Kayla menyeringai penuh kemenangan. "Maksudku udah jelas, kalau kamu ini sebenernya mencintaiku, 'kan? Jadi, makanya kamu gak nolak waktu aku ajak begituan!"
Evan menelan kasar ludahnya. "Bagaimana dia bisa tahu?" tanyanya dalam hati.
Kayla berdecih sinis kala menyadari pria di belakang tubuhnya mendadak gugup. Dia lalu berdiri dan menatap Evan dengan mata menyorot dingin sosok yang baru saja sah menjadi suaminya beberapa jam yang lalu. Namun, karena selisih tinggi badan mereka yang cukup jauh membuat Kayla kesulitan.
"Ish, nyebelin banget, sih!" Kayla tak kehabisan akal hingga akhirnya memilih naik kursi yang tadi didudukinya hingga kini wajah mereka sejajar, walaupun lebih tinggi sedikit dirinya.
Kayla berdeham dan menatap Evan sambil berkacak pinggang. "Apa kamu pikir aku tidak tahu jika selama ini, calon kakak iparku sendiri menyimpan perasaan padaku? Kamu salah! Aku tahu, Van. Tapi, aku lebih memilih abai. Karena apa?" jedanya dengan satu sudut bibir perempuan itu terangkat naik. "Di dalam hati dan pikiranku hanya ada Dimas, bukan kamu!"
Evan tidak lantas langsung gentar, ataupun ciut. Dia justru dengan berani menatap balik sang istri. "Ah, jadi kamu sudah tahu akan perasaanku? Baguslah. Jadi, aku tak perlu bersusah payah memberitahukan apa yang ada dalam hatiku selama ini padamu." Evan berkata santai sambil menggulung siku kemejanya hingga otot lengan pria itu nampak jelas.
"Dasar pengkhianat!" cibir Kayla dengan pandangan jijik.
"Siapa ... Aku?" Pria itu lalu balik menatap kedua bola mata Kayla dengan tatapan biasa saja, bahkan terkesan santai seolah tak terintimidasi, apalagi setelah mendengar pengakuan Kayla tadi. "Bukankah seharusnya kamu juga mengaca pada dirimu sendiri, Kayla," lanjutnya.
"Aku? Ada apa denganku? Selama ini aku selalu setia bahkan tak pernah berpikir untuk berkhianat dari Dimas. Jadi, bagaimana bisa kamu justru melimpahkan semua kesalahan ini padaku?" Kayla mengelak semua prasangka Evan dengan sedikit gemetar.
Pria itu melipat bibirnya, menahan diri untuk tidak tersenyum. Dia terus memerhatikan wajah Kayla dengan tangan terlipat di depan d**a. "Kayla, kamu tahu jika perasaan manusia tidak bisa diatur? Kita tak akan pernah tahu ke mana arah perasaan akan cinta kita akan berlabuh. It's ok jika kamu emang masih mencintai adikku. Tapi, asal kamu ingat, Kay, kalau yang namanya takdir itu sudah ada yang mengatur dan aku percaya, aku serahkan semua ini kepada Tuhan."
Perempuan itu mencibir. "Gayamu sok banget, Van. Udah kayak jadi laki paling bener aja di dunia ini!" Kayla memandang remeh Evan.
Pria itu mengedikkan bahu. "Seenggaknya aku berusaha untuk mencoba menjadi pribadi yang lebih baik. Tapi, semua kembali kepada takdir."
"Bulshit! Cinta dan jodoh itu harus dikejar, Van, bukan malah hanya duduk diam dan menunggu!" Terlihat sekali jika Kayla tidak setuju dengan ucapan Evan. "Ah, pantas saja dirimu gak nikah-nikah," cibirnya.
Evan menatap perempuan yang selama ini disukainya dengan tatapan tak terbaca. Dia juga terlihat begitu tenang seolah tidak terpengaruh akan hinaan atau sindirnya yang diberikan Kayla untuknya. Pria tampan itu justru hanya memilih diam dan menunggu kelanjutan dari ucapan Kayla tentangnya.
"Aku hanya menunggu waktu yang tepat, Kay." Pria itu berbicara kembali saat tak mendengar suara Kayla. Dia bahkan dengan berani semakin mendekatkan wajah mereka. "Menunggu seseorang yang selama ini selalu kupanjatkan dalam setiap doaku!"
"Hah! Menunggu siapa?" Kayla menahan d**a bidang Evan yang terus saja berusaha mendekatinya. "Hentikan, Van! Kau bisa membuatku terjatuh!" tuturnya lagi saat merasakan kakinya sudah berada di ujung kursi.
Sedikit lagi dia mundur maka perempuan itu akan jatuh dan kepalanya bisa membentur meja rias.
Evan yang pengertian langsung menarik pinggang Kayla hingga kini tubuh perempuan itu sudah berada dalam jangkauannya. "Menunggu seseorang yang mau menerimaku apa adanya," jawabnya dengan mata tertuju kepada perempuan di depannya.
Akan tetapi, memang Kayla yang tidak peka membuatnya tetap bertingkah jutek kepada Evan. "Cih! Mau sampai kapan pun jika yang kamu lakukan hanya bersembunyi di balik tumpukan dokumen dan file-file sialan itu, jodohmu juga tak akan pernah datang," sindirnya pedas.
Evan tersenyum kecil. "Buat apa menunggu lagi jika memang kita sudah menikah?" Kini, pria itu jauh lebih relaks, apalagi saat melihat perempuan yang memang selama ini dicintainya sudah berada dalam pelukannya. Yah, walaupun cara yang mereka lakukan salah, tetapi dia berjanji akan membahagiakannya.
Kening Kayla mengernyit. "Apa maksud kamu, Van? Ah! Apa kamu pikir hubungan pernikahan ini akan berjalan sebagaimana mestinya pernikahan orang lain? Wah! Kalau sampai itu yang ada di dalam otakmu berarti kamu harus kecewa, Van. Karena sampai kapan pun, aku .... Kayla gak akan pernah mau menjadi teman hidupmu!" sarkasnya penuh makna.
Evan mengangguk. "Tapi, yang namanya hati itu bisa saja berubah, Kay. Mungkin kamu sekarang bisa bilang no kepadaku, tetapi beberapa bulan, atau tahun kemudian ... Siapa yang tahu?" Bahu pria itu dikedikkan dengan senyuman misterius.
Tangan Kayla mengepal di sisi tubuhnya. "Sial! Kenapa kamu nyebelin banget sih, Van!" Perempuan itu sudah tidak peduli lagi akan tanggapan Evan tentangnya. Dia pun mendorong tubuh kekar pria itu dan beralih turun dari kursi dengan kaki yang dihentakkan.
"Dasar sialan! Berani sekali dia menceramahiku. Mari kita lihat, sampai berapa lama kamu bertahan dengan pernikahan ini! Karena aku akan membuat dia menyesal telah menikah iku!" gerutu Kayla lagi.
Evan melihat setiap gerakan yang dilakukan oleh Kayla. Tangan pria itu refleks memegang siku perempuan itu yang hendak jatuh karena berniat turun.
"Gak usah pegang-pegang, deh!" sentak Kayla sambil menepis tangan Evan kasar.
Pria itu lalu mengangkat kedua tangannya ke atas dan memberikan jalan bagi Kayla untuk berjalan menjauhinya. Dilihatnya langkah kaki sang istri yang terlihat berbeda. Keningnya mengernyit dalam. "Apa kakimu terkilir, Kay?" tanyanya langsung.
Pertanyaan itu mampu membuat langkah kaki Kayla yang terpincang segera berhenti. Ditatapnya pria itu dari balik bahunya. "Ini semua karena kesalahan kamu! Jika saja kau tak mengambil kesucianku, maka kita tidak akan pernah mengalami hal ini," ujarnya menahan geram.
Evan tersenyum meringis. Dia lagi yang disalahkan, sungguh miris sekali nasib pria itu. Niat hati menolong sang adik ipar, justru kini dirinya harus menerima hujatan, bahkan kebencian dari Dimas karena sudah mengambil calon istrinya.
"Salahkan saja aku, Kay. Aku tidak masalah. Asal itu bisa membuat hatimu tenang," kata Evan sambil menatap punggung Kayla. "Aku ikhlas, jika memang itu bisa membuatmu lega."
"Cih! Tidak usah sok baik di depanku. Karena mulai sekarang aku akan membencimu!"
Hati Evan seketika langsung tersayat perih. Sakit, tetapi tak berdarah dan rasa itu sungguh sangat tidak nyaman.
Ironisnya, semua masalah ini tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah berhari-hari tinggal bersama di rumahnya, Kayla justru bertindak sesukanya dengan tidak mau mengurusnya. Setiap hari yang dilakukan perempuan itu hanya di dalam kamar jika keluar pun, hanya sekadar untuk makan saja. Selebihnya, yang dilakukan. Kayla hanya mengurung diri.
Kini, tepat satu bulan usia pernikahan mereka. Akan tetapi, tidak ada kemajuan apa pun dalam hubungan mereka hingga membuat Evan semakin terlihat tidak bersemangat. Luka-luka di wajah dan tubuhnya sudah membaik, bahkan ketampanan pria itu juga sudah kembali terpancar.
Berbeda dengan suasana hatinya yang hingga sekarang belum juga membaik. Ditambah rasa lelah dan juga bingung membuat Evan memutuskan untuk menepikan mobilnya di sebuah danau dekat rumahnya. Dia menatap hamparan air tenang yang seolah tengah meledeknya.
"Kenapa begitu sulit mendapatkan hatimu, Kay? Apa aku memang tak sepantas itu mendapatkan cintamu?"