Jam menunjukkan waktu makan siang. Tepat urusan Zava dengan pemilih majalah yang bekerja sama dengannya telah beres. Fira, si pemilik majalah itu berniat untuk mengajak Zava dan asistennya makan siang di restoran terdekat. Namun, Karena memang masih ada urusan lain, Zava dan Giana menolak secara halus ajakan makan siang Fira.
“Bagaimana kalau kita makan siang dulu, di dekat sini ada restoran.” Ajak Fira.
Zava dan Giana saling pandang. Sebenarnya ingin menerima ajakan itu. Namun, urusan mereka masih banyak dan juga di kejar waktu. Kalau mereka makan siang bersama di pastikan akan memakan waktu yang lumayan lama.
“Hmm... sorry banget. Kami tidak bisa. Bagaimana kalau lain waktu saja.” Ucap Zava.
Fira menghela nafas, ada rasa kecewa yang terlihat di raut wajah Fira. “Okay, No problem.” Jawab Fira memahami kesibukan artis papan atas ini.
“Kalau begitu, kami permisi dulu.” Ucap Giana meraih tas berisi berkas-berkas perjanjian kerja sama mereka.
“Baik.. terima kasih untuk waktunya.” Jawab Fira menyalami kedua wanita yang akan menjadi pundi-pundi rupiah untuknya kelak.
Giana dan Zava pun bergantian menerima uluran tangan Fira. Kemudian keduanya berjalan keluar dari ruangan Fira di ikuti oleh pemilik ruangan itu. Berjalan beriringan menuju pintu utama, di depan sana pun sudah terparkir manis mobil yang di kendarai Zava saat berangkat ke tempat ini.
Beni, sang sopir pribadi Zava segera membukakan pintu untuk majikannya itu. Sementara Giana membuka pintunya sendiri. Sebenarnya Zava sudah meminta kepada Beni supaya memperlakukan Giana sama halnya dia memperlakukan dirinya. Namun, Giana menolak dengan alasan dia tidak suka bergantung terhadap orang lain. Selagi dia mampu dia akan melakukannya sendiri.
Setelah Zava dan Giana masuk. Sebelum melajukan mobilnya, Beni menganggukkan kepalanya ke arah Fira sebagai tanda hormat dan pamit. Fira membalas dengan senyuman tipis dan anggukkan juga. Begitu pun balasan dia kepada Zava yang membuka kaca mobilnya sedikit dan menganggukkan kepala.
Meskipun Zava adalah artis papan atas, dia sama sekali tak membedakan satu sama lain. Dia pun menghormati siapa saja yang berhak di hormati. Bahkan, dia tak malu untuk duduk satu meja dengan fansnya. Asal mereka bisa bersikap tenang dan tidak mengusik kenyamanan antar sesama.
Di tengah perjalanan, Zava kembali memfokuskan mata dan pikirannya ke layar ponsel miliknya. Membuat Giana dan Beni saling pandang, merasa prihatin dengan cinta tak terbalaskan yang di alami Zava. Bukan hal mudah untuk menyadarkan Zava yang sudah sangat tergila-gila dengan Roy. Giana juga pernah mendekatkan Zava dengan teman sesama artis yang memang suka dengan Zava. Dan hasilnya tetap sama, Zava sama sekali tak bisa melepaskan Roy.
“Eh, Gi. Kalau nggak salah di sekitar sini ada kafe milik temannya Roy deh. Mampir yuk, makan siang sekaligus nyari info soal Roy.” Ucap Zava tiba-tiba.
Giana menatap sekeliling, dan dia pun mengingat hal itu. Di sekitar daerah ini memang ada salah satu kafe milik teman Roy yang terkenal enak dan pelayanan yang memuaskan.
“Hmm... Ah iya. Kalau nggak salah setelah lampu merah depan deh.” Jawab Giana menunjuk arah depan.
“Kita makan siang di sana aja ya.” Ajak Zava semangat dan di balas anggukan oleh Giana. “Ben, langsung ke kafe depan ya.” Sambung Zava menatap ke arah sang sopir.
“Siap, Mbak.” Jawab Beni.
Dan benar saja, sekitar lima puluh meter dari lampu merah yang di maksud oleh Giana. Terdapat kafe berlantai tiga yang lumayan ramai. Banyak sepeda motor bahkan mobil-mobil mewah yang terparkir di samping kafe itu. Menandakan jika kafe ini memang standartnya tinggi.
Zava dan Giana turun, sementara Beni mencari tempat parkir. Sebelum keluar dari mobilnya, Zava sudah mempersiapkan masker juga topo untuk menyamarkan identitasnya. Bahkan dia sengaja membawa hoodie agar tampak seperti pengunjung biasa. Sedangkan Giana dia mengucir rambutnya kemudian memakai topi serta masker yang tak pernah lupa dia bawa ke mana pun dan di mana pun dia berada.
“Yuk..” ajak Giana.
Zava menoleh dan mengangguk. Akhirnya keduanya melangkah masuk ke dalam kafe yang tampak lumayan ramai saat ini, di lantai dua juga terlihat ada beberapa orang penting yang tengah menikmati makan siangnya. Tampak jelas jika kafe ini menjadi rekomendasi bagi para pengusaha dan pejabat-pejabat penting.
Kedua gadis itu berjalan masuk dan memilih duduk di meja paling pojok dekat dengan jendela besar. Giana memanggil salah satu karyawan yang berdiri tak jauh dari meja mereka berdua.
“Silahkan, kak.” Ucap karyawan itu menyodorkan dua buku menu kepada Zava dan Giana.
Memilah dan memilih menu yang tersedia di kafe tersebut. Banyak banget, mulai menu tradisional hingga menu internasional. Zava dan Giana saling bertukar pilihan dan memutuskan untuk memilih satu menu yang sama.
“Okay, dua spagetty dan jus melon.” Ucap Giana.
“Baik, Kak. Silahkan di tunggu.”
“Iya.”
“Hmm.. Gi, gue ke toilet dulu ya. Nitip tas.” Ucap Zava meletakkan tasnya di depan Giana.
Giana meraih tas itu dan mengangguk, “Jan lama-lama.” Ucap Giana mengingatkan Zava. Karena setahu dia di kafe ini banyak sekali fans-fans fanatiknya.
“Iya.. “ jawab Zava kemudian berlalu meninggalkan asistennya itu.
Berjalan melewati beberapa meja hingga dia sampai di depan pintu bertuliskan toilet wanita. Tak mau menunggu lagi, Zava segera masuk. Tepat setelah dia masuk ke salah satu bilik di sana. Terdengar ada beberapa orang yang masuk dan ngobrol di bagian wastafel.
“Aahh... akhirnya ganti sift juga. Capek banget aku.” Ucap salah satu dari mereka.
“Sama... mana ini masih hari pertama lagi. Belum hari-hari berikutnya bakal makin melelahkan.” Jawab yang lain.
“He’eh. Untung ada Jasmine. Ya walau dia balik cuma buat bantu-bantu kita sih. "
“Ah, masa? bukan balik kerja seperti dulu?”
“Enggak, dia cuma bantuin kita buat persiapan pembukaan kafe. Waktu dia di sini juga hanya dua sampai tiga jam saja.”
“Lah.. kok gitu?”
“Bosnya yang sekarang galak katanya.”
“Beda dong sama pak Daffa yang kalem dan friendly.”
“Hmm..hmm.. loe tahu gak, siapa bosnya?”
“Siapa??
“Royyano Devin Erza. Si pria dingin tak berperasaan yang sempat adu mulut bahkan di siram air jus oleh oleh Jasmine.”
“Whaatt..?!”
“Ssttt... jangan kenceng-kenceng.”
“Phhff.. Sorry.. tapi loe tahu soal ini dari mana?”
“kemaren gue gak sengaja denger pak Daffa telepon temennya itu. Dia minta supaya Jasmine balik kerja di sini sebelum pembukaan kafe, alasannya karena Jasmine karyawan lama dan paling tahu tentang apa saja yang di perlukan buat pembukaan kafe itu.”
“Ckk... Dah kaya pacar aja ya mereka. Lengket terus.”
“Dari awal ‘kan emang gitu. Tapi sayang Jasmine nggak pernah ngerespon. Padahal pak Daffa udah mengkodenya dengan sangat jelas.”
“Dan sekarang makin susah buat menyatukan mereka karena kehadiran pria dingin itu di antara mereka. “
“Kok???”
“Namanya juga manusia, Des. Siapa sih yang bisa jamin Roy dan Jasmine tak menumbuhkan rasa lebih di antara mereka. Sedangkan tiap hari ketemu.”
“Hmm... bener juga sih.”
“Hmmm...”
“Udah yuk. Gue harus ke rumah sakit jenguk tante gue lahiran.”
“Ya udah yuk.”
Kedua gadis itu pun keluar karena sudah tak ada lagi suara mereka berdua. Meninggalkan satu sosok yang sedari diam di bilik tepat di belakang mereka. Yang sedari tadi mendengarkan semua obrolan mereka.
‘Jasmine? Roy? Daffa? Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka bertiga?’ batin Zava.
Beberapa saat kemudian Zava tampak mengingat sesuatu. Hal yang membuat hatinya panas.
‘Bentar deh, Jasmine bekerja dengan Roy dan setiap hari mereka bertemu?? Apa mungkin ini alasan dia menolak perjodohan waktu itu.’ Sambung Zava dalam hati.
Perlahan tapi pasti, raut wajah Zava berubah merah padam menahan amarah yang kian memuncak. Kedua tangannya pun kini menggenggam kuat hingga ujung-ujung kukunya memutih. Dengan rasa amarah dan penasaran yang kian membabi buta, Zava memutuskan untuk mencari informasi lebih lanjut tentang hubungan Jasmine dengan Roy.
Keluar dari bilik tempat dia menguping, lalu berdiri di depan cermin wastafel untuk mencuci tangan dan merapikan tampilannya. Menatap wajah cantik yang tampak sangat mempesona itu dengan seksama. Mencari di mana letak kekurangannya.
“Apa sih yang kurang dari gue? Kenapa loe gak pernah lihat gue Roy.!” Ucap Zava penuh emosi menatap ke cermin yang menampilkan wajahnya sendiri seolah dia tengah berhadapan langsung dengan pria dingin yang sukses mencuri hatinya hingga dia se obsesi ini.
Cantik, kaya, modis, multitalenta dan juga artis terkenal. Artis yang kian melejit karena nilai positif yang terus dia pertahankan hingga sekarang. Banyak pria yang bukan dari kalangan biasa mencoba mendekati Zava. Bahkan ada beberapa yang sudah datang ke rumah Zava untuk meminta izin kepada orang tua Zava, namun sama sekali tak mendapat respon dari Zava.
Seolah-olah di dunia ini hanya ada satu pria dan itu hanya Roy seorang. Tidak ada yang pantas di cintai selain Roy dan tidak ada yang perlu di lihat selain Roy. Banyak orang yang berpendapat jika Zava tak lagi mencintai atau menyukai sosok Roy tapi dia sudah sangat terobsesi dengan pria dingin itu.
Mencoba untuk menenangkan emosi yang menguasai hati dan pikirannya. Bagaiman pun juga tidak boleh gegabah. Dia harus mencari informasi sedetail mungkin agar dia bisa menentukan jalan mana yang akan dia tempuh untuk menyelesaikannya.
Setelah merasa lebih baik, Zava keluar dari toilet dan langsung menuju ke meja di mana Giana sudah menunggunya. Saat dia berjalan melewati meja kasir, tiba-tiba dadanya berdebar dengan sangat kencang. Hingga hampir saja Zava limbung karenanya.
‘Kenapa dengan jantungku.’ Batin Zava yang merasa aneh dengan jantungnya, sudah dua kali ini dia merasa daddanya berdebar dengan tanpa sebab yang belum dia ketahui. Tak mau ambil pusing, Zava memilih melanjutkan langkahnya.
Melihat Zava yang sudah kembali membuat Giana menghela nafas lega.
“Lama banget sih, Va. Hampir gue susulin.” Ucap Giana.
Tak langsung menjawab, Zava memilih untuk segera duduk dan mengaduk jus miliknya yang sudah siap di depannya. Lalu menyedotnya hingga separoh. Kemudian menatap Giana yang masih menunggu jawaban Zava.
“Gue habis dapet info soal Roy.” Ucap Zava menatap Giana.
“Info apa?” tanya Giana yang penasaran dengan kabar itu.
Zava menatap sekeliling yang tampak lebih ramai di banding awal mereka datang tadi, “Entar gue critain di mobil.” bisik Zava.
Giana mencebikkan bibirnya, “Hmmm... ya serah loe dah.” Cetus Giana lalu memasukkan makanan ke mulutnya.
Sedangkan Zava merasa bodo amat dengan sikap Giana. bukan Hal aneh jika Giana merespon seperti itu. Karena dia sempat mengagumi sosok Roy sebelum dia tahu apa yang terjadi antara Roy dan Zava.