Bab 4.Terbongkar

1041 Kata
Kini, suasana yang harusnya suka cita, banyak tawa, justru berubah menjadi tegang, bahkan tak ada kebahagiaan di sana. Wajah mereka semua terlihat kaku, manakala ada satu keluarga lagi datang dan menatap sosok babak belur yang kini duduk di kursi single. Evan di pria itu sudah seperti terdakwa yang tengah disidang oleh keluarga korban untuk melakukan interogasi. Sementara itu, dari pihak keluarganya pun sudah los dan tidak mau ikut campur. Semua sudah diserahkan kepada anaknya. "Nak Evan, sebenarnya ini ceritanya bagaimana? Bukankah kamu sendiri yang menjanjikan anak kami akan menikahinya 2 bulan lagi? Lalu, ini apa?" tanya seorang pria paruh baya dengan wajah mulai memerah menahan amarah. "Tenang, Pah!" ucap sang istri bernama Diana kepada suaminya--Moko. Ibu dari Bianca terlihat tengah mengusap punggung sang suaminya. "Bagaimana aku bisa tenang, Mah?" Moko terlihat mulai lepas kendali, dia bahkan hampir melayangkan tangannya ke wajah Evan, tetapi ditahan oleh Diana. "Tolong jangan begini, Pah! Kita bisa bicarakan dengan kepala dingin." Diana memeluk suaminya dengan suara serak menahan tangis. Evan yang melihat itu semakin menunduk. Rasa bersalah karena sudah membuat banyak pihak tersakiti semakin menggerogoti hatinya. "Maaf, Om. Tapi, saya juga tidak bisa lepas dari tanggung jawab," akunya kemudian. "Tanggung jawab apa, Mas Evan? Apa kamu juga lupa dengan janji yang sudah kamu ucapkan kepadaku kemarin?" Bianca yang sedari tadi hanya duduk diam, kini mulai angkat biacra. Jangan tanyakan bagaimana keadaan hatinya! Sakit, bahkan dia merasa sesuatu tengah mencengkeram ulu hatinya. Sesak sehingga membuatnya sulit untuk bernapas. Pria yang dia bukan lagi akan dinikahinya, justru baru saja menikahi wanita lain. "Tolong katakan kepadaku, Mas! Apa yang sebenarnya tengah kamu tutupi?" pintanya dengan air mata yang membasahi pipi. Evan tiba-tiba berdiri, lalu membungkuk dalam tepat di depan keluarga calon istrinya. Sarmila dan juga Salim hanya melengos sedih melihat anaknya yang tengah menghadapi situasi yang cukup rumit itu. "Maaf, Bianca. Maaf juga Om, Tante!" "Maaf? Maafmu benar-benar tidak membuat semua masalah ini selesai, Mas." Bianca yang sudah kadung emosi langsung berteriak. "Aku kecewa kepadamu, Mas!" lanjutnya kesal. "Tenanglah, Sayang. Kita bisa minta penjelasan kepada Evan." Diana kini menenangkan sang anak agar tidak terbawa emosi. Wanita paruh baya itu menatap calon suami dari anaknya dengan tatapan sendu. "Apa kamu tak ada penjelasan apa pun untuk kami, Nak?" "Maaf, Tante. Untuk saat ini, hanya itu saja yang bisa aku jelaskan. Bahwa, aku tidak bisa melanjutkan rencana pernikahanku dan Bianca karena aku sudah mempunyai istri," ujar Evan dengan perasaan bersalah. "b******k! Kamu emang b******n, Mas! Ok, kita selesai sampai di sini!" Setelah menampar Evan, Bianca melempar cincin yang selama beberapa bulan ini mengikatnya. Dia juga memilih pergi dengan membawa kesedihan, dan kekecewaan yang mendalam dalam hatinya. Hening. Kepergian keluarga Bianca seolah kembali membuat ruangan yang tadinya dingin, semakin terasa mencekam. Keluarga pria itu terlihat malu, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Dimas bahkan juga langsung pergi meninggalkan lokasi gedung pernikahan. Evan memegang bagian pipinya yang hari ini sudah mendapatkan banyak luka. Dia meringis sakit, tetapi rasa sakit itu memang pantas didapatkan olehnya. Pria yang sudah melakukan hal bodoh dan merenggut kesucian seorang perempuan, pantas dihukum. Dimas dan Bianca adalah dua sosok yang pastinya memiliki peran penting dalam hidup Evan, serta Kayla. Mereka adalah pasangan masing-masing yang niatnya kelak akan menjadi teman seumur hidup. Namun, takdir justru berkata lain. "Kamu gak apa-apa, Nak?" Sarmila segera membantu anaknya untuk duduk. Dia meringis pilu saat mendapati kondisi anak sulungnya yang begitu mengenaskan. Evan menepuk tangan ibunya sambil memberikan senyuman menenangkan. Evan selama ini memang terkenal memiliki kepribadian baik, serta tenang, dan dianjuga selalu menjadi penenang di saat kondisi keluarga sedang ricuh. "Mah, aku baik-baik saja. Dimas gimana?" Ekor matanya lalu mencoba mencari keberadaan adiknya, tetapi kini yang tertinggal hanya mereka bertiga saja. "Kamu ini lagi kayak gini malah masih mikirin adikmu! Sekali-kali egoislah, Nak!" Evan meringis, lalu menerima bantuan ibunya yang tengah membersihkan bekas darah pada luka wajahnya. "Tapi, semua gak akan seperti ini jika aku bisa menahan diri, Ma," ujarnya sambil menunduk. "Aku tahu kamu, Nak. Ini pasti terasa berat untukmu, tapi percayalah! Jika dalam setiap masalah, pasti akan ada jalan. Jadi, jangan menyerah, Sayang. Mama akan selalu mendukungmu." Sarmila memeluk putranya sambil mengusap bahu putra sulungnya. "Lalu papa dan Dimas bagiamana, Ma?" Wajah pria itu sudah bengep, tetapi masih saja memedulikan ornag lain. "Aku merasa bersalah kepada mereka, Ma!" "Untuk saat ini, biarkan saja mereka. Fokus pada kehidupan keluarga kalian." Sarmila mengusap rambut putra pertamanya itu dengan air mata yang membasahi wajah. "Kali ini, kalian sudah menjadi suami-istri, kalau bisa didiklah istrimu dan jaga rumah tangga kalian dengan sebaik mungkin!" "Baik, Mah." *** Di dalam kamar, Kayla kini tengah duduk diam. Matanya terlihat kosong menatap pantulan dirinya sendiri pada kaca besar di depannya. Tidak ada kebahagiaan di sana, berbanding terbalik dengan gaun pernikahannya yang begitu cantik. "Kay, apa aku boleh masuk?" Suara ketukan pintu dan suara dari seorang pria yang berada di luar membuat Kayla menoleh. Perempuan berusia 23 tahun itu hanya mengerjap, lalu memilih untuk menyisir rambutnya yang memang sudah bersih dari aksesoris. Akhirnya, karena tidak mendapatkan sahutan apa pun dari orang yang ada di dalam, si tamu itu pun masuk ke dalam kamarnya. Ya, itu adalah kamar milih Evan dan mereka berdua kini tengah berada di kediaman Jatmiko. "Kamu belum mandi, Kay?" Evan berjalan dengan kondisi yang sedikit memprihatinkan, tetapi Kayla seolah tak peduli dan dia hanya sibuk menatap pantulan wajahnya sendiri. Pria itu tersenyum kecut karena diabaikan oleh istrinya sendiri. Dia kemudian berdiri di belakang tubuh Kayla hingga kini mereka berada dalam satu frame yang sama. "Apa kamu menyesal telah menikah denganku, Kay?" "Apa aku harus menjawabnya?" "Setidaknya kita mencegah hal yang tidak-tidak, Kay. Jikalau dirimu memang menyesal menikah denganku, kamu bisa belajar untuk menerima keadaan kita sekarang." "Keadaan yang bagaimana maksud kamu, Van?" Kening Evan mengernyit kala mendengar Kayla hanya memanggil namanya. Jika biasanya perempuan itu akan memanggilnya Abang, atau Bang Evan, tetapi hari ini justru hanya nama kecilnya saja. Pria itu lalu menatap balik sosok cantik yang tengah menatapnya dingin dari pantulan kaca. "Keadaan saat di mana kamu yang memintaku untuk menidurimu, Kay. Walaupun aku sudah menolak, tetapi--" "Cih! Apa hanya alasan itu saja yang akan kita bahas di sini? Kenapa tidak kita bahas juga perasaan gilamu padaku?" "Apa maksud kamu?" tanya Evan mulai bergetar gugup. Pria itu yakin jika Kayla tidak akan tahu bagaimana perasaan yang sesungguhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN