Suasana mall saat weekend seperti ini memang selalu ramai pengunjung. Sepertinya setiap orang ingin melepas lelah setelah bekerja sepanjang minggu, dengan bersantai entah sambil makan, nonton atau bermain.
Aisha membawa Radit menggunakan stroller, karena akan sangat melelahkan jika Radit harus digendong. Bersama salah satu karyawannya, Maya, Aisha memasuki toko buku. Langkahnya tertuju pada tumpukan flash card dengan tulisan besar, DISCOUNT 50%. Mata Aisha berbinar-binar melihatnya, tentu saja, wanita mana yang tidak suka sama barang diskon. Aisha lalu memilih beberapa macam flash card bergambar buah-buahan, aneka binatang dan benda lainnya, untuk Radit.
"Hai…" sapa seseorang pada Aisha, Radit dan Maya.
Aisha menoleh, "Eh, Yusuf… Ngapain?"
"Cari buku, buat bahan ngajar. Kamu ngapain?"
"Jalan-jalan aja, sambil nyari yang diskonan." sahut Aisha sambil menunjukkan beberapa benda di tangannya. "Kamu ngajar?"
Yusuf mengangguk, "Iya, aku guru di SMA … " dia menyebutkan salah satu sekolah swasta yang lokasinya tak jauh dari toko milik Aisha.
"Oh ya? Wah… Nggak nyangka, ada guru SMA masih muda kayak kamu."
Yusuf hanya tersenyum simpul, karena memang itulah kenyataannya. Di sekolah, dia termasuk guru yang paling muda dibandingkan staf pengajar lainnya. Wajahnya yang tampan, membuatnya cukup populer di kalangan pengajar lain, dan juga siswa siswi nya.
"Radit mau main? Ayo main sama om?" ajak Yusuf sambil merentangkan tangannya memancing Radit untuk digendong.
Radit langsung bersemangat, dia menggerak-gerakan kedua kakinya. Tangannya terulur menyambut kedua tangan Yusuf yang dengan sigap langsung mengangkatnya dari stroller.
"Katanya mau cari buku?" bisik Maya pada Aisha ketika melihat Yusuf yang sibuk bercengkrama dengan Radit..
"Eh, iya, May. Kenalin ini Yusuf. Salah satu customer kita." ucap Aisha.
Mereka berdua lalu bersalaman sambil menyebutkan nama masing-masing.
"Aku bawa Radit main boleh ya, Sha? Kamu kalo mau lanjut belanja silahkan aja."
Aisha menggeleng, "Nggak, nanti ngerepotin kamu." tolak Aisha dengan halus. Sebenarnya dia khawatir, karena Aisha tidak bisa mempercayakan anaknya pada orang yang baru dikenal. Apalagi akhir-akhir ini di televisi dan media sosial cukup sering Aisha melihat kasus penculikan.
"Nggak pa-pa. Aku nggak repot kok. Ini Radit juga mau main kayaknya." Yusuf masih ngotot. Jemari Radit juga sudah menunjuk-nunjuk ke arah tempat bermain yang berseberangan dengan toko buku itu.
Aisha menarik nafas pelan, "Ya udah. Ayo kita ke sana. Aku bayar ini dulu."
Sampai di tempat bermain, Yusuf terlihat bersemangat seperti bocah yang jarang diajak ke taman bermain. Justru yang lebih heboh bukan Radit, melainkan Yusuf sendiri yang berjalan kesana kemari sambil menggendong Radit dan mencoba hampir semua permainan yang ada. Wajahnya terlihat berbinar senang, membuat Aisha tersenyum memandang wajah tampan itu.
"Ehm…" Maya berdehem, membuat Aisha seketika memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Senang banget dia kayaknya, Mba." Ujar Maya.
"Masa kecilnya kurang bahagia kali ya, May." jawab Aisha sambil terkekeh pelan.
"Cakep lho, Mba. Sayang anak kecil juga, kelihatannya." pancing Maya.
Aisha tertawa, "Kenapa, May? Kamu suka? Bilang aja, mumpung orangnya deket ini."
Maya menggeleng sambil tersenyum, "Mba Aisha nggak peka ih. Dilihat darimana juga keliatan kalo dia suka sama Mba."
Ucapan Maya tidak ditanggapi oleh Aisha. Yusuf dan Radit sudah berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Wajah dan baju Yusuf basah oleh keringat. Sedangkan Radit tertawa sambil bertepuk tangan. Tangan kanan Radit memegang sebuah mobil-mobilan kecil hasil Yusuf bermain di claw machine.
Sebagai ucapan terima kasih karena sudah menemani Radit bermain, Aisha mengajak Yusuf makan di salah satu restoran di kawasan mall itu. Yusuf dengan senang hati dan tanpa basa basi menerima ajakan Aisha. Kapan lagi bisa menikmati waktu bersama wanita yang disukainya ini, pikir Yusuf.
---
"Sayang, bobo dong... Udah malem ini." wajah Aisha memelas menatap Radit yang masih segar tanpa ada tanda-tanda mengantuk. Kepala Radit menggeleng menegaskan dia menolak untuk diajak tidur sekarang.
"Dak... " sahut Radit singkat. Tangannya masih memegang mobil-mobilan barunya yang diberi Yusuf tadi. Tubuh gempalnya yang sudah terbalut piyama biru bermotif zebra bergerak ke sana kemari.
"Ttaa… Tta…" Radit bersenandung perlahan. Kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan.
"Mainnya besok lagi, Sayang… Bobok ya…" seru Aisha lagi. Lampu kamar sudah dimatikan, berganti lampu tidur yang redup. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Radit menatap wajah Aisha, lalu tersenyum.
"Mmaa… Mmaa…" Tangan Yusuf yang memegang mobil-mobilan bergerak ke wajah Aisha, dan menjalankan mobilnya di pipi mulus Aisha. Seolah pipi Aisha adalah jalan raya.
Aisha mengecup kedua pipi Radit, lalu merebahkan Radit di sampingnya. Tangan Aisha mengelus-elus punggung Radit hingga anaknya itu mengantuk, dan mulai terlelap.
Tring…
Suara pesan masuk membuat Aisha yang hampir terlelap kembali membuka matanya.
‘Udah tidur, Sha? Ini aku, Yusuf.’
Aisha tersenyum tipis, lalu membalas.
‘Ya, ada apa?’
‘Mau pesan kue.’
‘Kok mendadak? Buat kapan?’
‘Minggu depan.’
Kening Aisha terangkat, ‘Masih lama. Kan bisa besok-besok pesen nya.’
‘Ntar kalo dadakan ditolak lagi.’
‘Ya kalo masih minggu depan, masih bisa, Suf…’
‘Hehe… Iya. Tau. Aku cuma cari alasan aja buat hubungin kamu.’
....
….
Lima belas menit berlalu, tanpa balasan dari Aisha.
‘Selamat malam, Mama Radit. Selamat istirahat.’
*read
Yusuf tersenyum seperti orang gila di kasurnya. Dia tahu Aisha belum tidur, karena pesannya masih dibaca oleh Aisha.
Sementara itu Aisha memejamkan matanya, nafasnya terdengar teratur. Matanya mengantuk, namun masih belum bisa terlelap tidur. Sudah sejak lama dia tidak berbalas pesan dengan lelaki, selain mantan suaminya. Pesan terakhir dari Yusuf yang mengucapkan selamat tidur, nyatanya justru membuat Aisha tidak bisa tertidur dan beristirahat karena hadirnya rasa-rasa aneh dan asing dalam dirinya.
9 Sept 2020
10.05 WIB