Bab 13 - Jalan Keluar Cerai

1287 Kata
Dari Tadi Ara mondar-mandir menunggu El pulang, udah hampir siang belum juga pulang, padahal Nadia minta izin jogging, masa lari pagi selama ini. Tadinya Ara ingin mengajak El ke coffee shop, kebetulan hari libur, dan pelanggan pasti ramai, kasihan juga jika karyawannya kerepotan. "Ra, kamu ngapain sih? Dari tadi aku perhatiin gelisah." Reno yang baru bangun melihat wanita itu gelisah. Karena hari libur Reno juga bangun siang, namun Ara selalu memperlakukan dia layaknya suami, bangun tidur kopi sudah ada, sarapan ada, kadang wanita ini mempersiapkan baju jika dia bekerja. "Aku tungguin El, jam segini kok belum pulang ya." Ara terus menatap pintu apartemennya. "Emang El kemana?" Reno tidak tahu jika Nadia membawa bocah itu. "Tadi Nadia mengajak aku jogging, tapi aku masih banyak kerjaan, terus El malah pengen ikut Nadia." "Kamu udah coba telepon?" Ara menggeleng pelan. "Biar aku telepon Nadia." Reno meraih ponsel di nakas, namun belum dia menelepon Nadia dan El pun datang. Nadia menerbitkan senyum kecil, dia muka bersalah ia mendekati Ara. Kalau bukan gara-gara El merengek minta beli es cream, kaki luka masih banyak mintanya. "Ra, maaf ya lama pulangnya, aku juga lupa kabari kamu," ujar Nadia merasa bersalah, bukannya nggak mau kasih kabar, tapi handphone Nadia baterainya habis, nggak mau charger pula. "Makanya bawa anak orang tau diri!" ucap Reno enteng membuat Nadia geram, benar-benar nyebelin banget suami Ara. "Jangan ikut campur!" balas Nadia kesal. Ara tidak pedulikan Nadia dan Reno yang setiap bertemu ada saja perdebatan mereka, ia menghampiri El yang duduk di atas sofa, heran anak itu nampak meringis. "El, kenapa? Capek ya habis jogging?" El menggeleng, dia menunjukkan lututnya yang terluka. "Ini kaki kamu kenapa?" Wajah Ara tampak khawatir "Tadi El jatuh Ma." "Tunggu sini ya, Mama obatin," ucap Ara hendak beranjak. "Udah diobati om baik tadi Ma." "Om baik siapa?" Ara melirik Nadia, dia baru mendengar tentang om baik. "Iya om baik Ma, tadi El nggak sengaja nabrak om baik sampai jatuh, tapi om baik langsung obati El," jelas El. "Nad, kamu harus jelaskan siapa om baik yang El maksud." Nadia menghelakan nafas panjang, dia harus jelaskan dari mana. "Iya, iya, aku jelasin. Dia tuh pelanggan di coffee shop, dari pertama bertemu mereka udah akrab gitu, terus tadi ketemu lagi di taman," terang Nadia membuat Ara merasa heran, El itu nggak gampang dekat dengan orang asing, kok malah bisa seakrab itu dengan om baik yang dimaksud. "El, lain kali jangan bicara dengan orang yang nggak dikenal ya." Ara memang posesif dengan El, apalagi saat ini mereka berada di Jakarta, kapan saja El bisa bertemu Pras, atau Sari dan Dona, dia tak ingin itu terjadi. "El udah kenal kok sama om baik." Reno menghampiri mereka usai menghabiskan kopinya. Reno menggendong El, dia melirik luka anak itu. Berbeda dengan Ara yang selalu berlebihan Reno lebih mengajarkan El untuk kuat, apalagi hanya luka ringan seperti ini. "El itu kuat, lukanya nggak besar kok. Anak Ayah ini hebat," ucap Reno memberikan semangat El. "Tapi Ren, itu luka loh." Ara masih saja khawatir. "El itu anak laki-laki harus kamu ajarkan hidup kuat." Kejadian El membuat Ara mengurungkan niatnya pergi ke coffee shop, meski Ara seharusnya melakukan pengecek laporan dan stok barang yang ada Entah mengapa Ara merasa was-was, apalagi mendengar El mencerita orang tak dikenal sebagai om baik, tak tahu siapa om baik yang dimaksudnya. "Ra, El udah tidur." Reno baru saja keluar dari kamar El dan Ara, anak itu setelah makan siang, dia merasa lelah lalu mengantuk, namun El meminta Reno menemaninya tidur. Kebaikan Reno belum bisa Ara balas, apapun yang dia lakukan pada Reno tidak sebanding dengan apa yang pria itu lakukan padanya dan El. "Maaf ya Ren, aku jadi repotin kamu." Seharusnya Pras yang selalu ada buat El, bukan Reno. "Nggak ngerasa repot kok aku," ucap Reno mendaratkan tubuhnya di sofa. Lelah juga mendengar cerita El hingga tertidur, El tanpa berhenti menceritakan tentang om baiknya. Sungguh Reno penasaran dengan om baik yang dimaksud El. "O iya gimana tentang sekolah El?" Ara mendengus bosan. "Sepertinya El harus masih homeschooling untuk sementara, sampai aku bisa mengambil kartu keluarga." Resiko ini memang tinggi, dia harus mempertaruhkan dirinya untuk menemui Pras. "Aku juga sudah siapkan surat cerai buat mas Pras." Ara sudah antisipasi jika ketahuan Pras, dan pria itu tidak mau memberikan kartu keluarga, terpaksa Ara harus mengeluarkan surat cerai sebagai senjatanya. "Ra, kamu yakin mau cerai?" Ara tidak menjawab. "Lebih baik kamu pikirkan baik-baik, perceraian bukan jalan keluar yang baik, aku yakin selama ini Pras mencari kamu." Reno awalnya hanya merasa iba dengan Ara, namun waktu terus berjalan dan berlalu, dia tidak bisa membohongi ada rasa yang dia simpan sendiri. "Aku nggak tau Ren, tapi otakku buntu. Gimana kalau mas Pras sudah melupakanku, aku nggak mau jadi penghalang kebahagiaannya." Perceraian sama sekali tidak Ara inginkan, lebih lagi dia sangat mencintai Pras. "Apapun keputusan kamu, aku akan dukung." *** Dari pagi hingga sore Pras menunggu Ara datang di coffee shop, namun penantiannya sia-sia. Dia pun pulang dengan muka kesal. "Dari mana kamu Pras? Istri di rumah kamu malah keluyuran, harusnya hari libur kamu habis waktu dengan istri." Tambah bikin Pras kesal Sari berada di rumah, curiganya Dona pasti mengadu yang tidak-tidak. "Bukan urusan Mami!" Sejak kepergian Ara, hubungan Pras dan Sari tidak sebaik dulu. Ia tidak mau lagi menjadi bodoh karena mendengarkan ucapan Sari yang justru menjerumuskan dirinya dalam masalah. "Pras! Mau sampai kapan kamu begini sama Mami," sungut Sari yang bangkit dari duduknya "Sampai Ara kembali." "Ara, Ara, Ara terus di otak kamu. Dia itu sudah pergi meninggalkan kamu. Untuk apa kamu masih menunggu istri durhaka itu lagi." Sampai detik ini Sari masih saja membenci Ara, padahal Ara sendiri sudah lama tidak bersamanya. "Tapi dia masih istri Mas Pras," sahut Rahma yang tidak pernah menanggapi hasutan Dona dan Sari. Dona sering kali mendekati Rahma, namun tidak bisa karena wanita ini selalu menganggap Dona sebagai penghancur rumah tangga Pras, apalagi kepergian Ara karena Sari dan Dona. Jika saja Rahma bisa dia ingin sekali memberitahu kenyataan yang sebenarnya pada Pras, jika Sari telah meminta Ara untuk meninggalkannya. Rahma tahu segalanya karena saat Sari dan Dona mengancam Ara, dia berada di rumah itu tanpa Sari dan Dona ketahui. Jika saja bukan karena Ara memohon untuk tidak memberitahu siapapun, dia pasti sudah membongkar rahasia besar yang diketahuinya. "Kamu itu masih kecil jangan ikut campur!" Rahma tertawa. "Kenapa tertawa ada yang lucu?" ucap Dona lagi dengan kesal. "Rahma!" bentak Sari membuat Rahma meninggalkan ruangan itu. "Rahma benar kok, dan dia bukan anak kecil lagi seperti yang Dona katakan. Ara sampai kapan pun akan jadi istri aku, dia lebih pantas daripada Dona," tutur Pras dengan dingin. "Ara? Dia itu nggak …." "Nggak apa Mi? Nggak bisa kasih aku keturunan? Lalu Dona bisa, buktinya apa? Lihat pernikahan seperti apa yang aku jalani, Dona tidak bisa menguruskan sebaik Ara." Pras lelah jika harus diam terus menerus, dia pernah menyesal karena dulu saat masih Ara bersamanya, ia hanya diam ketika mami selalu merendahkan Ara. "Ara memang terlihat tidak menarik, berbeda dengan kebanyakan perempuan memikirkan penampilan, tapi Ara selalu bisa mencukupi semua kebutuhan suami lebih baik dari Dona, coba Mami lihat di meja makan, apa ada makanan? Lihat pakaian kotorku masih belum dicuci. Sekarang aku tanya apa yang bisa dibanggakan dari dia? Kecantikan itu bisa dibeli Mi, asal Mami tahu jika Ara mau dia mengurus dirinya tanpa memikirkan suami, tapi sayang istri pertamaku tidak seperti itu." Ucapan Pras mampu membuat Dona dan Sari terdiam, terlebih lagi dengan Sari. Selama ini dia menginginkan cucu bukan? Sari berharap Dona bisa melakukan itu, tapi faktanya sudah bertahun-tahun berlalu Dona belum hamil juga. Pras juga tidak sudi memasuki spermanya kedalam rahim Dona, dia memang kadang melakukan kewajiban sebagai suami, bahkan meminum jamu kuat, namun itu semua tidak menghilangkan kesadarannya, meski dia tahu kecil kemungkinan Dona akan hamil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN