Beberapa siswa laki-laki kelas XII IPA klasifikasi Matahari sedang bermain bola di lapangan yang berada di utara gedung olahraga. Pelajaran hari ini adalah olahraga yang wajib diikuti oleh seluruh siswa pada kelas yang bersangkutan. Arthur berdecak sebal ketika harus panas-panasan siang ini. Arthur tidak suka pelajaran olahraga dan dia malas melakukan hal yang tidak dia sukai. Memang, Arthur suka pergi ke tempat gym kadang-kadang. Tetapi dia tidak suka olahraga yang membutuhkan waktu lama seperti bermain bola, basket, lompat atau lempar, dan kegiatan lainnya yang selalu dilakukan di sekolah.
Peluit dibunyikan, itu artinya mereka harus merapat karena pelajaran olahraga akan dimulai. Arthur berdiri paling pojok bersama dengan beberapa temannya yang perempuan—tidak mau panas. Sedangkan tidak lama kemudian, ada rombongan dari kelas lainnya. Arthur tidak terlalu peduli walaupun kelas mereka digabung. Toh, jika dua kelas digabung, olahraga pun digantikan dengan pertandingan antar kelas dan tidak jarang membuat perseteruan satu sama lain.
Perempuan disampingnya tiba-tiba pindah dan berganti dengan Seina. Arthur menatap Seina yang sedang tersenyum ke arahnya, namun tidak Arthur gubris sama sekali.
"Selamat siang, anak-anak." Sapa guru olahraga itu kepada siswa-siswinya yang tampak kepanasan di bawah matahari.
"Selamat siang, Pak." Koor siswa-siswa semuanya dengan keras—kecuali Arthur.
"Nah, karena kelas XII IPA klasifikasi Merkurius, gurunya sedang berhalangan hadir, jadi kita gabung saja dua kelas menjadi satu ..."
Arthur hanya menghela napas panjang lalu menatap lurus ke depan ketika salah satu temannya sedang mengintruksikan gerakan untuk pemanasan. Seina tidak melepaskan pandangan matanya dari Arthur yang tampak malas-malasan melakukan gerakan pemanasan.
"Arthur," panggil Seina yang sama sekali tidak diindahkan oleh Arthur.
Walaupun Arthur dengar, dia tidak ingin membalas panggilan Seina. Ini masih di sekolah dan dia tidak mau ada kabar lagi yang menyudutkan tentang dirinya. Toh, jika memang pernikahan itu diadakan, Arthur tidak akan tinggal bersama dengan Seina. Ratna sudah mengiyakan permintaannya soal memberikan rumah kepada Seina. Bukankah, dia sudah sangat baik?
"Kenapa Lo kemarin enggak berangkat ke sekolah?" Tanya Seina yang lagi-lagi tidak dijawab. Arthur fokus dengan gerakan pemanasan, tidak menoleh sama sekali kepada Seina.
"Kenapa enggak jaw—"
Ucapan Seina terputus ketika matanya bertatapan dengan mata Arthur yang tampak menajam. Sudah dapat dipastikan jika Arthur merasa terganggu dengan dirinya. Seina menutup mulutnya rapat-rapat sebelum terkena amukan Arthur.
"Bisa diam, enggak?" Ketus Arthur sebal. Laki-laki itu buru-buru pergi dan mengganti posisinya yang tadinya disamping Seina menjadi dekat dengan barisan teman-teman satu kelasnya.
Pemanasan selesai dan benar saja, olahraga kali ini digantikan dengan pertandingan antar kelas. Walaupun sebenarnya kelas XII IPA klasifikasi Matahari mempunyai Arthur untuk diajak masuk dalam tim, namun diantara mereka tidak ada yang berani mengajaknya. Mereka tidak ingin melihat ekspresi wajah datar Arthur atau penolakan kasar dari laki-laki itu.
Apalagi mereka tahu betul jika Arthur tidak suka olahraga. Laki-laki itu sangat menyukai buku lebih dari apapun. Sehingga tidak mungkin jika Arthur sampai mau bergabung dalam tim kelas walaupun mereka sudah tahu akan kalah tanpa Arthur nantinya. Kelas sebelah memiliki ketua tim futsal sekolah, jadi tidak mungkin untuk dikalahkan.
Padahal, kabarnya Arthur pernah masuk tim futsal provinsi waktu SMP, tetapi akhirnya dia keluar karena terlalu banyak tekanan. Padahal awalnya Arthur menggunakan olahraga untuk melepaskan penat, tetapi nyatanya malah menambah stress. Sekarang dia memilih untuk tidak menyukai pelajaran olahraga yang menurutnya membosankan.
Ketika teman-temannya sedang asik bertanding, Arthur memilih untuk duduk sendirian di tribun penonton sambil melamun. Sayangnya dia tak bisa menggunakan ponsel ketika jam pelajaran ini. Apalagi buku sastranya berada di kelas. Tidak mungkin juga untuk membaca, karena takut buku itu akan disita. Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah duduk melamun sambil menunggu waktu olahraga selesai.
Dari kejauhan, Arthur melihat jika ada keributan di pinggir lapangan. Arthur kira, mereka sedang ribut atau bertengkar karena masalah menang atau kalah, tetapi dia melihat jika ada yang pingsan di sana. Mata Arthur sedikit melebar ketika melihat siapa yang tengah pingsan di pinggir lapangan.
Langkahnya tampak terburu-buru, mendekat ke arah Seina yang sedang tergeletak di pinggir lapangan. Arthur dengan cepat langsung mengangkat tubuh Seina, menyingkirkan orang-orang yang menghalanginya. Membuat banyak pasang mata menatap ke arahnya. Beberapa siswa yang dilewatinya tampak heran karena Arthur mau susah-susah membawa Seina ke UKS jika memang tidak ada apa-apa diantara mereka.
Tidak, Arthur tidak khawatir kepada Seina. Tapi khawatir pada anak yang ada dalam kandungan Seina saat ini. Walaupun Arthur tahu bahwa anak itu bukan anaknya, tapi anak itu tetap keluarganya—anak kakaknya sendiri.
Beberapa anak PMR mengerumuni Arthur dan Seina. Setelah ditangani anak PMR, Arthur berjalan ke kursi tunggu. Tidak lama kemudian, Seina siuman dan memanggil nama Arthur.
"Arthur," lirih Seina yang langsung dihampiri oleh Arthur.
Laki-laki itu duduk disamping ranjang Seina, menatapnya dengan tatapan dingin—seperti biasanya. Tidak ada yang bisa Seina harapkan dari Arthur, perhatian pun mungkin tidak bisa dia raih. Walaupun saat ini Arthur duduk di depannya, bahkan sempat susah payah untuk membawa dirinya ke UKS—semua itu tidak berarti apapun.
"Lo bisa enggak sih, sedikit aja gitu perhatian sama gue." Lirih Seina pada Arthur. "Reon enggak peduli sama gue dan sekarang Lo melakukan hal yang sama." Sambungnya dengan nada putus asa.
Arthur mendekat ke arah Seina dan membisikkan sesuatu di telinganya, "tanggung jawabku hanya menikahi kamu. Bukan untuk menjadi orang yang perhatian padamu. Mungkin kamu tidak akan menyukainya. Tapi, ini bukan tugasku dan seharusnya ini menjadi tugas Ayah kandung dari anakmu. Dan kamu tahu betul jika Ayah kandungnya, bukan aku!"
Seina menghela napas panjang lalu menatap bola mata Arthur, "kenapa sih, Lo enggak pernah melihat gue sebagai perempuan? Kenapa ucapan dan kata-kata Lo selalu kasar. Gue lagi hamil dan gue butuh perhatian, apa itu salah?"
"Tentu saja itu salah! Kamu minta perhatian padaku. Sedangkan aku, tidak punya kewajiban untuk selalu perhatian denganmu. Kamu harus sadar posisi, Sein. Aku dan kamu itu dua orang asing. Seharusnya jangan melampaui batasanmu. Jika kamu menganggap ini akan menjadi sebuah pernikahan sungguhan, maka kamu salah besar. Aku tidak pernah ingin menikah secepat ini dan juga tidak berharap menikah dengan kamu." Tandas Arthur yang berjalan keluar meninggalkan ruang UKS, di mana Seina sedang merebahkan tubuhnya.
Arthur berjalan menuju kelasnya dan sepanjang perjalanan, semua orang sedang membicarakannya secara terang-terangan, mungkin mereka menganggap jika Arthur dan Seina secara tidak langsung membenarkan perjodohan mereka. Mungkin karena selama ini Arthur tidak pernah dekat dengan perempuan maka hal semacam ini pun gampang menghebohkan.
"Arthur keren banget, ya. Lihat Seina pingsan, langsung buru-buru dibawa ke UKS. Kapan gue bisa dapat calon suami kaya Arthur gitu? Udah tinggi, pintar, ganteng, tajir melintir pula. Gue ikhlas sih kalau misalkan gue yang ada diposisi Seina. Siapa yang enggak mau dijodohin sama cowok paling ganteng di sekolah kit—"
Perempuan itu membungkam mulutnya sendiri karena melihat Arthur yang baru saja masuk ke kelas. Kelas pun tiba-tiba hening, lalu mereka seakan melakukan kegiatan lainnya. Berharap jika Arthur tidak akan mendengarnya.
Arthur berjalan mendekat ke arah kursinya, mengambil air mineral dan kemudian keluar kembali. Dia tidak nyaman dengan suasana kelasnya. Ah, atau mungkin teman-temannya yang merasa takut jika bersamanya.
Ponselnya tiba-tiba berdering dan Arthur langsung mengangkatnya.
"Iya, nanti aku yang datang kesana."
###