Dengan senyum arrogant, Dava melangkahkan kakinya untuk sampai di meja kerjanya. Ia pun langsung duduk di kursi kebanggaannya, sambil melipat kedua tangannya di depan dad4, dan kaki kanannya menopang di atas kaki kirinya dengan santai. Nadira dan asisten Rifky pun nampak kebingungan dan canggung ketika aktivitas yang sedang mereka lakukan tertangkap basah oleh si pemilik ruangan. “S-sorry, Dav! Apa tidak bisa, meja kerja Nona Nadira digeser sedikit, gitu? Kan masih lega, tuh!” asisten Rifky nampak masih belum menerima sepenuhnya apa yang dilakukan bos sekaligus sahabatnya itu. Sementara Nadira nampak menyimak dengan tenang, seraya menundukkan kepalanya. Dava menatap asisten Rifky dan Nadira bergantian dengan tatapan berbeda. Ia terlihat menahan senyum, ketika melihat wajah Nadira. Namu

