32

1521 Kata
Roy menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan memejamkan matanya dengan posisi kepala yang mendongak. Pikirannya saat ini benar penuh, apalagi mengingat permintaan mamanya tadi pagi. Memang semalam, setelah pulang dari rumah sakit untuk membicarakan tentang perasaannya ke Jasmine kepada ibu gadis itu. Roy tidak kembali ke apartemennya, tapi dia langsung menuju ke rumah kedua orang tuanya. Sesampainya di sana. Dia di kejutkan dengan kedatangan Zava dan keluarga yang ingin membahas tentang kelanjutan hubungan mereka. Roy terkejut dan secara terang-terangan dia menolak perjodohan itu. Zava? Jangan di tanya bagaimana keadaan dia semalam. Zava hampir pingsan karena terlalu sedih dan kecewa dengan penolakan Roy. Kedua orang tua pun tak bisa berbuat apa-apa karena memang sebelum pertemuan itu. Para orang tua sudah bertemu untuk membahas semua ini. Tentang rasa cinta Zava yang begitu besar untuk Roy. Sedangkan Roy sebaliknya. Mereka memahami perasaan anak-anak mereka. Dan tak menyalahkan salah satu. Karena memang cinta itu tidak bisa di paksa. Karena tak terima dengan penolakan Roy. Zava menantang Roy, jika dalam waktu satu bulan dia harus bisa menemukan seorang gadis yang tulus mencintainya seperti rasa cinta Zava kepadanya. Dan memperkenalkannya kepada awak media jika hubungan itu benar-benar apa adanya tanpa paksaan. Jika Roy bisa, maka Zava akan melepaskan Roy dan mengikhlaskannya. Zava juga akan mengubur dalam-dalam rasa cinta itu. Tapi, jika Roy tak bisa melakukannya dia harus menerima perjodohan itu. Roy tak terima, karena selama ini tidak ada yang bisa mengatur kehidupannya. Apalagi ini menyangkut masa depannya. Roy menentang semua yang di katakan Zava. Bahkan secara terang-terangan dia tidak akan pernah melakukan apa yang dikatakan oleh Zava. Adu mulut tak bisa di hindari lagi. Hingga Jeny memberikan solusi terbaik untuk mereka berdua. “Roy, Zava. Perasaan itu tidak dapat di paksakan. Hati itu tak pernah bisa di bohongi. Sekuat apa pun kalian menyangkal dan segigih apa pun kalian mempertahankan. Jika Tuhan tidak berpihak pada kalian, semua akan sia-sia, Nak. Jodoh, kematian dan Rezeki itu ada di tangan Tuhan. Begitu pun dengan rasa cinta. Cinta bisa hadir kapan pun dan pada siapa pun. Tapi, kita tidak berhak memaksakan rasa cinta itu.” Ucap Jeny menyadarkan keduanya. Dan benar saja, setelah Jeny berbicara seperti itu. Zava dan Roy mulai mau berdamai. Dengan solusi akhir. Roy tidak akan melarang Zava untuk tetap mendekatinya, sebaliknya Zava juga tidak akan melarang Roy mendekati wanita mana pun. Dengan begitu, mereka akan tahu jodoh mana yang terbaik untuk keduanya. Setelah mendapatkan jalan keluar untuk hubungan keduanya. Zava dan keluarganya pamit pulang. Namun, itu bukan akhir dari masalah yang di hadapi Roy malam itu. Saat Roy hendak kembali ke apartemen, mamanya melarang. Papanya pun sama, tak mengizinkan Roy kembali ke apartemen malam itu juga. Karena emosi Roy masih belum stabil. Takut jika dia hilang kontrol dan meluapkan emosinya di jalanan. Oleh karena itu, Roy menginap di rumah orang tuanya dan baru pulang pagi ini. Di dapur, Jasmine mulai menyalakan kompor dan merebus air untuk menyeduh kopi. Sambil menunggu air itu mendidih, Jasmine mulai meracik kopinya. Dua sendok gula dengan satu setengah sendok kopi. Di masukkan ke dalam cangkir putih yang sudah satu set dengan tatakannya. Air yang di rebus oleh Jasmine sudah mendidih sempurna. Segera menuangkan air itu ke dalam cangkir yang sudah terdapat racikan kopi seperti biasanya. Membuat aroma khas kopi itu langsung menguar, segera dia mengaduk hingga gula dan kopinya tercampur sempurna. Setelah tercampur, Jasmine membawanya ke depan agar bisa segera di nikmati oleh Roy. Jasmine meletakkan cangkir berisi kopi panas buatannya ke atas meja depan Roy. Sesaat kemudian Roy membuka mata dan menegakkan tubuh kekarnya saat aroma kopi itu masuk ke indra penciumannya. Menatap Jasmine yang tengah meletakkan secangkir kopi di depannya. "Hmm.. Terima kasih. " ucap Roy. "Sama-sama." jawab Jasmine tersenyum. Kemudian, Jasmine kembali ke dapur untuk meneruskan pekerjaannya. Namun, tepat di langkah ke tiga. langkahnya terhenti karena Roy memanggil namanya. "Hmm.. Jasmine!" panggil Roy menoleh ke belakang. Jasmine berbalik dan kembali mendekat, "Iya. " jawab Jasmine. "Kamu hari ini jadi kembali ke kafe? " tanya Roy. "Hmm.. Iya. Tapi kemungkinan nanti agak siangan." jawab Jasmine. "Okay. Asal sebelum saya pulang kamu harus kembali. " tegas Roy. "Baik. " jawab Jasmine. "Yasudah, lanjutkan pekerjaan kamu. " ucap Roy. Jasmine mengangguk dan kembali ke dapur. Meninggalkan Roy yang tampak gelisah karena mengizinkan Jasmine kembali ke kafe. Jujur, Roy sedikit merasa takut jika Jasmine kembali dekat dengan Daffa. Apalagi mengingat jika Daffa juga sudah meminta izin kepada Wati untuk mendekati Jasmine. Walau sebenarnya Roy akan dengan mudah membuat Daffa menyerah dan tak berani mendekati Jasmine. Tapi, dia sudah berjanji untuk tidak menggunakan kekuasaannya dalam urusan ini. Dia berjanji akan membiarkan Jasmine menentukan kepada siapa hatinya berlabuh. Tak ingin membuat suasana hatinya semakin memburuk. Roy memilih segera meminum kopi yang sudah tersedia di depannya. Meraih cangkir itu dan mencium aroma yang sangat nikmat bagi Roy. Setelah merasa puas menikmati aroma kopi itu. Roy meneguknya hingga tandas. Meninggalkan sisa ampas yang kembali menghiasi sudut bibirnya. "Perfect. " gumam Roy tersenyum senang. * * Di kafe, Daffa yang sudah siap dengan penampilan terbaiknya kini tengah tersenyum menatap jam yang terus berputar. Senyuman terus tercetak di bibirnya walau tipis. Hatinya sungguh bahagia sekarang, hari yang dia tunggu-tunggu akhirnya sampai juga. Hari ini Jasmine akan kembali bekerja di kafenya, walaupun waktu dia bekerja hanya dua jam. Tapi, itu sudah cukup bagi Daffa untuk kembali mencoba mendekati Jasmine sedikit demi sedikit. "Gue harus menggunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin." gumam Daffa semangat. Menghembuskan nafas sejenak lalu membuka laptopnya untuk mengecek ulang apa saja yang di perlukan untuk pembukaan kafe minggu depan. Lima belas menit kemudian, Daffa merasa jika tenggorokannya mulai kering. Dia butuh asupan minum sekarang. Menutup laptopnya dan berjalan keluar ruangan. Menatap ke sekeliling kafe, mencari satu sosok yang membuat hari-harinya suram semenjak kepergiannya. Namun, sama sekali tak ada tanda-tanda jika dia sudah kembali. “Desi!” panggil Roy. Desi yang tengah berdiri tak jauh dari tempat Daffa pun menoleh. Dia mengangguk dan berjalan mendekat ke arah sang bos. “Iya, Pak.” Jawab Desi. “Tolong buatkan saya minum ya.” Perintah Daffa. “Baik, Pak.” Jawab Desi di balas anggukan oleh Daffa. Kemudian Desi segera menuju pantri untuk membuatkan minuman pesanan sang Bos. Sementara Daffa memilih untuk duduk di salah satu meja kosong yang terletak di bagian pinggir jendela kaca besar. Kembali membuka laptopnya dan meneruskan pekerjaannya. Beberapa menit kemudian pesanannya pun datang. Tak berselang lama setelah pesanannya datang. Kini gantian ada seseorang yang memanggilnya. “Permisi, Pak.” panggil seseorang yang dari suaranya terdengar seorang wanita. Namun, suara itu tampak asing di telinga Daffa. Membuat Daffa segera mendongak, menatap siapa yang memanggilnya. Dan benar saja ada seorang gadis yang tampak asing buat Daffa. dengan sebuah amplop coklat di tangannya. "Iya?" tanya Daffa. "Maaf, Pak. apa di sini membuka lowongan pekerjaan?" tanya Gadis itu sopan. Daffa terdiam, mengamati gadis di depannya itu. tampak jelas jika dia gadis yang baik. Apalagi dia sekarang memang butuh karyawan tambahan untuk kafe barunya. "Iya.. kebetulan minggu depan saya membuka cabang kafe baru." ucap Daffa. "Alhamdulillah... apa saya bisa melamar kerja disini, Pak?" tanya gadis itu. "Boleh." jawab Daffa. "Nama saya Naila, Pak. Dan ini berkas lamaran saya." ucap gadis yang memperkenalkan dirinya dengan nama Naila itu. Daffa mengangguk dan menerima amplop yang di sodorkan oleh Naila. membuka amplop coklat itu dan membaca berkas-berkas yang ada di dalamnya. "Saya cek dulu ya. kamu silahkan duduk." ucap Daffa mempersilahkan Naila duduk. Sedangkan Dia kembali membaca berkas dan data diri milik Naila. Daffa tampak fokus dan membaca seluruh berkas yang di serahkan ileh Naila. Dengan sesekali dia melirik antara isi berkas-berkas itu dan Naila. Ada rasa ragu yang dan heran saat mengetahui jika Naila lulusan dari SMA paling populer dan terelit yang ada di daerah A. Kota dengan penduduk di atas Rata-rata. Menurut nilai akhir sekolahnya, Naila termasuk anak yang pintar dan bukan dari golongan menengah kebawah. Tapi justru dia termasuk dari golongan menengah ke atas. Yang jadi pertanyaan Daffa. Kenapa dia melamar kerja di kafenya?? "Semua data ini benar adanya?" tanya Daffa. "Benar, Pak. itu dokumen asli semua." jawab Naila yakin. "Hmmm..." "Baiklah.. kamu boleh bekerja di sini." "Hah?! beneran, Pak?" Daffa hanya membalas dengan anggukkan dan senyuman. "Terima kasih ya, Pak." "Sama-sama." Senyum manis tak dapat tertahan lagi dari bibir ranum Naila. bahagia dan sungguh sangat bersyukur karena akhirnya dia mendapat Pekerjaan. Setidaknya dia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari selama dia di sini. "Kamu bisa bekerja hari ini juga." ucap Daffa lagi. "Baik, Pak." jawab Naila semangat. Daffa menatap sekeliling mencari salah satu karyawan yang tidak terlalu sibuk. Namun, justru dia di buat deg-degan saat melihat gadis yang dia tunggu-tunggu sudah berada di samping pantri dan mengibrol dengan teman-temannya. Hal yang sudah sangat lama tidak di jumpai oleh Daffa. "Jasmine!" panggil Daffa menyuruh Jasmine mendekat. Yang di panggil menoleh dan mengangguk. Kemudian berjalan mendekat ke arah Daffa membuat jantung Daffa berdetak semakin tak karuan. "Ada yang bisa saya bantu, Pak." tanya Jasmine setelah sampai di depan sang Bos. "Iya.. tolong bantu dia untuk siap-siap dan beri seragam karyawan. Dia karyawan baru." perintah Daffa menunjuk Naila. "Oh.. baik, Pak." jawab Jasmine. "Ayo ikut aku." ajak Jasmine kepada Naila. Naila mengangguk dan berlalu meninggalkan Daffa yang tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok Jasmine.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN