33

1144 Kata
Tap.. tap.. tap.. Langkah kaki menuruni tangga membuat sepasang suami istri yang tengah duduk di kursi ruang tengah menoleh. Keduanya kompak mengangkat sudut bibir mereka saat tahu siapa yang membuat suara berirama itu. Anak gadisnya tampak sangat anggun menggunakan dress berwarna coklat sussu itu. Tampak manis dan begitu menawan. Dengan rambut yang di biarkan tergerai hingga menutupi punggungnya. “Selamat pagi, Ma. Selamat pagi, Pa.” Sapa Zava berjalan mendekat ke arah kedua orang tuanya. “Pagi, Sayang.” Jawab Sinta. “Pagi, Nak.” Sahut Irfan. “Kamu mau pergi sekarang?” tanya Sinta menatap penampilan Zava. Tersenyum dan mengangguk, “Iya, Ma. Ada pertemuan dengan manajer salah satu majalah untuk membahas kontrak.” Jawab Zava. “Di jemput atau berangkat sendiri, Nak?” Menatap jam yang melingkar di tangannya, “Di jemput Giana, Ma. Sebentar lagi dia nyampek.” Sinta mengangguk, tak berselang lama. Terdengar suara ketukan di pintu depan, membuat semuanya menoleh ke sumber suara. Bi Asri yang memang berada tak jauh dari pemilik rumah itu pun segera membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. Giana, asisten sekaligus manajer Zava datang. Tersenyum saat melihat semua keluarga tengah berkumpul di ruang tengah. Giana sudah lumayan dekat dengan keluarga Zava. Karena memang Giana dan Zava sudah berteman sejak mereka masuk bangku SMA. Sampai mereka kuliah dan kini menjalani pekerjaan sebagai asisten dan artis. “Selamat pagi, Tante. Om.” Sapa Giana kemudian menyalami tangan kedua orang tua Zava itu. “pagi.” “Pagi.” Jawab keduanya kompak. “Apa kabar, Gi?” tanya Sinta tersenyum ramah. Giana membalas dengan senyuman terbaiknya, “Alhamdulillah, Giana sehat, Tante. Tante dan Om bagaimana kabarnya?” “Alhamdulillah kami sehat.” “Mama papa kamu masih di Singapura?” “Iya, Tante. Kemungkinan bulan depan pulang.” “Salam-salam ya buat mama papa. Bilangin kalau pulang jangan lupa main ke sini.” “Iya, Tante.” Sebagaimana Giana dan Zava, kedua orang tua mereka pun sama-sama teman sejak di bangku SMA. Bukan ke empatnya, tapi hanya Sinta, Dian (mama Giana), Tio (papa Giana) dan Jeny (mama Roy). Sedangkan Irfan adalah teman kuliah Sinta yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Sedangkan Jeny, mamanya Roy. Di menikah dengan Reymon Erza, papanya Roy saat mereka sama-sama berkuliah di Ausy. Makanya mereka berempat sempat berencana untuk menjodohkan anak-anak mereka agar persahabatan merek tetap terjaga dan di teruskan oleh anak turun mereka. Namun, karena rasa cinta itu tak bisa di paksaan, mereka membatalkan rencana tersebut. “Va, loe udah siap? Kita harus berangkat sekarang.” Ucap Giana. Zava yang awalnya konsen pada layar ponselnya tampak mendongak lalu beralih menatap jam yang melingkar di tangannya. Pukul sembilan lebih tujuh belas menit. Zava mengangguk, kemudian mulai merapikan tas kecil miliknya dan beranjak dari posisinya. “Ma, Pa. Zava berangkat dulu ya.” Pamit Zava mengulurkan tangannya. “Iya, Nak. Kamu hati-hati ya.” Jawab Sinta membalas uluran tangan Zava, dan membiarkan Zava mencium punggung tangannya. “Iya, Ma.” Zava beralih ke papanya dan melakukan hal yang sama. Mengulurkan tangan dan di balas oleh cinta pertamanya itu. “Hati-hati ya. Jaga dirimu baik-baik.” Nasehat Irfan. Zava mengangguk, “Iya papaku sayang.” Jawab Zava mengecup pipi kanan papanya. “Mama kok enggak.!” Ucap Sinta pura-pura marah. Membuat semua yang ada di sana tampak terkikik pelan. Zava mengangkat kedua bahunya dan berjalan mendekati sang mama. Memberi kecupan hangat di kedua pipinya. “Sudah adil ‘kan?” tanya Zava. “Hemm... hem...” sahut Sinta tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Yaudah, Zava berangkat ya. Sudah siang. Takut telat.” Pamit Zava meraih koper kecil miliknya dan berjalan keluar rumah di ikuti oleh kedua orang tuanya. Sinta dan Irfan tersenyum bangga melihat kesuksesan Zava sekarang. Mengantar sang anak sampai depan pintu dan memperhatikan semua pergerakan anak hadisnya itu dengan senyuman yang tak pernah pudar di bibir keduanya. Walau ada rasa nyeri yang tiba-tiba menyeruak memenuhi hati yang bahagia itu. “Bay, Ma, Pa. Assalamualaikum..” pamit Zava menurunkan sedikit kaca mobilnya dan melambaikan tangan ke arah kedua orang tuanya. “Bay, Sayang. Waalaikumsalam.” Jawab Sinta sedangkan Irfan hanya membalas lambaian tangan dan senyuman. Perlahan mobil hang tumpangi Zava dan asistennya itu keluar dari halaman rumah besar berlantai tiga tersebut. Berhenti di depan gerbang untuk beberapa saat kemudian dengan hati-hati mulai memasuki bahu jalan yang sudah sedikit lenggang. Sinta dan Irfan memutuskan untuk kembali masuk ke rumah. Hari ini Irfan memang tak ingin pergi ke kantor, semua pekerjaan sudah dia kerjakan kemaren. Dan hari ini waktunya dia beristirahat di rumah menghabiskan waktu dengan sang istri. Sekalian mereka hendak berkunjung ke Villa yang terletak di daerah S. Villa yang menjadi pertemuan terakhir mereka dengan anak kedua mereka. Di mobil, Zava yang duduk di belakang kemudi tampak sibuk mengotak-atik ponselnya. Ponsel yang baru saja di bawakan oleh Giana. Karena ponselnya yang dulu sudah hancur di banting olehnya. Ya, apa lagi kalau bukan karena amarah yang memuncak saat Roy menolak perjodohan mereka secara sepihak. Padahal sudah lama mereka menjalin hubungan. “Va, besok ada pertemuan dengan pihak majalah X. Di hotel Permata jam sembilan pagi.” Ucap Giana memberi tahu jadwal Zava. “Okay.” Sahut Zava menatap Giana yang duduk di kursi samping kemudi sejenak. Lalu kembali fokus ke ponselnya. Entah apa yang dia cari, tapi sedari tadi Zava terlihat tengah mencari sesuatu yang sangat dia ingin ketahui. Hingga beberapa saat kemudian, wajah Zava tertekuk dengan bibir yang merapat. Giana yang sedari tadi memperhatikan tingkah sahabatnya itu pun hanya bisa geleng-geleng kepala. “apa segitunya dia bucinin si Roy?” gumam Giana dalam hati. Tanpa mau peduli lagi, Giana memilih untuk menatap ke arah depan. Ke jalanan yang setiap hari selalu padat. Apalagi di jam-jam masuk kerja seperti ini. Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil hitam itu mulai memasuki semua gedung yang berpapan nama majalah terkenal dan paling di gandrungi khalayak umum saat ini. Berhenti tepat di depan pintu masuk, lalu sang sopir keluar untuk membukakan pintu untuk seseorang yang duduk di belakang. Setelah pintu terbuka, Zava turun dengan perlahan. Tak lupa kaca mata hitam yang menutupi mata indahnya bertengger manis disana. Giana mendekat dan mengangguk mengisyaratkan Zava untuk segera masuk ke dalam karena sudah di tunggu. “Selamat pagi dan selamat datang, Nona Zava.” sapa Fira pemilik majalah yang kini tengah bekerja sama dengan Zava. . Fira mengulurkan tangan dan di terima oleh Zava. “Selamat pagi.” Jawab Zava. “Mari, kita bicarakan kerja sama kita di ruangan saya.” Ucap Fira ramah mempersilahkan Zava dan Giana untuk mengikutinya. Berjalan sedikit masuk lebih dalam melewati beberapa karyawan yang tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Majalah ini memang sudah terbiasa mengundang para artis ternama untuk membahas kerja sama atau pun hanya sekedar mengenalkan bagaimana Majalah ini menerbitkan berita-berita. Amanah dan selalu real , sesuai dengan kenyataannya. Makanya banyak artis yang tanpa mikir lagi langsung menyetujui kontrak kerja sama dengan Majalah ini. Salah satunya Zava.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN