Itu hanya sebuah ciuman dan tidak berarti apa-apa. Sue meyakinkan dirinya sendiri. Namun sialnya, debar di jantungnya masih selalu terasa saat ia membayangkan kembali ciuman itu di malam-malamnya yang dingin dan sepi meskipun tiga hari telah berlalu. Zac pergi tanpa bicara apa-apa setelah menciumnya dengan brutal dan pria itu tidak keluar lagi dari kamarnya. Esok paginya, Sue menemukan sebuah pesan yang ditempel di kulkas bahwa pria itu kembali ke Dallas dan akan terbang sekitar dua minggu. Atau lebih. Setidaknya itu akan memberi mereka waktu untuk kembali ‘normal’ seperti dulu.
Sue tidak tahu apa alasan Zac menciumnya, dan jujur ia tidak mau tahu, karena ia tidak ingin berharap banyak. Mungkin Zac hanya merasa terganggu dengan kehadirannya di sini. Pria itu terbiasa hidup sendiri dan kehadiran seorang wanita pastilah membuatnya sedikit kacau karena Zac melihatnya hampir telanjang. Tidak ada alasan yang lebih tepat dibandingkan hal itu karena Zac tidak mungkin memiliki ketertarikan padanya.
Namun setidaknya, saat ini ia bisa memiliki apartemen ini untuk dirinya sendiri. Ia bebas menari dengan baju minim atau tanpa busana sekalipun. Sue sangat senang menari telanjang. Baginya itu memberikan kepuasan lebih pada dirinya sendiri. Gerakan erotis yang selalu ia lakukan untuk memuaskan dirinya sendiri. Yah, jujur saja ia agak berlebihan dalam mencintai tubuhnya sendiri. Ia menyukai segala apa yang ada pada dirinya dan menari telanjang membuatnya bahagia.
Di studio, saat kelas sudah selesai dan tidak ada siapa-siapa di sana, ia akan menanggalkan semua pakaiannya dan menari seraya mengamati tubuhnya sendiri di kaca yang mengelilinginya. Mungkin bagi orang lain itu terdengar sedikit narsis. Akan tetapi itu adalah cara Sue mengingat bahwa ia harus mencintai dirinya sendiri melebihi orang lain dalam hidupnya. Karena semua orang yang pernah ia cintai datang dan pergi, kadang tanpa permisi. Oleh karena itulah, ia hanya memiliki dirinya sendiri dan ia harus mencintai dirinya lebih dari apapun.
Sue membuka kulkas dan mengeluarkan dua butir telur, sosis, dan bacon untuk membuat sarapan. Segera setelah Zac pergi, ia mengisi kulkas dengan semua bahan makanan yang ia butuhkan. Sayuran, buah-buahan, daging, dan minuman yang akan membuatnya tetap hidup. Mungkin Zac bisa bertahan hanya dengan air mineral dan berkaleng-kaleng bir di kulkasnya, tetapi Sue tidak. Ia butuh makanan layak karena ia suka makan dan suka memasak.
Satu saat nanti, saat hubungannya dengan Zac sudah normal kembali, Sue harap ia bisa memasak untuk Zac. Pria itu memang bisa membeli apapun yang ingin ia makan, tetapi Sue tahu Zac sudah sangat lama tidak memakan masakan rumahan. Ia tahu Zoe tidak terlalu suka memasak, dan Lena juga pasti tidak pernah turun ke dapur. Mungkin saja pria itu merindukan masakan rumah. Mungkin.
Sue menghabiskan sarapannya dengan cepat, memasukkan piring kotor ke mesin pencuci piring, dan bergegas untuk pergi ke studio. Ia turun ke basement dan melemparkan tas latihannya ke bangku belakang Bentley SUV milik Zac. Yeah, pria itu memiliki dua buah Bentley! Bukan hal yang aneh mengingat ia memiliki apartemen semewah ini di Manhattan. Pria itu memiliki banyak uang.
“Hi, Mary!” sapa Sue saat melihat Mary yang baru keluar dari mobilnya.
“Astaga! Kau datang terlambat! Apa kau benar-benar Sue?”
Sue terbahak. Setelah tinggal di apartemen Zac, ia memiliki waktu menari untuk dirinya sendiri di ruang olahraga milik pria itu. Kamar itu sudah di desain menyerupai tempat gym sehingga Sue merasa sedang menari di dalam studionya sendiri karena dinding kaca yang mengelilinginya.
“Kau tahu aku tinggal di istana mewah sekarang. Zac punya studio pribadi di rumahnya.”
Mata Mary melebar. “Oh! Aku harus ke sana kapan-kapan! Kau tidak mengundangku minum untuk merayakan kepindahanmu?”
Sue tersenyum menatap Mary. “Bagaimana kalau malam ini?”
****
Jam kerja yang padat dan panjang membuat Zac selalu bersyukur. Ia bisa menyibukkan diri dengan pekerjaan dan tidak harus sering-sering berada di rumah. Dulu, ia terbang untuk menghindari kesepiannya di rumah setelah Mom dan Dad meninggal. Setelah ia menikah, ia terbang untuk menghindari sikap dan perkataan Lena yang membuatnya marah. Dan sekarang, ia terbang untuk menghindari Sue. Menghindari godaan yang ditimbulkan dari kemolekan tubuh gadis itu.
Sudah hampir satu minggu berlalu dan ia belum menghubungi Sue sama sekali. Sebenarnya, ia tidak bicara apapun semenjak mencium bibir seksi itu. Ia pergi seperti orang t***l, mengurung diri di kamarnya seperti orang dungu, dan pergi diam-diam layaknya pengecut yang ketakutan. Ya, itulah dia. t***l, dungu, dan pengecut.
Seharusnya ia menjelaskan sesuatu pada Sue. Namun apa yang harus ia jelaskan? Bahwa ia tidak tahan melihat keseksian tubuh gadis itu? Bahwa ia baru saja memanjakan dirinya sendiri dengan membayangkan Sue sehingga tidak tahan saat gadis itu ada di hadapannya? Dan bahwa ia berharap ia tidak menyetujui saran Zoe untuk mengajak Sue tinggal di apartemennya?
Setelah peristiwa ciuman itu, Zac tahu ini akan sulit bagi mereka berdua. Tidak. Ini akan sulit bagi dirinya. Ia tidak akan pernah melihat Sue dengan cara yang sama lagi. Bahkan meskipun Sue memakai kaus longgarnya dan tidak menampilkan lekuk tubuh seksi itu, Zac tidak akan bisa melihatnya tanpa ingat bagaimana keseksian tubuh gadis itu.
Sial! Ia seperti anak remaja berumur belasan yang tidak bisa mengontrol nafsu birahinya. Padahal seharusnya masa-masa itu sudah berlalu lama sekali. Ia seorang pria matang dan dewasa. Dan ia seorang duda.
Zac menghela napas panjang dan meminum kopinya. Jika ada satu penyesalan yang ia rasakan dalam hidup, itu adalah saat ia memutuskan untuk menikahi Lena. Seharusnya mereka bisa membuat perjanjian saja untuk bayi mereka dan tidak pernah menikah. Mungkin jika pernikahan itu tidak terjadi, ia saat ini bisa melihat anaknya hidup dan bernapas.
“Bye, Cap! Jaga Mom baik-baik, okey? Dad mencintaimu!!”
Zac menoleh pada Bryan yang tengah melambai pada putranya dan meniupkan ciuman jauh. Pria itu masih berseri-seri saat memasukkan ponsel ke kantong dan duduk di sampingnya.
“Anak itu selalu saja ingin menelepon saat tahu aku tidak sedang terbang.” A meraih teko kopi dan menuangkan untuk dirinya sendiri. “Ternyata menjadi ayah memang hal yang luar biasa.”
Tentu saja semua temannya tahu bagaimana pernikahan Zac dan tentang anaknya yang meninggal. Selama beberapa saat setelah itu, tidak ada yang membicarakan masalah anak atau pernikahan jika ia berada di tempat yang sama. Ia tahu teman-temannya melakukan itu untuk menjaga perasaannya. Namun semakin lama waktu berlalu, hal itu masih saja terus terjadi. Mereka akan pura-pura membicarakan hal lain saat sedang berkumpul bersamanya, dan saat ia pergi, segala pembicaraan mengenai anak dan pernikahan akan terurai. Dan itu membuat Zac muak.
Ia tidak ingin dikasihani. Dan terlebih, ia tidak ingin teman-temannya melihatnya sebagai pria yang menyedihkan karena skandal yang pernah Lena buat. Ia tidak peduli lagi dengan semua yang pernah Lena buat di masa lalu. Ia hanya menyesali kematian anaknya. Itu saja.
Karena itulah ia kini lebih suka minum kopi sendirian saat sedang istirahat atau menunggu giliran terbang. Tidak ada yang harus ia ajak bicara dan tidak ada omongan basa basi yang harus ia cari-cari untuk bahan pembicaraan.
“Berapa umur anakmu sekarang?” Zac menghabiskan kopinya dalam sekali teguk dan memandang cangkirnya yang kini bersih.
“Empat tahun. Dia sedang lucu-lucunya kau tahu? Dan dia sangat cerewet. Apa saja dia tanyakan sampai kadang aku dan istriku bingung menjawabnya.”
Ada nada bangga dan rindu dalam suara Bryan dan itu membuat Zac tersenyum. Lihat kan? Ia sudah bisa diajak bicara tentang hal-hal seperti ini tanpa membuatnya sedih?
“Dan ia pasti akan berlari riang setiap kali kau pulang ke rumah.”
“Pasti! Dia akan menjerit dan berlari ke halaman. Lalu…” suara Bryan terhenti tiba-tiba dan ia memandang Zac dengan tidak enak. “Zac, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud pamer padamu. Aku…”
Terjadi lagi. Oke, jadi semua orang masih melihatnya seperti itu. Pria kesepian dan menyedihkan.
Zac memandang Bryan yang memandangnya dengan perasaan bersalah. Ia benci ditatap seperti itu. Ia bangkit dari duduknya, menepuk bahu Bryan dengan pelan dan berlalu setelah ia berkata, “aku sudah baik-baik saja. Kau tidak perlu merasa tidak enak karena membicarakan istri dan anakmu. Aku justru kesal jika kalian membicarakan itu di hadapanku. Jangan merasa tidak enak padaku, okey?”