Senna sedang tidak ingin melakukan apa-apa. Bahkan untuk sarapan saja, dia malas. Sejak tadi, ia hanya membolak-balik roti lapisnya. Sementara dagunya bertumpu pada tangan. Kemarin.. CID meminta bantuan kepadanya, untuk mengajukan beberapa pertanyaan pada Grace. "Kau tidak makan, Senna?" Grace bertanya. Sembari menggigit roti lapis. "Aku sedang tidak nafsu makan." Senna menjawab dengan nada lemas. "Apa kau sakit?" "Tidak, juga. Bu.. Aku ingin menanyakan satu hal padamu.” Katanya, menatap Grace. “Yap. Tanyakan saja.” "Kau bilang—jika ayah memiliki satu orang sahabat. Apa.. Sahabatnya itu masih sering menghubungimu?" Ekspresi Grace berubah acuh tak acuh. Berdeham kemudian. "Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?" "Ti-tidak. Aku hanya penasaran saja. Juga.. Aku rindu ayah." Grac

