Bab 10. Menawarkan Diri

1250 Kata
Evan tersenyum di antara ringisannya. Matanya terlihat sayu, tetapi mulutnya tidak bisa untuk tak menggoda sang istri. “Benarkah? Aku pikir kamu memang berniat menciumku. Makanya aku berinisiatif untuk menciummu duluan.” Jawaban Evan membuat rona merah di pipi Kayla langsung muncul, bahkan hingga ke belakang telinga perempuan itu. “Ayo, tampar dia, Kay! Kenapa kamu malah seperti perempuan bodoh yang mau-mau saja dicium oleh lelaki b***t seperti dia!” bisik setan dalam dirinya. “Cie, yang baru saja dicium sama suaminya? Tuh, sampai malu-malu gitu mukanya. Ganteng kan suami kamu?” Sisi malaikat dalam diri Kayla tak mau kalah, dia ikut andil membuat perasaannya semakin bimbang. “T-tapi kamu kan lagi sakit?” Kayla terkejut dengan ucapannya sendiri. Dia langsung menutup mulutnya dan balik badan. Setelah itu dia memukul bibirnya pelan seolah tidak suka akan sikap ceplas-ceplosnya yang tak tahu tempat dan sikon. “Bego banget sih, ini mulut! Ngapain juga pakai ngomong begitu. Sekarang pasti Bang Evan bakalan menganggap aku ini mau-mau aja dicium sama dia,” rutuk perempuan itu. Jujur, itu adalah ciuman pertama bagi Kayla–Tolong jangan dihitung ketika perempuan itu menjadi jalang waktu mabuk– karena Kayla dan Dimas memang tidak pernah melakukan hal-hal seperti ciuman, dan hal yang menjurus ke hubungan yang lebih dalam. Gaya pacaran mereka tergolong masihlah aman, bahkan sangat aman. Tiga tahun hubungan Kayla dan Dimana terjalin yang dua orang tersebut lakukan hanya nonton, makan berdua, atau dinner. Sekalipun ada skinship, paling hanya sekadar gandengan tangan, atau berpelukan, selebihnya tidak pernah. Kayla bahkan sering diejek oleh teman-temannya karena masih perawan, sedangkan teman kuliahnya kemarin banyak yang menjadi sugar baby, atau simpanan para pengusaha sukses, bahkan ada juga yang jadi Pelakor. Mengerikan sekali bukan. Beruntung Kayla tak ikut tercebur dalam dunia gelap bersama teman-temannya. Pergaulan zaman sekarang memang cukup mengerikan, apalagi gaya pacarannya, sudah melebihi suami-istri. Umbar sana, umbar sini hingga membuat orang jengah. Belum lagi jika mereka sudah putus, nangisnya berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Katanya sih, menyesal. Kembali ke Evan. Pria itu menyeringai. “Jadi, kalau aku sudah sembuh–” “Eh! Yakh, bukan begitu maksud aku!” Kayla langsung balik badan dan mengibaskan tangannya cepat. Dia hendak menjelaskan, tetapi dua orang suster dan juga satu dokter datang untuk memeriksa sang suami. “Apa kalian memanggil kami?” “Iya, Dok. Itu Bang Evan,” ucap Kayla sambil menunjuk suaminya yang masih meringis kesakitan. “Baik, kalau begitu saya periksa dulu!” Perempuan itu lalu menyingkir sedikit dan membiarkan dokter memeriksa keadaan Evan. Bibir Kayla meringis melihat perban yang tadinya berwarna putih, kini mulai berwarna merah. Tidak banyak memang, tetapi tetap saja membuat si istri ngilu. Setelah beberapa menit kemudian, dokter dan suster sudah kembali meninggalkan kamar rawat inap. Meninggalkan Evan yang kembali terlelap setelah diberi obat bius. Kayla sendiri kembali berjalan menuju sisi ranjang sang suami. Ditatapnya wajah pria yang sudah beberapa bulan ini menjadi suaminya. Terlihat begitu tenang seolah pasien itu lupa akan rasa sakit yang sempat membuatnya meringis. Entah setan dari mana, tangan Kayla kini mulai menjelajahi wajah tampan itu. “K-kenapa hubungan ini menjadi rumit, Bang?” Bibir itu lalu tersenyum kecut. “Andai saja aku tak bodoh dan ikut mabuk kemarin, mungkin kita tidak akan berada di posisi seperti ini. Pernikahan kita pun akan tetap berjalan dengan sebagaimana mestinya. Aku dan Dimas, sedangkan Bang Evan dengan Mbak Bianca. Kita pasti akan menjadi dua keluarga yang bahagia dengan keluarga masing-masing. Tidak akan ada kesakitan dan juga penyesalan yang kini masih saja menggerogoti hatiku, bahkan anak yang ada di dalam kandunganku juga tidak akan menjadi korban,” ujar Kayla sambil mendesah lelah. Tatapan perempuan itu kini tertuju kepada sang suami. Dia berdecak saat menyadari jika paras Evan yang selama ini tidak pernah dipandang begitu dekat begitu tampan. Hubungan mereka hanya sekadar calon ipar, tidak ada pertemuan jangka panjang, atau hal-hal yang membuat mereka berinteraksi begitu intens, alias hanya beberapa sekadarnya saja “Aku baru tahu hidungmu begitu mancung, Bang. Alis ini, bulu mata ini, dan juga rahangmu yang begitu tegas pasti menjadi aset terbesar darimu,” kikiknya. Bibir perempuan itu tiba-tiba mengerucut saat mengingat kejadian di depan fakultasnya dulu. Di mana beberapa temannya mengatakan secara gamblang jika mereka naksir dengan Evan. Kayla yang mulai bosan karena terus dicecar dan dimintai nomor Evan pun langsung menyuruh si calon kakak ipar untuk menjemputnya di halte dekat kampus. Kejadian itu membuat Kayla menggeleng jengah. “Apa benar dengan kita menikah bisa menyelesaikan masalah ini, Bang? Tapi, kenapa aku masih tidak bisa menerima keadaan ini? Cintaku bahkan masih seratus persen tertambat kepada adikmu. Lalu, aku harus bagaimana? Tak bisakah kita ulang kembali waktu yang telah berlalu?” Perempuan itu lalu menarik tangannya dari wajah sang suami. Dia kemudian berdiri dan memilih untuk ke balkon untuk bisa merasakan hangatnya sinar matahari yang kini mulai beranjak naik setelah semalaman menghilang. Tangannya memegang bagian besi pagar dan membiarkan angin pagi menerbangkan beberapa helai rambutnya yang kini mulai bergerak mengikuti arah angin. “Aku ingin bebas dan aku juga ingin menjadi diriku sendiri. Tuhan, apa sesusah itukah untuk mengabulkan doaku? Aku janji jika Engkau kabulkan maka aku akan menjadi anak yang baik,” ucap Kayla sambil memandang langit. *** Empat hari kemudian, Evan dan Kayla sudah kembali ke rumah. Mereka disambut dengan suka cita oleh Bi Ratmi dan juga Mang Ujang. Kayla sendiri hanya diam dan mengekor di belakang tubuh sang suami yang kini tengah dipapah oleh sang ayah mertua. “Kamu yakin tidak akan ada rampok lagi yang datang ke sini?” tanya si mama mertua. “Iya, Mah. Evan yakin, kok.” “Gak. Mama gak yakin. Pokoknya Mama akan tinggal di sini!” “Mah, Evan udah besar, lagian juga sudah ada bibi dan juga Kayla di sini. Masa iya Mama juga mau tinggal di sini juga.” Evan menutup wajahnya malu, apalagi kini ada sang istri di belakang tubuhnya. “Tapi, mama belum bisa tenang jika perampok itu belum ditangkap, Van. Lagian, bagaimana bisa kamu gak pasang cctv di rumah sebesar ini?” “Pah, tolong bujuk Mama!” Evan mulai kepayahan menghadapi ibunya yang terus merengek akan tinggal bersama dengan dirinya. Dia belum sanggup jika orang tuanya tahu jika selama ini Kayla tidak melayaninya layaknya suami-istri pada umumnya. Salim Menghela napas. Istrinya ini memang akan susah dibujuk, apalagi jika sudah menyangkut anak sulungnya. Dimas saja tidak sampai digelendotin seperti itu, pantas saja anak keduanya itu merasa dianaktirikan jika si ibu sudah kumpul dengan dua anaknya. Dimas sendiri entah pergi ke mana. Anak itu langsung menghilang setelah kejadian pelabrakan kepada sang kakak. Namun, Salim tak tinggal diam. Dia menyuruh anak buahnya mencari tahu di mana si putra kedua berada dan ternyata Dimas sekarang sudah kembali ke LA. Jadi, pria dua anak itu bisa sedikit lebih tenang mendengar kabar tersebut. “Mah, bukankah kamu besok harus menemaniku untuk ke Singapura?” tanya Salim. “Benarkah, Pah? Kok, Mama lupa?” Kesempatan itu pun langsung digunakan oleh Evan. “Tuh, kan. Masa Mama tega membiarkan suami Mama yang ganteng itu pergi ke luar negeri sendiri. Emang Mama mau, kalau Papa sampai digodain oleh bule di sana?” “Yakh! Kamu ini bicara apa, sih? Gak! Mama gak akan memperbolehkan Papa pergi sendiri. Tapi,” jedanya dengan bibir bawah dimajukan. “Terus kamu gimana, Nak? Mama belum tenang meninggalkanmu sendiri di sini,” ujarnya kemudian. “Mah, bukankah ada Kayla di sini?” Ketiga orang itu lalu menoleh secara bersamaan ke belakang di mana Kayla langsung tersenyum salah tingkah. “K-kenapa kalian melihat Kayla seperti itu? A-apa ada yang salah dengan kata-kata Kayla?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN