Setelah beberapa menit akhirnya Ulfa Kirana sampai di rumah calon suaminya menggunakan motor maticnya, Ulfa menarik nafas panjang sebelum memasuki pintu utama rumah Rio Wijaya, dia menyiapkan hati dan mental entah drama apa lagi yang akan diperankan Rio hari ini, dengan tentengan yang lumayan banyak Ulfa menyapa Rio terlebih dahulu sebelum langsung ke dapur.
"Assalamualaikum!"
"Walaikum salam!"
"Aku tadi belanja dulu bahan yang akan saya gunakan sebelum kesini, makanya lama tapi gak telat kok, masaknya gak akan lama lagian masakan enak klo masih panas langsung disajikan!"
"Hmmmm!"
"Tidurmu nyenyak semalam?"
"Hmmm!"
"Kamu sarapan apa pagi tadi?"
"Seperti biasanya!"
"Aku ke dapur dulu, kamu gak mau temenin aku masak gitu, bantu apa kek!"
Mendengar ucapan Ulfa, alis Rio Wijaya mengkerut.
"Aku bercanda Rio ganteng!" Kata Ulfa Kirana sambil berlalu ke dapur dengan senyum jahilnya.
Tanpa sepengetahuan Ulfa Kirana seutas senyum terukir di bibir seksi seorang Rio Wijaya, untuk sekian kalinya Ulfa bisa membuat Rio Wijaya tersenyum lagi setelah dua tahun Rio lupa bagaimana caranya tersenyum.
Ulfa hari ini akan memasak steak daging dan sayuran pelengkapnya untuk karbo dia memilih kentang yang di panggang karena menurut info Rio Wijaya menghindari makanan yang terlalu berminyak dan untuk makanan penutup dia telah menyiapkan dari rumahnya dia membuat matcha chocolat mousse cake dia membuatnya sendiri jam empat subuh, sisa dia dinginkan kembali ke dalam kulkas, Ulfa juga menyiapkan buah kesukaan Rio Wijaya, dengan telaten dia menyiapkan sendiri tanpa bantuan siapapun, dan ternyata semua aktivitas Ulfa di dapur selalu dipantau oleh Rio melalui cctv yang terkoneksi di telpon genggamnya. Rio sendiri lupa kapan dia mempunyai perasaan kepada Ulfa Kirana yang sikapnya sangat unik dan tentu saja wajah cantiknya yang tak banyak perubahan selama beberapa tahun dari pertemuan pertama mereka.
Setelah semua makanan siap dan tertata rapi di meja makan, Ulfa Kirana mengambil beberapa foto untuk jadi kenangan, dia begitu bahagia dan merasa bangga pada dirinya sendiri, ini adalah masakan pertama yang dia buat untuk Rio Wijaya calon suaminya, dan yang terpenting sepertinya calon suaminya itu sudah bertengger di hatinya, walaupun Ulfa sendiri belum yakin jika itu adalah cinta.
"Saatnya manggil pangeran gunung es ganteng!" kata Ulfa Kirana pada dirinya sendiri.
Ulfa Kirana berfikir untuk mencari Rio Wijaya tapi karena takut tersesat di rumah tersebut akhirnya Ulfa memilih untuk menelpon Rio.
"Halo, kamu dimana? makanannya udah siap!"
"Aku masih di kamar!"
Mengetahui Rio yang ada di kamarnya Ulfa pun berniat menjemputnya, Ulfa Kirana yang sudah tau arah kamar Rio langsung menuju kesana. Kamar Rio berada dilantai atas, Ulfa memilih menggunakan tangga daripada naik lift yang selalu digunakan Rio Wijaya. Tangga tersebut berdesign sangat unik terkesan sangat futuristik, jika kita melihat tangga tersebut kita tidak akan berfikir jika orang yang mendisignnya adalah orang yang suka mengurung diri, design tangga tersebut seolah menggambarkan hidup yang dinamis dan hangat.
Setelah sampai di depan pintu kamar Rio, Ulfa segera mengetuk pintu kamar Rio tersebut.
"Makanannya udah siap, turun yuk!" kata Ulfa Kirana setengah berteriak di balik pintu kamar Rio.
Tiga kali Ulfa mengetuk pintu tapi tak ada balasan dari dalam kamar Rio, Karena khawatir akhirnya Ulfa memilih untuk mengetuk sekali lagi dan langsung membuka pintu ternyata Rio sedang ganti baju, Ulfa bukannya keluar dan menutup pintu justru tetap berdiri dan terpanah dengan pemandangan yang dilihatnya. Mata Ulfa begitu berkilau serasa melihat pelangi setelah hujan, bibir Ulfa Kirana membulat, pipinya langsung merona takut pikiran kotor menyerangnya, dengan cepat dia membalikkan badan.
"Fa kamau ngapain masuk kamar orang sembarangan?"
"Aku udah ketok berapa kali gak ada jawaban, kirain kamu kenapa-kenapa!"
"Tetap saja gak boleh masuk kamar orang sembarangan!"
"Iyya aku minta maaf, lagian kenapa susah amat ngejawab!!!"
"Kamu suka sekali bikin aku emosi ya Fa!"
"Kamu saja yang emosian orang aku gak ngapa-ngapain cuman liat dikit gak ada yang hilang kan? gantengnya masih banyak kok!"
Rio Wijaya yang emosi kembali melunak, memang hanya Ulfa Kirana yang bisa membuatnya mencair.
"Udah yuk kita makan!" Kata Ulfa sembari menarik jemari Rio Wijaya setelah Rio selesai mengenakan bajunya.
Tak ada kebahagiaan yang bisa menggambarkan betapa senangnya Rio karena Ulfa Kirana yang terlebih dahulu memegang tangannya, namun dia melawan perasaannya sendiri, Rio Wijaya segera menarik tangannya. Dia tidak ingin Ulfa tau jika dia sangat gugup karena pegangan tangan dari Ulfa Kirana tersebut. Sementara itu ada kekecewaan di hati Ulfa, tapi bukan Ulfa namanya jika dia akan sakit hati hanya karena hal sepele seperti itu. Walaupun sebenarnya Ulfa berharap Rio bisa bersikap romantis seperti ketika Rio mencium tangannya, yang bisa dia lakukan sekarang hanya berusaha membuat suasana hangat diantara dia Rio, dia berfikir walaupun pernikahan mereka nanti tanpa cinta tapi hubungan mereka tidak boleh dingin terus seperti ini, hidup itu untuk menciptakan kebahagiaan tidak perlu mencari apalagi menunggu kebahagiaan. Sambil melangkah menuju ruang makan Ulfa Kirana terus mengoceh berharap Rio Wijaya bisa membalas kata-katanya.
"Aku masak steak daging, kamu pasti suka asal kamu tau masakanku enak loh aku kan sering kerja di cafe dan restoran jadi soal masak memasak aku jago loh!"
Sementara itu Rio hanya diam tidak menanggapi kata-kata Ulfa. Ulfa berjalan di depan kursi roda Rio Wijaya dan sesekali berjalan mundur berbicara banyak hal, Ulfa ingin melihat wajah tampan Rio Wijaya. Walaupun demikian Rio masih tetap sama memberikan ekspresi yang datar tapi Ulfa Kirana tidak peduli selagi Rio tidak marah ataupun berteriak artinya semua aman. Ulfa Kirana yakin kehangatan dan kesabaran akan mencairkan hati Rio, toh yang dia kenal Rio selama ini adalah orang yang baik, Rio membutuhkan bantuan bukannya menjauhnya walaupun Rio mengatakan dia mau sendiri Ulfa yakin bukan kesendirian yang Rio inginkan tapi kedamaian, damai tidak berarti harus sendiri setiap saat.
Setelah sampai di meja makan Rio Wijaya lumayan terpukau dengan hidangan yang ada di meja sangat cantik penataannya dan juga makannya terlihat lezat dan berkelas benar-benar seperti kesukaannya. Sebenarnya dia ingin memberikan pujian tapi dia lupa bagaimana caranya, kata-kata apa yang tepat dia tidak bisa mengatakannya seolah mulutnya terkunci.
"Coba dulu deh pasti enak!" Kata Ulfa sambil menyodorkan potongan steak ke mulut Rio, dengan ragu Rio memakan steak yang Ulfa berikan.
"Enak kan!!!" Rio Wijaya kali ini memberikan jawaban dengan anggukan kecil.
"Makan yah sampai habis, semua ini aku buat dengan cinta loh!" Mendengar kata-kata Ulfa Rio tersedak dan terbatuk, dipikirkannya Ulfa dengan gampangnya menyebut kata cinta, apa dia mengatakannya benar-benar dari hati atau cuman bercanda, tapi Rio berharap itu dari dalam hati Ulfa yang sebenarnya.
"Ini minum dulu, hati-hati dong! Aku tau masakanku memang enak tapi makannya pelan-pelan, atau mau aku suapin lagi kayak tadi?"
"Gak usah, makasih! cukup makan dengan tenang jangan banyak bicara!"
"Ok sayang!" Jawaban entend Ulfa.
Rio tidak tau akan berkata apa lagi, dia sudah kehabisan kata-kata dia bahagia tapi juga gemes dengan tingkah Ulfa Kirana. Walaupun pada akhirnya acara makan siang itu bisa berjalan dengan tenang tanpa suara dari mereka hanya sesekali suara sendok dan garpu yang saling beradu, ternyata Ulfa Kirana masih belum berhenti bertingkah konyol, dia makan tapi tak berhenti menatap wajah calon suaminya, tak pernah sedikitpun dia mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Rio Wijaya, seakan dia mengukur berapa tinggi hidung yang dimiliki calon suaminya, semua hal yang ada di wajah Rio tak luput dari perhatiannya. Rio Wijaya yang merasa lehernya terasa keram karena tatapan Ulfa kepadanya. Rio Wijaya menarik nafas panjang dan meletakkan garpu dan pisau yang digunakannya, kemudian dia melipat kedua tangannya dan membalas menatap Ulfa Kirana dengan tatapan yang lembut namun seolah akan menerkam Ulfa Kirana. Ulfa yang tidak menyangka akan mendapatkan balasan seperti itu dari Rio langsung gugup, garpunya sampai terjatuh. Apalagi ketika melihat urat tangan Rio yang tampak begitu jelas ketika Rio melipat tangannya, melihat semua itu membuat Ulfa menelan dengan cepat makanannya dan hampir saja makanannya tersangkut di lehernya, dengan cepat dia meraih air minum dan meminumnya sampai tandas.
Setelah berhasil mengatur nafas sekarang Ulfa memilih menjadi anak baik, dia makan dengan tenang dan fokus ke makanannya tatapannya tidak kemana-mana walaupun sesekali dia masih sering mencuri pandang pada calon suaminya yang duduk berhadapan dengannya. Ulfa sekarang begitu memuja Rio Wijaya, menatap Rio seakan menatap idolanya di layar kaca walaupun dua-duanya sulit digapai tapi setidaknya Rio nyata dan bisa disentuh hanya perlu kesabaran saja.
Rio yang merasa sudah aman untuk menikmati makan siangnya yang memang menurutnya sangat enak dia ingin makan dengan tenang tanpa rasa deg-degan karena sikap Ulfa Kirana terhadapnya. Setelah menyelesaikan makan siang mereka Ulfa Kembali membuka percakapan.
"Kamu tidak ingin mengucapkan terimakasih karena telah membuat makan siang yang enak!"
"Makasih!"
"Bisa gak aku minta yang lain?"
"Minta apa?"
"Beri aku senyuman! Aku belum pernah melihatmu tersenyum."
Setelah beberapa saat berfikir akhirnya Rio Wijaya memberikan senyuman yang manis yang bisa dia berikan. Sementara itu melihat Rio memberikan senyum untuknya, menampilkan gigi yang putih dan rapi, bibir indah yang kemerahan membuat Ulfa Kirana terasa terhipnotis, badannya serasa kehabisan tenaga dan sulit digerakkan. Setelah sekian tahun inilah kali pertama melihat Rio tersenyum kembali.