"A… Apa?" Aisha tergagap mendengar kalimat yang keluar dari mulut Rayhan.
Rayhan mendekat mencoba menggenggam tangan Aisha, namun Aisha menjauh.
"Aku udah cerai sama Nala, Sha. Nggak lama setelah kita pisah, aku sadar cuma kamu yang aku mau, Sha. Maafkan kebodohanku selama ini, Sayang."
"Kamu mau kan kita kayak dulu lagi? Aku janji nggak akan mengulangi kesalahanku lagi. Aku juga akan terima anak kamu, aku nggak peduli dia anak siapa, yang penting kamu mau kembali sama aku, Sayang."
"Jaga mulut kamu, Ray. Kamu nggak tau apapun tentang anakku. Mending sekarang kamu pergi dari sini."
Emosi Aisha tiba-tiba tersulut mendengar ucapan Rayhan, meskipun dalam hati kecilnya ada rasa ingin menyambut permintaan Rayhan untuk kembali. Namun ketika Rayhan mengatakan tidak peduli tentang asal usul Radit, Aisha tidak bisa menerima itu. Ucapan Rayhan seolah mengatakan bahwa Radit memiliki asal usul yang tidak jelas. Padahal sosok Radit sangat berharga di mata Aisha dan dia tidak akan membiarkan siapapun mengatakan hal buruk tentang anaknya.
"Maaf, Sha. Aku nggak bermaksud buat kamu marah. Maafin aku." Rayhan berkata maaf berulang-ulang ketika Aisha mulai mendorong tubuh Rayhan untuk segera pergi.
"Pergi, Rayhan… Apa belum cukup luka yang kamu kasih ke aku dulu. Kamu nggak berhak mengatakan apapun tentang Radit. Hiks… Kedatangan kamu cuma menambah rasa sakit hati aku, Ray. Hiks… Hiks... "
Setelah Rayhan pergi, Aisha tiba-tiba sadar akan apa yang dikatakan Rayhan tentang perceraiannya dengan Nala. Kenapa sekarang Rayhan berubah seperti mejadi lelaki yang... b******k? Suami mana yang tega meninggalkan istrinya yang tengah hamil tua atau mungkin sudah melahirkan saat itu. Kenapa dia meninggalkan istri dan anaknya? Anak yang selama ini sangat diinginkannya? Berarti Nala sekarang harus merawat anaknya seorang diri. Sama seperti Aisha, menjadi seorang single parent. Dan itu semua gara-gara seorang lelaki bernama Rayhan. Lelaki yang dulu sangat dicintai Aisha.
---
Sementara itu, di sebuah restoran, Yusuf sedang makan malam bersama keluarganya, merayakan ulang tahun Tina, sang bunda.
"Selamat ulang tahun, Bunda. Aku cuma berharap Bunda dan Ayah selalu sehat, jadi bisa lihat aku nikah dan punya anak nanti."
"Wah… Anak bunda sudah memikirkan mau menikah, ya. Kok nggak di ajak cewek nya?" tanya Tina.
Yusuf tertawa, "Siapa yang mau diajak? Aku kan masih jomblo."
"Ya kali aja ada siswa kamu yang nyangkut. Kamu ini kan guru, ganteng pula. Masa nggak laku sih? Kalo nggak sesama guru, ya minimal muridnya lah." sahut Andi, ayahnya.
"Nggak salah nih, Yah. Si Yusuf disuruh pacarin muridnya sendiri?" kali ini Ibra, si abang yang menggoda.
"Bunda sih, setuju aja asal pas lulus sekolah dia mau dinikahin." celetuk Tina sambil menaik turunkan alisnya menatap Yusuf.
"Abang aja sono cari pacar, biar bisa nikah duluan. Ntar kayak yang dulu, kena tikung kalo nggak gercep." Yusuf mulai kesal. "Ah udah… Nggak asik nyerangnya keroyokan gitu. Makan kue aja. Potong kue nya, Bun."
Tina lalu memotong kue ulang tahun dan memberikan masing-masing satu potong pada tiga orang pria di dekatnya, suami dan anak-anaknya.
"Mmm… Enak kue nya, Suf." puji Tina.
Yusuf bersemangat memotong kue di piringnya dan menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri. Dan ternyata benar, kue itu lezat sekali.
"Iya, ya Bun… Enak banget." jawab Yusuf sambil menerawang terbayang wajah Aisha.
"Beli dimana?" tanya Ibra.
"AR Bakery. Yang jual masih kecil, Bang. Imut gitu, hehe… " ucap Yusuf sambil cengengesan.
Tak bisa dipungkiri, Yusuf merasakan adanya ketertarikan dalam dirinya terhadap sosok Aisha. Yusuf pun tak mengerti kenapa sosok mungil itu begitu menarik perhatiannya sejak pertama bertemu saat memesan kue untuk bunda. Hingga dia tidak bisa menahan dirinya untuk kembali ke sana, berpura-pura mengerjakan sesuatu dengan laptopnya, hanya untuk bisa mengamati Aisha dari dekat.
Meskipun saat itu dia dikejutkan oleh kenyataan bahwa Aisha tidak seimut bayangannya, karena wanita itu ternyata sudah memiliki anak. Yusuf meringis, menyadari kesalahannya telah tertarik pada istri orang lain.
"Kenapa cewek seimut dia sudah ada yang punya sih. Kok mau-maunya dia nikah muda." gumam Yusuf.
Terlalu lama terlarut dalam berbagai lamunan dan pertanyaan dalam pikirannya, Yusuf malam itu tidur saat dini hari. Hingga membuat dirinya kesiangan dan terlambat untuk mengajar. Yusuf pergi dengan tergesa-gesa, dan dihadiahi lemparan sandal oleh bunda Tina sebagai peringatan agar dia tidak kesiangan lagi nantinya.
Jalan menuju ke sekolah tempat Yusuf mengajar memang melewati toko milik Aisha. Dan saat melewati toko itu, kecepatan motornya diturunkan. Berharap dapat melihat sosok Aisha hari ini, karena sejak tadi malam Yusuf merasa ingin kembali menemui Aisha. Ingin melihat wajah cantiknya yang imut dan sedap dipandang.
Sosok yang dirindukan ternyata muncul, dari balik rolling door yang melapisi pintu kaca AR Bakery. Aisha yang masih memakai piyama tidurnya, membuat Yusuf terpana seketika. Tubuh mungil Aisha terbalut piyama kedodoran dengan lengan panjang bermotif bunga, rambut hitam sebahunya terlihat berkilau indah, juga wajah polos Aisha yang tanpa polesan makeup.
"Anjir… Cantik banget si Mba baru bangun tidur."
"Eh, kok dia tidur di toko. Apa dia kerja sekalian jagain toko ini."
"Aduh Mba, coba aku nggak ada jadwal ngajar udah aku samperin kali."
"Tapi kan si Mba istri orang. Ya Tuhan, kenapa cinta ku jatuh nya ke orang yang salah."
Berbagai kalimat terlontar dari mulut Yusuf sembari dia mengemudikan motornya. Rasanya tidak sabar ingin segera sampai, menyelesaikan pekerjaannya, lalu pulang dan berkunjung ke AR Bakery lagi.
---
Sore itu selepas mengajar, Yusuf memacu motornya menuju AR Bakery. Sesampainya di sana, dia berjalan santai sambil melirik kesana kemari mencari sosok Aisha.
“Sore, Kak. Ada yang bisa dibantu?” Sapa Bunga ramah.
Yusuf lalu melangkahkan kakinya menuju kasir, untuk memesan minuman.
“Americano satu ya.”
“Baik. Sekalian cemilan nya, Kak?” tanya Bunga.
“Hmm… Apa ya… Ada saran?” Yusuf balik bertanya.
“Kita punya cheesecake, triple chocolate, klepon cake, red velvet, aneka mille crepes, atau kalo Kakak mau yang lain kita ada cheese stick, soft cookies…”
“Cheese stick boleh deh.” ucap Yusuf, “Boleh nanya nggak? Mba Aisha ada?” tanya Yusuf to the point.
Bunga mengerutkan keningnya, “Lagi keluar, Kak. Ada pesan, mungkin? Nanti saya sampaikan.”
“Kalo boleh tau, besok dia kerjanya masuk shift pagi apa sore?”
Bunga tersenyum, “Mba Aisha tinggal di sini Kak. Nggak masuk shift-shift an, kan dia yang punya toko ini.”
“Haa?”
Bunga mengangguk sambil tersenyum, “Totalnya empat puluh lima ribu, Kak.”
Yusuf menyerahkan selembar uang, lalu beranjak menuju salah satu kursi kosong. Dia lalu mulai menghidupkan laptopnya dan fokus menyiapkan bahan untuk mengajar esok harinya. Namun setelah beberapa saat dia larut dalam kesibukannya, dia dikejutkan oleh seorang anak yang merangkak di bawah meja dan memegangi kakinya.
“Radit… Ya ampun… Maaf ya, Kak.” seru Aisha pada Yusuf, sambil berjongkok melepaskan tangan Radit dari kaki Yusuf.
“Ehh.. Iya, nggak pa pa.” seru Yusuf bingung.
Dan setelah berhasil menggendong Radit, Aisha mengernyitkan keningnya.
“Oh, kamu ternyata. Sendirian aja, ya?” sapa Aisha ramah.
Yusuf tersenyum lebar. “Iya, Mba.”
“Panggil Aisha aja.” ujar Aisha sambil tersenyum tipis.
“Maat ya, Radit udah ganggu kamu. Dia lagi aktif banget, aku nggak bisa meleng dikit langsung kabur dia.”
“Hhee… Iya, Mba.. Eh, Aisha.”
“Gimana kue nya kemaren?” tanya Aisha.
“Enak, bunda suka banget.”
“Wah, syukurlah kalo gitu. Ya udah, silahkan dilanjut deh kerjaannya.”
“Nggak, ini udah selesai kok.” jawab Yusuf cepat, sambil menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam ransel.
“Omm... “ Radit merentangkan kedua tangannya ke arah Yusuf.
“Kamu mau gendong sama om ya? Sini, kasian mama kamu kecil pasti capek gendongin kamu yang sebesar ini.” Yusuf mengambil alih Radit dari Aisha, yang membuat Aisha seketika terdiam.
Jemari Radit mengusap wajah Yusuf, lelaki kecil itu tersenyum menanggapi apapun yang diucapkan Yusuf padanya. Lalu tiba-tiba…
PLAKK…
Telapak tangan Radit mendarat dengan keras di rahang Yusuf. Sepertinya Radit gemas dengan bulu-bulu halus yang tumbuh di rahang Yusuf.
“Radit… Anak mama sayang, sholeh, pinter… Nggak boleh kayak gitu…” Aisha menangkap tangan Radit yang baru saja memukul Yusuf, lalu mengecupnya berkali-kali.
“Maaf ya…” wajah Aisha menunjukkan rasa bersalah, dan mengambil kembali Radit dari tangan Yusuf. Kedua lengan Radit melingkar di leher Aisha, kepala lelaki kecil itu lalu bersandar di bahu Aisha.
“Nggak pa pa, Sha. Santai aja. Dia ngerti kali, kalo ada cowok yang deketin mamanya harus digampar. Diajarin papanya kali ya… Hahhaa...” Yusuf tertawa lebar.
Wajah Aisha yang tiba-tiba berubah membuat Yusuf terdiam. Lalu bergegas dia meminta maaf.
“Aduh, maaf ya kalo becanda nya kelewatan. Aku nggak bermaksud bikin kamu tersinggung.”
“Iya, dimaafkan. Kalo gitu aku permisi ya, mau ke atas.” Aisha beranjak pergi dari hadapan Yusuf.
Yusuf yang mulai penasaran, lalu mendekati Bunga di meja kasir.
“Nga… Eh, nama kamu Bunga kan?” tanya Yusuf yang dijawab anggukan oleh Bunga.
“Aisha mengelola toko ini sendirian ya? Atau… sama suaminya? Kalo misal aku mau mengajukan kerja sama, aku hubungin siapa nih?” tanya Yusuf basa-basi.
“Langsung aja ke Mba Aisha, Kak. Dia sendiri yang mengelola dan menjalankan toko ini.”
Yusuf takjub, “Oh ya? Waw… Emang suaminya kerja dimana?”
Bunga menurunkan volume suaranya, “Mba Aisha udah pisah ama suaminya, Kak. Makanya dia serius banget ngurusin toko ini. Buat Radit, katanya.”
Yusuf terdiam, lumayan terkejut dengan apa yang diucapkan Bunga. Sedetik kemudian dia mengangguk sambil berpamitan pada Bunga.
“Ahh… Hati memang tau kemana dia harus berlabuh… Oke, jatuh cinta bisa lanjutkan.” ucap Yusuf dalam hati sambil tersenyum simpul.
6 September 2020
15.53 WIB