Evan meraih pergelangan tangan kanan Kayla yang sialnya sedang melakukan gerakan menghunus. Tidak dapat mengelak, plintiran tangan pria itu membuat pisau justru menghunus perutnya sendiri. “Argh!”
“Evan!” Kayla seketika langsung berteriak kaget setelah melihat pisau yang menancap di perut suaminya.
Tubuh dua orang itu luruh ke lantai dengan tangan si pria yang masih menggenggam tangan Kayla. “K-kay! K-kamu gak apa-apa, kan?” tanyanya dengan bibir mengulas senyum khawatir.
“Dasar bodoh! Kamu ngapain melakukan ini, b******k! Lihat, sekarang kamu jadi begini, kan?” Air mata perempuan itu langsung luruh menjatuhi pipi Evan. Tangannya gemetar sambil berusaha menekan perut sang suami agar darah tak semakin merembes.
Evan terbatuk.
“Yakh, jangan banyak bergerak! Nanti darahnya semakin banyak keluar!” omel Kayla di antara tangisnya. Dia lalu melihat ke arah sekitar. “Bi! Bibi! Mang Ujang! Tolong ke sini!” teriak perempuan itu kemudian.
“Sshhh! K-kamu gak perlu merasa bersalah, Kay. It’s ok. I’m fine,” ujar Evan sambil mengulas senyum kecil. Tangannya segera mengusap wajah sang istri. “Aku gak apa-apa.”
“Fine darimananya? Gak usah ngaco, deh!” Kayla menatap Evan dengan pandangan setengah kesal. “Ish, ke mana sih si bibi dan juga mang Ujang? Kenapa mereka gak ke sini?”
Kayla menoleh ke arah belakang, tetapi bibi dan juga satpam yang berjaga di depan tak jua mendatanginya.
Sepertinya Nona satu ini lupa jika jarak rumah mereka dan juga paviliun belakang di mana si bibi tinggali cukup jauh.
“Bang kamu tunggu di sini dulu, yah! Aku akan keluar dan mencari bantuan!” tutur Kayla dengan wajah paniknya.
Evan hendak mencegahnya, tetapi sayang perempuan itu sudah lebih dulu pergi meninggalkannya. Akhirnya yang dia lakukan hanya menggeser posisinya hingga bersandar di sebuah lemari. Dia meringis, menahan rasa sakit di area perutnya.
Sesekali netranya melihat ke mana arah pergi sang istri, tetapi perempuan itu tak juga terlihat. Pikiran buruk pun mulai menghinggapinya. “Come on, Van! Kamu gak boleh punya pikiran begitu. Kayla pasti bakalan balik lagi, kok!” ujarnya sambil meringis menikmati rasa sakit itu.
Tidak lupa pria itu terus mensugesti dirinya sendiri agar percaya dengan sang istri. Tiba-tiba sebuah pikiran kembali melintas, bahkan menyebutnya bodoh karena sudah mau-mau saja terluka hanya demi perempuan.
“Bang Evan, kamu di mana?”
“Di sini.” Mukutnya ingin berteriak, tetapi justru yang keluar justru suara lemah. Entahlah, Evan pun tidak tahu. Darah bahkan sudah mulai mengotori lantai dan tubuhnya pun sudah mulai lemas.
Suara derap langkah beberapa orang mulai terdengar hingga membuat Evan seketika mendongak. Bibirnya mengulas senyum kecil ketika Kayla datang bersama dengan Mang Ujang dan juga Bibi Ratmi.
“Astaga, Tuan! Kenapa Tuan bisa begini? Apa baru saja rumah kita kedatangan maling, atau perampok?” Bi Ratmi yang kaget, sontak mulai bertanya.
Kayla menggigit bibir bawahnya. Dia merasa bersalah, tetapi juga takut.
Evan yang menyadari itu segera menarik tangan Kayla hingga membuat perempuan itu menatap matanya. “Gwenchana,” tuturnya pelan disertai dengan senyuman.
Kayla kembali menangis melihat sikap Evan yang sama sekali tidak menyalahkannya. Dia lalu menyusut ingusnya DNA mendongak menatap Mang Ujang dan juga Bibi Ratmi. “Apa yang kalian tunggu? Ayo cepat kita antar Bang Evan ke rumah sakit!”
Tanpa sadar, Kayla mulai kembali memanggil sang suami dengan panggilan yang biasanya selalu dilakukan selama beberapa bulan ini. Rasa emosi dan juga cemas membuat pikiran perempuan itu mulai melembut.
Evan tidak sempat mendengar apa pun karena dia mulai kehilangan fokus. Mang Ujang yang dibantu oleh Kayla segera memapah tubuh besar Evan untuk dibawa ke mobil.
Pria itu sendiri sudah hampir kehilangan kesadaran karena banyaknya darah yang keluar dari perutnya. Baju Kayla juga turun ikut kotor terkena darah sang suami. Namun, wanita itu tidak peduli.
“Jalan, Mang!” titah Kayla kepada Mang Ujang. Sementara bi Ratmi ditinggal untuk jaga rumah.
“Baik, Non,” jawab Mang Ujang.
Kayla lalu mengangguk. Fokusnya kini beralih ke arah pria di sampingnya. Dia meringis saat melihat wajah Evan yang sudah mulai terlihat pucat. “Bang, kamu masih kuat, ‘kan?”
Sebuah suara dan genggaman erat dari arah samping membuat mata pria itu terbuka. Evan menatap perempuan hamil di sisinya yang kini tengah mengulas senyum sendu ke arahnya. “Em, A-aku masih kuat, kok.”
Anggukan kepala Evan sama sekali tidak membuat Kayla tenang. Dia sekali lagi meminta kepada Mang Ujang untuk menambah kecepatan kendaraannya.
“Baik, Non.”
“Kay, kamu gak usah cemas.” Evan menepuk tangan Kayla pelan. Agar perempuan itu tahu jika dirinya baik-baik saja, walaupun kenyataannya berbalik.
“Bang Evan mending diam aja, deh! Ini tuh keadaan genting, mana bisa Mang Ujang memacu mobilnya dengan kecepatan biasa. N-nan-nanti, kalau terjadi sesuatu kepada Bang Evan gimana? Terus nanti a-aku harus ngomong apa ke mama dan papa?”
Terlihat sekali jika Kayla kini tengah cemas hingga membuatnya sedari tadi menggigiti kuku jarinya. Belum lagi dia merasa perjalanan ke rumah sakit ini begitu lama membuat dia lagi-lagi mengomel kepada Mang Ujang.
Evan diam-diam merasa senang, manakala dirinya bisa kembali mendengar ocehan panjang milik Kayla yang selama dua bulan ini tak pernah dia dengar. Sejak kejadian malam nahas itu, mereka sudah seperti orang asing yang sama sekali tidak saling kenal.
“Kenapa kamu malah senyum-senyum begitu, Bang? Apa luka itu juga mengenai otak syarafmu?” Kayla berkata dengan sarkas. Dia bukan bermaksud jahat, tetapi situasi sekarang tidak ada lucu-lucunya.
Masih dengan senyum kecilnya, Evan lalu menggeleng. “Gak ada, Kay. A-aku hanya merasa senang saja.”
“Hah? Maksudnya, Bang Evan malah senang ditusuk begini? Wah, sepertinya dokter memang benar-benar harus memeriksakan kondisi otak kamu,Bang.” Kayla mendengkus, lalu menatap sang suami dengan pandangan tak percaya.
Evan memilih tak menjawab karena dirinya benar-benar mulai lelah dan juga mengantuk. Dia mencoba untuk menarik napas lamat-lamat karena ketika ia sedang bernapas, dan juga berbicara maka tenaganya semakin berkurang banyak. Belum lagi luka itu juga nyeri. Jadi, pria itu hanya mengangguk dan menggeleng saat Kayla masih saja sibuk menceramahinya.
“Bang! Bang Evan!” Kayla yang tidak mendengar suara pria di sampingnya menjadi takut. Ditepuknya pipi Evan, tetapi tetap tak membuahkan hasil. “B-bang Evan gak mungkin m-mati, ‘kan?” tanyanya horor.
Perempuan itu pun segera mendekatkan jari telunjuknya ke hidung Evan dengan perasaan berkecamuk. Takut, sedih, dan juga cemas sekarang mulai mendominasi hati dan pikirannya. Namun, setelah dia masih bisa merasakan embusan napas milik sang suami membuat Kayla bernapas lega.
“Nona, kita sudah sampai. Sebaiknya saya turun untuk memanggil suster, sedangkan Nona di sini menunggu bersama Tuan,” ujar Mang Ujang.
“Eoh! Cepat!”
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kini Kayla sudah duduk di depan ruang IGD di mana sang suami tengah ditangani langsung dokter jaga. Kondisi dia sendiri kini tengah kalut. Perempuan itu merasa jika cobaan terus saja mendatanginya secara bertubi-tubi.
Dari pernikahannya dengan Dimas yang gagal, keperawanannya yang diambil oleh kakak ipar–yang sekarang menjadi suaminya– sampai benih itu berubah menjadi janin yang hingga sekarang masih belum bisa diterima oleh Kayla.
“Dimas? Kenapa hubungan kita menjadi seperti ini? Dan, kenapa juga kamu tak memperjuangkan cinta kita? Apa benar jika selama ini memang hanya aku yang mencintaimu? Tolong, Mas! Tolong jelaskan semua ini kepadaku,” gumamnya dengan mata terpejam.
“Permisi, Mbak. Apa saya bisa bertemu dengan keluarga si pasien?”
Mata Kayla seketika langsung terbuka. Tidak lupa, dia juga mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Dia kemudian berdiri dan menatap dokter yang tadi menangani suaminya. “S-saya keluarga pasien, Dok.”
“Oh, apa Anda ini adiknya?”
“Em ….” Kayla menggigit bibirnya ragu. “I-iya, Dok. Bagaimana keadaan Abang saya?”