salah paham

1102 Kata
Kyoto, Jepang. Calvin baru saja tiba di Kyoto ia disambut Raka, mereka langsung menuju perusahan, calvin tak ingin menunda-nunda, seperti yang orang lain katakan "time is money", calvin akan sangat sibuk hari ini, ia harus mengganti staf yang sudah di keluarkan, mau tak mau ia harus merombak posisi yang sudah tertata saat ini, ia akan memilih dengan teliti tak ingin kejadian sebelumnya terulang lagi. Calvin juga harus menghadiri rapat pimpinan, mengajukan proposal kerjasama baru dengan perusahan terkenal lainnya di sana. Perusahan cukup merugi ia harus memperbaiki dan membuatnya bangkit lagi. Pukul 10 malam "Aku lelah sekali" keluh Raka, seharian ia dan Calvin harus bertemu dan berdiskusi dengan wakil dari perusahaan lain di luar kantor untuk pengajuan kerja sama, bahkan lebih dari 7 perusahaan, dan itu belum semua. "kau sudah bekerja keras" ucap Calvin "Tentu saja" Raka percaya diri. "Pulang lah dan istirahat" "Iya" Raka dan Calvin pun kembali ke apartemen mereka masing-masing, Calvin merebahkan dirinya di sofa, sejak sampai di Jepang ia belum memberi kabar pada Alice, Calvin yakin Alice pun mengerti, Calvin memutuskan untuk mandi lalu istirahat, ia juga sangat lelah. Rianty Baru saja tiba di bandara "penerbangan yang melelahkan" gumam rianty. Ia memutuskan menginap di hotel, karena sudah malam ia mengurungkan niatnya bertemu Raka dan akan mengunjungi kekasihnya itu besok pagi. Rianty tau letak apartemen Raka rianty juga tau sandi apartemen kekasihnya itu, Calvin sudah memberitahunya kemarin. Setibanya di hotel rianty mengecek ponselnya tak ada notif dari Raka, rianty yakin kekasihnya itu sangat sibuk hari ini, apa lagi Calvin juga tiba tiba di perusahaan hari ini, di mana ada Calvin itu akan jadi yang hari sibuk. Rianty memutuskan untuk mandi lalu membereskan barangnya ia akan bangun pagi dan mengunjungi Raka sebelum kekasihnya itu berangkat ke kantor. ~~~~~~~~~~~~~~ Terlihat gadis cantik bak model dengan pakaian modis dan sexy, memasuki lift dan naik menuju apartemen Raka, siapa lagi kalau bukan Yuki, mantan kekasih Raka, setelah pertemuan singkatnya dengan Raka di restoran, Yuki yakin Raka sudah balik kembali ke Jepang dan tinggal di apartemen nya yang dulu, Yuki memang menaruh hati pada Raka tapi dia tak bisa berkomitmen untuk memiliki Raka saja, ia harus menjalin hubungan dengan lelaki kaya lainnya untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Yuki tak menyesal dengan apa yang sudah terjadi, ia hanya merindukan Raka dan ingin menemuinya, Raka pria yang baik, Yuki tak da alasan untuk membencem nya, meskipun Raka membenci Yuki. Yuki menekan sandi pintu apartemen Raka, karena dulu ia sering bolak-balik masuk apartemen Raka sudah pasti ia mengetahui sandinya. "Ternyata tidak berubah" gumam Yuki yang merasa senang karena Raka tak mengubah kata sandinya. Ceklek, Yuki masuk kedalam, hening tak ada aktivitas, ruangan yang berantakan, lampu yang padam, ini masih terlalu pagi Yuki yakin Raka pasti belum bangun dari tidurnya. Yuki menyalakan lampu lalu mengambil baju-baju yang berserakan di lantai. Lalu ia menuju kamar tidur Raka, Yuki mulai membuka pintu ternyata benar Raka masih terlelap dalam tidurnya, Yuki masuk dan semakin mendekati pria itu, raka tidur hanya mengenakan dalamannya saja dan di lapisi selimut. Yuki melihat tubuh atletis Raka yang menggoda, selama menjalin hubungan Raka memang tak meminta hubungan yang lebih, tidak seperti para kekasihnya yang sekarang, Jika Yuki ingin uang yang banyak tentu saja ia harus mengorbankan tubuhnya. Yuki pun duduk di pinggir ranjang. "Kau sangat menggoda" bisik Yuki di telinga Raka. Di sisi lain terlihat rianty yang baru saja turun dari taxi ia melihat lagi alamat apartemen raka yang dikirim Calvin, untuk memastikan, dan benar ini alamat yang sama. Rianty pun bergegas Menaiki lift. Raka meremang, seperti ada yang menggangu telinga nya, suara halus dan hembusan nafas yang terasa di telinga, membuat jiwa lelakinya bangkit, ia masih memejamkan mata ia pikir itu hanya mimpi. Hingga sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya dan memainkannya lembut, Raka mulai menyadari itu bukan mimpi, ia membuka mata dan betapa kagetnya melihat Yuki sedang menciumnya lembut dengan posisi di atas tubuh Raka. "Jadi, inikah dirimu yang sebenarnya?" Ucap seorang wanita dengan suara gemetar dan hampir menangis, Ya rianty sudah sampai apartemen Raka bahkan dia sudah di depan pintu kamar tidur kekasihnya itu, melihat semua yang tak ingin ia lihat bahkan membayangkan saja tidak pernah. Sontak suara itu membuat Raka dan Yuki menoleh ke arahnya. "Sayang" panggil Raka yang sama kagetnya dengan rianty. Rianty menutup pintu dengan kencang dan berlari meninggalkan apartemen Raka, ia berlari secepat mungkin agar Raka tak mampu mengejarnya. "Minggir" Raka membanting tubuh Yuki kesamping "s**t, apa yang sudah kau lakukan?" Bentak Raka pada Yuki sambil mengenakan pakaian nya. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan" Yuki merasa bersalah. "Pergi! Jangan pernah lagi menampakan wajahmu itu di hadapanku" Raka berlari keluar mengejar rianty. Rianty keluar dari lift lalu bergegas memanggil taxi, air matanya sudah tak terbendung, rianty menangis sejadi-jadinya di dalam taxi. Ia kembali ke hotel dan berkemas, rianty memutuskan kembali ke Indonesia hari itu juga. "Sial!!!" Raka mengacak-acak rambutnya prustasi, ia tak menemukan rianty di manapun,ia tak pernah menyangka akan ada kejadian seperti ini. "Aku akan menelpon Calvin" gumam Raka lalu mengeluarkan ponselnya. "Halo" "Apa kau tau rianty disini?" Tanya raka tergesa-gesa. "Iya" jawab Calvin singkat. "Double s**t!, Berikan aku alamat hotel rianty menginap" "Apa ada masalah?" Tanya Calvin "Kirim saja, nanti akan ku ceritakan, aku tak punya banyak waktu" tegas Raka. "Baiklah" "Maaf aku tak bisa membantu urusan kantor hari ini" "Selesaikan saja masalah mu" ucap Calvin, lalu Raka memutuskan sambungan telepon nya. Raka melajukan mobilnya menuju hotel rianty menginap. Di dalam hotel terlihat rianty sedang mengemas barangnya dengan air mata yang terus menetes. "Kau menyakitiku Raka, aku sudah yakin akan diri dan cintamu Bahkan aku sudah menaruh cintaku untuk mu. Ternyata semuanya bulshit" Rianty terduduk di lantai dan menangis menundukkan kepala dan mendekap kedua kakinya. Ia merasa sangat sedih dan tersakiti. Terdengar seseorang membuka pintu kamar hotel rianty yang tak lain adalah kekasihnya sendiri, Raka sengaja meminta akses masuk ke kamar rianty pada pelayan hotel, ia tau jika ia menekan bel pun rianty tak akan membukanya. Raka langsung bergegas memeluk kekasihnya, hatinya sangat sakit melihat rianty menangis. "Ku mohon jangan menangis" ucap Raka lembut, rianty tak merespon ia masih menundukkan kepalanya. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan, aku akan menjelaskan semuanya" Raka mengecup kepala rianty. Rianty mendongak kan kepala nya menatap Raka dengan mata merah dan sembab raut emosi terpancar di wajahnya. Rianty tak bisa berkata apa-apa emosinya menutupi semuanya ia hanya ingin pergi dari sana secepat mungkin. tatapan itu menusuk hati Raka, rianty benar-benar membuatnya merasa bersalah padahal pria itu tak melakukan kesalahan apapun, itu murni salah paham tapi rianty tak mau mendengarkan bahkan kini wanita itu sangat ingin meninggalkan Raka. "apa sebaiknya aku menunggu dia lebih tenang" batin raka
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN