“Inget ya, kamu sekarang bekerja dengan saya. Apa pun yang saya katakan kamu harus ikuti dan jangan pernah membantah.” Ucap Roy pelan dan penuh penekanan.
“Kesembuhan ibu kamu. Ada di tangan kamu sendiri.” Sambung Roy.
Mata indah itu pun hanya bisa mengerjap. Menatap lurus ke sepasang mata tajam yang juga tengah menatapnya. Perlahan tatapan mata Jasmine berubah sendu. Mengingat tentang ibunya yang kini masih berbaring di rumah sakit.
Jasmine sama sekali tak bisa berkutik sekarang, apa yang di katakan Roy benar adanya. Semua kini ada di tangan Roy dan tangannya. Tak ada cara lain, selain ikuti semua kemauan Roy. Jasmine menunduk, menurunkan egonya dan berusaha melapangkan dadda demi kesembuhan ibunya.
“Maaf.” Lirih Jasmine tanpa mengangkat wajahnya.
Hening...
Hanya suara detak jam yang kini terdengar di ruangan itu. Hingga beberapa detik kemudian, Roy tersenyum menang.
“Bagus.” Jawab Roy lalu menepuk pelan puncak kepala Jasmine.
Mendapat perlakuan yang baru pertama kali dia rasakan membuat jantung Jasmine berdebar dengan sangat hebat. Dapat dia rasakan jika badannya kini merasa panas dingin karenanya.
“Habiskan makananmu setelah itu temui saya di dekat kolam renang, jangan lupa buatkan saya kopi.” Bisik Roy tepat di samping telinga Jasmine membuat perasaan gadis itu semakin tak karuan.
Wajah yang sebelumnya tampak merah padam karena emosi yang memuncak kini berubah menjadi merah jambu. Mata indah yang tadi memancarkan kemarahan dan kesedihan kini tampak berubah menjadi penuh binar. Persis seperti anak ABG yang baru mendapat balasan surat cinta dari si doi.
Tanpa peduli dengan apa yang dirasakan oleh Jasmine. Roy berlalu meninggalkan Jasmine yang masih terkejut dengan perlakuan manis Roy. Hingga beberapa saat kemudian Jasmine masih termenung dalam posisinya. Sungguh dia belum kembali ke alam nyatanya. Pikiran serta hatinya masih beterbangan di dunia halu.
Tepukan, usapan serta bisikan Roy yang entah apa maksudnya itu sukses membuat Jasmine kehilangan jati dirinya. Sejenak dia lupa akan tujuan dan niatnya berada di tempat ini. Tangan besar dan kekar yang masih terasa di puncak kepala membuat Jasmine kini semakin melayang. Bahkan sekarang dia tengah menaikkan sudut bibirnya
“Eh...” pekik Jasmine saat sadar dari lamunannya.
“Ahh... si*l, kenapa gue jadi o*n gini ya. Kenapa bisa terpengaruh dan tak berdaya di depan pria itu.” Gerutu Jasmine memukul pelan kepalanya menyesali kelakuannya.
Tatapannya beralih ke piring di depannya. Ada rasa kecewa saat melihat makanan itu masih utuh. Padahal dia tidak tak ada niat jelek untuk Roy, meskipun Jasmine memang benci padanya. Tapi untuk meracuni atau melukainya, sama sekali tak ada di pikiran Jasmine.
Tak ingin membuat keributan lagi, Jasmine mengambil piring dan mulai mengambil nasi itu dan memakannya dengan lahap. Menu ini adalah menu favorite Jasmine yang sudah pasti rasanya sangat lezat di lidah gadis imut itu. Apalagi, tadi sebelum berangkat dia belum sempat sarapan.
Dia harus bolak-balik dari rumah ke rumah sakit untuk menemani ibunya dan juga merawat rumah. Bagaimana pun juga, Jasmine setiap hari akan pulang untuk membersihkan rumah dan mengambil alih semua pekerjaan ibunya. Nyapu, ngepel, nyuci bahkan masak. Dari dulu Jasmine dan ibunya lebih suka masakan rumah dari pada beli.
Satu piring nasi goreng dengan dua potong ayam goreng rempah kini ludes tak tersisa. Tinggal tulang-tulang ayam yang kini tampak mengisi piring di depan Jasmine.
“Alhamdulillah, kenyangnya.” Gumam Jasmine menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan mengelus perutnya yang kini tampak sedikit buncit.
Saat menikmati rasa kenyangnya, tiba-tiba Jasmine teringat dengan ucapan Roy membuat Jasmine menegakkan tubuhnya. Diam sejenak lalu mulai membereskan meja makan itu. Menyimpan sisa nasi goreng dan ayam gorengnya. Siapa tahu Roy masih mau memakannya nanti. Kalau tidak mau ya bisa dia bawa pulang. Hihihi...
Setelah meja makan kembali bersih, Jasmine memilih untuk segera membuatkan kopi untuk Roy. Sebelum pria kejam itu kembali mengeluarkan tanduknya. Bukan takut, Jasmine hanya ingin bekerja sungguh-sungguh seperti saat dia bekerja di kafe milik Daffa.
“Takarannya berapa ya?” gumam Jasmine menatap toples berisi gula dan kopi hitam di depannya.
Karena tak tahu berapa takaran kesukaan Roy, dan dia juga malas jika harus bertanya dulu. Akhirnya Jasmine memutuskan untuk membuat sesuai takaran kesukaannya. Dua sendok gula dan satu setengah sendok kopi.
Sementara itu,
Roy yang duduk di kursi dekat kolam tampak fokus pada layar laptopnya. Mata tajamnya kini berlapis dengan kaca mata yang membuat penampilan Roy menjadi lebih dewasa dan lebih lembut. Beda jauh dengan penampilannya saat di kantor, rapi dan tatapan mata yang selalu tajam tanpa kaca mata.
Karena saking fokusnya dengan huruf dan angka yang berjejer di layar laptopnya. Roy tak menyadari jika Jasmine berjalan mendekatinya dengan membawa cangkir berisi kopi pesanannya. Sampai akhirnya aroma khas kopi hitam itu menguar dan masuk ke indra penciuman Roy. Membuat Roy memejamkan matanya menikmati aroma menyegarkan itu. Kemudian menoleh ke samping, menatap Jasmine yang juga tengah menatap Roy kagum.
‘Ganteng banget yak.’ Batin Jasmine menatap Roy.
Membayangkan jika saat ini, dia dan Roy tengah duduk bersama di sebuah taman yang sangat indah. Penuh bunga yang berwarna-warni dan banyak kupu-kupu yang beterbangan di sekitar mereka. Saling melempar senyum terbaik mereka. Perlahan tangan kekar Roy membelai rambut Jasmine.
“I love you.” Ucap Roy mengecup kening Jasmine mesra.
Jasmine merem, menikmati momen indah mereka. “I love you too.” Jawab Jasmine.
Detik kemudian Roy perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Jasmine. Membuat Jasmine gugup dan memilih untuk memejamkan matanya. Pelan tapi pasti, kedua wajah itu pun kini semakin mengikis jarak. Roy sedikit memiringkan wajahnya saat kedua hidung itu sudah bersentuhan. Menempelkan bibir mereka setelah mata Roy terpejam.
Awalnya hanya menempel, tapi semakin merapat. Perlahan Roy menggerakkan bibir sexynya, mengecap, melumat membuat Jasmine terbuai. Meskipun dengan sangat kaku Jasmine mulai mengikuti pergerakan Roy. Membalas apa yang Roy lakukan.
Jasmine tampak senyum-senyum tak jelas. Membuat Roy yang sedari tadi mengamatinya tampak mengerutkan keningnya.
“Ehemm..” dehem Roy.
Jasmine terkejut mendengar suara deheman yang sedikit keras itu. Hingga membuat dia sadar dari lamunannya. Menatap ke arah Roy yang kini menaikkan kedua alisnya.
“Ngapain? Bayangin tengah berduaan dengan saya?” tanya Roy.
Jasmine tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaan Roy. Pertanyaan yang sama persis dengan bayangannya tadi.
‘Jangan-jangan dia cenayang lagi.’ Batin Jasmine.
Roy meletakkan laptopnya ke atas meja lalu berdiri dan berjalan mendekati Jasmine. Jasmine yang mulai merasa tak nyaman kembali dengan sikap aneh Roy, kini berjalan mundur menjauh dari Roy. Roy sedikit menaikkan alisnya melihat tingkah Jasmine kali ini. Terus melangkah maju sedangkan Jasmine melangkah mundur.
Hingga akhirnya keduanya berhenti saat punggung Jasmine sudah nempel di tembok. Roy mengangkat sudut bibirnya. Dengan gerakan yang sangat pelan, dia mengangkat tangannya. Jasmine semakin ketakutan dan memilih untuk memejamkan matanya.
“Otak kamu perlu di cuci pakai satu kilo sabun colek, biar bersih dari pikiran kotor.” Cibir Roy, sontak membuat Jasmine membuka matanya terkejut.
Mengambil cangkir berisi kopi pesanannya dari tangan Jasmine lalu membalikkan badannya dan kembali duduk di kursinya. Meninggalkan Jasmine yang kini melotot mendengar cibiran dari Roy.
‘Gimana nggak mikir m***m kalau kelakuan loe kek gitu.’ umpat Jasmine dalam hatinya dengan tangan mengepal.
“Nggak usah di batin.” Sindir Roy tanpa menatap Jasmine.
Jasmine mendekat ke arah Roy dengan menghentakkan kakinya. Benar-benar pria ini minta di tampol biar bisa sedikit bersikap baik kepada orang lain dan tak selalu menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dia perbuat.
Saat hendak mengangkat tangannya, gerakan Jasmine terhenti ketika mendengar suara Roy.
“Eh, Bentar.” Ucap Roy sesaat setelah menyeruput kopi buatan Jasmine.
“Ini beneran kamu yang buat?” tanya Roy mendongak menatap Jasmine.
Jasmine melengos, “Bukan, itu yang buat mbak penghuni apartemen ini.” Jawab Jasmine sewot.
Mendengar jawaban Jasmine, Roy menghela nafas dan meletakkan cangkir itu ke atas meja samping laptopnya. Berdiri dan berjalan ke pinggir kolam. Dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku celananya. Jasmine hanya mengamati semua gerakan Roy tanpa berkomentar lagi.
“Padahal, saya akan memberikan imbalan bagi siapa saja yang membuat kopi itu. Kopi yang selama ini saya rindukan.” Ucap Roy menatap air kolam yang tenang.
“Rindukan?” tanya Jasmine.
“Iya, rasa kopi itu sangat mirip dengan kopi buatan nenek saya yang menunggal dua tahun yang lalu. Kopi yang selalu beliau suguhkan saat saya berkunjung ke rumahnya.”
Pikiran Roy melayang, mengenang setiap momen saat dirinya dan sang nenek yang selalu menjadi tempatnya mengeluh. Tempatnya mengadukan semua yang dia hadapi. Baik urusan bisnis maupun urusan hati.
Bukan orang tuanya, tapi Roy lebih dekat dengan neneknya. Nenek yang paling dia sayangi sejak kecil. Karena waktu itu, Roy selalu di titipkan kepada neneknya karena kedua orang tuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Awalnya Roy tak mau tinggal di rumah neneknya yang lebih kecil dari rumah kedua orangnya. Tempatnya pun di daerah pedesaan yang jauh dari keramaian. Tapi, semakin lama Roy semakin betah dan tak mau pulang ke rumah orang tuanya.
Baru saat Roy lulus SMA, dia mau pulang ke rumah. Itu pun karena terpaksa. Di daerah tempat tinggal neneknya jauh dari kampus. Membuat dia harus pindah ke kota. Tapi, meskipun begitu tiap weekend dia pasti mengunjungi sang nenek. Sekedar curhat atau pun minta di buatkan kopi. Kini semua hanya tinggal kenangan, tempat curhatnya sudah tiada. Tak ada lagi yang bisa memahami keadaanya saat ini.