Zava turun dari kamarnya dan tersenyum saat pandangannya menangkap sang mama yang tengah sibuk menata makanan di atas meja di bantu oleh bi Asri, asisten rumah tangga keluarga ini. Bi Asri sudah bekerja dengan keluarga ini sejak Zava masih berumur tiga tahun. Membuat hubungan satu dengan yang lain sangat dekat. Bahkan, bi Asri sering menemani tidur Zava saat kedua orang tuanya tengah sibuk bekerja.
Mendengar langkah kaki yang mendekat, Sinta menoleh dan tersenyum saat melihat Zava berjalan mendekat ke arahnya. Anak gadisnya itu sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan multi talenta.
“Hmmm... wanginya anak mama.” Sanjung Sinta saat mencium aroma parfum milik Zava yang memang dia produksi sendiri.
“Terima kasih, Ma. Ini produk terbaru loh.” Jawab Zava senang.
“Waahh... keren. Baunya kalem dan menenangkan.” Puji Sinta.
“Iya, Ma. Zava aja langsung jatuh cinta sama baunya.” Ungkap Zava.
Ya, selain menjadi seorang artis dan model papan atas. Zava juga membuka bisnis parfum yang dia kerjakan bersama sahabatnya yang memang bekerja di laboratorium. Parfum yang di promosikan oleh Zava adalah parfum pertama yang sangat baik untuk di gunakan di segala usia. Membuat semua produknya selalu menjadi incaran para konsumen.
Bahkan, dalam satu hari bisa terjual lebih dari tiga ribu botol parfum. Belum lagi yang memesan dengan jumlah besar dan harus siap dalam waktu kurang dari seminggu. Membuat kesibukan Zava semakin menggila, namun dia tetap semangat karena dalam hati dan pikirannya hanya satu. Mengabulkan keinginan sang adik yang pernah di lontarkan kepadanya sebelum mereka berpisah.
Flashback on.
Zava dan Jeselyn yang di temani bi Asri kini tengah duduk manis di sofa panjang depan teve. Menatap ke arah teve yang kini sedang menyiarkan acara pemilihan wanita terbaik dengan prestasi yang mereka miliki. Jeselyn tampak memeluk boneka beruang kesayangannya, sedangkan Zava duduk di samping Jeselyn dengan setoples kue kering di pangkuannya.
“Kakak.” Panggil Jeselyn.
“Ya?” jawab Zava menoleh ke arah adiknya.
“Hmm... adek pengen deh, punya kakak yang menjadi artis dan masuk teve kaya itu (menunjuk ke arah teve).” Ucap Jeselyn polos.
“Emang kenapa?” tanya Zava.
“Pasti terkenal dan banyak temennya.” Jawab Jeselyn.
“Kenapa nggak adek aja yang jadi artis?” tanya Zava lagi.
Jeselyn mengerucut, “Adek malu kak. Adek mau kerja di kantornya papa aja. Biar kakak yang jadi artis.” Jawab Jeselyn.
“Kalo jadi artisnya berdua gimana?” sahut Zava.
Jeselyn menggeleng, “Enggak ah. Adek mau kerja di kantor papa sama buat kantor sendiri.” Jawabnya tersenyum manis memperlihatkan giginya yang sangat terawat.
Kini gantian Zava yang tampak kurang setuju dengan ucapan Jeselyn, “Emang adek mau bikin kantor apa?” tanya Zava penasaran.
“Kantor yang sama kaya kayak yang di rumahnya om Hilman.” Jawab Jeselyn berbinar.
“Om Hilman?
“Iyah.”
“di rumah om Hilman itu bukan kantor dek. Tapi toko parfum.”
“Ah... iya itu maksud adek. Hehe.” Sahut Jeselyn dengan cengiran imutnya.
Jeselyn dan Zava adalah anak yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata anak seusianya. Pemikirannya lebih dewasa dan perasaan mereka pun lebih sensitive. Bahkan, sejak usia dua tahun. Jeselyn dan Zava sudah menguasai tiga bahasa sekaligus.
Namun, Sayang. Setelah percakapan itu. Jeselyn menghilang saat keluarga ini berlibur ke Villa milik keluarga yang terletak di daerah pegunungan. Jeselyn menghilang saat dia mengejar kupu-kupu yang masuk ke dalam hutan. Zava yang habis dari kamar mandi panik dan khawatir karena tak menemukan adiknya di dekat ayunan samping Villa. Dia bergegas mencari kedua orang tuanya untuk mencari Jeselyn. Tapi sayang. Hingga sekarang Jeselyn tak bisa di temukan.
Flashback off.
“Ayo makan dulu, Nak.” Ajak Sinta mengelus bahu Zava.
Zava tersenyum dan mengangguk, kemudian menarik kursi di depannya. Matanya berbinar menatap semua makanan yang ada di meja. Sungguh dia pun merindukan semua makanan ini. Sudah lama dia tak merasakan cah kangkung buatan mamanya.
“Mama yang masak?” tanya Zava dengan tangan yang sibuk mengambil nasi serta lauk pauknya ke piring.
“Iya, Sayang.” Jawab Sinta.
Zava makan dengan lahap. Menghabisnya semua makanan yang ada di meja itu dengan emosi hati yang begitu besar. Bukannya dia tamak atau gimana, tapi itu dia lakukan untuk menyamarkan suasana hatinya yang kembali di rundung kesedihan.
Di depannya, tertata rapi semua jenis masakan buatan mamanya. Semuanya lezat tapi secara tiba-tiba, semua masakan itu terasa hambar kala dia teringat kembali akan adiknya yang entah ada di mana. Sudah makan atau belum. Zava tak kuasa menahan tangisnya. Namun, dia tak mau kalau sampai mamanya melihat dia menangis. Makanya dia samarkan dengan melahap semua makanan itu.
Sambal, senjata paling tepat untuk meluapkan isi hatinya, sengaja dia mengambil sambal yang banyak. Sampai kedua matanya berair, bukan hanya air mata karena kepedesan tapi sudah tercampur dengan air mata kesedihannya.
“Sayang. Makannya pelan-pelan.” Tegur Sinta yang heran dengan cara Zava yang beda dari biasanya.
Zava nyengir dengan mulut yang masih penuh dengan makanan, “Habisnya masakan mama sangat lezat. Aku mau habisin semuanya. Mumpung di rumah dan nggak ada wartawan yang meliput.” Jawab Zava.
Sinta terkikik, menggelengkan kepalanya gemas dengan tingkah Zava. Sama seperti waktu dia kecil dulu. Selalu lahap jika Sinta memasakkan cah kangkung dengan tempe goreng krispy. Tak ada yang tersisa sedikit pun di piring Zava.
“Papa mana, Ma?” tanya Zava di sela makannya.
“Papa sudah berangkat. Ada meeting pagi dengan para pemegang saham.” Jawab Sinta. Di balas anggukan oleh Zava.
“Huh huh...” keluh Zava kepedesan.
Sinta segera menuangkan air minum untuk Zava. Zava menerimanya dan meneguknya hingga tandas. Lalu kembali meneruskan makannya.
*
*
Tok! Tok! Tok!
Pintu di ketuk dari luar, Daffa yakin kalau salah satu karyawannya yang hendak mengantarkan pesanannya.
“Masuk!”
Detik kemudian handle pintu berputar, lalu perlahan pintu itu terbuka. Tia menyembulkan kepalanya dari balik pintu dengan nampan berisi jus di tangannya. Tersenyum melihat sang pujaan hati tengah fokus ke depan layar laptop di depannya.
“Permisi, Pak.” Ucap Tia.
Daffa menoleh, membalas senyuman Tia yang justru membuat gadis itu semakin salah tingkah dan menggilai sang bos. Daffa menyuruh Tia masuk dengan isyarat kepalanya. Tanpa menunggu lagi, Tia melangkah mendekat ke meja Daffa dan meletakkan gelas berisi jus itu di samping kanan laptop Daffa.
“Silahkan, Pak.” Ucap Tia.
“Iya. Terima kasih ya.” Jawab Daffa.
“Sama-sama, Pak. Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?” tanya Tia menawarkan bantuan.
Berharap Daffa menyuruhnya untuk menemani dirinya di sini agar keduanya makin dekat dan berujung menjalin hubungan. Untung-untung kalau Daffa tiba-tiba menembaknya dan mereka langsung maju ke pelaminan agar tak ada yang berani mengganggu hubungan mereka.
“Hmm..seperti sudah tidak ada. Nanti kalau saya perlu bantuan saya kasih tahu.” Jawab Daffa.
“Oh.. baik, Pak. Kalau begitu saya permisi.” Ucap Tia.
“Silahkan.”
Tia pun keluar dengan wajah sedikit di tekuk. Harapannya untuk bisa lebih lama dekat dengan Daffa pun sirna. Tapi, dia tetap senang karena Jasmine sudah tak bekerja lagi disini. Membuat kesempatannya mendekati Daffa semakin terbuka lebar.
Tia tahu jika Daffa suka dan Jasmine bahkan dia juga tahu kalau Daffa sudah meminta izin ke ibunya Jasmine untuk mendekati dan memacari anak gadisnya. Namun, Wati, ibunya Jasmine hanya mengizinkan tanpa membantu apa pun. Karena itu urusan hati dan Wati membiarkan Daffa berusaha sendiri.
Awalnya Tia marah dan berusaha mendapatkan Daffa dengan cara apa pun, Tapi mengingat kebaikan yang Jasmine lakukan selama ini membuat Tia tak berani berbuat kasar yang akan menyakiti sahabatnya itu. Mencoba berdamai dengan keadaan dengan usaha dan doa yang terus dia panjatkan agar bisa dekat dan bersaatu dengan sang pujaan hati.