Pagi itu, bahkan sebelum mentari menampakkan sinarnya, Aisha terlihat sudah sibuk bersama Radit. Posisi Radit sudah siap, bertengger di baby carrier di bagian depan tubuh Aisha yang mungil. Membuatnya terlihat seperti anak sekolah yang memeluk ransel besar. Kedua kaki Radit berayun-ayun tanda dia senang, sesekali kedua tangannya bertepuk tangan sambil tertawa.
Perlahan, Aisha bergerak menuruni tangga menuju pintu samping untuk mengeluarkan motor matic nya dari garasi. Setelah berhasil mengeluarkan motornya, Aisha lalu mengunci pintu garasi dan mulai mengendarai motor perlahan. Udara terasa sejuk pagi itu, karena memang belum banyak kendaraan yang berlalu lalang pada waktu selepas subuh seperti ini. Aisha mengarahkan motornya menuju sebuah pasar tradisional, dia ingin berbelanja kebutuhan dapurnya yang mulai menipis.
"Dingin ya, Sayang?" tanya Aisha sambil mengelus pipi Radit yang terasa dingin. Radit tertawa, senang merasakan hangatnya jemari Aisha di pipi nya.
Aisha lalu melangkahkan kakinya memasuki kawasan pasar yang ramai. Kemudian mulai berbelanja berbagai bahan makanan seperti sayur mayur, ikan, daging dan sebagainya.
Radit cukup tenang kali ini karena tadi Aisha sengaja membawa biskuit bayi, jadi ketika Radit mulai rewel, Aisha memberikan biskuit itu dan Radit pun tenang, memakan biskuitnya sementara Aisha melanjutkan berbelanja. Satu jam kemudian, kedua tangan Aisha sudah penuh menenteng berbagai barang belanjaannya. Meskipun keringat menetes di keningnya, namun tidak terlihat raut lelah dari wajahnya.
Hari sudah mulai terang saat Aisha melangkahkan kakinya menuju tempat dia memarkir motornya.
"Sha…" suara seorang wanita yang tidak asing tertangkap gendang telinga nya. Dia lalu menoleh ke arah asal suara itu.
Deg…
" Ibu...? " suara Aisha mendadak mengecil saat melihat Bu Nisa, Ibunya Rayhan, mantan mertuanya.
Bu Nisa melangkah mendekat, "Belanja, Sha? Sama siapa?"
Aisha mengangguk, "Iya, Bu. Berdua aja sama dia." ucap Aisha sambil menjawil kepala Radit dengan ujung hidungnya, karena kedua tangannya penuh barang belanjaan.
"Ya ampun, kok nggak minta ditemenin. Belanja sebanyak ini, sambil gendong anak. Sini Ibu bantu bawa." tangan Bu Nisa langsung meraih belanjaan dari tangan Aisha. Aisha merasa tidak enak langsung menolak. Namun Bu Nisa berkeras membawakan barang-barang itu, dan mengajak Aisha ke salah satu tempat makan di pasar itu untuk sarapan.
" Ibu sama siapa? "
" Sama Ayah, nunggu di mobil. Ini anak kamu, Sha? " tanya Bu Nisa sambil menghirup teh hangat di depannya.
Aisha tersenyum canggung, " Iya, Bu. Namanya Raditya."
" Mmm… Kamu… Udah nikah lagi, Sha? " karena penasaran yang tidak tertahan, akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya.
Aisha menggeleng sambil tersenyum, "Aisha sekarang fokus ngurusin toko, Bu. Radit ini Aisha rawat dari dia baru lahir, sebulan setelah… Aisha pisah sama… Rayhan."
Bu Nisa terlihat terkejut, " Orang tuanya dimana? "
" Ibu nya masih sekolah waktu itu. Sekarang dia lanjutin kuliah. Kalo ayahnya …" Aisha mengangkat bahu tanpa tahu harus berkata apa.
"Mmaamaa… Numm... " suara Radit memecah keheningan di antara mereka. Aisha merogoh tas kecilnya, mengambil sebuah dot berisi s**u lalu memberikannya pada Radit.
Bu Nisa terlihat menghela nafas berat, "Aisha... Kamu tahu Rayhan sudah pisah sama Nala?"
Aisha mengangguk.
"Ibu sedih, nggak tau kenapa rumah tangga anak ibu berantakan kayak gini. Yang Ibu tau, dulu niat Rayhan mau nolongin Nala menghindari perjodohan dari orang tuanya. Ibu sudah bilang sama Rayhan buat nggak ikut campur urusan mereka."
Aisha masih terdiam. Sebenarnya dia enggan kembali membuka kisah itu, namun rasanya tidak sopan memotong pembicaraan orang tua di depannya ini.
"Maafkan anak Ibu, ya Sha… Ibu sebagai perempuan tahu kamu pasti kecewa dengan keputusan Rayhan waktu itu. "
Aisha menggigit bibirnya, menahan rasa pedih yang kembali menyeruak memenuhi rongga dadanya.
"Semuanya udah berlalu, Bu. Aisha udah ikhlas nerima jalan hidup Aisha harus kayak gini. "
Bu Nisa mengantar Aisha menuju tempat parkir dan dia terkejut melihat Aisha membawa motor.
"Sha, kamu belanja banyak sambil bawa anak kok nggak bawa mobil? Susah lho, bahaya nanti."
Aisha tersenyum, "Mobil Aisha udah dijual, Bu. Buat tambahan modal di toko. Aisha udah sering bawa Radit kayak gini, Bu. Alhamdulillah, insya Allah aman."
"Aisha pamit ya, Bu… Salam buat Ayah. Assalamualaikum…"
Kepergian Aisha ditatap dalam oleh Bu Nisa, hingga sosoknya menghilang dari pandangannya.
---
Baru saja tiba di halaman tokonya, Aisha dikejutkan oleh kehadiran Yusuf yang sepertinya sudah menunggu beberapa lama. Lelaki itu duduk di samping motor sport nya, mengenakan kaos putih dan celana training berwarna abu-abu. Sepatu olahraga putihnya terlihat sangat bersih. Entah masih baru, atau tidak pernah digunakan menginjak tanah.
Melihat kedatangan Aisha yang terlihat kerepotan menggendong Radit sambil menurunkan berbagai barang belanjaannya, Yusuf dengan sigap membantu. Dengan gesit dia mengambil alih semua kantong belanjaan di tangan Aisha.
"Makasih…" ucap Aisha singkat.
Yusuf hanya mengangguk, "Ayo aku bawain ke dalam."
Aisha mengangguk dan melangkah menuju ke dalam, melewati pintu samping, karena toko nya memang belum buka sepagi ini. Aisha berjalan perlahan karena Radit tertidur dalam gendongannya. Yusuf mengikuti di belakang. Mereka lalu menaiki tangga menuju lantai dua, tempat dimana Aisha tinggal.
Setelah membuka pintu, Aisha mempersilahkan Yusuf duduk di depan TV, yang berada di depan kamarnya dan Radit. Sementara Aisha masuk ke kamar untuk meletakkan Radit di tempat tidur.
"Ada apa, Suf, pagi banget kesini?" tanya Aisha sambil mengangkat belanjaannya menuju dapur.
"Mau minum apa?" tanya Aisha sambil mengeraskan suaranya tanpa takut Radit terbangun karena pintu kamarnya tertutup rapat.
"Nggak usah repot, Sha. Cuma mampir aja, habis olahraga." tolak Yusuf.
Aisha kembali sambil membawa sebotol air mineral dingin dan memberikannya pada Yusuf.
"Makasih…" ucap Yusuf sambil membuka tutup botol dan meminumnya.
"Aku mau masak." Aisha berkata, dengan maksud agar Yusuf pulang. Lelaki ini seperti tidak tahu waktu, bertamu saat pagi di jam-jam seorang ibu rumah tangga biasanya sibuk banyak kerjaan.
Namun jawaban Yusuf kemudian membuat Aisha terkejut, "Wah, pas banget aku belum sarapan."
"Hhaa?" Mulut Aisha sedikit terbuka, mendengar jawaban Yusuf. Bukannya mau pulang, dia malah mau… numpang sarapan?
"Ee… Ya sudah, kamu nonton TV aja." ujar Aisha akhirnya. Dia melangkahkan kakinya ke dapur dan mulai memasak.
"Iya, Aku nonton TV sambil jagain Radit, kali aja dia bangun." jawab Yusuf sambil merebahkan diri di karpet dengan seenak jidat, seolah ini adalah rumahnya sendiri. Aisha yang dari dapur melihat tingkah Yusuf hanya mampu menggelengkan kepalanya.
9 Sept 2020
10.26 WIB