Akhirnya, Aku Menemukanmu

1667 Kata
- Dua tahun kemudian - Lisa tak pernah menyangka, pada akhirnya, akan ada sekelompok manusia yang menginginkan Desa Surgawi. Desa terpencil yang dianugerahi keindahan alamnya kini mulai terusik. Dengan alasan untuk kebaikan warga setempat, iming - iming tempat tinggal baru dan fasilitas memadai mereka tawarkan, demi mengusir warga dari tanah yang sudah diwariskan para leluhur. Bukan soal enggan berpindah tempat tinggal saja. Namun, ada yang harus mereka lindungi di desa itu. Budaya dan adat istiadat yang telah begitu lama dianut, serta makam para leluhur. Termasuk kedua orang tua Lisa. "Lisa!" teriak Kumala, sahabat Lisa. Sudah dia dengar beberapa kali panggilan darinya. Namun, tubuhnya seakan - akan menolak untuk bangkit dan meninggalkan makam kedua orang tua. Mungkin, mereka sengaja menahan Lisa di sana agar tidak mengamuk lagi seperti orang gila. Lisa sudah melakukan segala cara untuk menghentikan mereka, negosiasi dengan petinggi setempat. Akan tetapi, semua itu percuma, sebab mereka berada di pihak lawan. Bukannya membela warga, Pak Camat bahkan dengan lantang menyuruh warga menyerahkan tanah dan rumah mereka kepada sekumpulan orang kaya itu. "Lisa! Sampai kapan kamu diam terus di sini? Apa kamu udah nyerah?" Kumala datang menghampirinya. Dia menarik lengan Lisa, memaksa wanita itu untuk ikut dengannya. "Ayo! Orang - orang itu datang lagi. Kali ini, mereka bawa dua alat berat. Apa kamu mau lihat desa ini hancur gitu aja?" Sontak Lisa angkat kepala. Dia pandang Kumala dengan tatapan yang cukup serius. "Alat berat? Bukankah belum ada warga yang menandatangani surat persetujuan itu?" tanya Lisa. Kumala melepas lengan Lisa, lalu berkacak pinggang. "Sepertinya, Pak Camat berhasil memaksa Pak Harjo untuk menandatanganinya." Lisa berdiri. Dengan tegas dia bertanya kepada sahabatnya itu, "Dapat kabar dari mana kamu?" Kumala tampak gelisah. "Aku melihatnya sendiri." Lisa nyaris tak percaya dengan jawaban Kumala. Di antara marah dan kecewa. Namun, dia tidak punya waktu untuk memikirkan itu sekarang. Sebisa mungkin, Lisa harus menghentikan pembongkaran rumah Pak Harjo. "Kemarin, aku nggak sengaja lihat Pak Harjo dan istrinya di kantor kecamatan. Mereka di ruangan Pak Camat. Aku nggak kepikiran kalau saat itu mereka sedang menandatangani surat perjanjian dengan pihak Adi Jaya. Aku pikir itu cuma jual beli sawah, sebab Pak Harjo pernah cerita kalau dia mau jual sawahnya. Serius, Lisa! Aku nggak tahu," jelas Kumala di sepanjang perjalanan mereka menuju rumah Pak Harjo. Langkah Lisa mendadak berhenti. "Apa penjelasanmu itu penting sekarang? Kalau benar rumah itu udah dibeli sama pihak Adi Jaya, maka satu per satu warga mungkin akan melakukan hal yang sama. Pak Harjo adalah salah satu tetua adat Desa Surgawi. Bagaimana dia bisa ...," Lisa berusaha melonggarkan kepenatan dalam d**a dengan menghela napas. "Kita harus bergegas." *** Alegra duduk terdiam setelah kekacauan di meja rapat barusan. Dia jenuh mendengar kegagalan dan kegagalan lagi dari anak buahnya. Entah kekuatan apa yang dimiliki penduduk desa itu. Tidak biasanya orang-orang kampung menolak uang yang dia tawarkan. Alegra bahkan sudah menaikkan harga hingga dua kali lipat dari yang seharusnya. Namun, tidak satu pun penduduk yang mau menyerahkan tanah mereka. Sehingga Alegra geram setengah mati. "Pak Alegra, saya baru saja mendapatkan kabar dari lapangan," Imran, sekretaris pribadi Alegra datang dengan terburu-buru. "Kabar apa? Apa mereka sudah setuju dengan harga yang kita tawarkan?" tanya Alegra. "Begini ... mereka melakukan demonstrasi dan menutup jalan desa. Mereka bahkan berusaha merusak alat berat yang kita kirim ke lokasi," jawab Imran dengan kepala tertunduk. Sontak Alegra berdiri. Dia menghentak meja dengan kedua tangannya. Bak singa tidur yang terusik, Alegra tak mampu membendung amarahnya lagi. "Imran, siapkan mobil!" perintahnya tegas. "Baik, Pak," jawab Imran sambil menundukkan kepala. Saat tersadar, pria berusia 29 tahun itu mendongak dan memandang Alegra dengan tatapan bingung. Tidak biasanya Alegra mau terjun ke lapangan secara langsung. Dia selalu mengirim orang-orangnya untuk memeriksa situasi dan melaporkannya bila terjadi apa-apa. Namun, kali ini, kesabarannya telah terkikis habis. Alegra tidak bisa menunggu hasil dari kinerja anak buahnya yang makin tidak becus. Ditemani Imran, Alegra berkendara menuju Desa Surgawi. Mereka akan menempuh jarak yang cukup jauh dari pusat Surabaya. Butuh waktu setidaknya lima sampai tujuh jam untuk sampai ke tujuan. Memasuki kawasan pedesaan, alam menyapanya dengan sangat baik. Barisan pegunungan, pohon-pohon tinggi dan berdaun lebat, serta udara sejuk yang menyegarkan. Alegra menurunkan kaca jendelanya, lalu menghirup napas dalam-dalam. Sudah begitu lama dia tidak pernah melintasi jalan itu. Kembali ke sana, Alegra serasa membuka kenangan itu lagi. Suatu masa ketika dia menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya. Mobil melewati tebing dengan pemandangan pantai masih sama indahnya di sisi kiri. Kelestarian tempat itu tampak terjaga dengan baik. Dia bisa membayangkan gedung tinggi yang akan terbangun di sekeliling tempat itu. Hamparan laut, deburan ombak dipadu tiupan angin dan langit yang cerah merupakan hadiah yang manis untuk para tamu yang akan singgah ke resortnya. Dia mungkin akan menambahkan wahana water sport, restoran yang instagramable, dan juga klub dengan konsep out door. Pusat oleh-oleh juga berada di daftar tunggu rancangannya. Dalam otak Alegra, desa ini akan menjadi ladang uang perusahaan. "Tempat ini akan menjadi resort terbaik se-Indonesia," kata Alegra. "Saya juga berpikir seperti itu. Anda memilih lokasi yang tepat untuk membangun resort. Pantainya landai dan berpasir putih, ombak tenang, udaranya juga sejuk sekali. Berbeda dengan pantai-pantai lain di negara tropis ini. Kebanyakan udaranya panas dan kering," sahut Imran. "Sayang sekali, penduduknya masih belum sadar akan potensi yang dimiliki desa ini. Bukan hanya harga yang bagus, kegiatan ekonomi mereka juga akan meningkat pesat dengan adanya resort kita. Kenapa mereka bodoh sekali? Apa dengan mempertahankan adat istiadat uang akan datang dengan sendirinya? Tanpa wisatawan, semua itu akan sia-sia," ujar Alegra. "Apa kalian sudah bertemu dengan kepala desanya?" "Soal itu ... sebenarnya, ada seorang wanita yang terus saja menghalangi usaha kami," jawab Imran, cemas. "Wanita?" Alis Alegra spontan naik. "Ya, Pak. Dia adalah guru tari di desa itu. Sepertinya, penduduk setempat sangat mengandalkan dia. Beberapa kali, saya melihat wanita itu memimpin aksi protes," jelas Imran. Alegra terkekeh. "Apa yang sebenarnya kalian kerjakan selama ini? Menangani seorang wanita saja kalian tidak becus." Imran sedikit menengok ke belakang. "Masalahnya, dia adalah istri dari kepala desa. Tindakan istrinya tampaknya yang menjadi penyebab kepala desa tidak berani membujuk warga. Kemarin lusa, ada salah satu warga yang bersedia menjual rumahnya. Namun, gara-gara wanita itu, proses penggusuran terhambat." Alegra mengelus dagu. Pandangannya turun. "Apa wanita ini lebih mengerikan dari nenek lampir? Dari ceritamu, sepertinya warga Desa Surgawi sangat tunduk kepadanya. Apa kamu punya data dirinya?" Imran mengangguk pelan. "Ya. Akan tetapi, biodata wanita itu masih berada di ruang kerja saya saat kita berangkat tadi. Ta-tapi, saya sudah menyuruh seseorang untuk mengantarnya. Mungkin mereka sudah di perjalanan." Alegra berdecak tak suka. Dia lalu mengambil ponsel di saku kemeja. Usai menggunakan benda itu beberapa menit, Alegra baru tersadar kalau sinyal di kawasan itu sangat buruk, bahkan nyaris tak ada. "Apa tidak ada sinyal yang menjangkau tempat ini?" tanya Alegra sembari menatap bingung telepon selulernya. Imran menyerahkan ponselnya ke Alegra sambil berkata, "Silakan pakai ponsel saya, Pak. Sinyal Telkomsel sedikit sulit di daerah ini." "Tidak perlu," tolak Alegra sambil memasukkan kembali telepon pintarnya ke tempat semula. Mereka tiba di lokasi demonstrasi lewat tengah hari. Matahari masih begitu terik. Segerombolan orang berkumpul dengan poster yang berisi aneka ragam kalimat penolakan. Batang bambu dan kayu menjadi benteng mereka. Suara-suara lantang orasi berkumandang dan saling bersahutan. Dari jarak aman, Alegra memperhatikan kerumunan manusia tidak berguna itu. "Kapan data wanita itu sampai?" tanya Alegra. "Saya akan meneleponnya," jawab Imran, lalu meninggalkan ruang kemudi. Lelaki itu jalan beberapa langkah menjauh dari mobil sambil menelepon. Alegra menangkap ekspresi kemarahan dari sikapnya. Sembari menunggu barang yang diinginkan, Alegra mengamati para demonstran itu. Dari sekian banyak manusia dengan berbagai usia, Alegra mencari sosok wanita yang tadi disebutkan Imran. "Kami menolak pembangunan resort di desa kami! Biarkan kami hidup dengan damai di desa ini! Bawa pulang senjata penghancur itu! Kami tidak akan pernah menyerahkan tanah kelahiran kami!" Suara seorang wanita terdengar paling lantang di antara yang lainnya. Perhatian Alegra pun tertarik untuk menemukan sosoknya. Entah kenapa, suara wanita itu terdengar tak asing. Terlihat sesosok wanita yang tampak begitu antusias di deretan paling depan. Mungkin suara lantang itu berasal darinya. Alegra ingin melihat seperti apa rupa dari pemilik suara menggelegar itu. Namun, seorang pria, pegawai konstruksi, menghalangi pandangannya. Alegra menjulurkan kepalanya ke kursi depan mobil, mencari celah agar bisa melihat lawannya. Wanita itu mengenakan gaun dengan motif bunga cempaka. Kulit putih langsat. Tinggi sekitar 165 sentimeter dan memiliki postur tubuh ideal. Rambut hitam yang entah seberapa panjangnya. Dan wajahnya .... "Lisa," gumam Alegra. Seketika Alegra tercengang. Dia kembali menjatuhkan tubuhnya di kursi belakang dan membeku di sana untuk beberapa saat. Alegra bahkan mengabaikan ketukan Imran di kaca jendelanya. "Tidak mungkin," ujar Alegra, sambil mengepalkan kedua tangan. "Pak Alegra," panggil Imran, masih berusaha menyadarkan Alegra dengan ketukan di jendela mobil itu. Alegra lantas menoleh. Dia memberi sedikit ruang untuk berkas yang hendak diserahkan Imran. Cepat-cepat dia membuka amplop cokelat itu dan membacanya dengan saksama. Mata Alegra kembali terbelalak. Mulutnya menganga. Seakan-akan ada kesalahan besar yang dia temukan di sana. "Jadi, selama ini dia bersembunyi di desa ini. Pantas saja aku tidak bisa menemukanmu." Tiba-tiba saja kepala Alegra diserbu fragmen-fragmen dari puing kenangan masa lalu. Saat dia dan seorang wanita berorasi di depan gedung DPR. Saat dia menerobos hujan bersama wanita itu di tengah malam, hingga satu momen yang membuat Alegra sangat menginginkannya. "Apa ada masalah, Pak Alegra?" tanya Imran lagi, bingung melihat ekspresi yang ditunjukkan Alegra usai melihat berkas itu. "Kita pulang," ucap Alegra setelah menarik napas berulang kali. "Apa? Tapi, Pak, kita baru saja sampai," kata Imran. "Pulang sekarang juga," perintah Alegra lagi dengan suara agak terengah-engah, seolah ada sesuatu yang sedang dia tahan dalam rongga d**a. Melihat kondisi Alegra, Imran bergegas berjalan memutar dan menduduki kursi kemudi. "Ba-baik, Pak." Alhasil, mereka meninggalkan lokasi sebelum bertemu dengan penduduk setempat. Alegra juga mendadak menunda penggusuran rumah Harjo tanpa alasan yang bisa dijelaskan kepada pegawainya. Alegra kembali membaca biodata Lisa di meja kerjanya, sesampainya di kantor. Dia mengulanginya beberapa kali seakan-akan tak yakin dengan kebenaran data yang terbaca. Setelah lama merenung, Alegra berdiri menghadap dinding kaca di sisi ruangannya. Dia diam di sana, sementara tangannya meremas berkas itu penuh amarah. "Akhirnya, aku menemukanmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN