“A-aku rasa begitu,” kata Lina. “Jadi, apa maksudmu?!’ Reza mulai emosi. Berdiri. Menatap kesal istrinya. “Entahlah. Memang, itu tulisanku. Tapi- aku tidak ingat, pernah menulis hal semacam itu.” “Oh, ayolah, Lina. Kau mau bersandiwara lagi?!” “Tidak. Sungguh! Aku tak pernah membohongimu!” “Kau perlu di hajar lagi, rupanya!” Reza mengepalkan tangan. CID segera berdiri. Dan, menyeret Reza keluar. “Kenapa kau menghalangiku?! Wanita seperti pantas di pukul!” kata Reza, saat sudah di luar rumah. “Apa masalah akan selesai, jika kau memukulnya?” “Setidaknya, dia akan sadar!” “Bagaimana kalau dia tak berbohong?” Reza mendengus. “Jelas-jelas dia berbohong! Bagaimana bisa, ia mengatakan jika terakhir bertemu dengan Yumi 3 hari lalu? Tidak masuk akal sama sekali.” CID mendesah singkat. “

