuk semuanya.” Ucap Jasmine tak enak hati dengan perilaku Roy.
Serena tersenyum dan mengangguk, “Sama-sama. Kami pun sangat senang karena pak Roy mempercayakan semua ini pada kami.” Jawabnya.
Jasmine ikut mengangguk, paham dengan apa maksud Serena. Siapa pun pasti akan sangat bangga dan senang jika jasanya terpilih menjadi salah satu daftar pilihan yang menyangkut seorang Royyano. Karena dengan itu jasa-jasa mereka akan di banjiri customer setelah tahu Roy juga menggunakannya.
“Mari.” Pamit Jasmine.
“Silakan.” Jawab Serena mempersilahkan Jasmine untuk keluar dari sana dengan senyum semringahnya.
Di dalam mobil,
Reno tampak mengerutkan keningnya saat melihat sang bos keluar dari dalam salon seorang diri. Tak ada Jasmine yang mengikutinya. Tak mau ambil pusing karena bukan urusannya, Reno memilih segera keluar dari mobil untuk membukakan pintu untuk sang bos.
“Silakan, Bos.” Ucap Reno setelah pintu mobil bagian belakang dia buka.
Roy mengangguk kemudian masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan apa pun. Sesaat setelah Reno kembali menutup pintu mobil. Dia mendengar langkah kaki mendekat, membuatnya langsung menoleh. Dan alangkah terkejutnya dia saat melihat seseorang sudah berdiri di depannya dengan balutan dress berwarna hijau lumut yang tampak pas di tubuhnya. Serta sedikit make up yang sempurna memancarkan kecantikan alami yang selama ini tersembunyi.
Menatap Jasmin dari atas sampai bawah dan sebaliknya. Benar-benar gadis dengan kesempurnaan yang tiada banding. Bahkan lebih mempesona di bandingkan artis-artis papan atas maupun pemenang kontes kecantikan yang saat ini sedang viral.
Beberapa detik kemudian, Reno pun tersadar dari Kekagumannya dan segera membuka pintu untuk gadis di depannya itu. Pintu yang sama dengan sang bos, seperti sebelumnya yang memang Jasmine berada di kursi belakang dengannya.
“Silakan.” Ucap Reno setelah pintu itu kembali terbuka.
Jasmine tersenyum dan mengangguk, “Terima kasih.”
Di saat Jasmine hendak masuk, tiba-tiba dia limbung karena tak sengaja menginjak batu yang lumayan licin karena habis hujan. Reno yang tepat berdiri di dekat Jasmine relflek menangkap tubuh Jasmine hingga keduanya saling berpelukan. Dengan kedua tangan Reno tepat berada di pinggang ramping Jasmine. Sedangkan tangan Jasmine memegang kedua bahu Reno.
Untuk beberapa saat keduanya tampak terdiam dengan posisi yang sama. Membuat seseorang yang sedari tadi mengamati semua gerak-gerik keduanya tampan menggertakkan giginya. Matanya sedikit membola melihat kedua orang yang tengah berpelukan di depannya. Ada rasa panas dan emosi yang tiba-tiba muncul dalam daddanya.
“Ehem..”
Mendengar suara deheman membuat Reno dan Jasmine tersadar dan langsung menarik tubuh masing-masing hingga pelukan keduanya terlepas.
“Maaf.” Ucap Jasmine tak enak hati dengan Reno.
“Nggak papa. Silakan masuk.” Jawab Reno mempersilakan Jasmine masuk ke dalam mo il dan duduk di samping Roy.
Setelah Jasmine duduk dengan nyaman, Reno menutup pintu itu dan berputar mengelilingi mobil. Masuk lewat pintu kemudi, memasang seat belt dengan sesekali melirik ke kaca spion di atasnya. Entah sejak melihat gadis barbar itu keluar dari salon membuat Reno sedikit tertarik dan selalu ingin mengamatinya.
‘Pantesan si bos berubah. Orang gadis bar-bar itu jelmaan bidadari.’ Batin Reno.
Sementara itu, Roy yang mulai gelisah dengan detak jantungnya yang kian membuatkan tak nyaman terus mencoba untuk terlihat biasa saja. Kendati dalam hati ingin rasanya dia memuji dan mengutarakan rasa kagumnya terhadap Jasmine.
“Ren, langsung ke rumah paman Robert.” Ucap Roy mengalihkan pikirannya.
Reno mengangguk, “Siap, Bos.” Jawab Reno kemudian mulai menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.
Sedangkan Jasmine yang tak tahu apa yang di rencanakan kedua pria itu hanya bisa diam dan berdoa jika semua akan baik-baik saja. Walau sebenarnya dia merasa ada yang tidak beres dengan bos barunya itu.
‘Lindungi aku ya Allah.’ Batin Jasmine.