Bab 12 - Anak Itu

1014 Kata
Pagi-pagi Pras pergi jogging ke taman, sekalian dia ingin bertemu Bayu. Sudah lama sekali ia tidak jogging, biasanya setiap hari libur dia selalu lari pagi, terakhir kali saat masih ada Ara. Karena hari libur, keadaan taman pagi itu ramai, banyak manusia lalu lalang. Ada juga anak muda berpacaran, astagfirullah masih pagi mereka sudah melakukan dosa, kalau Ara melihat mereka pasti sudah mencerocos. Bruk! "Aduh! Sakit." Pras berbalik saat merasa yang menabraknya. "Kamu kan anak yang di coffee shop kemarin." Pras berjongkok melihat El yang merintih kesakitan, ternyata dia lututnya terluka. "Astaga, kamu terluka, sini Om bantu." Pras menggendong El, dan mencari tempat duduk untuk mengobati luka El. "Maaf ya udah nabrak Om tadi, El lagi main dengan tante Nad," ucap jujur El. Pria itu mengacak rambut El, tampak anak ini sangat polos. "El, tunggu sini bentar ya, Om ke mobil bentar, mau ambil kotak p3k." Untung Pras sudah terbiasa menyimpan kotak p3k di mobil, sebenarnya juga karena Ara sering mengomeli dia jika tidak membawa, wanita itu selalu khawatir sesuatu terjadi makanya harus ada antisipasi, dan saat Ara tidak berada disampingnya, ia tetap melakukan sesuatu yang Ara suruh, ternyata sekarang ngefek banget. "Lama nggak?" "Nggak kok, itu mobil Om dekat." Pras menunjuk ke arah mobilnya terpampang. "El mau ikut Om, boleh nggak?" Ara selalu berpesan jangan sendiri saat berada dalam keramaian. "Kata mama El, El nggak boleh sendirian di tempat banyak orang." "Kenapa?" "Mama takut El nyasar." "Ya sudah, kita obati luka El di mobil aja ya." El mengangguk setuju, Pras kembali menggendong El di punggungnya, mereka berjalan menuju mobil yang jaraknya tidak terlalu jauh. Pras meletakkan El dibangku depan, lalu ia mengambil kotak p3k untuk mengobati luka El yang berdarah. Pras tidak tahu kenapa, dia bisa perhatian seperti ini dengan El, padahal mereka baru bertemu sekali seolah ada suatu yang sulit dijelaskan. "Sekarang Om obati ya luka El, ini sedikit perih tapi ditahan ya." Pras membersihkan luka El, kemudian memberikan obat dilutut anak itu. "Auh! Sakit." El merintih sambil memegang erat lengan Pras. "Sabar ya El, ini sedikit lagi selesai." Pras berusaha membuat El tenang. "Selesai. Sekarang lukanya sudah diobati." El tersenyum, kemudian mencium pipi Pras. "Terima kasih Om." Pras kaget dengan kecupan hangat El. "Sama-sama. Oh iya, tante kamu pasti lagi nyariin kamu, gimana kalau kita cari tante kamu?" Pras tidak mau disangka penculik, membawa lari anak orang tiba-tiba. Karena kaki El masih sakit Pras masih menggendong bocah itu, mereka berjalan di keramaian, mata Pras terus mencari keberadaan tante El. "Om udah punya anak?" Pertanyaan itu selalu menumbuhkan rasa luka di hatinya. "Kok Om baik diam?" Pras tetap tidak menjawab. "Doain aja Om cepat punya anak," ujar Pras. Pras melihat Nadia tampak kebingungan, dia uring-uringan. Tentu saja Nadia mencari El yang bersamanya. Ia menghampiri wanita itu. "Tante Nad," panggil El. Nadia berbalik sontak menghampiri anak tengil ini, astaga jantung Nadia rasanya mau copot kehilangan El di tempat seramai ini, bisa diamuk Ara dan Reno dia, kalau bocah menjadi korban anak ini. Lagian El juga sih maksa ikut, padahal Nadia mengajak emaknya, eh malah si anak yang ikut. Nah, dia kan jadi repot begini. "Astaga El, kamu itu kemana aja sih? Tante tuh sampai pusing tau cariin kamu, ini kalau mama dan ayah kamu tahu, bisa dijadikan sate tante." Nadia mengambil El dari gendongan. "Maaf ya tadi saya membawa El, dia terjatuh saat menabrak saya, jadi saya obati dulu biar nggak infeksi lukanya," jelas Pras membuat Nadia menghelakan napas panjang. "Maaf sudah merepotkan …." "Panggil saja saya Pras, tidak merepotkan kok, El anak yang baik." Nadia menggandeng tangan El, dan sesekali melirik lutut anak itu yang lucu. Duh, besar lagi lukanya, bisa habis dia. "Sekali lagi terima kasih ya Pras, kalau gitu saya duluan." "El pulang dulu ya Om. Saranghae Om." Pras terkekeh dengan ucapan perpisahan El, masih bocah udah tahu saranghae saja. Pras kembali ke mobilnya, ternyata sudah ada Bayu di sana. Dia menyuruh Bayu masuk ke dalam mobil miliknya, ia takut jika ada mata-mata Sari atau Dona menguntit, apalagi tahu jika sampai detik dia sibuk mencari tahu keberadaan Ara. Sungguh Pras berharap jika ada kabar baik tentang keberadaan Ara, sudah lama rindu ini menyiksanya. Banyak keluh kesah yang ingin sekali dia ceritakan kepada Ara, menikahi ada sebuah awal rasa sakit dirinya kehilangan Ara. Lihatlah bukankah Sari menginginkan cucu, tapi apa sampai detik ini Dona belum hamil juga, padahal Sari telah memaksa Pras untuk menyentuh Dona. Dari awal pernikahan dia tidak bisa menyentuh Dona karena sangat mencintai Ara, mau dipaksa bagaimanapun dia hanya mencintai Ara, setiap ingin mencoba wajah Ara selalu terlintas, namun demi memenuhi keinginan Sari, Pras melakukan itu setelah meminum jamu kuat, akan tetapi dia tahu jika akan menyakiti Dona, lantaran hanya nama Ara yang selalu Pras sebut saat melakukan hal itu. "Bagaimana Bay? Informasi apa yang kamu temukan?" Bayu menyodorkan amplop warna coklat pada Pras, membuat dia kebingungan. "Apa ini Bay?" "Itu foto yang saya temukan di rumah istri bapak. Istri Pak Pras tidak tinggal sendiri, di sana dia tinggal bersama seorang anak laki-laki dan satu pria. Mungkin istri Bapak sudah menikah lagi." Itu tidak mungkin, mereka belum pernah bercerai, tidak mungkin Ara menikah lagi. Pras membuka amplop mencari tahu siapa pria yang berani mendekati istrinya, Ara hanya miliknya, tidak ada pria manapun mendekatinya. Siapapun itu ia tidak peduli. "Dia?" "Pak Pras mengenal anak itu?" tanya Bayu saat Pras melihat salah satu foto Ara bersama El. "Iya, tadi saya sempat bertemu dengannya. Namanya El.," ucap Pras. "Dia anak istri Pak Pras." "Tidak mungkin! Ara tidak mungkin mengkhianati saya." Pras masih tidak percaya jika Ara sekarang memiliki anak. "Dan laki-laki ini siapa?" Kali ini Pras menunjukan foto Reno. Bayu terdiam sejenak. "Dari informasi saya dapat itu suaminya." Pras meremuk foto Reno, berani sekali laki-laki ini mendekati Ara, dia tidak bisa membiarkan Ara bersama dengan pria lain, tidak peduli sudah berapa lama mereka berpisah Ara hanya miliknya. "Nggak mungkin!" geram Pras. "Bay, tugas kamu cari tahu tentang dia. Untuk bayaran kamu akan saya transfer." "Baik, Pak." Lalu Bayu meninggalkan Pras. Pras memukul setir mobilnya berulang kali, dia harus bertemu Ara. Dia rasa tahu keberadaan istrinya. "El, anak itu bisa membuatku bertemu Ara."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN