Dijemput Paksa

1315 Kata
Sepanjang perjalanan pikiran Ulfa melayang tak tentu arah kadang tentang ibunya dan kadang tentang Rio, dia belum yakin apakah keputusannya sudah tepat atau tidak yang jelas ibunya tidak boleh mengetahui alasannya menikah dengan Rio, yang ada ibunya bisa marah, Ulfa tentu saja takut hal tersebut bisa mempengaruhi kesehatan ibunya. Karena lelah dengan pikirannya tentang Rio Wijaya, Ulfa pun memberanikan diri bertanya kepada pak Putra yang sedang mengemudikan mobil. "Maaf pak apa Ulfa bisa bertanya pada bapak?" "Silahkan mbak Ulfa, selagi saya bisa jawab pasti akan saya jawab." "Ini tentang pak Rio, apa memang sikapnya berubah setelah kecelakaan yang menimpanya?" "Benar sekali mba, dia tidak pernah keluar rumah yang dilakukannya hanya berada di ruang kerjanya, kekantor pusat hanya sesekali saja, untuk rapat dengan klien banyak dilakukan secara virtual, sepertinya pak Rio memang sengaja tidak ingin bertemu dengan siapapun." "Oh begitu ya pak!" "Setau saya sih begitu mba!" Setelah percakapan singkat dengan pak Putra, Ulfa sedikit punya gambaran kenapa Rio yang dia kenal begitu hangat sekarang sedingin es, dan hari ini dia telah bernegosiasi dengan manusia es itu, bernegosiasi tentang masa depan mereka yang akan terikat hubungan yang sakral, perjanjian yang akan turut meminta pertanggung jawaban di kehidupan selanjutnya. Ulfa kembali bernostalgia dengan gambaran Rio yang dahulu, mereka dulu pernah dekat walau tak layak di sebut sahabat apalagi pacaran. Mereka hanya sesekali terlibat waktu bersama dan beberapa kebetulan lainnya yang membuat mereka nyaman berbincang satu sama lain. Dan jika tidak ada kendala maka kedepannya mereka akan banyak menghabiskan waktu bersama, Ulfa sendiri bingung harus menjadi seperti istri yang bagaimana agar bisa tepat bersanding dengan Rio, walaupun sampai hari ini dia belum punya perasaan apa-apa kepada Rio Wijaya, tapi menurutnya tak akan sulit untuk jatuh hati dengan seorang Rio, walaupun tidak semua pernikahan tanpa cinta berakhir bahagia tapi banyak juga pernikahan yang diawali tanpa cinta,tapi bahagia hingga ujung usia. Cinta kepada lawan jenis bukanlah hal yang utama dalam hidup Ulfa, tapi ibunya adalah segalanya untuknya. Dia telah kehilangan sosok seorang ayah ketika dia remaja dan melihat sendiri ibunya yang berjuang sendiri menjadi ibu dan sosok ayah untuknya, tujuan hidup Ulfa adalah kebahagiaan dan kesehatan ibunda tercinta. Malam harinya Ulfa terbangun dalam lelapnya, dia bersimpuh memohon kepada sang pencipta. "Ya Rabb jika pertemuanku dengannya hari ini adalah jalan darimu, maka jadikanlah dia takdirku dalam ikatan yang Engkau diridhoi...." Ulfa tak tidur kembali setelah solat tahajud tapi dia menanti azan subuh baru kemudian dia berencana kembali ke dunia mimpi, dia khawatir akan kehilangan subuh jika kembali tidur sekarang, dan setelah menjalankan kewajibannya Ulfa pun kembali menenggelamkan dirinya dalam selimutnya, ketika sedang bermimpi indah tiba-tiba dia terbangun karena suara telpon masuk di telpon genggamnya, rasa kantuk yang mendera membuatnya linglung. "Halo, maaf ini masih pagi-pagi sekali silahkan telpon dua jam lagi!" "Saya hanya ingin mengingatkan perjanjian kita, jangan sampai kamu kabur dengan laki-laki lain, akan aku kejar sampai ke lubang semut sekali pun!" "Hmmm Siap!" jawaban singkat di seberang sana kemudian panggilan telpon tersebut terputus. Rio berusaha menelpon kembali ternyata nomor Ulfa tidak aktif lagi hal ini membuat Rio Wijaya emosi di pagi hari yang indah. Padahal yang sebenarnya terjadi baterai handphone Ulfa habis, dan pemiliknya sekarang kembali tertidur. Rio Wijaya meminta beberapa orang untuk menjemput paksa Ulfa Kirana. Ulfa yang sedang sendiri di rumahnya dengan mudahnya diangkut kerumah Rio Wijaya, ibu Ulfa sedang berjalan-jalan kaki di pagi hari untuk menghirup udara segar sekaligus berolahraga tipis-tipis, sehingga dia tidak tau bahwa anak gadisnya dijemput oleh beberapa orang. Ulfa Kirana memang dikenal tukang tidur, dimana pun dia berada jika kantuk menyerangnya dia akan tertidur dengan lelap. Pagi-pagi sekali suara ketukan pintu membuyarkan mimpi indah Ulfa Kirana. "Siapa sih pagi-pagi ketuk-ketuk!" Ulfa pun segera bangkit dari ranjangnya dan mengambil apa saja untuk dijadikan hijab, dia pun segera meraih mukenah yang dia simpan di atas nakas sebelum kembali tidur tadi subuh. "Maaf kalian cari siapa?" "Kami mencari mba Ulfa!" "Anda yang kemarin kan yang di rumah pak Rio?" "Bener mba, ini pak Rio yang meminta kami datang menjemput mba Ulfa." "Tapi kenapa pagi-pagi begini, apa ada yang penting?" "Saya juga kurang tau mba, tugas kami cuman jemput mba Ulfa." "Yaudah saya mandi dan ganti baju dulu!" "Jangan mba sekarang aja, telat lima menit saja kali bisa dipecat!" "Apa? emang sepenting itu yah?" "Tolong mba segera naik ke mobil!" Sebelum naik ke mobil yang menjemputnya, Ulfa menitip pesan ke tetangga sebelah untuk menyampaikan pesan kepada ibunya jika dia sedang kerumah temannya ada urusan sangat penting. Diperjalanan Ulfa baru menyadari jika dia hanya menggunakan mukena bahkan telpon genggamnya pun lupa dibawahnya. Ulfa mengutuki dirinya kenapa dia harus kembali tidur bukannya pergi mandi dan berpakaian rapi karena ternyata pagi-pagi dia akan dijemput menghadap calon suaminya. Dan satu hal lagi dia belum bicara kepada ibunya tentang lamaran tersebut. Kecemasan menyerangnya bagaimana kalau Rio ternyata bertanya apakah ibunya memberikan restu atau tidak. Ulfa belum sempat berbicara kepada ibunya karena kemarin sesampainya di rumah, ibunya sedang keluar bersama kakaknya untuk bertemu dengan dokter. Malam harinya ibunya terlihat sangat lelah karena itu Ulfa belum membicarakan hal tersebut kepada ibunya. Mobil yang dikendarainya mulai melambat artinya mereka sudah sampai, entah kenapa jantung Ulfa berdegup dengan kencang kembali seperti kemarin. Dia berusaha memegang d*danya dan menarik nafas dengan pelan. Ulfa Kirana mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Rio yang menurutnya calon suaminya itu jauh berbeda dengan Rio Wijaya yang dikenalnya beberapa tahun yang lalu. Ulfa berusaha merapikan penampilan yang sepertinya sulit untuk dirapikan bagaimana tidak dia hanya menggunakan piyama usang dan menggunakan mukena sebagai ganti hijab untuk menutupi rambut. Ulfa Kirana sedikit khawatir dengan tampilannya sekarang bukan karena ingin terlihat cantik untuk membuat Rio terpikat tapi takut jika Rio berubah pikiran dan tidak jadi menikahinya kemudian meminta uangnya Kembali. Tidak ada yang berbeda dengan hari sebelumnya, Ulfa Kirana memasuki Rumah Rio dengan langkah yang sama seperti kemarin, apalagi sudah ada sedikit gambaran bagaimana sikap Rio terhadapnya, tapi Ulfa paham betul sikap Rio karena kondisi kakinya pasti berat bagi setiap orang masih untung Rio hanya berubah sikap tidak sampai putus asa, dia masih tetap bisa berkarya dengan dunia arsitektur yang digelutinya dan menjalankan Wijaya Group dengan sangat baik, jauh di dalam hati Ulfa ada kekaguman yang luar biasa terhadap Rio Wijaya. Kali ini Ulfa menunggu di ruang tamu yang dilengkapi dengan sofa yang panjang berwarna putih gading, ruangan yang luas itu tidak memiliki banyak furniture tapi terkesan sangat mewah. Melihat ruang tamu itu saja kita sudah bisa menebak sekeren apa pemiliknya. Mata Ulfa memandang setiap sudut ruang, dia dapat melihat ruangan ini adalah pahatan tangan Rio. Ulfa pun tenggelam dengan pikirannya yang tiba-tiba jadi pecinta karya seni. "KENAPA KAMU MATIKAN HP MU??? Ulfa sampai terperanjat mendengar kata-kata Rio yang terkesan ada penekanan di sana. "Ituuuu sepertinya karena handphoneku lowbat." "Sepertinya??? berarti kamu tidak yakin dengan jawabanmu sendiri, katakan yang jujur atau kamu mau melarikan diri dari perjanjian kita?" "Pak Rio aku tidak berniat seperti itu, aku masih tidur ketika bapak menelpon." Rio pun menatap penampilan Ulfa dari atas sampai bawah, sepertinya memang benar apa yang dikatakannya. Amarah Rio pun akhirnya bisa mereda. Keduanya pun terdiam tak mengeluarkan sepatah kata. Rio segera meraih tumpukan berkas yang harus diperiksanya di salah satu meja di ruangan tersebut. Rio menenggelamkan dirinya dalam pekerjaannya memeriksa semua laporan membiarkan Ulfa duduk disana tanpa melakukan apapun. Satu jam berlalu badan Ulfa sudah terasa kaku, sepertinya dia butuh mandi, ganti baju dan sarapan rasa gerah pun sudah mulai menyerangnya walaupun suhu di ruangan tersebut dingin. Baru akan meminta Rio untuk mengijinkannya pulang namun Rio menatapnya dengan tatapan yang permusuhan. "Kalau pagi-pagi cepat bangun mandi jangan malas-malasan begitu!" Seketika wajah Ulfa menjadi merah karena malu memikirkan apa yang dikatakan Rio memang benar apalagi jika mengingat penampilan Ulfa sekarang yang seperti anak panti asuhan yang sering meminta sumbangan di jalanan, ingin rasanya Ulfa melompat kelaut. Tak menjawab kata-kata Rio, Ulfa hanya menunduk memainkan jari tangannya. Rio terlihat mengetik sesuatu di telpon genggamnya dan kemudian pergi meninggalkan Ulfa sendiri. "Kamu jangan kemana-mana, tunggu disini." "Baik pak!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN