ῳ_ ῳAUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Setelah membersihkan kamar, aku keluar. Ketika hendak berjalan menuju dapur, tiba-tiba terdengar suara piring yang berdecit dan juga kulkas yang terbuka. Mendengar kegaduhan yang terjadi, dengan secepat kilat aku melesat menuju ke arah dapur.
Tidak mungkin ada mahluk astral di rumah, yang berani mengobrak-abrik rumahku. Karena sebelum pindah ke apartemen ini, aku sudah bicara baik-baik dengan penghuni yang menetap di sini, untuk tidak melakukan hal-hal yang berlebihan, seperti melempar sendok, menyalakan tv, dan hal lainnya yang menimbulkan kegaduhan yang akan membuat adikku Robin ketakutan.
Bagi yang belum tahu, aku akan kembali memberitahukannya kepada kalian. Aku adalah seorang anak indigo yang memiliki kemampuan dapat melihat serta berinteraksi dengan mahluk-mahluk astral atau yang biasa kalian kenal dengan hantu pocong, kuntuilanak, tuyul, gendoruwo, dan sejenis jin lainnya.
"Good Morning, menuju ke afternoon, Bebiii!" sapa Arisa dengan raut wajah yang ceria.
Ternyata yang mengacak-acak dapur adalah sahabatku Arisa, yang entah sejak kapan dia mulai masuk ke dalam apartemen ini. "Kok lo di sini?"
Arisa membawa dua piring nasi goreng, kemudian menaruhnya di atas meja makan. "Emang gak boleh? Sini makan dulu, yuk! Lo pasti udah lapar, 'kan?"
Aku mengikuti perintahnya. "Lo masak semua ini?"
"Ya gak, lah! Lo pikir gue bisa masak? Gue pesan lewat OJOL, tadi," jawabnya.
"Iya juga sih. Lo dapat sandi apartement gue dari mana? Lo kan gak pernah hapal sandi yang gue kasi?"
"Gue taunya dari Robin, Beb." Ucapnya, kemudian kembali menyuapi nasi goreng ke mulutnya.
"Hm ... gitu!
"Nai, tadi pas di kampus gue dipanggil sama Pak Jamal yang menjabat sebagai sekertaris jurusan yang baru itu. Trus, dia ngasi surat ke gue. Awalnya gue kira surat itu untuk gue, eh tau-taunya dia bilang itu buat lo. Dan katanya, gue harus kasi surat itu secepatnya ke lo. Jadilah gue ngehubungin Robin, habis itu nanyain soal sandi apartement ini. Biar, gue bisa langsung kasi lo suratnya," ucapnya.
Keningku berkerut. "Surat? Kok gue tiba-tiba dapat surat? Surat apa emang?"
Arisa menaikkan kedua bahunya. "Gue juga gak tahu."
"Mana suratnya?" tanyaku penasaran.
Arisa langsung merongoh tas yang berada di sampingnya. "Nih ..."
Entah mengapa, perasaanku menjadi tidak enak.
Akupun mulai membuka surat itu.
Yth. Kepada Naion Shaarem.
Di- tempat.
Sehubungan dengan ketentuan lama studi mahasiswa-i Universitas Patrickorn International, maka diberitahukan kepada mahasiswi Universitas Patrickorn International Tahun masuk 2014 s/d 2020 yang berstatus tidak aktif diwajibkan segera mengurus segala ketertinggalannya paling lambat semester depan tahun ajaran 2020-2021.
Apabila tetap tidak melakukan pengurusan sesuai dengan waktu yang sudah ditetapkan, maka Program Studi akan mengeluarkan Surat Drop Out.
Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan. Atas kerjasamanya diucapkan terima kasih.
Ketua Jurusan Kesehatan Masyarakat
Hafizh Gulam, S.KM., M.kes
Aku memperlihatkan isi surat itu kepada Arisa.
"Mampus!" ucapku berbarengan.
Gue menatap Arisa. "Lo dapat surat kayak gini juga?"
"Gak," jawabnya.
"Kok gue bisa dapat, sih? Kan status kita sama, 'kan?" tanyaku tidak percaya.
"Iya sama. Tapi bedanya, gue kan pernah cuti karena sakit. Sedangkan lo, gak! Nah, kalau lo hitungannya udah kulia enam tahun, gue masih lima tahu setengah. Jadi jelaskan, di mana letak perbedaannya," jawab Arisa sambil kembali melahap makanannya.
"Sumpah! Gue beneran tamat kali ini!"
"Makanya, lo tuh mulai sekarang harus rajin ke kampus," ujar Arisa.
"Sa, gue tuh selalu mikir, ngapain gue ke kampus kalau udah gak ada yang mau di urus? Semua mata kuliah juga udah kelar semua!"
"Nai, lo gak ingat apa, kalau syarat lulus dan menjadi sarjana adalah harus menyelesaikan tugas akhir, yaitu SKRIPSI?!" ucap Arisa frustasi.
Entah mengapa, ketika mendengar Arisa mengucapkan kata SKRIPSI, seluruh tubuhku menjadi tegang. Seperti ada hantaman banteng yang menubruk jiwaku, mengakibatkan luka namun tidak berdarah. Bak disambar petir di siang bolong, tetapi bukan kena rahasia ilahi. Intinya, aku belum bisa menerima kenyataan bahwa aku harus berhadapan langsung dengan SKRIPSI yang menjadi hambatan setiap mahasiswa dan mahasiswi.
Oh Tuhan!
ῳ_ ῳAUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Minggu, 17 Januari 2020
Upin dan Ipin inilah dia, kembar seiras itu biasa ...
Upin dan Ipin ragam aksinya, kau disenangi siapa jua ...
Upin dan Ipin, selamanya ...
Weekend telah tiba. Seperti biasa, aku langsung menyetel film kartun favoritku. Aku benar-benar sangat menyukai kartun ini. Diantara semua karakter yang ada, entah mengapa aku sangat menyukai Jarjit. Jangan tanyakan alasannya, karena aku pun tidak tahu. Aku hanya menyukainya begitu saja.
Sambil meminum teh hangat dengan biskuit sebagai pasangannya, aku menonton kartun di ruang keluarga yang terletak di tengah-tangah apartemen.
"Kak, ingat umur! Udah gede juga, masih nonton film-film kartu kayak gini," ucap Robin yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan handuk yang terpasang di lehernya, Robin berjalan mendekatiku.
"Hei, Jin Tomang! Jangan pernah kamu membawa-bawa soal usia! Asal kamu tahu yah, kesukaan orang tuh beda-beda. Ada loh yang udah tua tapi masih sering nonton Spongebob Squaerpants. Jadi, usia tuh bukan hambatan ketika kita ingin menyukai sesuatu hal yang menurut kita adalah hal yang menyenangkan!" ujarku berapi-api sambil menunjukinnya dengan biskuit yang ada ditanganku.
"Baiklah, baiklah! Tehku mana, Kak?" Robin mengalihkan pembicaraan. Aku yakin, ia pasti tidak ingin memperpanjang masalah. Karena pada dasarnya Robin adalah anak yang tidak menyukai perdebatan. Kecuali, kalau perdebatannya itu menyangkut dengan segala hal yang berbau pendidikan.
"Masih ada di dapur. Kakak lupa ambil punyamu." Robin bangkit, lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil tehnya. Setelah itu, ia kembali duduk di tempatnya semula.
"Kuliah mu bagaimana, Dek?"
Robin yang menyeruput teh, kini menaruh gelasnya di atas meja. "Kuliahku lancar-lancar aja. Sejauh ini, aku bisa menangani semuanya."
"Mama kemarin nelpon. Katanya, kamu harus jaga kesehatan. Mama gak mau kamu sakit, begitu pun dengan Kakak."
"Siap, Kak Ros!"
Aku memicingkan mata. "Memangnya kamu tahu siapa itu Kak Ros?"
"Taulah! Itu kan Kakaknya Upin dan Ipin," jawabnya santai.
"Cie ... yang diam-diam ikut nonton juga," rayuku.
Robin menarik napasnya dalam-dalam. "Kak, bagaimana aku tidak ingat, kalau film kartun asal Malaysia itu terus saja terputar di apartemen ini. Jangan kan kak Ros, jadwal tayang kartun itu pun aku udah hafal di luar kepala. Aku juga bahkan tahu nama temannya Upin dan Ipin yang sama sekali tidak pernah dapat jatah dialog bernama, Nurul." Ucapan Robin dengan nada yang sedikit kesal.
"HAHAHA ..." Tawaku pecah seketika. "Maafkan, yah! Kakak gak tau loh, kalau kamu selama ini sering perhatiin apa yang ku tonton. Biasanya, kamu cuek-cuek aja."
"Aku cuek yah, Kak?" tanyanya serius.
"Gak juga."
Robin menghela napas lega. "Syukurlah ...."
"Kenapa emang?" tanyaku penasaran.
"Aku sering dikatain cuek dan dingin sama teman-teman di kampus, Kak," jawabnya.
"Kok bisa? Kamu gak pernah senyum, kali!" ujarku.
"Senyum, kok!"
"Trus, kenapa mereka nge-judge kamu orang yang dingin dan cuek?" tanyaku lagi.
"Gak tau, juga!" jawabnya.
Robin memang bukan tipikal orang yang memiliki karakter yang dingin. Hanya saja, adikku itu memang anak yang sedikit tertutup. Namun dibalik kepribadiannya itu, Robin merupakan anak dan adik yang baik di dalam keluargaku. Dia sangat rajin, patuh, dan juga sabar. Belum lagi, dia juga memiliki otak yang encer.
"Kamu gak usah pikirkan kata mereka," ucapku sambil kembali melahap biskuit.
Robin mengangguk, kemudian mulai mengambil gelas yang berisi teh, lalu meminumnya. Kami berdua menghentikan pembicaraan karena kartun yang ku tonton telah kembali tayang, setelah melewati beberapa iklan.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Suara benda saling bergesekan terdengar dari arah ruang tengah. Aku yang saat ini berada di dapur sedang menyiapkan makanan, mendadak terganggu akan suara itu. Karena penasaran, aku mendatangi sumber suara tesebut.
Begitu sampai, aku melihat Robin tengah mengubrak-abrik lemari yang terletak di bawah televisi. "Dek, kamu ngapain sih berantakin begitu? Kamu cari apa?"
Robin menggaruk kepalanya. "Aku lagi cari buku, Kak."
"Buku apa, emang?" tanyaku lagi.
Ia kembali mencari. Kali ini, sasarannya adalah celah kecil tempat menaruh Koran atau majalah, yang terletak di bawah sofa. "Buku catatan. Bantuin aku cari dong, Kak!"
"Kakak lagi goreng tempe, Dek. Takutnya kalau keasyikan nyari, Kakak jadi lupa dengan gorengan itu. Kalau ka—"
"I got, you!" ujar Robin kepada benda yang saat ini berada ditangannya.
"Baiklah! Karena sudah menemukan benda itu, kamu harus merapikan kembali semua yang kamu berantakin." Aku pun meninggalkan Robin, lalu kembali ke dapur.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Setelah semua makanan telah disajikan di atas meja makan, aku memanggil Robin untuk segara makan siang.
"Robiiin ...," ujarku dengan suara melengking.
Karena sudah berkali-kali dipanggil, namun tidak juga menyahut. Akhirnya, aku mendatangi kamar Robin. "Bambang, makanan udah siap. Kuy, makan dulu!"
Mendengar perintahku, Robin bangkit dari tempat tidur. Kemudian, berjalan di belakang Naion.
Robin menarik kursi. "Kak, kapan kamu mau ke kampus lagi buat urus tugas akhir?"
"Gak tau. Kakak masih belum ada ilham untuk balik ke kampus," jawabku santai.
Robin diam sejenak. "Kak, aku dengar kabar dari temen, kalau di kampus kita ada banyak mahasiswi yang mendadak hilang."
Aku mulai duduk, kemudian mengambil piring dan mengisinya dengan makanan yang tersedia di hadapanku. "Mungkin, mereka pada kabur kali sama pacarnya atau ke tempat lain! Kan biasa tuh cewek-cewek zaman sekarang suka aneh-aneh kelakuannya."
"Iya juga, sih!" ujar Robin.
"Habis makan, kita main play station, yuk!" ajakku.
Robin mengangguk dengan penuh semangat. Setelah itu, kami berdua pun kembali menikmati makanan hasil masakanku, sambil saling bercerita berbagai macam hal.
ῳ_ ῳAUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Seusai makan siang, aku mengajak Robin untuk bermain Play Station (PS) untuk mengisi waktu senggang di hari weekend seperti ini. Robin mulai mencari di mana letak ia menyimpan semua kaset games-nya.
"Seingat kamu, terakhir nyimpan kasetnya di mana, Dek?" tanyaku.
"Aku juga lupa, Kak. Selama ini kan aku udah gak pernah main game lagi," jawabnya.
"Kakak coba bantu cari di lemari kaca dekat dapur, yah! Siapa tau, kamu simpannya di sana." Tawarku.
"Iya, Kak!"
Aku mulai mencari semua kaset yang terkumpul dalam tas-tas khusus untuk menaruh benda itu. Satu per satu aku mulai memindahkan benda-benda di dalam remari ini, berharap bisa menemukan tas yang berisi kumpulan kaset game itu.
"Kaaak! Kakak ...," teriak Robin dari arah kamarku.
"Iya, tunggu sebentar!" Aku kembali merapihkan benda-benda itu, kemudian bergegas menghampiri Robin.
Saat menengok masuk ke dalam kamar, aku melihat Robin memegang surat peringatan Drop Out yang diberikan oleh Jurusan kepadaku, beberapa hari yang lalu.
Mengetahui kehadiranku, Robin memicingkan matanya. "Apa yang bisa Kakak jelaskan tentang surat ini?" tanya Robin dengan nada serius.
Tubuhku membeku. Jangankan berbicara, untuk melangkah masuk ke dalam kamarku pun terasa sangat berat. "Kaaak!" ujar Robin lagi.
Dengan berat hati, aku pun menceritakan semua yang disampaikan Arisa kepadaku. Mengetahui akan hal itu, Robin marah.
"Kak, kali ini kamu benar-benar dalam bahaya. Kalau sampai dikasi surat peringatan seperti ini, artinya Kakak udah mendapat garis merah dari Fakultas!" ujar Robin.
Aku menggaruk leherku yang sebenarnya tidak gatal. "Kakak akan urus nanti kok!"
"Nanti kapan, Kak?" Robin melangkah keluar. Mataku mengikuti ke mana arah adikku itu pergi.
Ia mengambil ponselnya. "Papa harus tahu tentang ini, Kak!"
Aku berjalan mendekati Robin. "Dek, jangan gitu. Janji deh, kali ini Kakak benar-benar akan mengurusnya!" ucapku sambil memohong kepada adikku itu.
"Apa kak Arisa juga mendapat surat juga?" Tanya Robin dengan wajah serius.
Aku menggeleng pelan.
Ia mulai memencet nomor papa. "Maafkan aku, Kak. Tapi, ini semua demi kebaikan Kakak."
ῳ_ ῳAUGURY GIRL ῳ_ ῳ
BERSAMBUNG