Kayla terbangun dari tidurnya karena sebuah dorongan kuat dari dalam lambungnya. Dia yang masih mengantuk harus membuang kantuk itu dan segera bergegas lari menuju kamar mandi. Dia langsung memuntahkan makanan sisa semalam dengan perasaan yang sungguh tidak nyaman.
Air mata sudah menganak sungai di pelupuk mata perempuan berusia 23 tahun tersebut. Dirinya meremas bagian perutnya saat dorongan itu masih ada, bahkan keningnya mengernyit saat rasa sakit membuatnya tak bisa bertahan.
"Hiks!" Kayla langsung terduduk lemas sambil bersandar di tembok sambil mengusap bibirnya. Dia menangis tergugu di samping closet.
Akan tetapi, baru sebentar dia bisa bernapas lega, dirinya sudah kembali membuka tutup closet itu dan memuntahkan sisa makanan itu. "Ark, pahit sekali, Mah!" Tangannya terus meremas bagian perut saat masih saja ada dorongan dari dalam, padahal cairan yang keluar saja sudah berwarna kuning.
"Ada apa dengan diriku? Kenapa beberapa hari ini aku selalu muntah di pagi hari?" Perempuan itu menangis sendirian di kamar mandi sambil memeluk tubuhnya. "Mah, tolongin Kayla! Kayla sakit di sini, Mah," rintihnya mendongak ke atas seolah memanggil orang tuannya.
Sementara itu, bibi yang bertugas merapikan rumah tidak sengaja lewat depan kamar majikannya segera melongok. "Kok, aku denger suara Non Kayla muntah-muntah, yah? Atau, ini hanya perasaanku saja?" Namun, suara itu kembali terdengar lagi hingga membuat wanita itu memutuskan untuk mengetuk pintu tersebut. "Non, ini bibi. Apa saya boleh masuk?"
Evan yang baru saja kembali setelah nge-gym di ruang pribadinya segera mengernyit saat melihat bibi yang sibuk mengetuk pintu kamar istrinya. Dia yang penasaran segera berjalan mendekat. "Ada apa, Bi?" tanyanya penasaran.
Bibi yang melihat kedatangan Evan--sang majikan-- segera melangkah mundur dan membungkuk sopan. "Tuan."
Evan melihat sekilas ke arah pintu kamar Kayla, lalu balik lagi kepada pembantunya. "Ada apa ini, Bi? Kenapa kamu pagi-pagi sudah membuat keributan?"
Bibi terlihat cemas dan juga gugup. "Maaf, Tuan. Tapi, itu, Tuan ... Nona Kayla," jelasnya bingung.
Evan yang mendengar nama istrinya disebut segera memasukkan tangannya ke dalam saku celana trainingnya. Ada sedikit rasa penasaran akan apa yang terjadi di balik kamar itu.
"Nona Kayla kenapa? Dan ada apa dengan wajahmu?" Kening pria itu terlihat mengernyit bingung. "Apa terjadi sesuatu dengan istriku?"
Bibi mengangguk, tetapi setelah itu menggeleng. "Saya kurang tahu, Tuan."
Evan menatap pembantu rumah tangganya dengan pandangan bingung. "Tolong, Bi, kalau ngomong yang jelas. Jadi, terjadi sesuatu dengan Kayla atau tidak?" Pria itu mulai mempertegas pertanyaan.
Bibi yang takut dan gugup justru tidak bisa berkata-kata. Dia hanya menunjuk ke arah pintu, lalu menyebut nama Kayla beberapa kali.
"Aish!" Evan yang sudah tidak sabar segera mengetuk pintu kamar Kayla. Sekali, dua kali, hingga kelima kali, tetapi tidak ada tanggapan membuat pria itu segera mengambil langkah untuk mendobrak pintu kamar sang istri.
"Kayla!" panggil Evan keras. Namun, dia tidak menemukan sosok yang dicari. Ranjang kosong, tetapi berantakan berarti sang istri memang ada di dalam. "Kay, kamu di mana? Ini aku Evan!"
Bibi yang mengekor di belakang sang majikan segera bergegas menuju kamar mandi. Entah kenapa firasatnya mengatakan jika Nona Mudanya ada di dalam. Benar saja, dia langsung berteriak kaget saat melihat Kayla yang kini sudah tergeletak lemas di lantai. "Tuan, itu Nona Kayla!"
Evan yang mendengar teriakan bibi segera berlari menyusul wanita paruh baya itu. Matanya seketika membelalak kaget. "Kayla!"
Kakinya langsung menerobos masuk ke dalam kamar mandi dan menepuk pipi perempuan itu dengan cemas. "Kay, bangun! Kamu kenapa, Sayang?" Wajah pria itu terlihat begitu cemas.
"Tuan, sebaiknya bawa Nona ke ranjang saja," celetuk bibi memberi usul.
Evan yang kalut sampai tidak bisa berpikir. Dia lantas mengangkat tubuh Kayla ala bridal style dan membawanya menuju ranjang. "Kay, bangun!" ujarnya sekali lagi, tetapi perempuan itu terlihat sudah lemas hingga tak sadarkan diri.
Bibi segera berlari keluar dan mencari minyak kayu putih di kotak p3k yang ditaruh di ruang tengah. Dia kemudian memberikan minyak tersebut kepada tuannya agar membalurkan ke perut dan juga bagian leher dan tengkuk Kayla.
Evan menurut dan melakukan apa yang dikatakan oleh bibi. Namun, saat tangan pria itu ingin menyingkap bagian kaos, perempuan itu segera menepisnya lemah. "Kamu sudah bangun, Kay?"
"Aku baik-baik saja. Jadi, jangan pernah menyentuhku!" katanya pelan, tetapi cukup membuat hati Evan meringis pilu.
Pria itu lalu memberikan botol minyak tersebut kepada bibi. "Bi, tolong bantu balurkan ke perut Kayla," ujarnya sambil bangun dari sisi ranjang sang istri.
Kayla sendiri melengos tanpa berniat menatap sang suami yang terlihat kecewa. Namun, anehnya ada sedikit perasaan yang meminta pria itu untuk tetap tinggal. Akan tetapi, ego seorang Kayla jauh lebih tinggi sehingga membuatnya memilih abai.
Evan sendiri memilih keluar kamar Kayla untuk memanggil dokter. Pria itu juga memundurkan jam kerjanya hanya untuk memastikan jika kondisi sang istri baik-baik saja.
30 menit kemudian, Dokter Gladis datang ke rumah mereka. Wanita itu ternyata adalah senior SMA Evan yang kini sudah menjadi seorang dokter.
"Siapa yang sakit, Van?" tanya wanita itu sambil berjalan beriringan menuju kamar Kayla.
"Istriku, Dis."
"Eh, tunggu dulu!" Gladis menarik tangan Evan, lalu menatapnya dengan pandangan bingung. "Sorry, bukankah kamu harusnya nikahnya beberapa minggu lagi?"
Evan tersenyum kecil, lalu kembali berjalan. "Nanti aku jelaskan, Dis. Yang terpenting sekarang adalah kondisi istriku."
Wanita itu pun mengangguk dan segera ikut masuk ke dalam sebuah kamar yang di mana ada satu orang perempuan yang kini sudah kembali terlelap di atas ranjang. "Dia istrimu?" Keningnya semakin mengernyit kala istri yang dimaksud oleh Evan bukanlah Bianca, melainkan orang lain.
"Em."
"Kamu hutang penjelasan padaku, Van," ujar Gladis dengan senyum seringai.
Evan pun hanya mengangguk, lalu melihat bagaimana Gladis memeriksa tubuh Kayla. Dia juga ikut mengernyit kala melihat si teman mengerutkan kening saat memeriksa nadi istri dari temannya dan juga saat stetoskop itu menyentuh bagian perut Kayla.
"Ada apa, Dis? Apa ada sesuatu yang berbahaya terjadi pada istriku?" tanya pria itu tak sabar.
Gladis melepaskan stetoskop dari telinga dan memasukkan ke dalam tas kerjanya. "Sebenarnya aku kurang yakin, Van. Tapi, aku merasakan ada kehidupan lain di dalam tubuh istrimu."
"Hah? Maksudnya gimana? Kamu tolong jelaskan dengan benar?" Evan semakin dibuat tak mengerti hingga menuntut penjelasan dari Gladis.
Wanita itu lalu menyobek salah satu kertas dari dalam tasnya dan menuliskan sesuatu di sana. Diberikannya kertas tersebut kepada Evan. "Kamu bisa hubungi, atau datang langsung ke rumah sakit untuk menemuinya. Dia adalah salah satu dokter kandungan terbaik di rumah sakit kami."
"Dokter kandungan?"
"Iya, Van. Sepertinya istrimu sekarang tengah mengandung. Tapi, lebih pastinya lagi kamu bisa datang ke rumah sakit untuk melakukan USG di sana."
"Jadi, istriku hamil?"