2. Bocah Menyebalkan

590 Kata
"Hai, Tante!" Seorang gadis dewasa menatap remaja perempuan di depannya. Menoleh ke kiri dan kanan. Hanya ada ia sendiri di sama. "Kamu bicara sama saya?" "Iya," angguk remaja full senyum itu. "Tante tinggal di sini ya?" Menunjuk rumah tempat wanita dewasa itu keluar. "Iya." "Kenalin, Tante. Nama aku Azalea. Kalau nama Tante siapa?" Remaja cantik yang itu memperkenalkan diri dengan ceria sambil mengulurkan tangan. "Cahaya," jawab wanita muda berusia dua puluh lima tahun itu. "Nama yang bagus. Tante udah nikah?" "Eh, kamu tau gak? Pertanyaan kamu itu bisa bikin kamu dipenjara." Cahaya langsung kesal. Pertanyaan keramat yang mengundang emosi itu sekarang justru keluar dari mulut anak kecil yang tidak ia kenal. "Tau. Selain cantik aku juga anak yang pinter kok. Tapi kan aku masih anak di bawah umur. Lagian aku kan cuma nanya." Cahaya memutar bola mata sambil beranjak. Entah dari mana datangnya remaja yang mengganggu ketenangan pagi. Sebelumnya tak pernah melihat gadis kecil itu. "Tunggu, Tante!" Azalea menahan tangan wanita dewasa yang tampak hendak masuk mobil. "Apa lagi? Saya mau kerja. Lagian kamu ngapain sih sok kenal sama saya?" Cahaya menepis. "Tante jawab dulu pertanyaan aku. Tante udah nikah belum?" "Belum!" Cahaya terpaksa menjawab dengan nada ketus. "Kalau pacar punya?" "Enggak." Kali ini ia suka rela menjawab dengan tujuan untuk mempersingkat waktu. "Bagus kalau gitu." Azalea tersenyum lebar membuat Cahaya menatap keki. "Apanya yang bagus?" gumamnya. Gara-gara hal itu ia sering mendapat ceramah dari ibu karena belum juga menikah di usia yang konon sudah cukup. Padahal ia sendiri merasa masih sangat muda untuk menikah. "Tante mau gak nikah sama daddy aku? Jadi mommy aku." Apa? Nikah sama daddy-nya? Berarti pria itu duda dengan satu anak. Itu pun jika anaknya hanya satu. Jika lebih? Oh, tidak. Keponakan saja sudah membuatnya pusing. Jangan lagi deh ditambah anak orang. "Enggak!" jawab Cahaya dengan tegas menolak. "Kenapa? Daddy aku ganteng loh." Cahaya menatap gadis kecil itu dari atas kepala hingga bawah kaki. Anaknya saja sudah sebesar itu. Ganteng dari mana? Tua sih sudah pasti. Abai, ia membuka pintu mobil. "Eh ... tunggu, Tante!" Azalea menutup pintu mobil itu. Cahaya melotot. "Anak siapa sih kamu? Gak sopan banget. Nggak tahu apa orang mau berangkat kerja?" "Tau!" "Terus kenapa kamu gangguin saya?" "Boleh gak aku minta kontak Tante?" "Enggak!" Tanpa pertimbangan Cahaya langsung menolak. Azalea tak menyerah begitu saja. Sengaja berdiri menghalangi pintu. "Kalau Tante nggak mau kasih, aku bakalan terus berdiri di sini. Iya dah tante kerjanya kesiangan." Cahaya mengepalkan tangan menahan kesal. Dari mana datangnya anak semenyebalkan ini muncul dan terus mengganggu? Azalea tersenyum tanpa rasa bersalah sambil menyodorkan ponsel miliknya. Cahaya mengambil dengan kasar, terpaksa mengetik beberapa angka pada layar ponsel. "Sekarang tolong pergi. Saya harus kerja." Sambil mengembalikan ponsel. "Tunggu sebentar." Azalea kemudian menekan tombol panggil. "Siapa tahu aja Tante malah ngasih nomor yang salah ke aku," tudingnya dengan curiga. Cahaya hanya memutar bola mata malas tanpa mengatakan apa-apa. Semoga setelah ini ia tidak bertemu lagi dengan remaja random tersebut. Ponselnya berdering. "Sekarang udah percaya 'kan? Minggir sana!" titahnya dengan ketus. Azalea cengengesan sembari menyingkir. "Makasih Tante. Kita pasti ketemu lagi." "Saya sih ogah ketemu kamu lagi," sahut Cahaya sambil membuka pintu mobil. "Lea!" Suara seorang pria membuat cahaya mengurungkan niat untuk duduk di balik kemudi. Menoleh ke arah sumber suara yang terdengar tidak asing. Seorang pria sedang berdiri di pintu pagar rumah depan. "Iya Daddy!" Cahaya melotot sembari mengalihkan tatapan ada gadis muda yang masih berdiri tak jauh darinya. "Dia ... daddy kamu?" Menatap penasaran sekaligus tidak percaya. "Iya. Ganteng 'kan? Tawaran aku buat jadi mommy aku masih berlaku loh."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN