Operasi

634 Kata
dea dan rehan memasuki rumah mereka namun rumah mereka berantakan. mereka dengan cemas mencari-cari mama mereka. sampai di lantai dua mereka menemukan mama mereka tergeletak tidak sadarkan diri. "mamaaaaa..."dea menangis histeris. retno memakai mukenahnya sepertinya sehabis sholat Dhuha. "mama pingsan dek," ucap rehan memastikan detak jantung dan napas mamanya. rehan membopong mamanya menuju mobilnya kemudian melajukan mobilnya menuju rumah sakit. dea masih menangis sesenggukan memangku kepala ibunda. "sebenarnya ada apa dengan mama bang? kita sudah kehilangan papa, dea gak mau kehilangan mama juga," ucap dea. "istighfar kamu dek. mungkin ada maling masuk. nanti abang cek di CCTV," ucap Rehan. "Assalamu'alaikum," ucap Rehan menelpon mama Noval menggunakan ponsel satunya. ponsel satunya lagi di rumah noval. "wa'alaikum salam, kenapa Nak?" tanya lastri. "tante Rehan mohon jangan tante sampaikan pada Noval. Karena Noval masih sakit, khawatirnya nanti Noval Syok," ucap Rehan. "Iya Nak apa itu Nak?"suara lastri cemas. "Mama tante.. mama kami temukan tidak sadarkan diri di rumah dan kondisi rumah berantakan, ini kami lagi menuju rumah sakit,"jelas rehan. "Ya Allah...iya...iya Nak Rehan. tante ngerti," tante mencoba menenangkan diri karena Noval sudah bangun. "Rehan sudah pesan tadi makan siangnya tante. insya Allah sebentar lagi sampai, maaf yah tente gak bisa makan siang bersama. semoga Noval segera pulih yah tante, Assalamu'alaikum," ucap Rehan. "Wa'alaikum salam," balas tante. "kenapa ma?" tanya Noval yang sudah duduk. "Nak Rehan dan keluarga gak jadi datang karena mendadak ada acara keluarga katanya,"ucap mama berbohong. "tapi barusan tadi Dea nelfon, Ma, ponsel bang rehan juga masih di sin," tanya Noval heran menyelidik. "coba Noval telfon ah." "jangan Nak, nanti kamu ngeganggu mereka", cegah mama. "udah sekarang kamu makan dulu yah, sebelumnya makan buah dulu yah. kamu simpan aja dulu ponsel nak Rehan." noval mengangguk namun dia merasa aneh dan gak nyaman. sebenarnya apa yang terjadi. *** dokter Roby, paman Rehankeluar dari ruangan ugd. "bagaimana keadaan mama, om?" tanya Rehan. "Mohon maaf. Mama kalian harus segera di operasi karena kepalanya terbentur benda keras. harus segera kita laksanakan." Dea pingsan. Rehan membopong Dea dibantu suster. dea diurus suster. "Baik Om apa pun yang terbaik demi kesembuhan mama saya mohon dilaksanakan, Om." "baik tolong tanda tangani di sini." ucap seorang dokter bedah, dokter Bagas di sebelah dokter Roby. Rehan dengan cepat menandatangani. Rehan merasa musibah datang bertubi-tubi kepadanya. "apa yang terjadi ya Rabb," Rehan menangis segera melihat kondisi Dea yang masih pingsan. "Aldo... tolong sementara kamu handle perusahaan yah. mama masuk rumah sakit, thanks, gue percaya sama lo Aldo." Aldo adalah orang kepercayaan Rehan juga sahabat baik Rehan. dulu dia hanya sebagai ob waktu papa nya memegang perusahaan. setelah papanya meninggal perusahaan diambil alih Rehan. dia mengganti seluruh staf karena dia yakin ada sabotase atas kematian ayahnya. benar saja setelah menguak semuanya sekretaris papa nya lah dalang dibalik semuanya. Aldo pun diangkat Rehan menjadi sekretarisnya. teman semasa SMP sampai kuliah yang pintar dibidang kesekretariatan. Aldo pun tidak ingin merusak kepercayaan Rehan padanya. mereka bagaikan sepaket yang mengagumkan membuat perusahaan berdiri kokoh dan berkembang. "sudah sadar kamu, dek?"tanya Rehan pada Dea. "Sudah kak, mama kak," Dea menangis. "mama sudah ditangani dokter. kita do'akan semoga mama sehat2 aja yah dek." "kakak gak ke kantor?" "sudah kakak hubungi Aldo agar menangani masalah kantor sementara." "Kak Aldo, temen kakak yang ganteng itu?" Rehan menolak kepala Dea pelan. "Kamu ini..." sebenarnya Rehan memang ada rencana ingin menjodohkan Dea dengan Aldo. Karena hanya dia pria yang Rehan kenal baik yang cocok untuk mendampingi adiknya yang manja ini. "kita tungguin mama di luar yuk kak, Dea udah baik2 aja kok." "kamu yakin?" "iya kak, oya kak Dea belum hubungi Noval." "udah kakak hubungi tadi, mereka pun keluar menuju ruang operasi." setelah dua jam berlalu dokter keluar. "alhamdulillah operasinya berjalan lancar. tinggal menunggu ibu anda siuman," ucap dokter Bagas. rehan dan dea merasa lega. Rehan segera mengabarkan kepada lastri tentang kondisi mamanya. lastri merasa bersyukur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN