Beberapa hari kemudian,
Hubungan Roy dan Jasmine semakin terjalin dengan baik. Kedua pun tampak semakin dekat dan mulai memahami sifat masing-masing. Jasmine setiap hari mulai jam tujuh akan datang ke apartemen Roy untuk memasak dan bersih-bersih. Dan saat memasuki jam makan siang, Jasmine kembali ke rumah sakit mengantarkan makanan untuk sang ibu.
Jasmine akan kembali ke apartemen Roy saat sore hari. Sekitar jam empat atau setengah lima. Karena Roy pulang dari kantor jam enam lebih sedikit. Jadi kalau Jasmine kembali di jam seperti itu, maka waktunya akan pas. Semenjak Jasmine bekerja dengan Roy, Roy selalu makan malam di apartemen. Sedangkan di siang harinya dia lebih sering makan di luar sekalian mengadakan pertemuan dengan rekan kerjanya.
Roy membebaskan Jasmine untuk mengolah bahan makanan yang ada di apartemennya. Untuk dia makan sendiri atau dia bawa ke rumah sakit untuk ibunya. Roy hanya berpesan, saat dia pulang dari kantor, Jasmine harus sudah kembali ke apartemen.
Kemarin, Roy sengaja mengantar Jasmine ke rumah sakit dan berbicara dengan Wati jika sekarang Jasmine bekerja dengannya. Awalnya Wati terkejut dan bertanya-tanya alasannya Jasmine berpindah tempat kerja. Padahal dia sudah lama bekerja di kafe Daffa, Daffa pun selalu berbuat baik kepada Jasmine. Wati takut jika Jasmine membuat masalah dengan Daffa dan berakhir di pecat oleh pria baik hati nan tampan itu.
Tak ingin ibunya salah faham. Jasmine berniat untuk menceritakan semuanya, alasan dia memutuskan untuk bekerja dengan Roy. Wati terkejut mendengar cerita Jasmine, Wati sempat kecewa dan tak mengizinkan Jasmine bertemu dengan Roy lagi.
Roy yang memang mempunyai niat lain segera menyuruh Jasmine keluar dari ruang rawat ibunya. Dan membiarkan Roy dan ibunya bicara berdua di dalam. Awalnya Jasmine menolak karena takut Roy akan menyakiti ibunya. Tapi, Roy terus meyakinkan Jasmine jika dia hanya ingin bicara berdua dengan Wati.
Flashback on,
“Saya tidak akan menyakiti ibu kamu. Saya hanya ingin bicara berdua dengan beliau.” Ucap Roy meyakinkan Jasmine.
“Enggak. Saya nggak percaya.” Kuekeh Jasmine.
“Kamu ingat perjanjian kita ‘kan?” Roy menatap Jasmine tajam. Membuat Jasmine sadar akan surat perjanjian yang dia tanda tangani beberapa hari yang lalu.
“Sekarang. Dengarkan saya. Saya tidak akan menyakiti ibu kamu. Saya hanya ingin bicara berdua dengan beliau.” Sambung Roy tegas.
Jasmine terdiam. Jujur saat ibunya melarang untuk kembali bertemu dengan Roy, ada rasa tak rela yang menyeruak dalam hatinya. Menatap mata Roy yang memancarkan keseriusan dan kejujuran di sana.
Jasmine menghela nafas dan mengangguk pelan. Mungkin memang kali ini dia harus bisa percaya dengan Roy. Jasmine yakin jika kali ini Roy bukanlah pria dingin tak berperasaan yang dulu menjadi musuhnya. Walau baru beberapa hari mereka saling kenal tapi Jasmine sudah bisa menyimpulkan bagaimana sifat asli Roy. Dan apa yang membuat semua orang mengecap dia pria dingin tak berperasaan.
“Tunggu disini. Dan jangan masuk sebelum saya panggil.” Ucap Roy menyuruh Jasmine duduk di kursi tunggu depan ruang rawat Wati.
Jasmine menurut,
Tak mau buang waktu lagi. Roy segera masuk ke dalam ruangan yang sudah seminggu ini di tempati Wati. Sebelum dia masuk Roy menepuk pelan puncak kepala Jasmine. Hanya pelan dan tiga kali tepukan. Namun, itu sukses membuat rona pipi Jasmine berubah menjadi merah jambu.
Ceklek,
Pintu kamar VIP02 terbuka, membuat Wati menoleh. Detik kemudian menampakkan Roy yang sudah siap beratap muka dengan Wati. Di atas ranjang, Wati masih terlihat kecewa dengan apa yang terjadi antara anaknya dan pria yang kini berjalan mendekatinya itu.
“Tante.” Sapa Roy.
Wati hanya diam dan memalingkan wajahnya. Menunjukkan jika dia benar-benar marah dan kecewa dengan semua ini. Ada rasa penyesalan yang menyelimuti hati Wati. Merasa gagal menjadi anak gadisnya, hingga Jasmine harus berkorban demi kesembuhannya.
Roy menghela nafas dan sangat memahami apa yang di rasakan oleh Wati. Namun, Roy tak ingin menyerah untuk sekarang. Roy harus menyelesaikan semua ini dengan segera.
“Tante... saya tahu jika tante marah dan kecewa dengan apa yang terjadi antara saya dan Jasmine. Bukan maksud saya mempermainkan anak tante atau kesembuhan tante. Saya tulus membantu tante. Saya tulus dengan apa yang sudah saya berikan untuk tante.” Ucap Roy.
Wati masih terdiam. Masih dengan memalingkan wajahnya menghadap keluar jendela. Namun, telinga dan hatinya tetap menangkap kata-kata Roy.
“Mungkin tante masih belum percaya dengan apa yang saya katakan. Karena selama ini saya bersikap dingin bahkan sering marah dengan Jasmine tiap kali dia berbuat salah. Saya sadar tante, bukan rasa benci dan merendahkan yang menjadi alasan saya berbuat seperti itu. Namun, saya ingin mengetahui apa yang terjadi pada diri saya.” Sambung Roy.
Detik kemudian, Wati menoleh ke arah Roy yang berdiri di samping ranjangnya dengan jarak setelah meter. Roy sedikit mengulas senyum karena Wati akhirnya merespon apa yang dia katakan.
“Entah apa yang terjadi pada diri saya, sejak pertama kali saya bertemu dengan Jasmine. Saya merasa ada yang tertinggal pada dirinya, ada sesuatu yang membuat saya terus memikirkannya dan membayangkan hal-hal yang berkaitan dengannya. Saya mencoba untuk tak peduli, tapi semakin lama rasa itu semakin membuat saya tak nyaman.” Ucap Roy meluapkan isi hatinya.
Kening Wati berkerut, “Maksud kamu?” tanya Wati penasaran.
“Saya mencintai anak tante.” Jawab Roy tegas.
Dan itu pun sukses membuat kedua mata Wati membola, kaget dan entah harus merespons bagaimana lagi sekarang. Semua tak pernah ter bayangkan oleh Wati. Anak gadisnya di cintai dua pria sekaligus, dan keduanya mempunyai sifat dan karakter yang sangat berbeda.
“Saya sadar, cara saya salah. Jujur, ini ada pengalaman pertama saya. Saya bingung harus berbuat apa. Saya minta maaf tante.” Sambung Roy meyakinkan perasaannya.
“Apa Jasmine tahu soal ini?” tanya Wati setelah dari tadi hanya diam mendengarkan omongan Roy.
Roy menggeleng, “Belum tante. Sebenarnya niat saya ingin meminta restu tante untuk menjadikan Jasmine sebagai calon istri saya. Maka dari itu, saya bilang ke Jasmine untuk mengatakan semuanya ke tante, tentang dia yang bekerja dengan saya.” Jawab Roy.
“Apa kamu tahu, kalau ada orang lain yang juga menginginkan Jasmine untuk jadi pendampingnya?” tanya Wati terbuka dengan kebimbangannya.
Ingat, dan tahu siapa yang di maksud oleh Wati membuat Roy menghela nafas, bahunya pun tampak menurun.
“Saya tahu tante. Dia sahabat saya, tapi perasaan itu tak bisa di salahkan ‘kan, Tante? Saya mencintai Jasmine sejak pertama kami bertemu. Daffa pun sama.”
“Lalu?”
“Saya tidak akan berbuat curang dengan menggunakan kekuasaan saya untuk mendapatkan Jasmine. Tapi, saya akan berusaha untuk mendapatkan Jasmine karena hati saya yakin dia yang saya cari selama ini.”
“Apa Tante bisa pegang ucapan kamu? Sedangkan semua orang tahu siapa kamu dan bagaimana tabiat kamu selama ini.”
Roy terdiam, dia sadar dengan apa yang sudah menjadi kebiasaannya. Semua orang memandangnya sebagai pria kejam, dingin dan tak berperasaan dengan siapa pun. Selalu menggunakan kekuasaannya untuk menjatuhkan semua lawan.
“Saya akan membuktikannya, Tante. Asal tante mau memberi saya kesempatan untuk membuktikan semua itu. Membiarkan saya dan Jasmine menjalani semuanya, hingga hati kami sama-sama merasakan rasa yang sama. Dan menerima satu sama lain karena ketulusan bukan paksaan.”
Terdiam, mendengarkan semua ucapan dan ketegasan Roy yang memang terlihat tulus dengan perasaannya. Walau ada rasa takut dalam hatinya, namun mengingat wajah ceria Jasmine beberapa hari ini (selama bekerja dengan Roy) Wati mengizinkan Roy mendekati Jasmine. Tapi dengan syarat dia tidak boleh mengekang dan membuat Jasmine takut hingga akhirnya dia menerima Roy karena paksaan.
Roy setuju, dia pun berjanji akan berusaha memperbaiki caranya mendekati Jasmine. Agar Jasmine bisa menyadari tentang perasaannya dari hati.
Flashback off.
Sejak itu, Roy tak pernah melarang atau memaksa Jasmine untuk melakukan apa pun. Asal itu tidak melanggar isi perjanjian yang mereka tanda tangani bersama. Seperti saat ini, Jasmine yang di minta Daffa kembali ke kafe untuk membantu mempersiapkan semua keperluan pembukaan kafe sengaja berangkat lebih pagi.
Pukul enam lebih sepuluh menit. Jasmine sudah sampai di depan kamar apartemen Roy. Memencet bel hingga beberapa kali namun tak ada sahutan dari pemilik kamar.
Merogoh ponselnya dan mencari kontak dengan ‘DugongKutub’. Ya walaupun hubungan mereka sudah membaik. Namun, panggilan itu tetap tak berubah. Entah sudah twmerbiasa atau memang sengaja buat panggilan kesayangan.
“Ya, halo.” Ucap Roy di sebrang sana.
“Anda di mana? Saya sudah di depan apartemen anda sejak sepuluh menit yang lalu.” Ucap Jasmine kesal.
“Hmmm..” sahut Roy lalu menutup sambungan telepon itu sepihak.
Jasmine sedikit terkejut dengan hal itu. Keningnya berkerut dengan mulut maju beberapa centi. Menatap layar ponselnya yang sudah kembali menghitam.
“Kebiasaan.” Sungut Jasmine.
Karena tak kunjung di bukakan pintu. Jasmine berniat untuk kembali ke rumah sakit. Namun, tepat saat Jasmine memutar tubuhnya. Tiba-tiba dia menabrak seseorang yang berdiri di depannya. Membuat Jasmine mengaduh dengan memegangi jidatnya.
Duk..
“Auu...”
Jasmine mendongak, kaget karena yang dia tabrak adalah Roy. Pria itu berdiri dengan pakaian santai dan satu kantong kresek ukuran sedang di tangannya. Tak lupa masker dan topi yang selalu dia pakai untuk menyamarkan identitasnya.
“Masuk.” Ucap Roy dingin kemudian mulai membuka pintu kamar apartemennya.
Jasmine menghela nafas jengkel. Namun, tetap mengikuti langkah Roy. Sesampainya di ruang tengah, Roy meletakkan apa yang dia bawa ke atas meja. Lalu menghempaskan tubuhnya kasar ke sofa yang berada di dekatnya. Terlihat jika Roy tengah banyak pikiran.
Jasmine yang sudah paham dengan situasi itu pun. Bergegas ke dapur untuk membuatkan sarapan dan kopi seperti biasanya. Hmmm... sejak Roy merasakan kopi buatan Jasmine. Setiap pagi dan malam Roy minta di buatkan kopi oleh Jasmine. Bahkan, saat pikiran Roy penuh karena pekerjaan, Roy segera pulang ke apartemen untuk sekedar minum kopi. Dan hasilnya Roy kembali segar dan pikirannya kembali terang.