Di kafe, jam sudah menunjukkan pukul dua lebih lima menit. Itu artinya Jasmine harus segera kembali ke apartemen. Menatap semua rekan-rekan kerjanya yang masih sibuk dengan persiapan-persiapan menjelang pembukaan kafe baru. Merasa sangat tak enak hati dengan mereka. Di saat sibuk-sibuknya seperti ini dia harus pamit pulang.
Jasmine menghela nafas panjang, bingung harus bagaimana sekarang. Tetap di sini dan membantu rekan-rekannya akan membuat Roy marah dan membuat pria itu kembali ke sifat aslinya yang tak berperasaan. Sedangkan jika dia pamit untuk pulang sekarang, dia tak enak hati dengan teman-teman yang lain. Pasti mereka menganggap jika dia hanya main-main dalam bekerja.
Jerry yang duduk tak jauh dari tempat Jasmine mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. Dia paham dengan kegelisahan yang menimpa hatinya saat ini. Harus memilih antara tetap di sini atau kembali ke tempat bos barunya. Jerry ikut menghela nafas dan mendekati Jasmine.
“Min.” Panggil Jerry.
Jasmine terkejut dan menoleh, “Iya?” jawabnya.
“Kalau loe mau pulang, pulang aja. Gak papa kok.” Ucap Jerry yang paham dengan perasaan Jasmine.
Jasmine menunduk, “Gue bingung. Gue harus gimana? Sama-sama berat buat gue milih salah satu antara tetap di sini atau kembali ke tempat bos baru gue.” Jawab Jasmine mengutarakan isi hatinya.
“Gue tahu kok. Tapi, saran gue loe balik aja, jangan sampai bos loe yang sekarang marah karena loe telat kembali. Dan berakhir mempengaruhi pengobatan ibu loe.” Ucap Jerry.
Jerry memang tahu soal apa yang terjadi antara Jasmine dan Roy. Yang berujung keputusan Jasmine untuk bekerja dengan pria dingin itu. Keluar dari kafe yang sudah lama menjadi rumah kedua buat dia.
Berat dan sungguh dia pun jika berada di posisi Jasmine saat ini akan sangat sulit dan bingung harus bagaimana. Apalagi, selama bekerja di kafe dia selalu di perlakukan dengan baik oleh semua yang ada di sini. Bahkan, sang bos secara tiada henti selalu mengutamakan dia di banding yang lain.
“Loe balik aja. Urusan anak-anak dan pak Daffa biar gue yang urus.” Ucap Jerry.
Jasmine tersadar dari lamunannya dan menatap ke arah sahabatnya itu. Tersenyum karena dia selalu ada untuknya. “Makasih ya, Jer.” Ucap Jasmine tulus.
Jerry mengangguk, “Sama-sama.”
Tanpa menunggu lagi Jasmine beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Di ruangan itu terdapat rekan kerjanya yang juga hendak pulang karena dapat kabar jika tantenya lahiran.
“Mau kemana, Min?” tanya Gita.
Mendengar namanya di panggil, Jasmine menoleh dan tersenyum saat melihat Gita yang berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini.
“Mau pulang dulu, Git. Kasian ibu kalau lama-lama ku tinggal.” Jawab Jasmine mencari alasan.
“Loh.. ibu loe masih di rumah sakit?” tanya Gita.
“Iya... kemarin sudah membaik dan boleh pulang. Tapi, tiba-tiba kondisi ibu kembali drop jadi harus kembali di rawat untuk beberapa hari.” Jawab Jasmine tersenyum walau di paksakan.
Gita merasa prihatin dengan kondisi Jasmine dan ibunya saat ini. Mendekat dan memeluk gadis imut di depannya. Mengelus punggung Jasmine pelan menyalurkan kekuatan untuk gadis yang super baik dan pekerja keras ini.
“Kamu yang sabar ya.. semoga tante Wati segera di beri kesembuhan dan bisa beraktivitas seperti sedia kala.” Ucap Gita.
“Iya. Makasih ya, Git.” Jawab Jasmine.
“Sama-sama.”
Pelukan antara keduanya pun terlepas menyisakan air mata yang mulai menumpuk di bagian sudut mata mereka. Keduanya tersenyum.
“Gue duluan ya” pamit Gita.
“Okey.. hati-hati.”
“Siap.”
Gita berlalu meninggalkan Jasmine yang masih bersiap-siap. Beberapa saat kemudian. Ponselnya berdering. Tertera nama ‘Dugongkutub’ di sana.
“Halo”
“Kamu di mana?”
“Masih di kafe.”
“Buruan keluar”
“Iya, ini masih persiapan untuk pulang.”
“Keluar!”
“Keluar gim—“
Tuuuttt...
Belum sempat Jasmine menyelesaikan pertanyaannya, panggilan itu sudah terputus. Membuat Jasmine mengumpat.
“Iiihhh... dasaarr dugooong... awas aja nanti.” Sungut Jasmine emosi.
Segera merapikan tas bawaannya dan berjalan keluar dari kafe. Sebelum dia benar-benar keluar, Jasmine memutuskan untuk ke ruangan sang bos terlebih dahulu untuk pamit. Bagaimana pun juga dia tak boleh berbuat seenaknya. Harus pamit jika mau pulang. Kecuali sudah pergantian sift.
Tok tok tok
“masuk!”
Mendengar sahutan dari dalam membuat Jasmine memberanikan diri untuk masuk.
“Permisi pak.” Ucap Jasmine
“Ya?” jawab Daffa.
“Maaf, Pak. Saya mau izin pulang.” Ucap Jasmine tanpa berani menatap wajah pria tampak di depannya itu.
Kening Daffa berkerut, “Mau ke rumah sakit?” tanyanya
“Hmm..” jawab Jasmine Ragu.
“Saya antar ya.?” Tawar Daffa bersiap untuk menutup laptopnya.
Jasmine tampak terkejut dan langsung mencegah Daffa, “Hmm.. nggak usah pak. Terima kasih. Saya sudah pesan ojek kok.” Tolak Jasmine.
“Ojek?”
“Iya, Pak. Biar lebih cepet nyampeknya.” Jawab Jasmine dengan memperlihatkan gigi putihnya.
Pasrah, walau dalam hati dia sangat ingin mengantar Jasmine ke rumah sakit agar dia ada waktu bicara berdua dengan gadis ini.“Hmm... oke.. hati-hati ya.”
“Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi.” Tersenyum senang akhirnya bisa pamit tanpa membuat keributan karena Daffa mengantarkannya.
“Silahkan.”
Jasmine segera keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Daffa yang kecewa karena tak bisa bicara berdua dengan Jasmine. Kesempatannya untuk hari sudah tak ada lagi. Sebenarnya Daffa tahu jika Jasmine bukan ingin ke rumah sakit tapi dia harus segera kembali ke tempat Roy. Apalagi mengingat Roy yang tak suka dengan keterlambatan.
Daffa semakin di buat khawatir jika Jasmine terus bekerja dengan Roy. Benar-benar takut jika Roy berbuat semena-mena terhadap Jasmine dan ibunya seperti dia memperlakukan orang-orang yang pernah membuat masalah dengannya.
Tapi, Daffa pun tak bisa berbuat apa-apa jika dia belum menyaksikan langsung apa terjadi antara keduanya. Jika dia salah mengambil langkah. Bukan hanya kafenya yang akan menjadi sasaran kemarahan Roy tapi juga keluarganya. Apalagi, perusahaan keluarganya bekerja sama dengan perusahaan Roy. Yang bisa dia lakukan adalah mengawasi dari jauh dan berusaha untuk bisa kembali mendekati Jasmine.
Di luar sana.
Jasmine berjalan tergesa keluar dari kafe lewat pintu samping. pintu khusus untuk para karyawan. Dengan langkah sedikit cepat, Jasmine menuruni tangga kecil di sana. Hingga tiba-tiba gerakannya terhenti saat matanya menangkap mobil mewah yang tak asing baginya. Detik kemudian matanya membola saat melihat ada sosok Reno yang keluar dari mobil dan mengangguk kepadanya.
Dengan ragu Jasmine berjalan mendekat, Reno berputar dan membukakan pintu belakang untuk Jasmine. Jasmine yang masih heran dengan perlakuan itu pun hanya bisa terdiam. Hingga suara interupsi dari dalam mobil menyadarkan Jasmine.
“Buruan masuk!”
Jasmine menunduk dan melihat siapa bicara tadi. Kedua alisnya naik bersamaan saat tahu jika yang bicara adalah sang bos.
“Silahkan,” ucap Reno menyuruh Jasmine untuk segera masuk. Satu hal membuat Jasmine heran. Reno bicara dengan sangat sopan dengannya padahal awal mereka bertemu dia kasar dan tak menghormati seorang wanita.
Tanpa mau menunggu lagi dan takut jika kena semprot. Dengan ragu dan hati yang was-was. Jasmine masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Roy. Reno segera menutup pintu mobil itu lalu berjalan berputar untuk masuk ke dalam kursi kemudi. Segera menyalakan mesin mobil dan berjalan meninggalkan area kafe itu sebelum banyak orang yang tahu apa yang terjadi. Dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang berhasil mengambil foto bahkan vidio saat Reno membukakan pintu untuk Jasmine dan sekebelat bayangan seseorang di dalam mobil yang ternyata itu adalah Roy.
“Nih,” ucap Roy menyodorkan sebuah paper bag kepada Jasmine.
“Ini apa?” tanya Jasmine menerima paper bag itu.
Tanpa menjawab pertanyaan Jasmine Roy mengalihkan pandangannya keluar jendela. Hingga beberapa saat kemudian, Mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah salon kecantikan yang menjadi langganan para artis.
“Turun, dan pakai yang ada di dalam tas itu” perintah Jasmine.
Jasmine hanya bisa mengangguk dan menuruti perintah Roy tanpa tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.
Sedangkan di dalam sana sudah menunggu karyawan-karyawan salon yang sudah di booking oleh Roy untuk mempersiapkan Jasmine sebaik mungkin. Bahkan Roy sudah membayar ganti rugi salon itu.
Dia tak mau kalau sampai ada pihak yang tahu jika dia membawa seorang gadis sederhana ke salon ini untuk di make over. Bukannya malu tapi Roy hanya ingin menjaga identitas Jasmine sampai Jasmine resmi menjadi miliknya.
Apalagi mengingat Zava yang juga seorang artis yang tingkat ke ambisiusannya di atas rata-rata. Roy tidak mau jika sampai Zava tahu tentang Jasmine dan mengusik kehidupan gadis incarannya itu.
Dengan sebaik mungkin dia akan berusaha melindungi Jasmine dari orang-orang yang kemungkinan berbuat buruk terhadap Jasmine. Apalagi mengetahui jika ibunya di rawat di rumah sakit dan menjadi kelemahan Jasmine.
Bukan hal mudah bagi Roy untuk berbuat seperti ini. Karena sejatinya dia bukan tipe orang yang peduli dengan orang lain. Bahkan, dengan keluarganya sendiri pun dia enggan untuk ikut campur masalah mereka. Dia lebih memilih untuk diam dan berlagak tak tahu apa apa jika keluarganya tengah mengalami kesulitan . Kecuali jika sang mama yang mendapat masalah. Dia akan maju paling depan untuk membantu.
Bagi Roy mamanya adalah malaikat yang harus dia jaga sebaik mungkin. Tak ingin melukai hati sang mama. Selagi mamanya tak ikut campur dengan urusan pribadinya. Apalagi menyangkut masa depannya. Terutama urusannya tentang siapa yang menjadi pendamping hidupnya.
Bukannya ingin menjadi anak yang durhaka tapi Roy ingin membuktikan kepada semua orang jika dia adalah lelaki normal dan bisa mendapatkan seorang wanita yang sesuai dengan keinginannya tanpa campur tangan dari sang mama.
Dan untuk masalah zava dia hanya ingin mengetahui seberapa gigih gadis itu membertahannya rasa cintanya yang tak pernah mendapat balasan dari Roy. tapi dia salah
Karena dengan dia menerima usulan sang mama untuk menjalin hubungan sementara dengan Zava membuat gadis itu hilang kontrol dan membuat ambisi nya semakin tak terkendali
Roy kewalahan dan merasa muak tiap kali berhadapan dengan Zava bukannya membuatnya respek tapi sikap Zava membuat Roy marah dan tak ingin berurusan lagi dengannya, entah apa yang ada di pikirannya hingga dia senekad itu.
Tak ingin membuat Zava semakin jauh mengidoalakan dan membesar rasa cintanya, Roy berniat untuk menyadarkan gadis itu dengan dia menjalin hubungan dengan Jasmine. Dia tak mau menyiakan kesempatan ini .. dia harus segera mengungkapkan isi hatinya.