“Kondisi pasien sudah mulai membaik. Untuk lukanya, kami juga sudah menjahitnya. Tapi, karena pasien kehilangan banyak darah maka dari itu kondisi tubuhnya masih lemah. Kami janji akan mengawasinya dengan sebaik mungkin.”
Kayla mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh dokter. Selama 23 tahun, baru kali ini dia menghadapi cobaan yang bertubi-tubi. Namun, untuk pertama kalinya dia terlibat dalam masalah pelik seperti ini.
Dia melihat tangannya yang masih saja bergetar, apalagi jika mengingat bagaimana kejadian penusukan tadi. “G-gak. Aku gak bersalah,” gumamnya takut
“Mbak. Maaf, apa masih ada yang mau ditanyakan?” Dokter segera memegang bahu Kayla saat melihat perempuan itu sibuk sendiri dengan dunianya di saat ia sedang sibuk menerangkan.
“Oh!” Mata perempuan itu terlihat kaget, tetapi sedetik kemudian dia menggeleng sambil mengelus senyum kecut. “Syukurlah. Lalu di mana Bang Evan sekarang, Dok?” tanyanya kemudian.
Si dokter bernama Jumaidi mengangguk mengerti. “Kami sedang menyiapkan kamar untuk pasien. Jadi, setelah dari sini, pasien akan dibawa ke ruang rawat inapnya.”
“Ah, kalau begitu saya ucapkan terima kasih, Dok!”
“Sama-sama, Mbak. Lagipula itu adalah tugas saya. Kalau begitu saya kembali ke dalam karena masih ada pasien yang menunggu.”
Kayla membungkuk mempersilakan dokter yang tadi menangani sang suami untuk kembali bertugas. Dia sendiri sedikit merasa bersalah karena tidak mau mengakui siapa dirinya.
“Adik? Hahh!” Kayla mengibaskan tangannya. “Ok, sekarang bukan waktunya untuk menyalahkan siapa pun. Lagian dokter juga gak mungkin hafalin satu per satu keluarga pasien, ‘kan?” Dia mengedikkan bahu tak peduli.
Beberapa suster yang hilir mudik tidak sengaja melihat keadaan Kayla kemudian berinisiatif untuk bertanya. “Permisi, Mbak.”
“Iya, ada apa, Sus?”
“Maaf, apa Anda ini juga salah satu korban?”
“Saya?” Kayla lalu menunjuk dirinya sendiri dengan mata mengerjap kaget. Dia sontak menatap pakaian yang dikenakan setelah suster menunjuk ke bagian tubuhnya. “Ah, ini?”
“Iya, Mbak. Apa Anda juga memiliki luka? Jika memang–”
Perempuan itu lalu mengibaskan tangannya cepat. “Bukan, Sus. I-ini darah pasien tadi,” jelas Kayla kikuk.
“Oh, syukurlah. Kami pikir Anda juga terluka. Maaf, kalau begitu kami permisi dulu. Jika Anda butuh sesuatu bisa langsung datang ke counter kami yang ada di depan sana!”
Kayla mengikuti arah tunjuk si suster yang menunjuk ke arah meja khusus suster yang terletak 4 kamar dari tempat dia berdiri. “Ah, baik. Terima kasih, Sus.”
Mereka sama-sama menunduk sopan. Kayla sendiri lalu memilih duduk di kursi tunggu. Namun, baru saja b****g itu mau duduk, tetapi pintu IGD terbuka dari dalam hingga menampakkan beberapa suster dan juga satu ranjang besar yang berisi sang suami di mana pria tersebut masih tak sadarkan diri.
“Maaf, Bang Evan mau dibawa ke mana, yah?” tanya Kayla menghentikan salah satu suster itu.
“Kami akan memindahkan pasien ke kamar rawatnya, Mbak. Maaf, mbak ini salah satu keluarga pasien bukan?”
Kayla mengangguk cepat. “Ah, kalau begitu saya ikut.”
Akhirnya, setelah naik beberapa lantai dan melewati beberapa kamar rawat, kini Evan dan Kayla sudah berada di kamar vvip. Perempuan itu sengaja memesan kamar terbaik agar mereka tidak berdesak-desakan dengan pasien dan keluarga lain yang sedang menjenguk.
Berisik? No! Kayla lebih suka hening.
Malam itu, Kayla memilih tidur di sofa karena tidak mungkin dirinya ikut tidur di ranjang. Nanti bisa-bisa luka yang baru saja dijahit itu tersenggol siku, ataupun kakinya.
Perempuan itu lalu menggeleng. Dia kemudian mulai merebahkan tubuh lelahnya di atas sofa, berharap jika ketika dia bangun semua ini adalah mimpi. “Maaf,” ucap perempuan itu entah pada siapa sebelum menutup mata.
Pagi harinya, Kayla terbangun dengan rasa mual yang kembali membuatnya harus berlari ke kamar mandi. “s**t! Kenapa harus datang lagi, sih!” umpatnya di antara larinya
“Eungh,” lenguhnya. Suara itu ternyata ikut membangunkan Evan. Pasien tersebut mengernyitkan kening dan mulai mengerjapkan mata dengan perlahan. Mulutnya meringis saat merasakan sakit di area perutnya.
“Argh, sakit sekali,” rintih pria itu. Sepertinya, efek obat bius itu sudah hilang sehingga membuat Evan mulai meringis ngilu.
Akan tetapi, suara kucuran air dan juga orang yang sedang muntah membuat fokus Evan teralih. Mata pria itu lalu mencari di mana keberadaan asal suara. Namun, karena kondisinya yang berbaring membuatnya kesulitan.
“K-kay? Kau kah itu?” tanya Evan. Pria itu lalu berusaha untuk bangun dengan menumpukkan siku tangannya. Ketika dirinya sedang dalam posisi tubuh
setengah bangun, perempuan yang dicari keluar dari kamar mandi.
“Argh, aku benci kondisi seperti ini! Aku gak suka!” keluh Kayla sambil merapikan rambutnya dan mengusap wajah dan juga bibirnya yang basah.
Evan melihat dan juga mendengar setiap keluh kesah sang istri. Dia tersenyum getir.
“Oh, kamu sudah bangun, Bang?” Suara Kayla membuat lamunan pria itu buyar.
“Em. Apa kamu mengalami morning sick lagi?” tanya Evan dengan sungkan.
Kayla mendesah lelah. Kakinya lalu berjalan mendekati ranjang suaminya dengan wajah bosan. “Aku gak tau kalau hamil itu begitu menyusahkan. Sialan!”
“Ssttt, orang hamil tidak boleh mengumpat, Kay! Nanti, kalau anak yang ada dalam kandungan kamu dengar bagaimana?”
“Whatever! Lagian aku juga gak berniat untuk mempertahan–”
“Kay, please! Argh … sshhh!” Evan menggeleng cepat sambil meremas sisi ranjang ketika bekas jahitannya tidak sengaja kesenggol oleh tangannya. “Ini sakit sekali,” keluhnya dalam hati.
“Aish! Lagian siapa suruh, sih, pecicilan mulu. Lihat, sekarang jadi sakit, kan?” Kayla langsung memencet tombol panggil yang langsung tersambung ke nurse station. Setelah itu, dia segera mengusap bagian belakang tubuh Evan dengan lembut.
Wajahnya jadi berubah cemas saat si suami terus menunduk tanpa berniat mengangkat wajahnya. “Apa sesakit itu?” Suara Kayla terdengar khawatir.
Evan menggeleng sambil menggigit bibir bagian dalamnya.
“Kalau gak sakit kenapa Bang Evan malah nunduk mulu?”
“T-tolong beri aku waktu sebentar, Kay!” pintanya sambil memegang tangan sang istri.
Kayla yang melihat itu langsung menarik cepat tangannya. Dia yang tadinya cemas dan khawatir langsung membuang muka. “O-oh, ok!”
“Kenapa dia harus berbohong, sih? Kalau sakit mah bilang aja, gak usah sok kuat gitu. Ckckck, atau ini adalah trik Bang Evan buat nyari perhatian dari aku? Hah! Picisan banget, sih!” gerutu Kayla dengan bibir mengerucut.
Kini, langkah perempuan hamil itu membawanya ke jendela. Dirinya menoleh ke arah sosok lelaki yang kini masih sibuk memendam rasa sakit tanpa mau membaginya kepada siapa pun, termasuk orang yang dia cintai.
Karena bagi Evan, jika dia sakit biar dia saja yang merasakan. Akan tetapi, jika orang yang dia cintai sakit maka dia akan meminta kepada Tuhan agar dirinya saja yang merasakan sakit.
Baik sekali bukan pria satu itu? Namun, sayang semua itu masih belum bisa disadari oleh Kayla.
Prinsip itulah yang membuat Evan bisa berdiri dan sesukses sekarang. Berkat kerja keras dan ketekunannya membuat pria itu berjejer dengan orang-orang sukses lainnya di usia muda, bahkan dia dinobatkan sebagai pemimpin yang bertalenta dan juga disegani oleh pengusaha lain.
Wajar saja jika dia tidak ada waktu untuk mencari atau mencintai wanita di luaran sana. Mengurus diri sendiri saja dia tak sempat. Beruntung dia masih tinggal dengan kedua orang tuanya yang selalu memberikan support dan mengawasi kesehatan sang anak.
Bibir Kayla berdecak. Dia yang sudah bosan hanya didiamkan segera melempar tisu ke arah ranjang. “Yakh!”
Evan menoleh dengan deru napas yang memburu. Rasa sakit itu benar-benar membuat dia kepayahan. “Kenapa?” Suaranya terdengar lemah. Bibirnya pun sudah pucat.
Bibir Kayla mengerucut. “Kalau sakit tuh bilang sakit, jangan cuma diem aja! Emang kamu pikir kamu itu siapa, hah!” Tangan gadis itu dilipat di depan d**a dengan mata menyorot sebal ke arah Evan.
Pria itu tersenyum kecil. Dia menarik napas, lalu dibuangnya kembali. Matanya terlihat sayu, tetapi Evan berusaha untuk tetap bertahan. “Apa suster belum juga datang?”
“s**t! Ini orang malah ngalihin pembicaraan!” umpat Kayla geram, lalu mendekati ranjang itu lagi. Dia menunjuk tepat wajah sang suami dengan tatapan mengintimidasi. “Kamu itu bukan Superman, atau tokoh kuat yang ada di film-film. Kamu itu hanya manusia biasa. Jadi, gak usah sok kuat di depanku!”
Bibir itu tiba-tiba menyeringai. Ditatapnya balik netra coklat yang kini masih menatapnya. “Aku memang bukanlah mereka. Aku adalah Evan Hardian Jatmiko. Jadi, jika kamu tak suka dengan apa yang aku lakukan … kamu tinggal tutup mata kamu!”
Kedua bola mata Kayla seketika membelalak terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Evan. Dia lalu melangkah mundur dan tatapan shock sambil memegang bibirnya. “K-kenapa kamu mencuri ci-umanku?”