Bab 11. Kayla Bertemu Seseorang

1277 Kata
Keadaan hening untuk beberapa saat. Ketiga orang di ruang tengah itu tak ada yang mau bicara. Mereka seolah masih mengingat jelas jika perempuan hamil itu masih di fase tak ingin dekat dengan pria yang sudah menjadi suaminya. “Mah, Pah,” panggil Kayla kikuk. Kepalanya tertunduk malu saat ditatap sedemikian rupa oleh mertua dan suaminya. Sarmila tiba-tiba menepuk kaki Salim, kemudian tertawa. Matanya melirik ke arah Evan yang kini memilih untuk diam. “Oh, itu. Aih, Nak Kayla kan sedang hamil. Jadi, gak mungkin–” Tangan wanita paruh baya itu seketika menggantung di udara ketika ucapannya dipotong oleh sang menantu. “Apa yang tidak mungkin, Mah?” “Ah itu. Maksud Mama ….” Sarmila menatap Salim dan juga Evan secara bergantian, tetapi anak dan ayah itu juga tidak bisa membantu apa-apa. Akhirnya, dia pun menjadi bingung sendiri. Kayla tersenyum hangat sambil berjalan mendekati Evan. Dipegangnya bahu sang suami dengan bibir terulas senyum kecil di sana. Kini, dia berlutut tepat di depan kursi suaminya. Tangan mereka dibiarkan terjalin hingga membuat pria itu menatapnya dengan tak percaya. “Kayla Yanga kan jaga Bang Evan, Mah, Pah. Untuk kehamilanku sekarang tidak membuatku harus lepas dengan kondratku sebagai seorang istri. Bukankah begitu, Bang?” “O-oh!” Kedua netra Evan menatap bingung sosok istrinya yang hari ini terlihat begitu aneh. Dia kemudian beralih ke arah Sarmila dan tersenyum. “Mama dan Papa bisa pergi ke Singapura dengan tenang. Karena ada Kayla di sini. Aku juga akan berusaha untuk tak membuatnya lelah.” Jawaban dari Evan membuat Salim dan juga Sarmila saling menatap satu sama lain. Si ibu sendiri terlihat ragu, tetapi saat tatapannya bertemu dengan Kayla. Akhirnya dia pun luluh. “Baiklah. Mama percaya kalian berdua bisa menjaga satu sama lain. Tapi ingat, Van!” Wanita paruh baya itu mengambil tangan anaknya satunya lagi, kemudian digenggam. “Kamu harus hubungi Mama, kalau butuh sesuatu. Kamu mengerti, Nak!” “Em. Evan janji, Mah. Kalian bisa serahkan semuanya kepada Evan. Lagian Evan ini bukan anak kecil lagi. Jadi, gak pantas Mama memperlakukanku seperti anak kecil.” “Dih, siapa juga? Gak ada.” Ibu dan anak itu kini sudah saling mengobrol satu sama lain, bahkan sang ayah pun ikut masuk dalam obrolan. Sementara Kayla, dia memilih untuk diam dan sesekali tersenyum. Perempuan itu akan bicara jika ditanya, selebihnya dia hanya akan diam dan duduk di samping sang suami. Akan tetapi, tautan tangan mereka masih terjalin dan pelakunya adalah Evan sang suami. Setelah kepergian Sarmila dan juga Salim, sorenya Evan dan juga Kayla memilih untuk masuk ke dalam kamar masing-masing. “Apa kamu butuh sesuatu, Kay?” tanya Evan sebelum masuk ke dalam kamar. Tangan Kayla yang hendak memegang handle pintu segera berhenti. Rasa lelah karena seharian ini ikut berhaha-hihi dengan sang mertua cukup menguras tenaga. Mungkin, akan berbeda jika dia membaur dengan hati. “Gak. Aku mau istirahat. Kalau Bang Evan butuh sesuatu bisa menelponku,” ujarnya sebelum mendorong pintu kayu itu, lalu menutupnya tanpa berniat mendengar jawaban dari Evan. Menyisakan tanda tanya besar pada kepala Evan akan perubahan sikap Kayla yang langsung berubah drastis. Di depan kedua orang tuanya, dia bertingkah layaknya seorang istri yang baik, bahkan perhatian. Namun, setelah mereka pergi maka sikap dingin dan juga tatapan datarnya perempuan tersebut langsung menghunus jantung Evan. “Sepertinya aku terlalu berharap banyak padanya. Dasar bodoh kamu, Van!” Pria itu menertawakan kebodohannya, lalu menatap langit rumahnya dengan pandangan menerawang. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia ingin bertemu dengan Dimas untuk meminta maaf. Hati dan pikirannya masih ada yang mengganjal dan itu semua tentang maaf dari sang adik. Selama beberapa hari ini, Kayla kembali ke sikapnya beberapa hari lalu, cuek dan juga masa bodoh. Evan tidak ambil pusing, toh Mang Ujang yang siap membantunya ketika dia butuh sesuatu. Hari ini, tepatnya satu minggu setelah kembali dari rumah sakit. Kayla keluar kamar dengan keadaan rapi. Hal itu tentu saja memancing tanda tanya besar untuk Evan. “Mau ke mana, Kay?” “A-aku mau ke acara Sherly. Dia ulang tahun hari ini dan semua temanku datang. Apa boleh?” “Ulang tahun? Di mana? Tapi, kamu gak akan ke tempat hiburan malam itu lagi, kan? Gak boleh!” Evan langsung bersikap tegas. “Gak. Bukan di tempat kayak kemarin lagi, kok. Tapi, kali ini di sebuah cafe.” Suara Kayla yang tadinya begitu semangat tiba-tiba menciut saat melihat tatapan mata Evan yang berubah dingin. “A-aku janji gak akan nyentuh makanan dan minuman yang beralkohol, kok!” Evan terdiam. Kondisi pria itu sudah jauh lebih baik, bahkan kini dia sudah bisa beraktivitas, tetapi tetap dibatasi. Dia lalu menatap Kayla yang masih berdiri canggung di depan pintu kamarnya sendiri. “Pulang jam berapa?” Wajah perempuan itu langsung mendongak. Ada secercah harapan jika kali ini dia bisa keluar dari rumah yang selama ini Telang mengurungnya. “Jam sebel- ah, tidak. Jam 10,” koreksinya langsung. “Gak! Jam 9!” “Ta–” “Kalau tidak mau, yaudah gak usah pergi!” “Ya-ya-ya, jam 9!” Kayla langsung menghela napas kesal saat jam malamnya dipotong cukup banyak. “Good! Kalau gitu kamu akan diantar oleh Mang Ujang. Tapi, ingat satu hal, Kay. Kamu sedang hamil dan tidak boleh melakukan hal yang bisa memicu masalah dengan kandunganmu. Mengerti!” Kayla langsung mengangguk semangat. “Siap!” Setelah itu, dia segera berlari, tetapi baru beberapa langkah suara peringatan dari Evan membuat langkah kaki Kayla berubah pelan. Dia berjalan dengan senyum merekah hingga Mang Ujang kebingungan. “Non mau diantar ke mana?” tanya si satpam, sekaligus supir pribadi dari Evan. Sebetulnya di kediaman Evan ada 3 security dan mereka memiliki tugasnya masing-masing. Termasuk Mang Ujang yang memang mendapatkan kepercayaan dari sang majikan untuk menjadi supir keluarga Jatmiko. “Ke Cafe AND. Nanti, setelah sampai di sana, Mang Ujang bisa pulang dulu. Soalnya Kayla acaranya lama,” jelas perempuan itu ketika sudah masuk ke dalam mobil. “Baik, Non.” Mang Ujang pun mulai menjalankan mobilnya keluar kediaman Jatmiko menuju cafe yang terletak cukup jauh dari rumah si bos. “Sepertinya butuh waktu 30 menit jika tidak macet, Non. Apa tak sebaiknya saya tunggu saja di sana?” “Jangan! Eh, maksudnya gak usah. Kasihan Mang Ujang kalau harus nunggu lama di sana.” Kayla segera menggaruk belakang kepalanya. Dia mengulas senyum manis agar si supir mau menuruti keinginannya. “Baiklah, Non.” “Fiuhhh. Hampir saja,” gumam Kayla bernapas lega. Dirinya kemudian menatap luar jendela dengan bibir yang mengulas senyum cerita, bahkan ada ekspresi tak sabar di sana. Entah siapa yang akan dia temui di cafe sehingga membuat Kayla melarang Mang Ujang menungguinya. Sementara itu, Evan memilih untuk percaya dengan apa yang akan dilakukan oleh Kayla. Bukan dia tidak cinta hingga melepaskan sang istri yang selama keadaan mengandung bepergian seorang diri, melainkan dia melakukan itu karena ingin membuktikan jika sebenarnya dia tidak mengekang siapa pun di sini. Evan membebaskan Kayla melakukan apa pun. Namun, selama ini pikiran si istri saja yang sudah buruk kepadanya hingga di mata Kayla jika dirinya adalah sosok suami yang suka posesif, atau suka mengatur, dan sifat jelek lainnya, padahal itu semua salah. “Semoga dengan ini kamu tak memandangku sebelah mata, Kay. Jika perasaanku ini tulus padamu.” Pria itu berbicara seorang diri sambil menatap halaman rumahnya yang terlihat kosong. *** Di Cafe AND, Kayla yang sudah sampai segera meminta Mang Ujang untuk pulang, sedangkan dirinya masuk ke dalam tempat makan dan resto tersebut dengan kepala celingukan. “Mereka ke mana, yah?” “Hai, Beb. Baru datang, eoh?” Senyum perempuan itu lalu mengulas dengan begitu lebar kala menemukan sosok yang selama ini dia rindukan. “Miss you, Beb!” ujarnya sambil memeluk orang tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN