Seandainya bisa, Zac ingin berlama-lama di luar dan pulang saat malam tiba sehingga ia tidak harus bertemu Sue. Namun ia tahu itu tidak mungkin. Ini sudah lewat jam makan siang dan Sue belum makan. Tidak ada apapun di rumah yang bisa dimakan dan ia tidak akan menjadi tuan rumah yang kejam pada hari pertama gadis itu pindah. Jadi tidak ada pilihan lain selain ia harus pulang dan member gadis itu makan.
Karena tidak tahu apa yang Sue suka, Zac memutuskan untuk membeli makanan Cina. Dan hal itu membuatnya sadar, bahwa ia tidak tahu apa-apa tentang gadis itu walaupun mereka sudah saling mengenal selama bertahun-tahun. Tidak ada satu hal pun tentang Sue yang ia tahu kecuali Sue adalah anak dari mendiang Jason Cox, yang juga adalah teman ayahnya dan tinggal beberapa blok dari rumah mereka di East Hampton. Hanya itu.
“Hai, Zac!” sapa Parker, penjaga pintu saat ia sampai di apartemen.
Zac tersenyum dan melambai, lalu mundur lagi saat ia teringat sesuatu. “Parker, aku punya temen serumah sekarang, namanya Sue.”
“Gadis cantik tadi?”
Zac mengangguk. “Aku harap kau dan Dolores bisa membantunya jika dia butuh sesuatu. Kalian tahu aku aku jarang di rumah.”
Parker dan Dolores tersenyum dengan tulus dan mengangguk. Zac melambai lagi dan naik ke kamarnya. Oke, mereka hanya akan makan siang bersama lalu ia akan masuk kamar dan tidak akan mengganggu Sue yang sedang merapikan barang-barangnya. Apa ia perlu membantu? Oh, tampaknya ia harus menawarkan diri untuk membantu agar terlihat sopan. Ia harap Sue tidak butuh bantuannya.
Ketika ia membuka pintu, terdengar alunan lagu yang ceria dari dalam rumah. Zac tersenyum, setidaknya rumah ini terasa lebih hidup dengan adanya Sue. Biasanya hanya keheningan yang menyambutnya jika ia masuk ke rumah. Zac masuk tanpa suara dan berbalik ke koridor, bermaksud memanggil Sue untuk makan ketika ia melihat pemandangan menakjubkan itu.
Sue, dalam balutan celana yang sangat pendek dan kaus dalam yang ketat, terlihat begitu…begitu memukau. Dan lezat. Kaki panjangnya yang ramping dan seksi terpampang mulus sementara kepala Zac dipenuhi bayangan liar yang tidak pernah ia pikirkan selama ini. Makan siang yang ia bawa jatuh berantakan ke lantai kayu yang dingin. Zac merasa sekujur tubuhnya memanas dan gairah melesat naik dalam dirinya.
Gadis itu terkejut mendengar suara benda jatuh dan berlari menutup pintunya secepat kilat sementara Zac masih terpaku di lantai. Ia tidak bisa bergerak. Sekujur tubuhnya gemetar oleh gairah yang membakar. Pahanya terasa sakit menahan desakan yang terasa semakin membesar. Ia menarik napas panjang dengan sangat berat, dan berjalan tertatih-tatih ke kamarnya sendiri. Mengabaikan makan siang yang berantakan di lantai.
Ia tidak bisa memikirkan makan siang sekarang. Tidak selama bayangan itu tidak mau pergi dari kepalanya. Tubuh Sue adalah yang terseksi yang pernah ia lihat. Payudaranya tidak terlalu besar tetapi juga tidak bisa dibilang kecil, tampak menantang dengan sempurna. Zac tidak akan menolak jika harus menghabiskan waktu berlama-lama bermain p******a itu. Perut Sue yang ramping tampak begitu menggoda untuk dibelai. Sial, tubuh Sue adalah keindahan nyata dan terlarang.
Terlarang karena gadis itu tidak boleh ia sentuh. Terlarang karena gadis itu berharga seperti adiknya. Terlarang karena Zac tidak bisa memberikan apa-apa padanya. Ia harus meredam seluruh gairah yang ia rasakan untuk Sue karena hal itu hanya akan menyakiti mereka berdua.
Zac masuk ke kamar mandi dan menyalakan keran air dingin. Matanya menatap bukti gairahnya yang masih sekeras batu. Ia memejamkan mata dan meraihnya. Membayangkan mulut Sue yang seksi berada di sana. Berlutut di hadapannya dan menghisap miliknya. Sial, ia tidak pernah melakukan hal ini lagi setelah masa remajanya berlalu. Namun melihat Sue tadi benar-benar telah membuatnya hilang akal.
Seandainya saat itu Zac tidak terlalu kaget dan takjub, ia yakin dirinya pasti akan menerjang Sue dan meniduri gadis itu dengan liar. Ia sangat ingin membelai tubuh itu dan membuat Sue meneriakkan namanya saat mencapai klimaks. Ia sangat ingin menciumi setiap inci kaki Sue yang seksi dan memujanya. Ia sangat ingin melingkarkan kaki itu ke pinggangnya, atau ke atas bahunya.
Bayangan itu membuat Zac semakin panas meskipun air dingin mengguyur tubuhnya. Tangannya bergerak semakin cepat saat ia merasakan gelombang kenikmatan itu sudah semakin dekat. Ia membayangkan dirinya keluar masuk ke dalam celah hangat milik Sue. Dengan cepat, mendesak, dan…
“AAH!!” Zac menjerit saat ledakan itu terlepas dari tubuhnya. Ia membuka mata dengan terengah-engah. Melihat bukti gairahnya yang luruh bersamaan dengan air yang mengalir.
Sialan! Segera setelah gairahnya mereda, ia merasa malu. Malu pada dirinya sendiri dan juga pada Sue karena membayangkan gadis itu untuk membuatnya klimaks. Setelah ini, Zac tidak yakin masih bisa memandang Sue seperti dulu lagi.
Ia berpakaian dengan cepat dan segera keluar dari kamarnya. Makanan yang tadi ia jatuhkan sudah tidak ada di lantai dan aroma harum menerjangnya saat ia menuju ke dapur. Dan lagi-lagi, Zac terpaku. Sue, dalam balutan celana yoga panjang dan kaus kebesaran, sedang menikmati makan siang yang tadi dijatuhkan Zac. Rambut pirangnya diikat asal-asalan di puncak kepalanya dan bahu kausnya yang turun sebelah, membuat Zac menelan ludah kelu. Ia tidak akan pernah terbiasa dengan keindahan itu.
“Zac!”
Sue mendongak dan tersenyum lebar seolah tidak pernah ingat bahwa Zac pernah melihatnya hampir telanjang. Dan itu bagus bagi Zac karena gadis itu tidak akan merasa canggung padanya.
“Untunglah makanan ini masih layak di makan. Aku kelaparan.” Ia mengacungkan piringnya yang hampir tandas.
“Apa kau menyisakannya untukku? Aku juga kelaparan.” Zac mendekat dan melihat sudah ada satu piring lagi untuknya. Ia duduk di hadapan Sue dan mulai menyantap makan siangnya yang sudah dingin. “Sudah selesai merapikan barangmu?” tanyanya tanpa mendongak karena Zac tahu jika ia mendongak dan menatap mata hijau itu, segalanya akan kembali kacau.
“Hanya tinggal merapikan beberapa pakaian lagi.”
“Apa kau kekurangan laci pakaian? Di kamarku ada satu yang belum terpakai. Kita bisa…”
“Tidak. Masih ada cukup ruang. Lagipula aku tidak akan mengeluarkan semua barang-barangku.”
Pernyataan itu membuat Zac mendongak dan ia dihadapkan pada mata paling indah yang pernah ia lihat. Matanya sendiri juga hijau, tetapi tidak seindah milik Sue. Mata Sue berkilauan bagaikan air yang tertimpa sinar mentari.
“Kenapa tidak?” Zac menyadari ia hanya mampu membisikkan pertanyaan itu.
Sue mengangkat bahunya. “Aku tidak akan tinggal di sini dalam waktu lama. Kita tahu aku di sini hanya untuk menuruti Zoe. Aku akan mencari tempatku sendiri dan…”
“Kau tidak akan ke mana-mana,” potong Zac dengan tegas. Bayangan tidak menemukan Sue lagi di rumah ini, entah mengapa membuatnya takut.
“Zac…”
Zac hampir tersedak daging bebek peking yang tengah ia gigit. Sial, hanya sebuah panggilan dan ia sudah panas dingin.
“Tidak. Kau tetap tinggal di sini. Anggap saja rumahmu sendiri. Kau bebas melakukan apapun di sini,” katanya setelah menghabiskan segelas air.
“Tapi…”
“Ini kartu kreditku.” Zac menyerahkan kartu hitam dari kantong celananya. “Belanjalah untuk kebutuhan dapur dengan kartu itu. Kau pasti tahu tidak ada yang bisa kau masak.”
“Aku tidak mau,” ketus Sue dengan keras kepala.
“Kau…”
“Aku sudah tinggal di sini dengan gratis, Zac. Urusan dapur akan menjadi tugasku, dengan uangku.” Ia menaikkan tangan saat Zac hendak membuka mulut. “Setuju atau aku akan keluar dari sini.”
Zac menghela napas dan meraih kembali kartu kreditnya. Sebagai gantinya, ia meletakkan sebuah kunci di atas meja.
“Apa ini?”
“Kunci mobilku. Pakailah.”
“Tidak. Aku…”
“Aku punya dua mobil. Yang satu ini jarang sekali kugunakan. Kau bisa memakainya ke studio. Dan aku tidak mau dibantah. Kita harus bermain secara adil.”
Sue menggerutu sementara Zac terkekeh. Gadis itu tampak sangat imut saat sedang kesal seperti ini.
“Kau tidak bermain dengan adil. Aku sudah cukup malu harus menumpang di sini.”
Tangan Zac terulur untuk meremas tangan Sue dengan lembut. Hangat. Zac menarik tangannya sendiri sebelum ia kembali kehilangan kendali dirinya.
“Aku senang kau di sini, Sue.”
“Benarkah?” tanya Sue tak percaya.
Matanya menatap Zac dengan pandangan itu lagi. Sial, gadis ini akan menjadi mimpi buruknya. Hanya sebuah tatapan, dan ia hilang akal. Zac mengerang kalah pada kendali dirinya yang hancur. Ia meraih leher Sue dan menciumnya. Dengan rakus. Dan brutal.