Bab 12. Berdua dalam kamar

1650 Kata
“Gila, kangen banget aku sama kamu, Kay.” Sherly Himawan mengurai cepat pelukan mereka. Matanya menyipit untuk melihat bagaimana kondisi si teman. “Njirlah! Kayaknya itu muka makin tirus aja. Ngapa? Gak bahagia kamu nikah sama pujaan hati aku, hah!” Sherly tahu alasan Kayla gagal menikah dengan Dimas. Perempuan itu juga tahu siapa itu Evan. Secara, dia adalah salah satu fans fanatik Evan sedari setahun yang lalu. Di mana saat itu dirinya sering melihat pria itu menjemput tunangan dari Dimas. Intinya dia sempat kecewa, bahkan merajuk, dan tak mau menemui Kayla karena merasa dikhianati. Namun, karena sudah dua bulan lebih pernikahan si teman berlalu, kini dirinya yang sudah bisa move on dari Evan mau bertemu dengan sang sahabat. “Hahh, menurut kamu gimana sih, Sher? Kalau kamu ada di posisi aku begini juga bakalan kena tekanan batin.” “Maksudnya kamu menyesal nikah sama idola aku gitu? Eh, bujug buneng. Woi, itu suami yang kamu bilang cuma jadi tekanan batin doang adalah incaran banyak perempuan di luaran sana, Bestie!” “Idola buat mereka, tapi enggak buat aku,” balas Kayla acuh. Tatapan Sherly semakin menyipit tajam. Dia curiga jika ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh Kayla. “Jangan bilang kamu masih ada rasa sama si D-dimas?” Kayla mendesah berat. Dia lalu memilih melihat ke arah luar jendela. “Entahlah.” Tidak ada pesta, apalagi acara ulang tahun yang diucapkan oleh perempuan itu. Semua itu hanya alasan belaka dan dilakukan demi bisa keluar dari rumah pengap itu. Dia merasa terpenjara tinggal bersama dengan Evan. Kayla tidak peduli sudah membohongi Evan. Toh, jika sampai pria itu tahu akan kebohongannya, hal tersebut tidak akan menjadi masalah buat dirinya, justru malah bagus. Kesempatan itu bisa digunakan untuk membuat mereka bisa bercerai. “Sekarang aku tanya balik ke kamu, Sher. Kalau kamu punya tunangan dan hubungan kalian itu udah serius, terus tiba-tiba ada kejadian seperti ini. Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Kayla. Dia menempatkan dua siku tangan dengan badan dicondongkan ke depan. Menunggu Sherly yang tengah menatapnya tak percaya. “Serius kamu tanya itu ke aku?” “Yup. Tinggal kamu jawab aja.” Sherly mengangguk-angguk mengerti. “Kalau aku ada di posisi kamu, sih, aku bakalan tetap lanjut menjalani pernikahan.” “Tapi, Sher–” “Tunggu dulu, Kay. Aku belum selesai ngomong.” “Ok, silakan lanjut!” “Ok, jadi gini. Kamu cinta ke Dimas gak?” “Iya.” “Terus, Dimas cinta gak sama kamu?” Kayla terdiam cukup lama. “Em, cintalah!” Sherly menyeringai. Dia kenal Dimas dan tahu bagaimana sifat aslinya. Namun, dia memilih diam dan terus mencari celah bagi dirinya untuk membuat temannya move on dari masa lalunya. “Kay, dengerin aku!” Dia mengambil tangan temannya untuk digenggam. “Dengerin apa, Sher?” “Kita sama-sama tahu bagaimana Dimas selama ini. Tapi, kenapa lamu masih saja menutup mata kamu? Sadarlah, Kay! Dimas itu gak baik buat kamu. Lagian–” “Stop, Sher! Jika memang niat kita ketemuan di sini hanya untuk menjelek-jelekkan Dimas, mending aku balik!” Kayla segera mengambil tas dan ponselnya, kemudian berjalan tergesa. “Buka mata kamu, Kay! Dimas itu adalah seorang b******n! Dia gak baik! Dia bahkan sudah pernah menyakitimu berkali-kali!” seru Sherly. “Kamu gak tau apa-apa, Sher!” “Ya, aku emang gak tau apa-apa. Tapi, seenggaknya aku tahu mana yang cinta dan mana yang palsu. Ingat, Kay! Jika kamu masih saja bertahan dengan sikapmu yang seperti ini maka kamu harus siap-siap kehilangan orang yang benar-benar mencintaimu!” peringat Sherly sebelum temannya itu pergi meninggalkannya. Kayla tetap berjalan keluar cafe. Perasaannya baru saja digedor paksa oleh Sherly. Dia yang selama ini menutup mata atas semua perlakuan Dimas padanya seolah kembali diingatkan akan luka itu. “Gak. Aku yakin Sherly ngomong kayak gitu pasti karena cemburu dan gak suka sama aku. Lagian, namanya manusia pasti berubah, kok. Ya, Dimas pasti berubah,” ujarnya meyakinkan dirinya sendiri. Akan tetapi, air mata yang baru saja meleleh seolah menjadi bukti jika dirinya juga ragu. Bimbang dan takut kepada dirinya sendiri. Namun, semua itu kembali ditepis oleh Kayla. “Kamu gak boleh ngeraguin Dimas, Kay! Dia adalah cowok yang paling pas dan cocok buat kamu. Jadi, gak usah dengerin apa kata Sherly. Dia itu cuma iri sama kamu.” Perempuan itu bicara sendiri sambil menggigiti kuku jarinya. “Permisi, Nona!” “Eh, Mang Ujang?” Kayla menoleh kaget akan keberadaan supirnya, tetapi dia juga lega karena tak perlu memanggil ojol. “Kita pulang sekarang, Mang!” “Loh, emang acaranya sudah selesai, Non?” “Batal. Yang punya acara udah ulang tahun bulan lalu!” Kayla memutuskan untuk berjalan terlebih dahulu meninggalkan banyak pertanyaan dalam benak sang supir. Mang Ujang pun segera bergegas membukakan pintu untuk sang majikan ketika nona mudanya sudah berdiri di sisi mobil. Dia lalu berjalan memutar untuk duduk di kursi kemudi. Pria berusia kepala 4 itu tak banyak bertanya dan melajukan mobilnya keluar parkiran. Sebenarnya Mang Ujang berniat langsung pulang, tetapi Evan menyuruhnya untuk tetap di sana dan menunggu takut jika Kayla butuh sesuatu. Benar saja dugaan si tuan muda jika nona muda, justru memilih pulang cepat, padahal mereka di sana baru saja setengah jam. Setelah menempuh waktu 40 menit karena tadi ada kemacetan di jalan Rajawali, kini mobil yang ditumpangi oleh Kayla sudah berhenti di garasi kediaman Jatmiko. Evan yang sedang membaca file milik salah satu kliennya segera menaruh tablet di atas meja. Dia berdiri untuk menyambut kedatangan sang istri yang berwajah murung. Rasa penasaran pun langsung membuatnya mencekal lengan Kayla. “Ada apa? Apa kamu baru saja menangis?” Kayla menepis pelan tangan Evan. Dia lalu mendongak dan menatap wajah suaminya dengan tatapan datar. “Kamu tahu kan kalau aku cinta mati sama adikmu?” Kening Evan mengernyit. “Maksudnya?” “Kamu tau kan rasanya mencintai seseorang?” “Ada apa, sih? Apa ada seseorang yang sudah mengusikmu? Katakan! Biar aku yang akan menghajarnya untukmu!” Tangan Evan yang dimasukkan ke dalam saku celana bahkan sudah mengepal sejak perempuan itu baru saja turun dari mobil dalam kondisi sendu. Kayla tersenyum menyeringai. “Ya, ada. Apa kamu mau menghajarnya untukku?” “Katakan siapa orangnya dan di mana dia sekarang?” Tatapan mata Evan terdengar begitu serius dan itu mampu membuat Kayla maju. Mendekatkan dirinya hingga kini mereka berdiri saling berhadapan. Tangan perempuan itu kini tengah menyusuri rahang tegas milik sang suami. Evan menelan ludah gugup saat ditatap sedemikian intens oleh Kayla. “Ada apa dengannya?” batinnya bertanya-tanya. Tatapan mata Kayla terlihat berbeda hari ini dan itu mampu membuat Evan merasa bingung. Pria itu membiarkan tangan lembut itu menyusuri setiap lekuk wajahnya sampai tangan itu turun menuju bagian d**a bidangnya segera ia tahan. “Kay!” “Why?” Evan menatap wajah Kayla yang kini tengah menatapnya sendu. “Kenapa kamu melakukan itu? Apa kamu mabuk?” Pria itu lalu mendekatkan wajahnya, mengendus untuk mencari bau alkohol. “Kamu gak mabuk. Lalu, kenapa kamu bertingkah seperti ini?” Kayla terkekeh seolah tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Evan. Dia justru meraih tengkuk pria itu dan menyusupkan tangannya di sela-sela rambut hitam kelam sang suami. Berjinjit untuk bisa mendekatkan bibirnya ke indera pendengar pria itu. “Tolong bantu aku!” bisiknya. Tangan pria itu langsung mengamit pinggang kecil istrinya agar tidak jatuh. Pria itu sedikit menggelinjang geli ketika Kayla berbisik tepat di samping telinganya. “K-kay!” Dia menggeram tertahan kala merasakan sapuan lembut di daun telinganya. Kayla lalu mengurai pelukannya dan menatap wajah Evan dengan pandangan menyeringai. “Bukankah kamu sendiri yang menawarkan diri akan membantuku?” Evan melihat ke arah sekitar, sepi. Namun, dia tidak suka jika ada seseorang melihat mereka dalam keadaan yang cukup intim. “Sebaiknya kita bicara di dalam!” “Di kamar?” “Hah!” Kayla sama sekali tak menghiraukan wajah kaget Evan yang kini berubah pias saat dirinya mengatakan akan bicara di dalam kamar. “Why? Bukankah wajar jika suami istri berbicara di tempat yang lebih private?” “Hah!” Kening Evan semakin mengernyit dalam. “Aish. Sudahlah! Kamu emang gak bis– yakh! Turunkan aku!” Kayla langsung melingkarkan kedua tangannya erat ke belakang tengkuk Evan saat tubuhnya diangkat begitu saja hingga kini dirinya melayang. “Aku hanya ingin membantumu saja agar tidak capek!” jelas Evan yang kini sudah melangkahkan kaki menuju kamarnya. “Kenapa kita ke sini?” tanya Kayla tak setuju. Bibirnya mengerucut. “Jadi? Kamu mau kita bicara di kamarmu?” “Em. Karena ada sesuatu yang mau aku perlihatkan sama kamu,” ucap Kayla dengan datar. Evan pun menurut. Jujur, perutnya sedikit nyeri karena harus menopang berat tubuh Kayla. Sebenarnya tubuh Kayla sangat ideal, tetapi memang karena kondisi dia yang belum fit saja membuatnya meringis. Namun, sebisa mungkin ditahan. Sesampainya di kamar, Evan langsung menaruh tubuh Kayla ke atas ranjang, sedangkan dirinya menjauh dan duduk di sofa. “Sekarang katakan! Apa yang perlu aku bantu?” Evan sedikit kurang nyaman berada di kamar Kayla, apalagi hanya ada mereka berdua. Kayla tidak menjawab. Dia justru berjalan mendekat ke arah sofa di mana sang suami tempati. “Aku hanya ingin kamu membantuku menghukum seseorang. Apakah bisa?” “K-kay! T-tapi gak harus begini!” Evan berusaha untuk menggeser posisi duduknya. Namun, Kayla seolah tuli dan tetap mendekat, bahkan kini tubuh perempuan hamil tersebut sudah berada di atas pangkuannya. “Kamu tahu siapa yang ingin aku hukum?” “S-siapa?” tanya Evan gugup. Kayla lalu menangkup wajah Evan yang sedari tadi tak mau menatapnya balik. “Kamu. Kamu orang yang ingin aku hukum, Bang,” bisiknya tepat di depan bibir pria itu. Evan hendak melengos, tetapi tangan Kayla menahannya dan kini bibir itu justru menyapu lembut di area philtrumnya. Pria itu sendiri berusaha untuk tidak terpancing, tetapi lagi-lagi perempuan tersebut berhasil meruntuhkan dinding pertahanannya. “Apa kamu ingin aku menemui calon anak kita, hm?” tanya Evan di antara deru napasnya. “Haruskah?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN