Senja telah menyelimuti kaki bukit. Lisa selesai membersihkan diri. Dia pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sambil sesekali mengintip ke ruang tamu.
Kenapa Mas Bisma pulang telat? batin Lisa.
Tenggorokannya gersang setelah berteriak lantang seharian. Meskipun begitu, dia menyukainya. Serasa kembali di masa muda.
Lisa aktif bergabung di organisasi sekolah sejak duduk di bangku SMA. Sebagai mahasiswi di Kampus Unair, Lisa terpilih menjadi ketua Senat. Berkat sebuah acara pertemuan ketua organisasi antar kampus se-Jawa Timur, Lisa bertemu dengan seorang pemuda tampan, Alegra Eka Darmawangsa. Dia adalah ketua Senat sebuah kampus yang dihuni anak-anak dari Crazy Rich Surabaya.
Lisa tak berharap bisa dekat dengan pemuda tampan dan kaya raya itu. Namun, takdir berkata lain. Berawal dari obrolan kecil di rooftop hotel, hubungan mereka berlanjut manis. Gadis kampung yang begitu polos mendapat pengalaman hidup yang cukup banyak bersamanya. Darinya pula, Lisa belajar banyak hal, termasuk cara menghargai diri sendiri.
"Value seseorang tidak dilihat dari seberapa banyak hartanya, seberapa cantik dan tampan wajahnya, atau seberapa banyak prestasinya. Value seseorang diukur dari seberapa bermanfaat dia bagi orang lain."
Lisa masih mengingat jelas kalimat itu. Kalimat itu pula yang membuatnya kagum pada Alegra. Bagaimana tidak, seorang pewaris Grup Darmawangsa bisa memiliki kerendahan hati dan bergaul dengan gadis rendahan seperti dirinya, meskipun persahabatan mereka ditentang banyak orang.
Persahabatan dua insan itu pun berubah menjadi cinta. Lisa tidak pernah lupa cara Alegra menyayanginya. Tidak hanya sikap, Alegra juga mengabulkan segala hal yang dia inginkan, sampai-sampai Lisa dituduh sebagai gold digger.
Sayang sekali, hubungan asmara mereka harus kandas. Lisa meninggalkan pemuda itu tanpa penjelasan. Lisa bahkan menikahi laki-laki lain.
Hingga detik ini, rasa bersalah masih tersisa di lubuk hatinya. Begitu banyak hal yang telah Alegra lakukan untuk mempertahankan hubungan mereka. Lelaki itu pasti sangat terluka.
Hingga detik ini, rasa bersalah masih tersisa di lubuk hatinya. Terkadang, Lisa berandai-andai. Kalau saja waktu itu dia bertemu dengannya dan mengatakan bahwa dia harus pulang ke kampung sebab ibunya sakit keras. Kalau saja waktu itu dia tidak menjalankan wasiat terakhir ibunya -- menikah dengan lelaki pilihan keluarga. Apakah kehidupan Lisa akan berbeda?
"Lagi mikirin apa? Serius amat," tegur Bisma, suaminya, mengejutkan Lisa.
"Oh, Mas. Tumben pulang telat?" tanya Lisa, canggung.
"Pak Camat datang ke balai desa." Bisma duduk bersandar di sofa ruang tamu, melepas satu kancing bajunya sambil menghela napas. "Dia mengkritik aksi protes warga dan ...."
"Dan?" Lisa menyusul Bisma sambil membawa secangkir air putih di depan Bisma.
"Lisa, bagaimana kalau kamu pergi ke rumah nenekmu? Kamu belum mengunjunginya sejak Idul Fitri lalu, kan?"
Raut wajah Lisa berubah kecut. Usai meletakkan cangkir di depan Bisma dengan kasar, dia balik bertanya," Apa Mas sengaja menyuruhku pergi?"
"Kamu jangan salah paham. Aku tahu kamu tidak ingin desa ini tergusur. Begitu pula aku. Hanya saja ...."
"Hanya saja apa, Mas?" sela Lisa. "Mas takut sama Pak Camat, atau takut dicopot dari jabatan Mas sebagai kepala desa?" tanya Lisa dengan nada keras.
"Lisa, dengerin Mas dulu. Keluargamu adalah keluarga terpandang di desa ini. Tidak pantas rasanya kamu turun ke jalan, pegang spanduk dan teriak - teriak seperti tadi. Basah kuyup pula. Ada cara yang lebih baik dan terhormat, Lisa. Serahkan urusan ini kepadaku!" jelas Bisma dengan tutur kata lembut.
"Nggak! Aku sudah diam selama ini. Nyatanya, rumah Pak Harjo kena, kan? Pasti Pak Harjo diancam sama Pak Camat kam pret itu," tolak Lisa tegas.
"Kalau kamu terus seperti ini, Mas dan rekan-rekan kerja Mas yang akan diteror setiap hari sama Pak Camat. Kamu bukan mahasiswi lagi, Lisa, dan ini bukan ibu kota. Jaga martabat keluargamu dan juga kedudukanmu sebagai istriku," bujuk Bisma lagi.
Lisa diam. Dia kembali duduk di hadapan Bisma. Keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa saat.
"Baiklah. Aku akan mengunjungi nenek. Toh aku di sini juga cuma bikin kamu malu, Mas." Lisa pergi ke kamar. Dia ambil koper di atas almari pakaian, lalu memasukkan beberapa helai baju dengan terburu-buru.
"Lisa," panggil Bisma. Dia menyuruh Lisa pergi agar ketegangan di desa mereda. Namun, bukan kepergian seperti itu yang dia inginkan. "Lisa, jangan begini!"
Bisma refleks meraih tangan Lisa. Ketika wanita itu berbalik, sontak Bisma sadar akan tindakannya dan langsung melepas tangan sang istri. Seakan-akan sentuhan biasa itu adalah hal yang sakral untuk dilakukan.
Lisa menatap Bisma, kesal. Tingkah serupa Bisma yang berulang-ulang membuat Lisa tidak nyaman. Terlebih sorot mata laki-laki itu saat menatapnya membuat Lisa tampak seperti barang terlarang yang haram untuk disentuh.
Walaupun tahu sikap Bisma terhadapnya, Lisa tidak serta merta bertanya atau meminta penjelasan. Sebab sampai saat ini dia juga belum bisa membuka hati untuk lelaki berstatus suaminya itu. Bisma mungkin berpikiran sama seperti dirinya, pernikahan mereka hanya untuk memenuhi wasiat ibunya -- yang kala itu merupakan sosok yang sangat dihormati masyarakat Desa Surgawi. Perkataannya adalah jalan hidup yang harus ditempuh.
"Kita bicarakan ini baik-baik. Oke?" rayu Bisma.
Lisa menghela napas. Kemudian, dia jatuhkan tubuhnya di ranjang, mengusap wajah dan menarik napas sekali lagi.
"Pak Camat sedang marah besar. Kita harus menunggu emosinya kembali stabil agar apa yang menimpa Pak Harjo tidak terjadi pada penduduk yang lain. Kalau sampai itu terjadi, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku mohon mengertilah posisiku," jelas Bisma, masih dengan kelembutan hatinya.
"Oke, oke. Aku akan mengunjungi nenek, sekaligus menenangkan diri. Kabari aku kalau terjadi apa-apa," ucap Lisa, melandai.
"Aku antar kamu ke terminal, ya," tawar Bisma.
Lisa mengangguk.
Bisma menyeret koper Lisa ke luar rumah, sementara wanita itu mengganti pakaian. Beberapa ibu melintasi rumah mereka, menatap penuh curiga pada koper yang tergeletak di depannya. Bisma berusaha tidak memedulikan itu. Dia hanya tersenyum datar pada mereka.
Namanya juga wanita, tidak puas rasanya kalau belum bertanya. Salah seorang dari mereka pun membuka suara, "Mau ke mana Pak Lurah?"
"Bukan saya, Bu. Tapi istri saya. Dia mau mengunjungi neneknya di Surabaya," jawab Bisma.
"Ooo, apa neneknya Mbak Lisa sakit, Pak?" tanya ibu yang memiliki tubuh paling besar di antara lainnya, Bu Niken.
"Tidak,Bu. Cuma kangen aja sama cucunya. Sudah dua bulan istri saya tidak mengunjunginya," jelas Bisma.
"Terus, kalau Mbak Lisa-nya nggak ada, aksi protes warga desa gimana nasibnya, Pak?" tanya Bu Niken lagi.
"Bener juga."
"Bener, ih. Gimana kalau kontraktor itu datang lagi?"
Ibu-ibu yang lain saling bersahutan.
"Kan ada saya, to? Jangan khawatir nggeh. Besok saya rembukan sama Pak Camat."
"Mas, ayo!" Lisa telah siap dengan penampilannya.
Perjalanan ke kota malam hari cukup berisiko bagi wanita. Lisa memilih mengenakan kaus dirangkap jaket hoodie lama berwarna abu-abu terang -- jaket hoodie semasa kuliah yang masih tersimpan rapi di almarinya -- dan celana denim. Lisa juga lebih nyaman mengenakan sepatu kets dari pada sandal yang biasa dia gunakan untuk bepergian bersama Bisma.
"Wah, Mbak Lisa udah kayak anak SMA aja, ya, ibu-ibu," celetuk wanita berhijab, Bu Risma.
"Jelas, lah. Body nya masih kayak perawan. Beda sama kita-kita, Bu, yang udah mbrojolin anak," sindir Bu Niken.
"Ibu-ibu ini bisa aja," balas Lisa dengan senyum lebar.
"Omong-omong, Mbak Lisa ini hebat banget lho tadi. Suaranya kenceng banget, sampai berhasil memukul mundur orang-orang dari perusahaan besar itu," puji Bu Risma.
"Waktu kuliah dulu apa ikut kayak yang di tivi-tivi itu? Yang ini lho, yang di depan gedung DPR itu. Apa, ya, namanya?" Bu Niken garuk-garuk kepala.
"Demo?" celetuk salah seorang wanita.
"Nah, iya, itu," ucap Bu Nikan semringah.
"Nggak kok, Bu. Dia emang cuma suka teriak-teriak aja," sahut Bisma.
"Yang bener, Pak Lurah? Kok hebat banget, ya. Sampai nyuruh kita bikin spanduk segala. Kayak udah berpengalaman aja."
"Bu Niken masa nggak paham." Bu Risma menyenggol lengan Bu Niken dengan Sikunya. Sambil tersenyum malu-malu, dia melanjutkan, "Pak Lurah paling tahu, dong, kalau Mbak Lisa itu sukanya teriak-teriak. Ya, kan, Pak?"
Guyonan itu menggelitik hati Lisa. Seandainya mereka tahu bagaimana suamiku, ledekan itu tidak akan pernah terdengar menyakitkan, batin Lisa.
Lisa menggandeng tangan Bisma. Dia tertawa, lalu berkata, "Bu Risma tahu aja. Udah ya, Bu. Kami pamit dulu. Lanjut ghibahnya entaran aja. Tungguin Lisa balik. Ayo, Mas! keburu malam."
"Kami pamit dulu, nggeh, Bu. Assalamu alaikum," ucap Bisma pada warganya.
"Waalaikumsalam. Ati-ati di jalan, Mbak."
"Ya."
Kedua insan itu meninggalkan kampung dengan mengendarai motor. Hanya sebatas perkampungan saja, Lisa berlagak duduk berdekatan dengan Bisma. Selebihnya, dia menjaga jarak.
Meskipun mereka sudah sah menjadi suami istri, tapi Lisa cukup tahu diri. Bisma tidak pernah nyaman berdekatan dengannya. Sehingga Lisa tidak ingin merusak benteng yang dibangun suaminya itu, walau sampai saat ini dia tidak mengetahui alasannya. Bukannya tak pernah mencoba, tapi Bisma selalu menjauh setiap kali dia menyodorkan diri bak jalang tepi jalan.
Ada kalanya, Lisa lelah berpura-pura menjadi sepasang suami istri yang sempurna di mata warga. Lagi-lagi demi menjaga nama baik keluarga besarnya, Lisa bertahan dengan pernikahan yang hambar itu.
Seandainya, lelaki yang dinikahinya adalah sang Mantan, Alegra, mungkin pernikahannya akan terasa berbeda. Alegra adalah pria yang suka akan tantangan. Dia pandai membuat Lisa tertawa. Kadang iseng, tapi lebih banyak seriusnya ketika berhadapan dengan pekerjaan. Asik diajak nongkrong, seru, dan ...
Lisa belum bisa melupakan sentuhan jemari Alegra di tubuhnya. Begitu lembut dan memanjakan. Alegra pernah berkata padanya, "Satu-satunya wanita yang akan kunikahi adalah dirimu. Kita akan mewujudkan semua impian kita bersama - sama, membangun sebuah rumah sederhana dengan halaman belakang yang luas, di mana kita akan mendengar canda dan tawa anak-anak kita di sana."