Jam menunjukkan pukul sepuluh lebih dua puluh lima menit. Semua pekerjaan sudah selesai Jasmine kerjakan. Menu makan siang pun sudah dia masak, hanya sedikit sih. Karena Roy bilang kalau siang ini dia tidak pulang ke apartemen, dia akan makan siang bersama rekan kerjanya di salah satu restoran kota sebelah sekalian membahas hasil kerja sama mereka.
Oleh karena itu, Jasmine hanya memasak untuk ibunya dan sisanya dia simpan di kulkas. Berjaga-jaga jika terlambat kembali, dan tak sempat membuat menu makan malam. Sebab, dia akan di sibukkan dengan segala persiapan di kafe Daffa.
Ceklek,
Pintu kamar Roy terbuka, detik kemudian Roy keluar dengan penampilan seperti biasanya. Rapi dengan balutan Jas mahal berwarna abu-abu. Jasmine yang tengah berdiri di dekat bar tampak terpesona dengan tampilan Roy kali ini. Gagah, dan sangat menawan. Apalagi, Roy tengah fokus dengan jam yang melingkar di tangannya. Membuat Jasmine leluasa memandangi makhluk tampan itu.
Hingga beberapa menit kemudian, Roy belum juga selesai dengan jam itu. Membuat Jasmine menatapnya heran. Meletakkan serbet yang ada di tangan ke atas meja. Lalu berjalan mendekati Roy.
“Kenapa?” tanya Jasmine menatap tangan Roy yang sibuk memasang jamnya.
Roy menatap Jasmine sejenak kemudian kembali ke arah tangannya, “Entahlah. Dari tadi susah banget masangnya.” Jawab Roy.
Mendengar itu Jasmine melihat bagaimana cara Roy memasang, memang benar pengaitnya tak mau menyatu.
“Coba sini.” Ucap Jasmine meraih tangan Roy.
Menurut, dan membiarkan Jasmine melakukan apa yang ingin dia lakukan. Dan di saat kulit mereka bertemu. Debaran hebat terjadi pada jantung keduanya. Namun, mereka memilih untuk diam tak memperlihatkan kegugupan yang melanda hati mereka.
Jasmine tampak membolak-balikkan tangan dan jam Roy, hingga beberapa saat kemudian Jasmine tahu apa yang membuat jam itu sulit di kaitkan kedua ujungnya. Melepas benda panjang berwarna silver itu dan membawanya ke dapur.
Roy menatap heran kelakuan gadis yang penuh tingkah dan cerewet yang kini berjalan menjauh dengan membawa jamnya. Hanya menatap dengan kening sedikit berkerut tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sebab, pikirannya memang masih kacau dan sulit untuk mencari jalan keluar.
Ah, baru kali ini. Roy tampak berpikir keras. Apa lagi menyangkut perasaan. Hatinya, hati Jasmine dan sosok Daffa yang menaruh hati kepada gadis yang sama dengannya. Roy menggelengkan kepala, lalu memilih untuk duduk di sofa depan teve sambil menunggu Jasmine kembali membawa jamnya, merogoh ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada Reno.
‘RENO’
[Ren, siapkan berkas kerja sama dengan nona Vio. Untuk pembangunan hotel di daerah K. Siang ini pertemuan kedua dengannya.]
Pesan itu pun langsung centang dua. Beberapa saat kemudian berubah menjadi centang fua biru dan statusnya berubah menjadi ‘mengetik....’
Ting!
‘RENO’
[Baik, Bos. Untuk berkas sudah siap. Dan beberapa saat yang lalu nona Vio mengirim pesan jika dia sudah dalam perjalanan ke tempat janjian kita.]
Tanpa ingin membalas pesan itu. Roy memasukkan ponselnya kembali ke saku jasnya. Bersamaan dengan itu, Jasmine kembali dengan jam di tangannya. Berjalan mendekat ke arah Roy dan duduk di samping Roy.
Meraih tangan kekar putih terawat tersebut dan memasangkan benda yang terbuat dari besi itu ke pergelangan tangan Roy. Dan hanya butuh waktu tiga detik, jam itu terpasang manis di tangan Roy.
“Aaahh.... akhirnya bisa juga.” Ucap Jasmine bangga menatap hasil kerjanya.
Sementara Roy tampak heran, apa yang di lakukan Jasmine pada jamnya. Kenapa jam itu dengan mudah di pasang setelah di bawa Jasmine pergi. Menatap Jamnya dengan seksama, sama sekali tak ada yang berubah.
“Tenang saja. Jam anda masih bagus kok.” Sindir Jasmine yang sadar dengan kecurigaan Roy.
“Baguslah.” Sahut Roy.
‘Ckk.. ucapin terima kasih kek atau apa gitu. Iihh.. bener-bener nih orang minta di caplok.’ Batin Jasmine.
Roy beranjak dari duduknya dan meraih kunci mobil yang menggantung di dekat pintu kamarnya. Berjalan melewati Jasmine tanpa mengatakan sepatah kata pun. Namun, saat hendak sampai di pintu apartemennya. Roy berbalik.
“Kamu berangkat jam berapa?” tanya Roy menatap Jasmine yang tengah sibuk dengan ponselnya. Entah, chat dengan siapa. Karena Jasmine terlihat sangat antusias membalas chat itu. Membuat wajah Roy sedikit menahan rasa cemburu mungkin.
Jasmine menoleh, “Habis dari rumah sakit antar makanan buat ibu.” Jawabnya melirik ke atas meja makan yang terdapat ranjang berwarna hijau di sana.
Roy mengikuti arah lirikan Jasmine. Mengangguk saat tahu jika gadis itu sudah memasak untuk ibunya. Roy sama sekali tak keberatan, bahkan dia sering mengingatkan Jasmine untuk masak yang bisa membantu kesembuhan ibunya.
“Pulang sebelum jam tiga sore.” Ucap Roy kemudian hilang di balik pintu.
Jasmine yang hendak bertanya pun akhirnya melongo karena Roy sudah tak terlihat lagi. Bibirnya maju untuk beberapa mili dengan kening berkerut. Memang pria itu sulit banget buat berubah. Dingin terus kek kutub utara.
“Dasaar...!!” geram Jasmine.
Beralih menatap ke jam yang bertengger di atas teve. Sudah pukul sebelas kurang sepuluh menit. Jasmine bergegas ke rumah sakit untuk mengantarkan makanan untuk ibunya. Setelah itu dia baru akan berangkat ke kafe.
Ya, meskipun dia kembali ke kafe tapi jam masuknya di tentukan oleh Roy, karena saat ini yang menjadi bosnya Jasmine ya Roy bukan Daffa lagi. Walau sebenarnya Jasmine enggan untuk kembali ke kafe karena yang pasti teman-temannya akan semakin menganggap dia di istimewakan oleh Daffa. Tapi, demi menjaga perasaan Daffa dia pun mengiyakan permintaan mantan bosnya itu.
Sebelum Jasmine keluar dari apartemen mewah yang menjadi tempatnya bekerja. Jasmine harus benar-benar memastikan tak ada sesuatu yang masih menyala dan menimbulkan bahaya nantinya. Hanya lampu utama yang di nyalakan oleh Jasmine. Lainnya dalam keadaan mati. Toh, nanti dia juga yang pertama kali masuk ke sini lagi.
Setelah semuanya aman, Jasmine menyambar tasnya dan keluar dari apartemen itu membawa rantang berisi masakannya. Mengunci pintu dan bergegas menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Sementara di depan sana sudah ada taxy online yang menunggu.
“Ke rumah sakit H ya, Pak.” Ucap Jasmine setelah masuk ke dalam taxy itu dan menutup pintunya.
“Siap, Mbak.” Jawab sang sopir.
Perlahan mobil putih itu berjalan menjauhi area gedung apartemen. Dengan sangat hati-hati masuk ke bahu jalan dan membaur dengan kendaraan lain yang melintas di sana.
Ting!
Ada notifikasi pesan masuk ke ponsel Jasmine membuat gadis imut itu segera merogoh ponselnya dan melihat siapa yang mengirim pesan. Keningnya pun berkerut saat di layar itu tertera nama ‘DugongKutub’. Penasaran, Jasmine segera membukanya.
‘Dugongkutub’
[Ingat!! Pulang sebelum jam tiga.]
“Ck.. rasanya kek di wanti-wanti sama bapak. Padahal ngarepnya dia jadi suami.” Gumam Jasmine yang belum sadar dengan ucapannya.
“Ada apa, Mbak?” tanya sang sopir yang merasa di ajak bicara.
“Eh.. enggak kok, Pak. Maaf ini tadi baca pesan dari temen.” Jawab Jasmine tak enak hati.
“Oh.. kirain dari suaminya.” Sahut si sopir menahan senyum.
“Suami??” tanya Jasmine cengo.
“Iya.. tadi ‘kan embaknya bilang suami gitu.”
“Hah??” pekik Jasmine. "Suami?" sambung Jasmine memperjelas pendengerannya.
sang sopir hanya membalas dengan anggukan. membuat Jasmine menaikkan kedua alisnya dengan mata melotot. sungguh dia tak sadar jika mengucapkan kata suami saat membaca pesan dari Roy. mana sampai terdengar orang lain lagi. Ahh... malunyaa...
Jasmine menggaruk belakang telinganya dengan nyengir, "Hehe, maaf salah ngomong tadi, Pak." ucap Jasmine.
"Hmm... kirain beneran dari suaminya."
"Hehe... belum ada suami kok, Pak. Emang bapak mau jadi suami saya?"
"Lah, kalau mbaknya mau ya monggo."
"Haha... enggak lah, Pak. kasian para perjaka ting-ting yang ngantri buat dapat jodoh kalau banyak perawan memilih pria beristri."
"Haha... bisa aja si Embak."
"Hehe.."
Begitulah Jasmine, dia tak pernah malu bergaul dengan siapa pun. Baginya hanya tuhan yang berhak membedakan derajat antar makhluk ciptaannya.
Lima belas menit kemudian, taxy yang di tumpangi Jasmine kini sampai di depan rumah sakit di mana orang tua Jasmine di rawat.
"Hmm... pak, tungguin ya. Saya hanya antar makanan untuk ibu saya. Setelah ini antar saya ke Kafe daerah S." ucap Jasmine sebelum dia turun dari mobil dengan membawa rantang berisi makanan untuk ibunya.
"Baik, Mbak." jawab si sopir.
Jasmine turun dan langsung masuk ke dalam, sekitar lima belas menit kemudian. Jasmine sudah kembali dan langsung menuju kafe tempat dia bekerja dulu. Dia harus segera berangkat ke sana karena Roy sudah berpesan agar dia pulang sebelum jam tiga. Sedangkan saat ini jam sudah menunjukkan pukul sebelas lebih dua puluh menit.