Bab 7. Bunuh diri

1173 Kata
Tidak mau berlama-lama di rumah sakit, kini Evan dan Kayla sudah tiba di rumah. Dua orang itu sama sekali tidak saling bertegur sapa sejak tadi. Kabar kehamilan Kayla pun seolah tak membuat si pemilik tubuh berubah antusias, dia justru terkesan acuh. "Lebih baik kamu sekarang istirahat, Kay. Kamu masih ingat kan, apa yang dikatakan oleh dokter?" "Kamu b******n, Van. Kamu benar-benar sudah membuat hidupku menderita. Lalu, apalagi sekarang? Hamil. Hah! Apa kamu pikir aku akan begitu mudah menerima kehamilan ini? Jangan mimpi!" "Apa maksud kamu, Kay?" Evan menyerongkan duduknya agar bisa menatap wajah sang istri. Perempuan itu melipat tangannya di depan d**a sambil mengangkat dagu sinis pada pria di hadapannya. "Apa telingamu tuli?" "Jaga bicara kamu, Kau!" "Why? Kamu marah? Tersinggung? Silakan! Itu hak kamu. Toh, ini mulut-mulut aku. Jadi, kamu gak berhak buat ngelarang aku untuk berbicara!" Evan menatap Kayla dengan tatapan kecewa. "Seenggaknya tolong jaga bicara kamu di depan calon anak kita, Kay!" Kayla mendengkus sinis saat mendengar perhatian dari Evan. Dia menoleh menatap dingin sang suami yang masih bertahan duduk di kursi kemudi. "Denger yah, Van. Mau sampai kapan pun aku gak akan pernah menerima anak ini. Camkan itu!" Evan menarik tangan Kayla yang sedang menunjuk tepat wajahnya. Ditatap manik coklat si istri yang kini tengah berpendar muak dan jijik saat melihatnya. Sakit sekali hatinya saat ditatap sedemikian rupa oleh Kayla. "Kapan kamu akan menerimaku, Kay?" batinnya. "Lepas!" sentak Kayla. Evan seger tersadar dari lamunannya. Dia semakin kuat memegang tangan sang istri. "Dengar, Kay. Apa pun yang akan kamu lakukan, aku gak akan pernah membiarkan niat itu terlaksana!" ujarnya balas mengancam si istri. Kayla menatap wajah Evan dengan mata melotot tajam. "Terserah!" Setelah itu, Evan mulai pun mulai melepaskan tangan Kayla dan kesempatan itu segera diambil oleh perempuan tersebut untuk pergi dari mobil. *** Malam harinya, Kayla yang baru saja terbangun setelah mimpi buruk segera melihat sekitar. "Apa itu tadi? Kenapa itu terasa nyata?" Tangan perempuan hamil tersebut langsung memeluk kedua lututnya dengan mata menatap awas ke arah sekitar. "Dimas? Kamu di mana, Sayang? Aku kangen sama kamu," gumam Kayla sambil menggigiti kuku jarinya. Seolah teringat sesuatu, pandangan matanya lalu turun ke area perutnya yang masih langsing. Tangannya tanpa sadar memegang bagian depan perutnya dan hatinya berdesir ketika merasakan ada kehidupan di sana. Namun, senyum itu langsung surut saat teringat jika anak yang ada di dalam kandungannya adalah anak Evan, bukan Dimas. "Aku gak mungkin hamil anak pria itu. Gak! Pokonya i-ini gak boleh terjadi. Aku harus gugurkan kandungan ini! Aku juga gak mau melihat Dimas tambah kecewa padaku." Kayla langsung meracau dan gelagatnya pun terlihat begitu aneh. Perempuan berusia 23 tahun itu merasa stress dengan berita yang baru saja dia dengar. Hubungan satu malam itu ternyata membuatnya harus hamil. Hamil anak Evan, kakak iparnya. Memikirkan itu membuat Kayla langsung berteriak DNA menjambak rambutnya sendiri. Mungkin bagi wanita lain, ini adalah kabar baik. Akan tetapi, bagi Kayla ini justru salah. Kehamilannya adalah sebuah aib yang mana akan semakin membuatnya sulit kembali bersatu dengan Dimas. Ya, Kayla masih sangat mencintai calon suaminya itu. Akan tetapi, pria itu langsung menghilang setelah pertemuan terakhir mereka di atas pelaminan. Selama sebulan ini, Kayla sudah berusaha mencari dan menghubungi Dimas, tetapi pria itu justru memblokir nomor perempuan tersebut. Bingung hingga membuatnya tertekan. Kini, dirinya justru hamil. Lantas, bagaimana bisa perempuan itu mengejar cinta Dimas jika dalam kondisi berbadan dua, pasti pria itu tidak akan sudi menerimanya. "Ya, aku harus gugurkan kandungan ini!" Perempuan itu lalu melangkah turun dari ranjang menuju keluar kamar. Gelap dan juga sepi adalah hal pertama yang Kayla lihat. Pukul 23.00 wib. Evan pastinya sudah tidur di kamar, sedangkan bibi memang tidak menginap di rumah, wanita paruh baya itu tinggal di paviliun belakang. Jadi, kesempatan itu seolah membuat peluang besar bagi Kayla melancarkan aksinya. Sesampainya di dapur, Kayla lalu membuka laci satu persatu untuk mencari sesuatu yang bisa menggugurkan kandungan. Tiba-tiba, pandangan matanya menemukan sebuah benda tajam dan panjang yang ada di samping tak piring. "Apa aku menggunakan ini saja?" Matanya berkilat antusias. Setan dalam diri perempuan itu berbisik, "lakukan, Kay! Sakitnya sebentar, kok." Sementara malaikat dalam diri Kayla berkata, "jangan pernah kamu melakukan hal yang justru akan membuatmu menyesal, Kay! Pikirkan keluargamu dan juga suamimu. Mereka pasti akan sedih jika kamu melakukan itu." "Jangan pernah dengarkan dia! Dia itu Cemen. Lagian, kamu itu masih muda, hidupmu masih panjang. Bahkan, kamu saja baru lulus kuliah dan belum merasakan menjadi orang sukses. Hah, masa iya kamu harus mengorbankan masa mudamu hanya untuk mengurus anak!" Sisi jahat itu kembali membuat Kayla semakin mendekatkan pisau tajam itu ke area tangan. "Iya, lebih baik aku mati daripada harus hidup, tapi gak bersama dengan Dimas. Cintaku hanya untuk Dimas, bukan siapapun, apalagi Evan," tutur perempuan itu seolah sudah kehilangan akal. Sementara itu, Evan yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja mendadak haus. Dia berniat menuangkan teko ke gelas, tetapi ternyata airnya sudah habis. Pria Itu pun menghela napas lelah. Langkah kakinya membawa Evan keluar pintu ruang kerja menuju dapur yang letaknya tidak jauh. Namun, langkahnya terhenti kala menemukan sesuatu yang ganjil di sana. "Siapa itu? Bukankah bibi sudah pulang sedari tadi?" tanyanya was-was. Pria itu pun segera menggegam teko itu dengan erat dan berniat akan memukulkan benda keramik tersebut ke kepala orang yang mencurigakan itu. Akan tetapi, semakin didekati, kecurigaan itu justru berubah menjadi keterkejutan, apalagi setelah melihat benda tajam yang sedang dipegang oleh orang itu. "Kayla! Apa yang kamu lakukan dengan pisau itu? Tolong, taruh kembali benda itu, Kay! Itu sangat berbahaya!" Evan sudah menaruh teko di atas meja makan, sementara dirinya kini berada beberapa langkah saja dari sang istri. "Berhenti di sana! Atau, benda ini akan melukaiku?" Kilatan penuh emosi kini berpendar pada netra Kayla. Kondisi yang remang tak membuat Evan kesulitan melihat wajah cantik istrinya. "Tolong jangan lakukan itu, Kay!" "Kenapa kamu melarangku? Aku ini gak cinta sama kamu dan aku juga gak mau punya anak dari b******n seperti kamu!" Pisau itu terus ditekan ke bagian urat nadinya. Mengancam dengan tatapan datar seolah ia tak takut mati. Evan menggeleng. "Iya aku tahu, Kay. Tapi, tolong jangan lakukan hal itu! Kita bis bicarakan semuanya dengan baik-baik!" Perempuan itu tertawa mengejek. "Bicara baik-baik? Apa kamu ini sedang mengkhayal? Hei, Tuan! Yang namanya hamil di luar nikah itu adalah aib. Momok buat keluarga kita. Jadi, bukankah sebaiknya aku bunuh saja janin yang ada dalam diriku?" "Jaga bicaramu, Kay! Aku tak pernah menganggap anak yang ada dalam perut itu adalah aib." "Bagimu tidak, tapi bagiku ini adalah aib, bahkan beban yang tidak akan pernah bisa aku terima sampai kapan pun! Jangan mendekat! Atau, kamu akan melihat anak ini aku bunuh?" teriak Kayla saat Evan semakin mendekat kepadanya Evan menggeleng panik. Dia terus berusaha mencari celah untuk mengambil benda tajam itu dari tangan Kayla. Namun, kesempatan itu begitu sulit karena sang istri terus saja melihat pergerakannya. "Ok, tapi tolong taruh pisau itu, Kay. Aku janji gak akan mendekat." "Apa kamu pikir aku akan percaya? No!" Saat itulah Evan maju dan merebut pisau yang digenggam oleh Kayla. Akan tetapi, justru hal selanjutnya yang terjadi membuat mereka berteriak. "Evan!" "Kay!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN