Wajah Leo terlihat jelas. Matanya memburu marah. “Iya! Kenapa? Kau terkejut, bukan?” “Ka-kau.. benar-benar..” Pandangannya berubah gelap dan matanya perlahan menutup. “Lea! Keluarlah!” SI Samar-samar—Senna membuka matanya. Bola matanya berputar. Dia mulai mengangkat kepala dan melihat sekeliling. Senna berada di kamarnya saat ini. Duduk terikat, di kursi. “Kau sudah bangun, sayang?” ucap Leo yang sedang menyusuri kamarnya. Topi dan masker, sudah tidak dipakai olehnya. Senna mendesis kesal. “Lepaskan aku, breng*sek!” “Wah.. Kau, bisa berkata kasar juga rupanya. Kau ingin aku lepaskan? Sayangnya, aku tidak akan melepaskan mu!” “Kau—sungguh gila! Sungguh, kau yang melakukan ini semua? Kenapa?!” “Kenapa? Kenapa katamu? Tentu saja untuk balas dendam!” Leo mengambil kursi lalu dud

