Derai air matanya, jatuh bagaikan hujan. Matanya sembab dengan bibir yang terkatup sempurna. Badannya tampak menggigil namun berusaha untuk ditahan. Ritme jalannya pun tidak jelas, kadang cepat, kadang melambat. Viola menapaki jalanan setapak demi setapak, menumpukan semua bebannya kepada kedua kaki kecilnya. Berusaha melawan takdir sebisanya dan menatap ke depan menyongsong harapan itu ada. Semua cemoohan dan ucapan menyakitkan itu silih berganti masuk ke telinga. Terlalu sulit untuk seorang gadis berumur 17 tahun mendapatkannya. Viola melewati kerumunan preman yang merupakan tetangganya. Tidak ada gangguan sama sekali walaupun mereka sedang mabuk-mabukan di depan gang. Para preman itu hanya menyapa biasa, seperti tetangga pada umumnya. Viola hanya menjawab sekenanya, tidak mau isakannya

