Mengenang seseorang yang pernah menjadi salah satu alasan bertahan dalam situasi yang tak nyaman. Membuat hati siapa pun itu merasa sesak dan sakit. Apalagi jika orang itu sudah tak bisa kita temui lagi. Sudah berbeda dunia dengan kita. Hanya Penyesalan dan kerinduanlah yang selalu hadir tiap kali kilatan memori bersamanya muncul.
Roy dan Jasmine. Sama-sama pernah kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Seseorang yang kini sudah tak bisa mereka temui. Sama-sama merindukan sosok itu. Roy, merindukan belai kasih sayang dari sang nenek sedangkan Jasmine merindukan rasa nyaman yang hanya bisa dia dapat dari sang ayah.
Terdiam dalam pikirannya masing-masing. Hingga suara deringan ponsel menyadarkan keduanya.
Kring!
Di atas meja, Ponsel Roy berdering. Jasmine yang kebetulan berada di dekatnya pun menoleh. Melihat layar tipis itu menyala, tertera nama ‘RENO’ di sana. Jasmine ingat, Reno adalah asisten pribadi Roy yang pernah adu mulut dengannya saat awal-awal mereka bertemu.
“Pak Reno.” Ucap Jasmine menyodorkan ponsel Roy ke pemiliknya.
Roy melirik ponsel itu, benar saja. Ada nama Reno di sana. Dalam hati Roy sedikit penasaran , pasti ada sesuatu yang sangat penting hingga Reno menghubunginya padahal kemaren sudah bilang kalau dia minta libur beberapa hari. Menatap Jasmine sejenak lalu menerima ponselnya dan mengangkat panggilan dari asisten kepercayaannya itu.
“Halo.” Ucap Roy.
“Halo. Selamat pagi, Bos.” Terdengar jawaban dari sebrang sana.
“Pagi. Ada apa?”
“Maaf, Bos. Saya ingin memberitahukan jika ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani hari ini.”
“Harus hari ini?”
“Iya, Bos.”
Roy diam sejenak. Menatap Jasmine yang masih berdiri di sampingnya namun pandangannya tertuju ke arah kolam. Dari sorot matanya, Roy dapat melihat jika Jasmine ingin menjeburkan dirinya ke dalam kotak berisi air itu.
“Hmm.. baiklah, saya ke kantor sekarang.”
“Baik, Bos.”
Tutt....
Roy segera menyimpan ponselnya di saku celana. Menatap Jasmine yang masih sibuk dengan pikirannya. Tatapan Roy terus fokus pada wajah imut Jasmine hingga beberapa detik. Mengagumi kecantikan alami yang dimiliki gadis di depannya itu tanpa berniat mengakhiri rasa kagumnya. Baru kali ini Roy melihat kecantikan dari seorang wanita yang tampak alami tanpa bantuan make up. Karena semua wanita yang pernah mendekatinya selalu bermake up tebal.
‘Cantik, imut dan sangat menggemaskan.’ Batin Roy yang tanpa sadar memuji gadis crewet itu.
Namun, sayangnya Roy cepat sadar dari lamunannya. Segera dia kembali ke tempat semula dan menghabiskan sisa kopi buatan Jasmine itu hingga tak tersisa. Bahkan, ada ampas kopi yang mengelilingi bibir sexy Roy. Jasmine yang mengetahui hal itu pun terkikik. Sementara Roy belum menyadari apa sebab Jasmine menertawakannya.
“Enak ya kopinya ?” tanya Jasmine menaik-turunkan kedua alisnya.
Roy menatap Jasmine dengan kening yang berkerut lalu menggelengkan kepalanya pelan. Membuat Jasmine semakin gencar menggodanya.
“Yakin?” goda Jasmine. “Tapi, tuh apaan?” sambungnya menunjuk ke tepi bibirnya dengan mata yang tertuju ke bibir Roy.
Paham maksud Jasmine, Roy pun meraba sudut bibirnya. Ada sesuatu di sana, kedua alis Roy naik bersamaan dengan raut wajah yang menunjukkan rasa malu. Menarik selembar tissu yang terletak di atas meja samping laptopnya dan mulai membersihkan sisa kopi yang menempel di sekitar bibir.
“Saya harus ke kantor. Kamu bereskan semuanya dan jangan lupa masak buat makan siang.” Ucap Roy sebelum berlalu menuju kamarnya.
Menatap kepergian Roy yang kian menjauh dan hilang di balik pintu kamarnya. Tersenyum, hatinya terasa menghangat sekarang. Entah kenapa, hati Jasmine selalu merasa nyaman saat berada di dekat Roy. Padahal sebelumnya dia sangat benci dengan pria dingin itu. Tapi sekarang Jasmine merasa jika dia mulai nyaman dengan pria dingin itu..
Tak ingin membuat kesalahan dan Roy kembali marah lalu kembali ke sifat aslinya. Jasmine segera mengerjakan apa yang harus dia kerjakan. Menutup laptop Roy dan membawa cangkir bekas kopi itu ke dapur. Sudut bibirnya kembali naik saat menatap kopi itu habis. Ada rasa bahagia yang kini menyelimuti hatinya.
“Semoga ini awal yang baik.” Gumam Jasmine kemudian berlalu ke dapur.
Cangkir kotor itu di tempat cucian piring. Mengumpulkan semua alat makan yang koto dan mencucinya terlebih dahulu. Baru kemudian dia mulai meracik bahan-bahan yang akam dia masak untuk menu makan siang.
**
Di kamar, Roy tampak berdiri menatap cermin di depannya dengan sudut bibir yang terangkat. Mengelap sudut bibir yang masih terdapat sedikit noda hitam.
“Perfect.” Gumam Roy.
Tak pernah Roy merasa sebahagia ini setelah kepergian sang nenek. Dapat tersenyum kembali setelah kehilangan orang yang sangat dia sayangi. Apalagi Roy telah menemukan orang yang bisa membuat kopi yang rasanya sama persis seperti buatan neneknya. Setidaknya dengan begitu, Roy bisa sedikit melepas rindu kepada sang nenek.
Menatap jam di tangannya, pukul sembilan lebih sepuluh menit. Sudah waktunya dia berangkat ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tak bisa dia tunda. Meraih jas yang tergantung di lemari khusus miliknya dan menyambar kunci mobil di atas nakas.
Tepat saat Roy melewati ruang tamu. Pergerakannya terhenti ketika matanya menangkap sosok gadis cantik dengan rambut panjang yang kini dia kucir kuda tengah menguasai dapur kesayangannya. Gerakan tangannya sangat lincah bertempur dengan peralatan di dapur serta bahan-bahan masakan yang siap dia olah. Sungguh wanita idaman yang patut di perjuangkan.
Detik kemudian Roy menggelengkan kepalanya. Lalu berjalan mendekat ke arah Jasmine yang masih belum sadar dengan kedatangan Roy. Berhenti di dekat bar yang memisahkan anatara dia dan Jasmine.
“Jasmine!” panggil Roy.
“Eh, Iya.” Jawab Jasmine menghentikan aktivitasnya.
Menoleh, sedikit terkejut saat melihat Roy yang sudah berdiri di dekatnya dengan tampilan seperti biasa. Setelah Jas Mahal yang tampak pas di tubuh kekarnya. Tak lupa rambut yang tertata rapi dengan aroma maskulin yang menguar hingga ke indra penciuman Jasmine. Aroma yang sangat menenangkan.
“Kamu masak juga buat ibu kamu. Dan antar ke rumah sakit.” Ucap Roy.
“Hah!?” sahut Jasmine yang masih bingung dengan ucapan Roy.
Tanpa menunggu lagi, Roy membalikkan badan dan berangkat ke kantor. Meninggalkan Jasmine yang masih melongo. Tepat saat pintu apartemen itu tertutup barulah Jasmine sadar.
“Tadi... serius? Dugong kutub itu nyuruh gue masak sekalian buat ibu?” ucap Jasmine bermonolog.
Ucapan Roy sukses membuat semangat Jasmine kian membara. Tanpa menunggu lagi, dia segera mulai proses memasaknya. Karena sudah terbiasa memasak berbagai macam makanan, Jasmine tak mendapatkan kesulitan walau masak dengan jumlah yang lumayan banyak.
Sementara itu, Roy berjalan menuju lift untuk turun ke lantai dasar dan berangkat ke kantornya. Melewati beberapa kamar hingga dia sampai di lobi apartemen. Menunggu beberapa saat, hingga mobil miliknya sampai di depan lobi. Lalu seseorang berpakaian serba hitam keluar dari balik kemudi, berjalan mendekati Roy dan mengangguk. Roy membalas dengan sedikit mengangguk lalu masuk ke dalam mobilnya.
Berjalan perlahan keluar dari area apartemen itu dan masuk ke bahu jalan membaur dengan kendaraan yang lain. Seperti hari-hari biasanya, jam-jam seperti ini jalanan lumayan lenggang. Membuat Roy sampai di kantornya hanya memakan waktu lima belas menit. Padahal hari-hari biasanya Roy membutuhkan waktu hingga tiga puluh menit untuk sampai di kantornya.
Keluar dari mobilnya dan langsung menuju lift untuk naik ke ruangannya. Sepanjang jalan, semua karyawan menunduk hormat saat Roy lewat. Apalagi, setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Membuat sosok Roy menjadi makin di segani. Bagaimana tidak, setelah Jasmine pulang dari kantornya. Roy memberi SP untuk karyawan yang menonton keributan di lobi kantornya. Bahkan, ada beberapa karyawan yang langsung dia pecat karena ketahuan merekam kejadian itu.
Ting!
lift yang dia naiki telah tiba di lantai seratus dua puluh. Tempat dimana hanya dia dan Reno yang boleh berada di lantai itu. Bahkan untuk bagian bersih-bersih, Reno mengkhususnya hanya ada dua karyawan yang di tugaskan membersihkan ruangan itu. Itu pun karyawan yang sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun.
"Selamat Siang, Bos." sapa Reno.
"Hmm.." sahut Roy.
Roy segera duduk di kursi ruangannya, sementara Reno mendekat dan meletakkan berkas-berkas yang harus dia tanda tangani sekarang juga. Roy membuka berkas itu, membaca isinya kemudian mencoretkan tanda tangannya di tempat yang tersedia.
Setelah semuanya sudah bertanda tangan, Reno segera merapikan kembali berkas itu.
"Hm.. maaf, Bos. Tadi pagi, Ibu anda datang kemari. Karena anda tidak di tempat, beliau menitipkan ini untuk anda." ucap Reno meletakkan sebuah undangan di atas meja Roy.
Roy melirik surat undangan tersebut, tanpa bicara apa pun. Roy mengambilnya dan membaca isi undangan itu.
"Kalau begitu saya permisi." pamit Reno di balas anggukan oleh Roy.
Reno keluar, meninggalkan Roy yang masih membaca undangan di tangannya. Undangan makan malam dari pamannya yang pulang dari Amerika, Detik kemudian kening Roy tampak berkerut saat membaca pesan tambahan yang terletak di bagian paling bawah surat itu.
[Nb: untuk keponakanku Royyano Devin Erza. Harus datang bawa pasangan. Karena kalau tidak, akan di jodohkan dengan anak teman paman.]
"Ckk.. apaan coba." sewot Roy melempar undangan itu ke atas meja.
Dua minggu lagi, acara pembukaan kafe Daffa, berarti waktu Jasmine bekerja dengannya hanya satu minggu. selanjutnya dia akan kembali ke kafe dan bekerja dengan Daffa. Entah kenapa setiap mengingat hal itu, Roy merasa sedikit tak nyaman dan tak ikhlas.
Tiba-tiba, Roy menaikkan sudut bibirnya. Hanya sebelah, membuat senyum itu terlihat mengerikan
"Hmm... baiklah paman. Aku akan bawakan calon keponakan untukmu." gumam Roy dengan senyum misterius yang tercetak di bibirnya.