Waktu kembali pada beberapa tahun silam, ketika Aan masih remaja dan Mas Sumitro masih ganteng-gantengnya. Setelah peristiwa yang memalukan yang sempat membuat Aan tidak bisa tidur dengan nyenyak itu, Mas Sumitro dan dirinya semakin memiliki ikatan hati yang lebih dalam satu sama lain. Telapak tangan Aan yang erat menggenggam telapak tangan Mas Sumitro masih terasa begitu nyata di benak keduanya. Sebelum kejadian itu, mereka memang sudah punya benih-benih cinta, namun tidak sebesar sekarang. Pasca kejadian jabat tangan yang rasanya seperti tersengat itu, mereka semakin yakin bahwa mereka tidak terpisahkan. Pagi itu, Mas Sumitro dengan motor barunya sudah berjaga di depan gerbang rumah Aan. Hari itu hari Minggu, kebetulan mereka sedang libur, Mas Sumitro libur kantor dan Aan libur sekola

